MENGAMBIL latar sejarah peralihan dari keruntuhan kerajaan Singhasari ke berdirinya kerajaan Majapahit, Sungging menceritakan peran penting seorang prabhangkara (seniman-perupa) sekaligus pendekar bernama Sungging. Ia menjadi orang yang paling diburu oleh Kasajaten Kalamura, perkumpulan rahasia yang didukung oleh Gajah Mada, karena menguasai ilmu Kitab Begawan Ksatria. Bagaimana ia bisa menguasai ilmu dari kitab yang dinyatakan hilang dan terus-menerus dicari itu? Bagaimana pula ia bisa menandingi Mahapatih Majapahit yang juga menguasai ilmu dari kitab yang sama?
Sungging menampilkan rinci yang kuat akan pelbagai peristiwa penting: kehidupan dalam istana Singhasari, penyerbuan tentara Tartar, pembunuhan Sri Kertanegara, intrik dan pengkhianatan menjelang berdirinya kerajaan Majapahit hingga perburuan terhadap para pendekar terakhir yang dianggap menyimpan rahasia Kitab Begawan Ksatria. Novel ini juga mengulas visi besar Sri Kertanegara tentang Nusantara yang menginspirasi lahirnya Sumpah Palapa Gajah Mada. Yang tak kalah penting, bagaimana pengarang menempatkan sastra sebagai kekuatan subversif terhadap kekuasaan yang koruptif dan menindas kebebasan di Nusantara abad ke-14.
Sungging hadir dengan cerita yang kuat, dalam tuturan yang sangat lancar, dengan ketegangan yang tetap terjaga dari bab ke bab. Sebuah kemahiran bercerita yang layak diperhitungkan dalam khazanah novel sejarah di Tanah Air belakangan ini
Para wanita itu pulang dari tempat pemujaan. Tak jauh dari mereka, seorang pemuda, Ken Arok, mengintai yang paling jelita. Setiap langkahnya memendarkan cahaya.
Menurut kepercayaan, wanita yang anggota badannya memancarkan sinar akan menurunkan para raja dan ratu di masa akan datang. Dialah Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung, Akuwu dari Tumapel.
Itulah yang menumbuhkan hasrat Ken Arok memiliki Ken Dedes. Apapun yang harus dilakukan. Ken Arok datang ke Mpu Gandring. Kepada Mpu Gandring, ia pinta dibuatkan keris dalam waktu sesegera mungkin. Keris tersebut belum jadi saat Ken Arok datang memintanya.
Mpu Gandring gagal menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Ken Arok pun membunuhnya dengan keris setengah jadi itu.
Di penghujung hayat, Mpu Gandring memekikkan sebuah kutuk: keris itu akan senantiasa membunuh pemiliknya. Tragedi kutukan keris Mpu Gandring pun dimulai.
Dengan keris itu, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan memperistri Ken Dedes. Ambisinya tak berhenti di situ. Ke Arok mengumunkan Tumapel sebagai kerajaan dengan ibukota Kutaraja.
Ken Arok menggelari dirinya sebagai raja Sang Amurwabhumi (1222-1227). Di tahun kelima kepemimpinannya, Ke Arok tewas ditikam keris Mpu Gandring oleh Anusapati, putra Ken Dedes dari Tunggul Ametung (1227-1248).
Anusapati meregang nyawa ditikam Tohjaya, putra Ken Arok dari Ken Umang. Tohjaya ditikam Ranggawuni putra Anusapati. Ranggawuni, cucu Ken Dedes dari Tunggul Ametung memerintah bersama Mahisa Cempaka (1248-1268), cucu Ken Dedes dari Ken Arok.
Sejak itu, keris Mpu Gandring berhenti membunuh. Pada 1268, Ranggawuni wafat dan tahta diserahkan kepada putranya, Sri Kertanegara (Dwitri Waluyo, 2004).
Demikianlah hikayat tragis yang melatari kelahiran Sri Kertanegara. Dalam sejarah, Sri Kertanegara terkenal sebagai Raja-Filsuf.
