Buku ini mengangkat tentang sosok Hasan Al-Banna, sang Pembaharu Islam Abad 20, di tengah keluarganya. Buku ini menggambarkan tentang kehangatan pribadi dan kedalaman kasih dari seorang anak, seorang suami, dan seorang ayah ketika ia berada di rumah bersama anggota keluarganya. Tidaklah mudah bagi seorang tokoh publik yang dikenal memiliki kesibukan padat di luar rumah untuk bisa memiliki kedekatan hati dengan keluarganya dan bisa menjadi sosok teladan bagi anggota keluarganya.
Muhammad Lili Nur Aulia, adalah salah satu pendiri Majalah Tarbawi, menekuni dunia menulis professional sejak Tahun 1993 di berbagai media.Latar belakang pendidikannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, menjadikan tema-tema ruhani dan Dunia Islam yang menjadi spesialisasinya terasa berkarakter. Lili, biasa disapa, juga menjadi penerjemah dan penulis sekitar 25 buku, serta pembicara di berbagai event nasional dan internasional.
"Kami sangat mencintai Ayah. Sungguh, sangat cinta. Kami menaati keinginan Ayah karena kami mencintai Ayah, bukan karna kami takut kepada Ayah. Sampai jika Ayah pergi, kami semua sangat merasa kehilangan.."
Sejak halaman pertama hingga akhir, buku ini, betul-betul penuh cinta. Sungguh seperti sedang berkunjung ke rumah Imam Hasan Al-Banna dan bercengkrama dengan keluarganya yang penuh cinta. Bila membaca ini sebelum mengenal sepak terjang beliau dalam dakwah, rasanya seperti tak akan menyangka menjadi beliau menjadi sosok Ayah yang luar biasa di rumah, bahkan amat detail terhadap perkembangan anak-anaknya di tengah kesibukan hingga panasnya kondisi dakwah Ikhwan.
Hasan Al-Banna membentuk anak-anaknya berjiwa besar dengan keimanan yang kokoh, di mana mereka harus berdiri di atas kakinya sendiri, bukan lantas membawa nama orang tua meski Ayahnya adalah seorang tokoh masyarakat.
Pesan yang masih sangat di ingat Saif, putra tertuanya "Jika engkau melihat seorang Mukmin yang benar orientasi hidupnya, ia juga pasti memiliki banyak faktor kesuksesan dalam hidupnya"
Buku yang sangat menyenangkan dan menenangkan untuk dinikmati, apalagi di saat kita setidaknya sedang disibukan dengan berbagai kegaduhan dunia. Juga amat teduh dan menguatkan, terlebih pada bagian usai beliau Syahid dan meninggalkan anak-anaknya yang belum lagi dewasa. Ada kekuatan yang terpancar dari istrinya yang tangguh untuk meneruskan perjuangan menjaga rumah cinta mereka, meninggalkan kemilau kisah yang tak terlupakan.
Bismillah, alhamdulillah wa shalatu wa salam 'ala Rasulillah.
Buku ini sampai di meja kerja saya 27 Oktober, paruh pertamanya saya baca di akhir tahun kemarin, dan paruh kedua baru kemarin saya selesaikan.
Dan saya menyesal setelah membaca buku ini. Menyesal karena seharusnya saya menyelesaikan akhir tahun kemarin, sehingga bisa mempraktikan bakti Hasan al Banna pada orang tuanya kepada orang tua saya saat libur kemarin.
Buku ini lengkap menceritakan kisah Imam Syahid Hasan Al Banna di keluarga. Dimulai dari kehidupan mas kecilnya, memilih calon ibu bagi anaknya, menjadi ayah, hingga menjadi seorang syuhada.
Jika kita mengenal Imam Hasan Al Banna sebagai sosok yang kokoh dan kuat pemikirannya di dunia dakwah, maka di rumahnya sisi lembutnya yang ditampilkan. Bagaimana ia mendidik istri dan anaknya dan memperlakukan mereka, menjadi inspirasi bagi para muslim, terutama mereka yang sibuk di dunia dakwah.
Di buku ini digambarkan bagaimana Imam Hasan al Banna yang luar biasa sibuk sebagai da'i dan pemimpin organisasi Islam terbesar, mampu menyediakan waktunya untuk keluarganya, sehingga sosok ayah tetap dirasakan dalam pendidikan anak-anaknya.
Saya sangat merekomendasikan buku ini bagi setiap ikhwah yang memiliki keluarga. Terutama bagi mereka yang merasa dakwah telah memisahkan mereka dari keluarganya, sesungguhnya dakwah tidak pernah memisahkan kita dan keluarga.
Buku ini menjelaskan bahwa Hasan Al Banna-ulama yang sangat dikagumi di Mesir saat itu- bagaimanapun kesibukannya, beliau tetap mengusahakan kasih sayang sebaik mungkin pada isteri dan anak-anaknya. Terbukti dengan beliau yang memiliki catatan masing-masing anaknya sejak kecil, mulai dari kelahiran, sakitnya hingga pendidikannya.
Isteri beliau juga sangat lihai dalam menjaga balutan rumah tangga menjadi selalu hangat meskipun tidak selalu ada Hasan Al Banna di rumah.
Rumah tangga seorang Pembaharu (gerakan) islam menarik untuk diamati..diteladani dan diterapkan. Hanya saja memang kurang lengkap jikalau hanya buku ini saja untuk mengetahui karakter, kapabilitas dan metode Al Banna. Mesti baca kitab kitab lainnya. Namun.. buku ini singkat padat dan berisi. Mantap!
Baguus bukunya. Menceritakan sosok Hasan al-Banna dari sisi seorang ayah dan suami, khususnya ayah. Banyak sekali hal yang bisa ditiru dari pola parenting Hasan al-Banna kepada anak-anaknya. Yang menjadikan anak-anaknya sangat mencintai beliau dan selalu ingin mematuhi beliau, bukan karena rasa takut atau segan, tetapi karena rasa cinta.
Mengupas secara mendalam sisi-sisi Hasan Al Banna sebagai seorang ayah yang lembut dan penuh perhatian terhadap anak-anaknya. Dari buku ini, bisa belajar bahwa keimanan yang mendalam kepada Allah adalah fondasi utama untuk membangun rumah tangga yang sakinah, ma waddah wa rahmah