“Impianku bukan berada di sini bersamamu dan sepabrik dengan perempuan sensi lainnya yang bergerombol membahas lipstik. Aku mengambil jurusan arsitektur bukan iseng-iseng seperti saat kamu ikutan lotre dan buummm … namamu keluar sebagai pemenang. Aku ingin membuat gedung. Aku selalu membayangkan bisa membangun banyak sekali gedung tinggi yang indah di negeri-negeri yang jauh dari sini.”
“Kenyataannya kamu berada di sini, Demian. Di gedung rusak yang harus kamu bangun kembali.”
Impian Demian Radityawangga untuk menjadi arsitek gedung bertingkat di seluruh dunia terancam kandas ketika dia didatangi oleh Alexandra Hardianty, Public Relation dari Sara Cosmetic, perusahaan kosmetik yang diwariskan kedua orangtuanya. Alexandra membuka kenyataan bahwa dia memiliki kewajiban memimpin perusahaan yang sedang mulai sekarat itu, sebagai bentuk pengabdiannya pada mendiang sang ibu, Sara Amalia, pendiri Sara Cosmetic.
Keadaan semakin memburuk ketika Demian berkonflik dengan Hilda, ibu tirinya, yang memegang hak cipta atas Aqualove, produk kosmetik temuan terbaru yang seharusnya bisa menolong Sara dari kebangkrutan. Mampukah Demian dan Alexandra bersama-sama mengatasi krisis dan menyelamatkan pabrik kosmetik yang nyaris bangkrut itu, sementara di sisi lain, kesempatan untuk meraih impiannya mulai memanggil-manggil?
Baca kisah Demian ini, lumayan bikin gemes ya. Apalagi disini sosok Demian adalah seorang 'player', dingin dan dia juga agak menutup diri. Makanya dia melampiaskannya dengan begitu. Seolah luka lama yang nggak mau di ungkit lagi, pulang ke Jakarta begitu meyakitkan buat Demian. Tapi ya mau tidak mau, dia harus pulang untuk membereskan perusahaan peninggalan orang tuanya. Awal dari paksaan Alexandra, ya Cewek ini cukup keras kepala untuk memaksa Demian. Tapi untungnya dengan sikap Alexandra, akhirnya luluh juga Demian. Apalagi Alexandra pun menceritakan beberapa cerita yang membuat Demian merasa tertampar. Dia merasa bersalah dengan sikapnya di masa lalu. Nah loh, ada apa ya sama Demian? Banyak hal yang bikin saya cukup kaget, penasaran? Baca sendirii deh, cukup sampe sini aja saya cerita. . Ini pertama kalinya saya baca novel nya ka Nimas, ceritanya cukup menarik dan detail.
Tokoh - tokoh nya kuat, Demian yang cukup egois dan menyakiti dirinya sendiri karena tidak mau mendengar dari sisi lain. Alexandra yang cukup keras kepala yang bisa mempengaruhi Demian. Rio dan Dewi sahabat yang emang asyikk. Dan disini, saya suka sama tokoh Alexandra. Dia merupakan cewek yang tangguh.
Gaya bahasa yang digunakan mengalir, memakai sudut pandang orang pertama. Jadi cukup mengetahui apa isi hati dan pikirannya Demian.
Konfliknya tentang keluarga, persahabatan dan sedikit percintaan. Konflik tentang keluarga ini lumayan cukup berat ya, apalagi kalau emang ego masing-masing yang cukup tinggi. Dan selalu dengan pemikirannya sendiri, ah gemess pokonya sama Demian. Penulis membuat penyelesaian konflik yang cukup baik. Oh ya ide nya tentang perusahaan kosmetik keren, pembaca dibawa mengenal tentang beberapa istilah kosmetik.
Overall saya menikmati ceritanya dan suka, bagi yang cari cerita tentang keluarga, persahabatan dan percintaan. Wajib baca, rekomen :)
Entah sudah berapa kali di ajak kerja sama dengan Elex untuk mereview buku terbitan mereka. Rasanya senang sekali mendapatkan kesempatan untuk membaca dan mengulas buku ini. Terima kasih Elex, Kak Dion dan Kak Nimas untuk kesempatan dan kepercayaannya.
Impian Demian... Berbicara tentang buku ini, banyak hal yang aku rasain selama membaca buku ini. Senang, haru, sedih, lucu, dan sebal! Dominan sebal sih. Terutama pada si tokoh utama, Demian.
Menurutku, Demian itu hidupnya terlalu kompleks! Dia sendiri yang membuat masalah berdatangan sepanjang hidupnya. Justru sumber masalahnya ya dia. Baik dari masa lalu maupun masa sekarang. Buat yang penasaran apa sih masalah yang ada pada diri Demian, kalian bisa langsung beli lalu baca bukunya. Di jamin, mungki n kalian ingin nabok sifat egois Demian! *Tuh kan udah aku spoilerin 1 sifat bos satu ini.* Tapi, ada satu yang aku salut pada Demian. Dia gigih dalam mewujudkan mimpinya.
Tokoh yang dibangun kak Nimas sendiri cukup kuat. Buktinya aku pengen meteng kepalanya saking gemasnya. Dapat inspirasi darimana sih kak tokohnya? *Please jangan bilang dari editornya ya! Aku sudah cukup kenyang dengan segala kenarsisan dia.😂*
Overall, ceritanya menarik. Sangat menarik. Bahasanya enak dan sangat mudah dicerna apalagi untuk pembaca yang nggak mau ribet sepertiku. Idenya cukup unik. Dan lagi, karena ini di ambil dari sudut pandang ya g berbeda, pembaca juga dibantu memahami bagaimana isi hati si tokoh.