Raja pecinta bahasa dan sastra ini menjadi tokoh sentral yang tersuguhkan secara impresif. Selain tentu saja juga pelbagai tokoh penting lain pada masa tersebut.
Apakah sampai di situ kisah kematian demi kematian yang lahir dari keserakahan atas kekuasaan? Tidak.
Kau Keng, alias Sungging, adalah prabhangkara (seniman-perupa) sekaligus pendekar. Ia adalah sosok pelajar yang diberkati dengan kekosongan (tabula rasa) sekaligus keingintahuan (curiosity), yang pada gilirannya kerap mengalami keterpesonaan terhadap pelbagai hal-hal baru: kata dan gerak.
Rsi Sanghika, guru Sungging, adalah sosok petapa yang hampir selalu malu-malu mendaku bahwa ‘dia-tidak-tahu-bahwa-dia-tahu’. Sebuah pengetahuan yang sejatinya tak menuntut untuk disadari dan dipahami.
Melalui relasi pendidik-pelajar inilah penulis mengajak kita memaknai masa lalu. Ia menawarkan kebaruan. Kebaruan yang secara estetis hadir sekaligus bersama kelamaan. Sejarah selalu aktual.
Melalui tokoh Sungging, penulis mewartakan pelbagai peristiwa genting pada masa itu: pembunuhan Sri Kertanegara, pengusiran pasukan Tartar, intrik dan pengkhianatan menjelang berdirinya kerajaan Majapahit hingga perburuan terhadap para pendekar terakhir yang dianggap menyimpan rahasia Kitab Begawan Ksatria.
Tak luput pula ulasan ciamik mengenai visi besar Sri Kertanegara tentang Nusantara, yang di kemudian hari menginspirasi Sumpah Palapa Gajah Mada.
Sejarah adalah gambaran masa lalu, tetapi bukan arah yang dikejar. Begitu kata Taufik Abdullah (2004). Indonesia memang punya ratusan bahkan ribuan kisah masa lalu untuk dikenang. Sungging hadir menuturkan salah satu fragmen dari sejarah Nusantara.
Padanya terkandung dialog-dialog yang memukau dan sarat permenungan. Sebuah karya yang mendeskripsikan secara anggun dan kolosal nestapa silang sengkarut atas perebutan kekuasaan.
Novel ini lebih dari sekadar menawarkan ‘sense of pride’ dari suatu zaman di bumi Nusantara, Javadwipa, 1265 SAKA (abad 13 Masehi): bahwa Indonesia punya sejarah.
Ada perbincangan serius lain yang terkandung pada bab demi bab. Di antaranya, harga diri, keberanian, integritas, kekuasaan, pengorbanan, pengkhianatan, dan kesetiaan.
Ia bukan saja memberi bahan tentang hal-hal yang sebaiknya diingat, tapi juga yang sebaiknya dilupakan.
Buku yang menceritakan sejarah dengan latar kerajaan Singasari hingga Majapahit. Terdapat 38 bab dalam buku ini. Dengan alur plot ringan dan memberi kejutan disetiap akhir babnya membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Untuk keseluruhan saya sangat menyukainya, dari sisi alur dan narasi sungguh membuat pembaca terbawa dalam masa-masa tersebut. Ketegangan, kemarahan, kekecewaan. Worth to read😉
Beberapa kutipan yang saya suka
"Dunia ini bukan tempat tegaknya keadilan, Rama, tapi tempat bagi siapa saja yang ingin menegakkan keadilan. Begitu juga dengan kebenaran. Dunia menuntut laku manusia untuk berbuat adil dan benar. Kebaikanlah yang dihasilkan oleh laku dua laku itu. Orang-orang yang berlepas diri dari keharusan laku kedua perkara itulah yang kini paling banyak memenuhi jagad manusia." Hal 97
"Aku tahu keadaan sudah berubah, penguasa telah berganti, tapi tidak mengubah sifat kuasa sama sekali. Kekuasaan tetap sama saja, memaksa, merasa benar sendiri dan penuh ketakutan." Hal 284
"Siapa pun boleh mati, pergi untuk tidak kembali. Tapi ingatan, haruslah tetap hidup. Pustaka adalah penjaga ingatan. Tanpa pustaka, ingatan hilang. Hilangnya ingatan adalah tanda-tanda kehancuran." Hal 393
Alan TH mampu menampilkan novel sejarah tanpa menghilangkan unsur drama dan tragedi. Bukan sekadar penyampaian fakta sejarah yang dibubuhi cerita, tapi sebaliknya, cerita yang kental dengan sejarah. Secara pribadi, tidak penting mana tujuannya: apakah penyampaian pesan sejarah dalam bentuk cerita atau sebaliknya. Namun dengan plot ringan dan kejutan-kejutan di akhri setiap bab, bahkan materi ‘karya sastra’ dalam bentuk ‘kitab’ yang menjadi porosnya, pengisahan sejarah tidak pernah semenarik ini untuk dinikmati. Khususnya bagi penikmat karya sastra.
