Banyak orang yang sudah menonton pertunjukannya, bahkan hapal joke-joke-nya. Dengan penuh semangat mereka tertawa, bertepuk tangan, dan mungkin ikut mendiskusikan hal-hal yang dibahas Pandji Pragiwaksono dalam “Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour” yang berlangsung di 24 kota, 5 benua.
Namun tak banyak yang tahu cerita di balik itu semua. Kisah tentang kerja keras, kegagalan, kesalahan, dan mengamuknya Pandji ketika sesuatu tidak terjadi sesuai ekspektasi. Ditulis berdasarkan wawancara oleh Muhammad Husnil dengan Pandji Pragiwaksono serta kesaksian orang-orang yang terlibat di dalamnya, buku ini merupakan satu-satunya dokumentasi tentang kisah nyata di balik tur dunia pertama yang dilakukan oleh seniman Indonesia.
Persisten tak hanya akan menghidupkan kembali api mimpi Anda, tetapi juga memberi kesadaran untuk menjaga apinya agar tidak mudah mati atau menyala terlalu besar hingga membakar diri. Karena hal terpenting dari menjalani mimpi bukanlah modal uang, keleluasaan waktu, atau hal-hal teknis seperti kemampuan menulis joke atau mendapatkan sponsor, namun sesuatu yang ada di dalam diri setiap manusia. Sesuatu yang hanya bisa dipanggil oleh benak kita sendiri.
Jujur saja, saya bukan penggemar stand up comedy, tapi saya menjadi penggemar tulisan Pandji semenjak membaca bukunya Indiepreneur. Buku ini adalah buku yang ditulis dari sudut pandang orang lain dan Pandji sebagai objeknya. Bukunya selalu memberi amunisi untuk siapapun, tak peduli profesi apapun untuk terus mengejar mimpi dengan usaha keras dan tentunya strategi. Pandji adalah stand up comedian pertama asal Indonesia yang bisa mengadakan world tour hingga 5 benua bersama tim kecilnya. Jangan ditanya soal mudahnya, namun membaca buku ini akan menunjukkan kesusahan yang harus dihadapi mereka demi mewujudkan impian gila. Buku ini juga mengungkap sisi lemah Pandji dan kekurangannya yang justru menambah kekaguman saya, bahwa seorang pemimpi besar yang selalu tampak optimis pun pasti punya masa-masa down atau amarah memuncak. This book is yours, for the dreamer!
Tidak mudah menjalani Tur Dunia dengan modal pas-pasan dan sponsor yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Namun semua itu justru menjadi sebuah tantangan di tangan seorang @pandji.pragiwaksono.
Melalui tekadnya, Stand Up Comedy Mesakke Bangsaku World Tour berhasil menembus 11 kota di 4 benua di tahun 2013. Lalu semakin paripurna dengan digelarnya Stand Up Comedy Juru Bicara World Tour di 24 kota di 5 benua di tahun 2016 dan mengukuhkannya menjadi orang Indonesia pertama yang menjalankan Tur Dunia di 5 Benua.
Bayangkan rasanya, dari berbicara di depan puluhan orang di tahun 2011 di Comedy Cafe yang disebut-sebut sebagai bola pertama sebelum ia menjadi gelindingan bola salju yang membuat Stand Up Comedy tak lagi dipandang sebelah mata, sampai bisa menghibur 3.500 orang yang hadir di penutupan Juru Bicara World Tour di The Kasablanka, Jakarta.
Bayangkan pula di 1 Syawal atau hari lebaran, harus rela jauh dari keluarga untuk manggung Stand Up di acara lebaran KBRI di Johannesburg, Afrika Selatan dengan venue di luar ruang, dan suhu 0 derajat celcius.
Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang entertainer. Sebuah sikap persisten yang patut ditiru oleh siapa saja. Pada bidang kita masing-masing.
Saya memang tidak fanatik dengan jenis komedi tunggal yang belakangan sedang marak. Meski saya menikmatinya. Benar bahwa komedi tunggal tidak sekadar menertawakan dan menumbuhkan guyonan semuata. Beberapa komika memang menjadikan humor sebagai satire politik atau protes yang bisa langsung didengar dan bebas sensor seperti dalam tulisan, misalnya.