Banyak quote menarik dan pelajaran-pelajaran juga di dalamnya. Selain pelajaran hidup, tentang dunia kosmetik dan arsitektur di sini juga lumayan banyak walaupun nggak terekspos secara detail.
“Dalam menjalankan sesuatu, kita harus totalitas. Jangan nanggung, karena katanya kita hanya akan menjadi orang yang biasa-biasa saja.” (hlm. 192)
“... kamu akan menjadi dewasa karena kekecewaan. Kamu akan menjadi dewasa karena terluka. Kamu akan menjadi dewasa karena terluka. Kamu akan menjadi dewasa justru karena hal-hal menyakitkan yang kamu terima, dan hal-hal yang kamu inginkan tapi nggak bisa kamu dapatkan.” (hlm. 286)
Sesuai judul yang mengisyaratkan bahwa kisah ini adalah tentang Demian dan ‘milik’ Demian, maka tepat menurut saya jika POV yang digunakan adalah orang pertama, aku—Demian. Saya jadi keasyikan ‘menguliti’ cara berpikir dan apa saja yang dirasakan Demian, sang tokoh utama. Menurut saya, Mbak Nimas cukup berhasil membawakan peran tokoh laki-laki dengan segala konflik batinnya di sini. Demian yang anak tunggal, sangat menyayangi mamanya, cenderung membenci ayahnya karena prasangka, takut berkomitmen terutama dengan perempuan sehingga mendapat imej player, tapi punya impian menjadi arsitek besar. Kedekatan dan keakraban interaksi Demian dengan Rio dan Dewi pun tergambarkan secara baik dengan menghadirkan sosok mama Rio dan sapaan akrab serta banyolan khas tiga sahabat karib yang kerap membuat saya tertawa. Sebut saja trio Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione, juga Frodo dari “LOTR”, serta Arthur si robot android dari “Passengers” yang diselipkan sepanjang cerita dan ternyata cocok dengan selera humor saya. Tak lupa deskripsi fisik dan karakter Rio maupun Dewi yang tak jarang kocak juga. Mungkin jika saya membaca di sebelah seseorang, saya akan tertular kebiasaan buruk Dewi tertawa sambil memukul orang di dekatnya, hehe...
Kehadiran Alexandra sebagai tokoh sentral lain, sekaligus ‘partner in crime’ Demian, tak hanya di kantor tapi juga di luar kantor, juga membuat cerita lebih seru. Saya suka karakter Al yang dewasa, patuh dan sayang pada sang mama, selalu optimis, ramah, dan cerdas. Gambaran sosok wanita muda masa kini yang tak kehilangan kebaikan hati meski harus mengikuti gaya hidup wanita karir di kota megapolitan Jakarta. Chemistry antara Al dengan Demian pun pas, walaupun bagi saya kisah romansa mereka tak mendominasi. Bisa dimaklumi, karena kisah ini bersetting dua dunia bisnis dan profesi yang bertolak belakang dan konflik utama yang harus lebih mendapat perhatian penulis.
Dan masih menyambung, setting dunia bisnis dan pabrik kosmetik dengan segala lika-likunya dipaparkan dengan cukup baik. Saya jadi tahu lebih banyak informasi terkait dunia bisnis yang notabene berfokus mempercantik penampilan kaum hawa ini. Juga peran public relation dalam menaikkan imej produk dan nama perusahaan dan keutamaannya dalam sebuah perusahaan berskala besar. Pemaparan lewat dialog antartokoh juga membantu sehingga lebih mudah saya pahami dan tak terkesan membosankan. Konflik keuangan perusahaan dan konflik batin para tokohnya juga tercipta dengan plot yang apik dan alur maju (dengan sesekali kilasan ingatan tokoh akan masa lalu) yang relatif cepat. Saya juga menghargai unsur kisah keluarga dan persahabatan di sini yang sangat terasa, juga pesan moral akan kedewasaan. Plot twist tetap ada, meskipun saya bisa meraba garis besar penyelesaian konflik. Selain itu, di bagian akhir ada secuil kisah penutup tak terduga yang menghibur.
Secara keseluruhan, saya puas dan suka dengan novel ini, yang juga merupakan salah satu judul dari seri ‘City Lite’ Elex Media. Saya jadi tak sabar membaca judul lain dari seri terbaru ini. “Impian Demian” saya rekomendasikan bagi kalian yang suka membaca kisah romansa ala kota megapolitan atau metropolitan dengan kesibukan dunia perkantoran dan gaya hidup modernnya.
Kisah tentang Demian dalam mengejar mimpinya setelah lulus kuliah ternyata tidak mudah. Apalagi ditambah dengan harus memimpin perusahaa yang dibangun sang Mama--Sara Cosmetic. Ditulis dengan latar belakang ibukota, membuat cerita ini tampak benar-benar nyata. Menggunakan sudut pandang orang pertama melalui Demian buat aku tahu beberapa pola pikir laki-laki yang memang berbeda dari perempuan. Setiap tokoh dalam cerita ini memiliki porsi yang pas menurutku. Demian yang sedikit pengecut buat aku greget. Dan Alexandra yang pemberani serta selalu semangat memang jadi penyeimbang untuk Demian. Begitu juga kehadiran Rio dan Dewi. Aku hanya sedikit kurang puas di ending, aku pikir Demian akan lebih berjuang mendapatkan Alexandra. Tapi cukup mememuaskan.
Ini adalah pertama kalinya saya mencicipi novel karya Nimas Aksan. Melalui Impian Demian saya disuguhi sebuah pergulatan batin seorang laki-laki tanggung yang harus memilih antara meraih impiannya sendiri atau mempertahankan impian almarhumah mamanya. Satu hal yang pastinya nggak akan mudah untuk dihadapi siapa pun, terutama jika ada ikatan yang sangat kuat antara sang anak & ibunya.