berlatar era kerajaan singhasari sampai majapahit, buku setebal ~600 halaman ini sukses membuatku terus menerus membolak-balikkan halamannya.
ceritanya menegangkan. tentang sungging dan kakeknya yang terus menerus diburu, dan tentunya mereka hidup nomaden. lengkap dengan pengkhianatan dan pengabdian. juga sungging yang perlahan dibeberkan asal usulnya.
agak disayangkan ending nya menggantung. tapi setelah aku baca di bagian 'tentang penulis', memang rencananya akan dibuatkan dwilogi. hmm jadi penasaran 🤔
Buku ini termasuk buku cerita sejarah yang nggak mainstream, ya. Mulai dari covernya aja udah beda, nggak seperti buku-buku sejenisnya yang biasanya dari pemilihan gambar, font, dan warna untuk sampulnya aja udah bernuansa historical. Sungging ini justru memakai cover dengan lukisan cat air yang abstrak, dan karena itu dia jadi menarik. Lalu setelah iseng googling, barulah ku tau kalau menurut kbbi.web.id: sung·ging1 n lukisan (perhiasan) diwarnai dengan cat (air mas dan sebagainya): juru --; seni --;
Makin menariknya lagi adalah genre ceritanya fiksi sejarah (nggak tau ini bener atau nggak istilahnya). Ceritanya memakai latar sejarah Singhasari era Kertanegara yang pemikirannya sangat global dan nasionalis itu, termasuk bagaimana ia memulai cita-citanya untuk menyatukan Nusantara yang kelak akan diteruskan pewaris-pewarisnya, lalu babak runtuhnya Kadiri yang dibangun ulang oleh Jayakatwang setelah meruntuhkan Singhasari, berlanjut ke berdirinya Majapahit karena kemenangan Raden Wijaya yang memberontak terhadap Kadiri meskipun harus menggunakan bantuan dari Mongolia yang dimusuhi bangsanya, sampai pada masa keemasan Mahapatih Gajah Mada dan cerita di balik Sumpah Palapa-nya. Uniknya, pembaca diajak berpetualang di masa-masa tersebut menggunakan sudut pandang ketiga, yaitu si tokoh utama yang bernama Sungging. Tokoh fiksi ini yang akan membawa kita mengikuti alur-alur cerita sejarah kedigdayaan kerajaan-kerajaan tersebut lengkap dengan intrik politik perebutan kekuasan dan perang-perang saudara di dalamnya.
Alhamdulillah, tahun ini ada buku yang bisa saya kasih 5 bintang. Buku penulis lokal pula, tentang sejarah klasik Nusantara, dan sebenarnya banyak banget salah ketiknya. Ternyata perlu dua bulan dan lebih dari lima kali pinjam di iPusnas, baru buku ini bisa saya selesaikan.
Dan saya sedih banget setelah cerita sepanjang lebih dari 620 halaman ini tiba di ujung... karena ternyata ujungnya belum ada! Huhuhuuu... Ayo, mas penulis, segera terbitkan lanjutan kisah petualangan Sungging.