Tapi Pandji dalam buku ini tidak hanya menunjukkan bagaimana seorang komika bekerja untuk sebuah pagelaran, tetapi juga berani menunjukkan seseorang pada umumnya harus bekerja keras untuk mimpinya, untuk menjadi diri sendiri dan bangga akan identitasnya. Buku yang ringan tapi dalam secara konten.
Bagian paling jleb soal Pandji yang "ngotot" untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia dalam semua pertunjukannya. Biar orang luar juga belajar budaya kita, jangan melulu kita yang harus dipaksa menyesuaikan mereka. Cakep
Buku yang merangkum perjalanan Pandji Pragiwaksono, komika pertama Indonesia yang sukses melakukan tur dunianya.
Buku yang ringan, bisa diselesaikan dalam satu kali duduk saat santai. tidak terlalu meng-entertain namun sesuai tulisan di belakang bukunya yaitu "inspirasi" Sedikit sekali unsur humornya, karena memang mungkin tujuan buku lebih ke menceritakan pengalaman yang bisa diambil value nya/ nilai dari perjalanan tokoh utamanya, yaitu Pandji. gafis bukunya bagus, ada foto-foto dokumentasi kru-krunya juga it's heartwarming
Overall i think this book doesnt fill me as i expected to be, but it's still a good book
Bacaan yang cocok untuk mengisi jam-jam kosong atau setelah membaca buku yang cukup berat.
Sayang, metode penulisan dan alur cerita cukup membosankan. Memang ingin menunjukkan poin Peristent nya Pandji, namun karena pengulangan yang terus menerus hampir saja berhenti untuk membaca nya di pertengahan buku.
Pernah membaca tulisan Pandji di How i sold 1000 cd's on 30 days. Itu Indah sih... tapi untuk yang ini zzzzz
Sebuah buku yang menceritakan perjuangan Pandji dan kawan-kawan yang berambisi mengadakan "world tour" . Walaupun saya bukan penggemar Pandji, saya sangat terhibur dengan buku ini. Gaya penceritaannya tidak membosankan dan gaya bahasanya mudah dipahami. Kita bisa mengambil hikmah bagaimana Pandji dan kawan-kawan dengan segala upaya mereka menyukseskan "world tour" tersebut mulai dari management skill, branding skill, dan tentu saja persistent.
Persisten by Pandji Pragiwaksono is a book that delves into the concept of persistence and the importance of staying resilient in the face of challenges. Known for his candid and relatable style, Pandji shares personal stories and lessons that underscore the value of not giving up, even when the odds seem insurmountable.
The book is filled with Pandji’s characteristic humor and straightforward approach, making it an easy and engaging read. He offers practical advice on how to cultivate persistence, drawing from his experiences in entertainment, entrepreneurship, and public life. For readers looking for a motivational boost, Persisten provides plenty of encouragement and real-world examples that demonstrate the power of perseverance.
However, while the book is undoubtedly motivational, it doesn’t quite reach the same depth or impact as some of Pandji’s other works. The advice, though valuable, sometimes feels somewhat generic, lacking the fresh insights or unique perspective that typically characterize his writing. This can make the book feel repetitive at times, especially for readers who are already familiar with self-help literature.
Additionally, the narrative occasionally struggles to maintain momentum, with certain sections feeling less engaging than others. While Pandji’s personal anecdotes are enjoyable, they don’t always connect as effectively with the broader themes of persistence and resilience.
Overall, Persisten is a solid read for those seeking motivation and a reminder of the importance of persistence in achieving one’s goals. Pandji Pragiwaksono’s down-to-earth style makes the book accessible, but it may not leave a lasting impression on readers who are looking for deeper or more original insights. For fans of Pandji’s work, Persisten is worth a read, but it may not be the standout among his other books.
I'm a simple person, for me either you like the book or you don't. I like this book, and I recommend this book to all of you because for me it's worth your time.