Impian Demian disajikan melalui sudut pandang orang pertama. Ya, novel ini begitu vokal menyuarakan isi hati Demian. Perasaannya terhadap kedua sahabatnya—Rio dan Dewi—yang sebentar lagi akan menikah, perasaannya terhadap mantan kekasih yang juga akan menikah, perasaan akan almarhum papanya yang ia benci, juga perasaannya menjadi pria populer yang selalu jadi bahan flirting wanita-wanita di sekelilingnya. Capek pasti rasanya ya 😅. Sudut pandang ini pulalah yang membuat saya merasa Demian cukup egois. Pada awalnya saya merasa iba atas apa yang ia alami semasa kecil. Hidup dengan orang tua yang susah mengekspresikan rasa sayang tentu menyakitkan bagi anak-anak. Sulit. Namun saya juga bisa mengerti nggak semua orang tua mudah memeluk atau mudah menunjukkan kasih sayang. Saya tahu rasanya, karena saya pun mengalaminya. Saya belajar untuk tak terlalu berharap, dan saya belajar untuk memahami. Sedang Demian justru mengambil jalan yang lain. Ia tetap memikul rasa sakitnya, dan mencari kasih sayang serta pengakuan dari gadis-gadis yang dikencaninya. Sadar atau tidak ia membalas dendam dan rasa sakit hatinya melalui perbuatannya. Demian tumbuh menjadi pria yang sinis dan cenderung menarik diri dari orang-orang yang ia anggap sumber masalah baginya. Ada kalanya saya membenci Demian, atas sikapnya terhadap Lucia. Saya gemas banget melihat eh membaca cara Demian memperlakukan Lucia. Sebagai anak bawaan dari Hilda, Lucia yang polos begitu memuja Demian sejak pertama, tanpa kenal lelah, walau ditolak dan dicuekin Demian berkali-kali :'( Untunglah ada Alexandra yang menjadi penyeimbang yang membuat saya nggak jadi gila karena saking jengkelnya 😂😂. Cerdas, multitasking, berani dan cerewet setengah mati. Alexandra sangat menonjol dan sanggup menguasai keadaan, bahkan keadaan tersulit yang disebabkan Demian. Setidaknya melalui sosok Alexandra dan Dewi dalam novel ini, saya merasa sudah terwakili untuk menyuarakan apa yang saya rasakan terhadap Demian.
Hubungan yang hangat justru dibagi Demian dengan kedua sahabatnya. Saya menyukai interaksi ketiganya, meski tetap saja satu-dua kali sisi egois Demian keluar. Namun bagi saya, bagian terbaik dari novel ini adalah interaksi yang terjadi antara para tokohnya. Terutama interaksi antara trio Demian-Rio-Dewi, dan interaksi antara Demian dan sekretaris pribadinya. Interaksi antara Demian dan Maura ini lucu dan gokil sehingga saya sempat merasa kalau mereka cocok 😂😂.
Konflik dalam novel ini ternyata nggak sesimpel kelihatannya. Bukan hanya perkara Demian harus menentukan sikap secara jantan untuk impian-impian yang berkelindan di benaknya, tapi juga ia harus mengurai masalah yang telah menumpuk bertahun-tahun. Bagaimana Demian harus berani menyingkirkan egonya dan berdamai dengan masa lalunya. Manusia punya beragam sifat, nggak semuanya hangat, menyenangkan dan mudah mengungkapkan perasaan. Ada insan-insan yang kesulitan untuk bersikap manis, meski jauh di dalam hatinya berlimpahan kasih sayang. Kadang, mungkin kitalah yang harus beradaptasi sedikit untuk menyentuh orang-orang seperti ini.
Sebenarnya ada banyak pesan yang bisa didapat dari Impian Demian, tapi saya memilih menggarisbawahi hubungan yang sulit antara Demian dan ayah serta ibu tirinya. Jika teman-teman unyureaders membaca novel ini, mungkin saja ada pesan lain yang akan teman-teman dapatkan. So, buat kalian yang demen cerita persahabatan & roman yang asyik, konyol dan nggak terlalu kental nuansa romantisnya, kamu harus banget baca novel ini.
Suka sama karakter Alexa, terutama pas di awal-awal. Suka sama perkembangan persahabatan si trio kampret. Suka sama gaya berceritanya yang rapi.
Cukup bosan pada beberapa bagian karena alurnya yang lambat, meski lama-lama terbiasa juga. Bagian bisnisnya oke, nggak asal bahas di permukaan, tapi menjadikan itu sebagai bagian penting dari cerita dan digali secara mendalam. Tapi karakter Demian yang playboy kurang tergali karena itu kayaknya pribadi dia di masa lalu, jadi masa sekarangnya berasa adem ayem aja gitu.
Editornya bilang yang Arya Buaya bakal lebih oke, jadi saya akan menunggu.