Sungging karya Alan TH merupakan novel pertama dari sebuah dwilogi, berlatar belakang sejarah yang mengangkat cerita pada jaman Singasari hingga Majapahit. Diceritakan melalui 2 sudut pandang tokoh utama yaitu Sungging seorang remaja yang sedang menelusuri jejak masa lalu dan leluhurnya di tanah Jawadwipa dan juga Rsi Sanghika, saksi dari segala kemelut kekuasaan itu berlangsung dari awal hingga masa saat bertemu dengan Sungging.
Saya sangat menikmati cerita yang ada, meskipun berlatar belakang sejarah (yang biasanya membosankan) cerita Sungging ini sangat menarik karena penulis menggunakan bahasa dan pilihan kata yang tidak rumit. Selain itu, penggunaan alur yang jelas juga membantu saya untuk lebih mudah dalam memahami cerita yang ada.
Satu hal yang menjadi favorit saya adalah tentang penggambaran Ganesha Mada yang sama sekali berbeda dengan cerita-cerita sejarah yang selama ini saya dengar. Meskipun ini cerita fiksi, namun adanya pandangan lain yang berbeda tentang Ganesha Mada dan cerita itu disampaikan secara runut membuat saya tidak sabar untuk membaca kelanjutan cerita dari novel ini.
Buku ini mengisahkan perjalanan Sungging seorang seniman sekaligus pendekar yang menguasai ilmu tingkat tinggi dari buku begawan satria karangan Raja Sri Kertanegara pada era kerajaan Singhasari. Sungging diburu karena diduga memiliki kitab tersebut. Sungging yg dalam perjalanannya bertemu gurunya rsi Sahingka akhirnya menelusuri kisah terciptanya kitab begawan satria sembari menuturkan latar belakang perjalanan ekspansi Singhasari ke beberapa wilayah sagara, cita2 Kertanegara yang berlanjut keruntuhan kerajaan Singhasari, penyerangan dari negeri atap langit Tartar, terbentuknya kerajaan Majapahit oleh Raden Wijaya atau Nararya, hingga tercetusnya cikal bakal Sumpah Palapa oleh Gajah Mada.
Buku ini isinya daging sih menurutku. Dari awal sudah diajak mengikuti keseruan Sungging yg diburu berselang-seling dengan cerita Sahingka tentang kisah kerajaan Singhasari, pengkhianatan Jayakatwang, pelarian Raden Nararya, adu siasat Arya Wiraraja, perang Tartar serta terbentuknya Majapahit. Seru bgt, krn bikin aku membayangkan keadaan jaman dulu yg penuh pengkhianatan, intrik, dendam dan siasat yg di luar nalar. Belum lagi membayangkan keseruan pertarungan silat jurus begawan satria.
Meskipun ada beberapa kejadian sejarah yg kurang tepat menurutku dalam buku ini, tp itu ttp tidak mengurangi keseruan baca bukuanya. Karena ya sejarah dan fiksi disatukan, sudah pasti ada yg bergeser dari cerita sebenarnya. Narasinya dan diksi Pak Alan Th sangat indah sekaligus bikin ketagihan baca, ga bosen meskipun buku 600san halaman ini isinya padet bgt, dan harus konsen bacanya. 😅 Terutama pada bagian sejarah yg harus bener2 di teliti. Aku juga mendapat kesan diakhir buku, penulis seperti terburu-buru menyelesaikan buku ini, bahkan pertarungan Sungging pun hanya ditulis di 80an halaman terakhir. Walaupun buku ini awalnya dwilogi, tpi sampai sekarang belum tampak buku kedua akan terbit, semoga secepatnya. rate aku 5/5 ⭐
Kalau ditanya apakah novel ini termasuk novel yang bakal masuk ke deretan favorit, jawaban saya, iya. Mengapa? Sebagai salah satu penikmat historikal fiksi tanpa bumbu yang lain, saya sangat menikmati ini. Memberikan kisah sentuhan fantasi mengenai Kerajaan Majapahit dan Singasari serta dibawa mengenai intrik yang ada di dalamnya, membuat saya terlena sendiri. Saya menemukan novel ini secara 'tidak sengaja' dan lagi-lagi saya jatuh cinta. Kisah fantasinya mulus, penuh makna, dan seolah diajak masuk ke masa tersebut, alur mengenai penghianatan, pengabdian dan beberapa hal yang mendasari sifat manusia sekali lagi memukau saya dengen keelokan rupa yang dinarasikan oleh penulis dengan halus dan mulus, apalagi mengenai detail Jawadwipa (Jawa pada masa itu).