Pertama kalinya membaca novel karya kak Nimas. Sejak novel ini terbit, udah diracunin, kalau novel ini kece. Dan emang nggak salah, ini novel emang kece banget. Demian disini bikin gemes dengan segala tingkah lakunya dia. Plus dia itu kulkas banget. Terlebih di masa lalu, ada sekelumit cerita yang tak ingin Demian ungkit lagi karena ujung-ujungnya bikin sakit hati, terus nanti kakak Princess deh yang kena omel. Susah yaa, minta dilempar ke Bulan kayaknya nih Demian . . Apalagi ketika Demian akhirnya galau harus memilih antara melanjutkan perusahaan warisan Ibundanya atau memilih menjadi arsitek. Dan Alexandra yang keras kepala berhasil membuat Demian memimpin perusahaan Ibundanya, walaupun sebenarnya Demian nggak mau sama sekali. Ada banyak kisah yang membuat Demian tertampar, kakak Princess jadi lapar, dan kemudian bikin penasaran . . Chemistry dan karakter tokoh-tokohnya kuat banget, dapat banget feelnya. Demian yang egois, kulkas, selalu menyakiti dirinya sendiri dan sukanya tutup telinga tiap ada pendapat. Beruntunglah Alexandra dapat mempengaruhi Demian. Apalagi ada sahabat-sahabat yang benar-benar memahami kita baik, Rio dan Dewi. Memakai sudut pandang orang pertama, dan kali ini beda, karena menggunakan dari sudut pandang Demian, jadi, bikin tau perasaan Demian itu gimana . . Konfliknya disini selain kegalauan Demian juga tentang keluarga dan persahabatan dan jangan lupakan soal hati. Penyelesaiannya bikin dag dig dug serr banget. Keren banget. Overall, kalau kamu mencari novel romance dimana kamu bisa belajar banyak hal, novel ini cocok untuk kamu baca
Saya baca novel ini disambi baca novelnya CS What A Boss Wants. Jadi agak2 terdistraksi, soalnya tema fatherhood-nya hampir sama. Tokoh utama a.k.a hero-nya sama-sama mendapatkan perlakuan kurang baik dari ayahnya. Bedanya di novel ini ayahnya Demian sudah meninggal.
Ide cerita menarik, bagaimana seorang anak fresh graduate dari jurusan arsitektur terpaksa untuk memimpin perusahaan keluarga di bdang kosmetik. Sudah gitu, dia harus berurusan dengan ibu tiri dan adik tirinya. Untungnya ada Alexandra, PR di kantor itu yang banyak banget ngebantuin Demian. Demian ini memang masuk kategori payah jadi pimpinan di perusahaan kosmetik milik ibunya. Di sisi lain, dia sangat cemerlang di bidang arsitektur. Bayangkan, rancangannya langsung dipakai oleh perusahaan asing ternama yang mau bangun gedung 30 lantai di Surabaya. Hebat kan? Tapi...ya gitu deh...rasanya too good to be true.
Trus...ada beberapa bagian yang sepertinya lewat dari pengawasan editor atau proofreader. Misalnya soal ruang direktur yang di awal disebutkan di lantai 3, belakangan di lantai 2. Ada lagi soal rokok yang baru aja dikeluarin dari saku, kok langsung dimatiin sampai baranya habis. Hal-hal kecil yang sebenarnya ga esensial tapi mengganggu.
Suka dengan temanya, tentang impian, persahabatan, keluarga, dan cinta.
Demian yang bercita-cita menjadi seorang arsitek, terpaksa terjun ke perusahaan kosmetik warisan ibunya agar perusahaan itu tidak bangkrut. Tidak mudah menangani perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan. Untung saja ada Alexandra seorang Public Relation yang sangat berbakat dan siap membantu Demian dalam menangani krisis perusahaan.
Aku suka gaya bahasanya kak Nimas Aksan. Tidak bosan di sepanjang cerita. Untuk karakter Demian kurang kuat di beberapa bagian, tapi aku suka dengan kegigihannya.
Karakter favorit, tentu Alexandra. Dia adalah perwujudan wanita karir idaman. Cerdas dan pintar menyusun rencana.
Endingnya cukup memuaskan, tapi aku kurang puas dengan ibu tiri Demian. Mungkin dia bisa dibuat lebih greget lagi. 😄
sebenernya awalnya saya agak kaget karena cerita ini pakai sudut pandang cowok hehe... jarang sih baca cerita begini. tapi ngga salah sih, soalnya cerita ini memang tentang demian dan impiannya. banyak amanat-amanat yg ingin disampaikan penulis di cerita ini. dan saya suka itu. ternyata sudut pandang cowok itu asik juga wkwkw... dan ngga salah cerita ini pakai sudut pandang demian sehingga lebih dapet feelnya tentang apa yg terjadi dengannya.
"Dalam hidup segala sesuatu harus serba memilih. Kita nggak bisa memenangkan segala yang kita inginkan." - Hal.251
Demian punya impian. Demian sangat menyukai membangun gedung, disitulah passionnya. Sejak kecil dia sudah menanamkan keinginan untuk membangun gedung dan menjadi seorang arsitek. Sekarang Demian baru saja wisuda dari Fakultas Teknik Arsitektur, selangkah lagi untuk menjadi arsitek dan membangun gedung apapun yang diinginkannya.
Sayangnya, kadang kenyataan tak seindah bayangan. Nyatanya, Demian sekarang terjebak di Sara Cosmetic, perusahaan yang dirintis oleh ibunya. Ayahnya baru saja meninggal dan mewariskan Sara Cosmetic untuknya. Sebagai anak pemilik perusahaan dan pemegang saham terbesar, sekarang Sara Cosmetic di bawah kendali Demian.
Namun, bayangkan saja Demian tak mengerti dunia kosmetik. Ini bukan impiannya. Untuk menghindar pun, Demian tak sanggup. Sara Cosmetic berada di ambang kebangkrutan. Demian harus mencari cara untuk menyelamatkan perusahaan agar tidak terus merugi. Bersama Alexandra, sang public relation, Demian berusaha mencari cara.
Tidak hanya itu, Hilda ibu tiri Demian malah berniat mundur dari perusahaan dan menjual sahamnya. Bahkan Hilda akan menjual hak cipta Aqualove, satu-satunya produk harapan terakhir Sara Cosmetic.
Bagaimana akhir kisah Demian? Akankah dia bisa menyelamatkan Sara Cosmetic? Bagaimana dengan impiannya sendiri?