Saya pernah membaca novel yang serupa dengan bentuk trilogi dan setelah membaca yang ini, saya semakin tersihir. Mungkin untuk kekurangannya karena saya membaca dalam bentuk fisik, ukuran tulisannya begitu kecil dan beberapa ada kesalahan penulisan.
serta yang saya kecewa adalah bahwa akhir dari novel ini gantung. Asli, kepo sama kelanjutannya. berharap penulis berkenan untuk melanjutkan. Hiks. /nangis jelek/
It is a great novel! Writing a great historical novel covering the era which has been narrated again and again by several novelists is something really hard and Alan TH can do it in Sungging. I enjoy the book and I did not put this thick book until I reach the end of the book: and i want more. The book has a detailed narration about Kertanegara era, telling several popular events in the history by using a unique point of view that is a point of view of a "pujangga", a man of literature during that time. Besides, the story take a minor (and imaginary character) to see the great events in the history instead of using the elite point of view as several available historical novels, it means it has a contemporary spirit of seeing the history not as the story of the elites but also the common people. It is said that this novel is planned to be a dwilogy novels and i hope its sequel will be published soon. I really hope.
Sungging adalah orang buruan Majapahit nyaris seumur hidup, tanpa tahu jati dirinya dan siapa kakeknya. Diselamatkan dan dilatih oleh kakeknya, kemudian dilepas dan bertemu dengan Rsi Sanghika. Keduanya dipertemukan karena amalan Kitab Begawan Ksatria dan melakukan pelarian bersana sembari bercerita. Rsi Sanghika adalah saksi hidup sejak jaman kerajaan Singasari hingga terbentuknya kerajaan Majapahit.
Buku ini sesungguhnya menceritakan bagaimana lahir dan bencana apa yang ditimbulkan dari Kitab Begawan Kesatria. Mistery box yang dibawakan adalah, siapa Sungging? Siapa kakeknya Sungging? Mengapa mereka menjadi manusia buruan yang harus dimusnahkan?
Buku ini berlatar tahun 1200an, bisa dibilang buku historis. Saya paling suka pas adegan pertarungan apalagi adegan silat, ilustrasi berceritanya begitu indah, sehingga bisa dibayangkan betapa indahnya silat dijaman Majapahit. Termasuk buku wajib baca untuk penggemar sejarah Indonesia maupun penggemar sastra.
Kagum. Itu perasaan saya setiap membaca lembaran demi lembaran buku ini. Alan TH berhasil membawa saya menelusuri sejarah Kerajaan Singhasari sampai Majapahit yang dikemas secara runtut dan menarik dalam cerita Rsi Sanghika. Saya benar-benar merasa terlibat dengan setiap tokohnya. Sejarah yang panjang disampaikan dengan bahasa yang indah dan mudah dipahami. Saya sangat menikmati experience membaca buku ini, menyelami sejarah Nusantara bersama tokoh Sungging. Satu-satunya kekurangan yang mengganggu adalah typo yang semakin banyak menjelang akhir cerita.
buat teman-teman yang mau belajar sejarah runtuhnya Singasari sampai berdirinya Majapahit bisa baca buku ini. gak ngebosesin dan seruu. (ada di ipusnas loh) dan untuk penulis @alanth, ditunggu kisah Sungging selanjutnya, yaa.
Baru tahu kalau ini dwilogi, semoga sekuelnya segera terbit, karena endingnya gantung, hehehe....
Satu masalah saya dengan buku ini, banyak sekali salah ketik pada kata. Semoga penerbit KPG bisa memperbaikinya...karena bikin nggak nyaman aja bacanya.