"Aku tahu impianmu. Aku tahu suatu saat kamu bisa mewujudkannya. Bukan hanya bisa, tapi harus. Kamu harus berani mengambil keputusan terbaik untuk masa depanmu sendiri. Apakah impianmu menjadi arsitek, ataukah Sara - impian ibumu - yang harus kamu korbankan." - Hal. 226
Impian Demian merupakan novel kedua Mba Nimas Aksan yang kubaca setelah Janji Es Krim. Novel ini mengisahkan kehidupan Demian yang sedang bingung dengan pilihan yang harus dia ambil dalam hidupnya, antara impiannya sendiri atau impian almarhumah ibunya.
Namun, kisah ini tidak hanya berbicara soal impian Demian saja dan juga bagaimana Demian menyelamatkan perusahaan. Ada hal yang jauh lebih rumit daripada itu, yaitu hubungan Demian dengan Hilda dan Lucia, ibu serta adik tirinya. Sudah sejak lama, Demian tak pernah menganggap kehadiran Hilda dan Lucia. Dia tak pernah menerima pernikahan Hilda dan ayahnya. Bahkan Demian memendam kebencian pada ayah kandungnya sendiri. Untuk menyebutnya "papa" pun Demian seakan enggan.
Aku bisa memahami kenapa Demian begitu skeptis dalam hidupnya. Kenapa Demian begitu membencinya ayahnya, Hilda dan Lucia. Karena selama ini, Demian tumbuh besar dengan cara didiknya ayahnya yang tergolong keras. Hal ini membuat Demian merasa sama sekali tak dicintai oleh ayah kandungnya sendiri, terutama sejak Sara, ibunya meninggal. Demian seakan menutup dirinya dari kebahagiaan. Demian memelihara kebencian yang semakin lama semakin besar.
"Cobalah melihat semuanya dari perspektif berbeda. Kadang orangtua memang sering berbuat hal-hal aneh yang tidak kita mengerti. Wajar kalau kita nggak ngerti maksud mereka, karena kita belum pernah jadi orangtua. Tapi orangtua selalu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya, karena mereka pernah menjadi anak-anak juga." - Hal.286
Setelah ayahnya meninggal pun, kebencian itu masih ada. Demian tidak juga mampu berdamai dengan masa lalu. Hubungannya dengan Hilda dan Lucia, keluarganya yang tersisa pun tak bisa dibilang baik.
Disinilah Mba Nimas berhasil menceritakan kisah ini dari sudut pandang Demian. Pemilihan yang tepat karena aku jadi mengenal sosok Demian dan segala kegalauannya, termasuk urusan hati. Sayangnya, menurutku Demian agak nanggung dengan kadar keplayboyannya yang membuat dia anti komitmen, malah menonjol sisi skeptisnya yang berpengaruh terhadap hidupnya.
Hal yang kusukai lainnya adalah Mba Nimas berhasil membangun hubungan persahabatan yang hangat antara Demian dengan Rio dan Dewi. Interaksi mereka begitu menarik. Saling melengkapi satu sama lain. Begitu pun antara Demian dan Alexandra. Kehadiran Alexandra seakan menjadi penyeimbang. Alexandra yang optimis dalam hidup dan punya segudang ide brilian. Aku juga suka ide tentang Sara Cosmetic, bagaimana Mba Nimas cukup detail menceritakan seluk beluk sebuah perusahaan kosmetik.
Sayangnya, aku merasakan penyelesaiannya terlalu mudah. Terutama permasalahan Demian dengan Hilda dan Lucia.
Secara keseluruhan, kamu mencari sebuah kisah paket lengkap, tentang impian, keluarga, cinta dan persahabatan, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca.
Aku tunggu kisah Arya selanjutnya ya Mba, jadi penasaran dengan Arya, sang playboy setelah membaca nukilan di akhir kisah Demian.
Sulit buat nggak menyukai tulisan Nimas Aksan yang mengalir gitu aja. 350 halaman, atau lebih, jadi nggak kerasa. Tiba-tiba selesai aja dengan kesan "mana lagi, nih?". Bolehlah kalau yang mau lari dari bacaan berat. Belum lagi celetukan-celetukan lucu dan segar tak tertebak ala penulis, yang biasanya saya rasain pas membaca novel Sophie Kinsella. Karakter yang diciptainnya kuat, yang nggak perlulah menggunakan panca indra lengkap buat menjabarkannya, tapi penulis bisa dengan mudah meracuni saya lewat karakter-karakternya yang unik. Sejak membaca buku pertamanya, dan cerpen-cerpennya yang terbit di Femina, saya memang sudah dibuat jatuh cinta, dan saya yakin dia bakal besar dengan tulisannya yang seperti ini. Dia punya modal itu. Dia potensial.
Kisahnya sendiri menceritakan seorang pemuda lulusan arsitektur yang dipaksa mengurus perusahaan kosmetik milik ibunya. Pergolakan batin antara meneruskan perusahaan (yang mana dia berurusan dengan para perempuan sensi yang saya rasain pula pas di kantor yang mayoritas perempuan dan buibu), atau sebagai anak muda kebanyakan, memperjuangkan mimpinya karena nggak mungkin dua hal itu bisa dia raih secara berbarengan. Belum lagi konflik dengan ibu tirinya, dan juga turunannya. Tapi pada akhirnya kita tahu bahwa sekelumit masalah yang mampir ke hidupnya berasal dari dirinya sendiri. Dia agak menyebalkan, tapi pasti seseorang seperti Demian ada di kehidupan nyata. Lalu karakter favoritnya, selain Alexandra yang efisien yang ngingetin sama Mbak-mbak Prolis kantor, ada Dewi yang ... dia kuat banget. Bukan jenis tokoh yang wajib jadi karakter utama, tapi pasti kita punya teman yang jujur, saklek, blakbklakan semacam dia. Dan bocorannya, menurut penulis, Dewi hadir pula di novel berikutnya yang bakal jadi semacam trilogi atau entah apa namanya.
Saya jelas menantikan novel keduanya di Elex Media ini yang katanya pernah jadi novelet pilihan, yang sekarang sedang saya teror untuk segera dibereskan, dan juga novel-novel lainnya yang seperti saat membuka kado natal entah dari siapa--mungkin dari mantan yang masih disayang. Yah, selalu penuh kejutan.
"Sara Cosmetic adalah impian ibumu, Demian. Setelah ayahmu tak lagi mampu menjaga impiannya, sekaranglah giliranmu."
Selepas lulus kuliah, Demian tidak bisa langsung bernapas bebas, ada beban yang harus dia tanggung, menjadi ahli waris ayahnya yang telah tiada baru-baru ini, mewarisi sebuah pabrik kosmetik peninggalan ibunya, Sara Cosmetic. Selama tiga bulan perusahaan krisis pemimpin, selama itu dipegang oleh para dewan direksi nonaktif yang terdiri dari pemegang saham, dimana sangat tidak efektif karena sebagain besar saham dimiliki oleh ayah Demian, yang kemudian diwariskan kepadanya. Hilda, ibu tirinya, walau memiliki posisi sebagai General Manager dan memiliki sedikit saham, dia berniat mengundurkan diri dan ingin lepas dari Sara Cosmetic. Singkatnya, selain tidak ada yang mengurus, Sara Cosmetic di ambang kehancuran.
Demian sama sekali tidak tahu menahu akan urusan kosmetik ini, dia adalah sarjana teknik arsitektur, impiannya membuat gedung, bukannya berurusan dengan senjata para wanita. Alexandra, selaku Public Relation sekaligus orang kepercayaan ayahnya, membantu dan mendorong agar Demian menjalankan perusahaan. Hanya ada satu cara agar Sara Cosmetic tetap berdiri tegak, mengeluarkan produk terbaru, Aqualove, produk yang ramah lingkungan dan lebih bersahabat dengan kulit karena lebih banyak kandungan airnya, selain itu kelebihan utama adalah biaya produksinya relatif murah. Hanya saja, Aqualove ditemukan oleh Hilda, dia pemegang lisensinya, Hilda adalah spesialis ahli kimia di bidang kosmetik. Demian tidak boleh kehilangan Hilda.
Tentu saja bukan hal yang mudah melihat hubungan Demian dengan Hilda tidaklah harmonis, selain itu Hilda bisa menjual hak patennya ke perusahaan lain yang memberi penawaran tinggi, ayah Demian tidak meninggalkan warisan yang cukup banyak bagi dirinya dan anaknya, Lucia. Selain itu, impian Demian yang selama ini dia inginkan nampaknya bersambut, dia mendapatkan tawaran dari Cornery Block, perusahaan Canada yang akan membangun gedung bertingkat serbaguna di Surabaya. Impian yang mana yang akan Demian wujudkan?
"Bahwa hidup terkadang nggak selalu seperti yang kita inginkan. Bahwa cinta, nggak selalu mampu kita taklukkan,
"Kadang orangtua memang sering berbuat hal-hal aneh yang tidak kita mengerti. Wajar kalau kita nggak ngerti maksud mereka, karena kita belum pernah jadi orangtua. Tapi orangtua selalu tahu apa yang terbaik untuk anak-anaknya, karena mereka pernah menjadi anak-anak juga."
"Kita jarang sekali diberi keistimewaan untuk mengenal seseorang yang baik, yang snagat spesial dalam hidup kita. Ketika kita diberi kesempatan bersamanya, waktu seolah-olah lenyap. Tapi kita tidak pernah menyadarinya. Sampai kemudian dia pergi, dan seluruh hidup kitalah yang lenyap."
Kali pertama membaca tulisan Nimas Aksan, sebenarnya saya sempat memiliki buku pertama penulis, tetapi hilang mood untuk membaca karena sudah lama ditimbun, saya merelakan untuk melepasnya. Alasan tertarik membaca buku kedua penulis ini adalah karena covernya bagus sekali, hahaha, iya, receh memang, jarang sekali Elexmedia bikin cover bagus, jadi tergerak untuk membaca. Selain itu alasan utama adalah sang editor yang pantang menyerah agar saya mencicipi tulisan Nimas Aksan, yang katanya memiliki masa depan cerah, yang katanya buku ketiga dia bagus sekali. Baiklah, untuk pemanasan, bungkus!
Secara keseluruhan saya cukup menikmati tulisan Nimas Aksan, cerita terjalin dengan baik dengan karakter para tokoh yang kuat serta konflik yang dikemas secara sederhana tetapi memiliki keunikan tersendiri. Bisa dibilang Impian Demian ini memang berfokus akan impian tokoh utamanya, kegalauan akan langkah apa yang diambil. Di satu sisi, walau tidak menyukai perusahaan yang dirintis ibunya, Sara Cosmetic adalah impian ibunya yang harus dijaga oleh satu-satunya keluarga yang masih tersisa, yaitu Demian, terlebih Demian sangat menyayangi ibunya, sehingga kalau tidak melanjutkan jerih payah ibunya, sama saja dengan dia melenyapkan impian ibunya. Di sisi lain, passion-nya adalah dunia arsitek, impiannya membuat gedung.
Walau tidak detail sekali, penjelasan tentang dunia kosmetik dan tentang arsitektur cukup informatif, keduanya melekat baik dengan karakter tokohnya, sehingga menyatu tanpa terasa dipaksakan. Selain kedua hal tersebut yang disorot penulis, konflik yang cukup kuat berada pada masalah keluarga, bahkan kalau diurai satu persatu akan memiliki banyak cabang. Mulai dari hubungan Demian dengan ayahnya yang kurang harmonis, masa lalu yang membuat Demian membenci ayahnya yang dingin dan kaku, hubungan Demian dengan ibu tirinya, yang sama kaku seperti ayahnya, dengan adik tirinya yang sangat berharap akan keberadaanya diakui oleh kakak yang dia puja, sampai hubungan Demian dengan ibu Rio, sahabatnya yang lebih harmonis, sebuah cerminan keluarga yang diimpikan Demian.
Ada juga muatan persahabatan lewat hubungan yang menyenangkan antara Demian-Rio-Dewi, saya menyukai kisah mereka, selain emosi yang tergambar jelas akan potret keluarga dari kacamata Demian, lewat mereka lah Demian tidak hanya mendapatkan seorang teman yang setia dan menyayanginya dengan tulus, tetapi juga keluarga baru, yang akan ada untuk menjadi sandaran. Walau tidak menjadi fokus cerita, tentu ada kisah cintanya.
Berhubungan dengan kisah cinta, ada sedikit kekurangan di dalamnya, sebenarnya tidak terlalu masalah karena sejak awal memang kisah cinta bukan fokus utama. Hanya saja saya berharap lebih, setidaknya seimbang karena walau tergolong tidak instan, ada proses di dalamnya, hubungan Alexandra dan Demian kurang banyak digali, pelan-pelan di depan karena Demian sibuk mengurus impiannya, begitu sampai di belakang kisah cintanya agak keteteran.
Dari segi karakter para tokohnya, penulis cukup baik dalam hal ini, terlebih tokoh utamanya adalah seorang lelaki, penulis cukup sukses menjelma sebagai Demian yang menjadi sang narator di buku ini. Perannya sebagai playboy cukup tergambar waktu dia mengoda sekertarisnya, hanya saja dia kurang menunjukan secara implisit, mungkin cari aman agar bisa dibaca berbagai usia, hehehe. Saya juga menyukai karakter Alexandra, jenis wanita yang suka menyibukkan diri, yang memiliki tekat kuat, lewat dia dan karater wanita lainnya di buku ini, jelas penulis tidak menyukai karakter yang lemah, lebih cenderung feminis.
Bagi kalain yang ingin membaca cerita yang tidak melulu akan kisah cinta, tentang kegalauan menentukan apa impian yang diinginkan, buku ini boleh dibaca. Impian Demian tidak hanya bercerita tentang impiannya dan impian orang-orang di sekitarnya, tetapi juga tentang keluarga, persahabatan dan cinta.
Aku suka betul dengan karakter cewek macem Alexandra. Dia tipe cewek yang asyik, dengan kepribadian supel tapi juga bisa serius saat dibutuhkan. Alexandra kek tim rescue yang jadi penyelamat Demian yang keras kepala. Di sini aku nggak terlalu suka dengan Demian (maaf mbak Nimas 😂), entah kenapa dia jadi terkesan cerewet, yang apa² segala macem dipikirin. 😂 Dia bersikap keras hati dan berego tinggi, karena lebih memercayai apa yang dilihat dan dialaminya, daripada dari cerita orang. Nah, kusuka betul dengan Rio.~ ❤ Dia tipe yang asyik jadi sahabat, tapi juga bisa jadi pacar. 😆❤
Aku merasa alurnya agak lambat, tapi mungkin itu karena penulis menjelaskan dengan detail semua bagian²nya.
Konflik di sini lebih banyak mengenai permasalah keluarga, perusahaan, dan mimpi Demian. Sedikit masalah percintaan emang muncul sih, tapi porsinya cukup untuk dikatakan sebagai pemanis.
Novel ini bercerita mengenai keluarga, sahabat, impian, dan cinta. Aku paling suka pada bagian di mana Demian memperjuangkan impiannya. Dia meletakkan mimpinya pada titik tertinggi yang bisa dia harapkan, dan dia berusaha untuk meraihnya.
Banyak hal yang bisa didapat dari buku ini. Salah satunya adalah, jika kita tidak menyuarakan apa yang kita pikirkan, belum tentu orang lain bisa tau apa yang kita pikirkan, belum tentu orang lain bisa memahami apa yang kita lakukan.
Kesalahpahaman terjadi ketika seseorang tidak ingin menyuarakannya, atau malah di sisi lain, tidak ingin mendengarkannya. Jadi, masih ingin memunculkan kesalahpahaman pada orang lain? 😉
Come backnya Ceu Nimas kayaknya bawa universe berisi cowok-cowok bad boy matang karismatik yang bisa dengan mudah bikin perempuan-perempuan meleleh ya. Sebut aja Arya, terus sekarang Demian (ya saya bacanya enggak in order, ga papa lah ya)...
Tapi ceritanya emang menarik dengan porsi romancenya yang enggak terlalu banyak, masih bisa bikin amazed apalagi pas di part-part akhir, kalo aja gak ada plot-plot cerita itu, novel ini full tentang pekerjaan doang hahaha....
Kukira, kuakan mendapatkan cerita soal arsitektur tetapi malah bisnis perlipstikan wkwk. Kendati demikian, kumenikmati cerita ini. Porsi antara dunia bisnis dan merah jambunya terasa seimbang. Permerah jambuannya pun bukan menjadi pokok utama dan aku menyukainya. Meskipun kutaktahu bagaimana perasaan calon suami si Alexa yang ditinggal nikah begitu saja. Sekian dan sukses untuk penulisnya.
awalnya nggak bisa nebak sih ini nanti demian akhirnya bakalan sama siapa. trus seru juga ngikutin usahanya alexa sama demian buat mempertahankan perusahaannya. tapi aku masih penasaran seputar keluarga demian sih, gimana perasaannya ayah demian ke demian, pernikahannya sama hilda juga, perasaanya hilda juga
Rating asli 3.5 Hmm lumayan lah, suka sama ide ceritanya Demian yg ga tau apa2 ttg kosmetik tiba2 disuruh mimpin perusahaan kosmetik warisan ibunya Walaupun hubungan antara Demian dan Papanya terasa belum beres aja gtu Penulisannya juga oke, tapi masih nemu lumayan banyak typo nih hehe
really deep condolences for the author who wrote this, she is a really a good person, terimakasih kak udah bikin cerita yang bener bener sebagus itu, terima kasih karyanyaa
Banyak hal yang bikin aku terganggu ama cerita ini. Tapj sebelum kesana, aku mau ngasih tahu kenapa aku ngasih tiga bintang.
Pertama, karena cerita ini bikin ngakak di beberapa bagian. Kedua, aku suka Demian lebih memilih mimpinya alih-alih menjalankan perusahaan kosmetik. Ia sih, itu impian ibunya, tapi ibunya juga pasti pingin Demian ngeraih kebahagiaanya sendiri, apalagi Demian udah tahu apa yang dia mau dari dulu. Ketiga kusuka dengan detail masalah-masalah perusahaan yang ada di sini. Kolapsnya perusahaan diceritain dengan jelas, penyelesaianya juga jelas.
Tiga bintang buat tiga hal di atas. Sisanya? Sorry to say i have to say kalau romance disini itu gak dapet banget. Gak ada scene yang bikin chemistry tokoh utamanya jadi kuat. Tiba-tiba aja mereka saling suka, tiba-tiba aja Alexa batalin pernikahan. Tiba-tiba aja Demian nyesel karena udah salah sangka ama ayahnya, udah jahat ama Hilda, udah gak acuh ama Lucia. Pokoknya serba tiba-tiba.
Terus banyk scene yang seharusnya gak usah ada. Kujadi mikir scene itu ada cuman buat nebelin halaman. Karena emang gaje. Apa coba mimpi nyari horcrux voldy? Kenapa juga ada scene maen ludo. Okelah klau yang maen ludo buat bangun chemistry, tapi tetep aja gak kebangun. Selain itu juga, penulis terlalu banyak masukin preference film atu novel. Apalagi Harry Potter. I love Harry Potter. So much. Tapi kalau penulis masukin detail Harry Potter terlalu banyak dengan cara di paksakan ya gak enak juga. Asli sih, ini penulis mau nunjukin dia fans fanatik Harpot apa gimana? Soalnya maksain banget lah itu masukin Harpotnya, wkwkkw. Kayk di tiap bab itu harus aja Harpotnya buat nunjukin, "hey gue tahu banyak, nih soal Harry Potter."
Belum lagi Demian suka nyeritain Arya. Padahal Arya ini temen kecilnya. Ia sih buat promoin novel selanjutnya. Tapi kenapa gk dibikin Aryanya temen SMP atau apa kek. Ini temen masa kecil yang bahkan mereka juga gak pernah ketemu lagi. Maksa sih menurutku. Wkwkkw
Oke deh segitu aja. Moga cerita Arya Buaya lebih bagus deh.
Actual ratingnya ini sebenernya 2,5 tapi genapin aja jadi 3 biat tiga hal diatas yg kusebutin tadi.
Semangat buat penulisnya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Oke, first of all, saya mau menegaskan: jika apa yang saya suka, belum tentu kalian suka. Begitu pula sebaliknya.
Awalnya saya ingin membaca Arya Buaya. Tetapi saya beralih ke Impian Demian yang masih satu universe dengan Arya Buaya.
Sebenarnya, ide novel ini sangat menarik. Demian dihadapkan pada pilihan antara meraih mimpi yang sudah di depan mata, atau menyelamatkan perusahaan keluarga yang ada diambang kebangkrutan. Ada beberapa hal yang anti-mainstream. Hanya saja:
1. Pembawaan cerita dari sudut pandang Demian—orang pertama—kurang bisa menggambarkan Demian sebagai playboy. Pembangunan karakter Demian menurut saya masih kurang.
2. Saya nggak bisa menemukan sesuatu yang menarik saya untuk tetap membaca. And sorry to say, saya hampir DNF.
3. Gaya bahasanya kurang 'pas' untuk sosok Demian. Saya juga terganggu dengan penggunaan kata 'Man' di hampir setiap percakapan antara Rio dan Demian—yang diulang-ulang.
Tapi, ini pendapat pribadi saya ya. Bisa jadi kamu justru menyukai novel ini. Bagian yang saya sukai dalam novel ini adalah hubungan antara Demian dan Alexandra. Meskipun interaksi mereka masih terasa kurang (menurut saya), tapi hubungan keduanya cukup manis.
Buku yang dianggurin selama 2 tahun lamanya, dan akhirnya bisa selesai hari ini, tepat di 'hari pembeliannya' dua tahun lalu. Yeay!
Bukan. Bukan karena isi ceritanya yang membosankan makanya bukunya jadi lama dibacanya. Isinya seru, tentang lulusan arsitektur yang bercita-cita membangun gedung pencakar langit di Indonesia tapi terpaksa terjebak di perusahaan kosmetik milik mendiang ibunya, perusahaan yang menjadi cita-cita ibunya sejak lama. Dan dilema dimulai ketika Demian harus memilih, cita-citanya atau impian ibunya.
Bukan. Saya lama baca bukan karena bahasanya berat, atau kalimat-kalimat yang disampaikan tidak menarik. Emang dasarnya aja baru mendapatkan kemauan untuk menyelesaikan buku ini (ini masih mending dibanding nganggurin beberapa buku lainnya hampir sama lamanya tapi belum kesentuh satu lembarpun).
Secara garis besar alurnya mengalir, saya juga dapat beberapa ilmu baru tentang arsitektur dan kosmetik sekaligus dengan cara yang ringan. Walau pengembangan karakter Demian disini berjalan sedikit lambat buat saya, tapi, it's okay. Pada akhirnya saya tetap menamatkannya :D *aku senang haha.