Thalia Kami bertemu untuk pertama kali di lapangan upacara dua tahunan yang lalu. Aku ingat betapa konyolnya aku siang itu. Memakai atribut serba aneh dari ujung kaki sampai ujung kepala hanya demi memenuhi budaya pembodohan bernama ospek. Karena terlambat, kami kena hukum bersama, dan dengan gaya sok pahlawannya, dia membelaku di depan kakak panitia OSIS. Waktu aku tanya kenapa dulu dia sampai senekat itu, dia menjawab dengan kerlingan mata, kemudian bibirnya yang tipis kemerahannya akan tersenyum miring.
Dhanu Kalau bertanya siapa Thalia Maharani pada sebagian besar murid perempuan SMA Persada Mandiri, maka kebanyakan dari mereka akan mengatakan bahwa Thalia adalah sosok murid sombong yang enggan bergaul dengan siswi lain. Tetapi murid laki-laki akan menjawab tanpa ragu, kalau posisi Thalia hampir setara dengan Dewi Aprodhite yang tidak sengaja jatuh ke dunia yang fana ini. Siapa yang nggak setuju kalau Thalia itu cantik? Tapi cuma satu orang yang berani berjuang mati-matian buat mendapatkannya.
Najla Tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Aku sudah sering mendengar kalimat itu. Mulanya, aku menertawakannya. Aku selalu merasa bahwa aku tidak akan terjebak pada prinsip bodoh tersebut. Sampai suatu hari, dia muncul di balkon rumah ini. Menghabiskan malam-malam kami dengan jokes recehnya. Segalanya baik-baik saja pada awalnya, sampai dia menghancurkannya dengan sebuah pelukan dan kalimat sederhana yang seharusnya normal-normal saja dilakukan seseorang kepada sahabatnya.
Kata 3 Hati merupakan novel yang mengisahkan 3 sahabat, Thalia, Dhanu dan Najla. Tiga sahabat yang sangat dekat layaknya saudara. Mereka saling menyayangi dan peduli satu sama lain, hingga akhirnya cinta hadir di antara ketiganya.
Sayangnya, ketiganya tak pernah mau jujur dengan perasaannya. Aku bisa memahami tidak mudah untuk mengatakan perasaan pada sahabat sendiri. Karena persahabatan kita jadi taruhannya. Pasti hubungannya gak bakal sama jika perasaan itu tak berbalas. Sekalipun jadian dan akhirnya putus malah berujung sahabat juga hilang. Dilema bukan?
Diceritakan dari sudut pandang Thalia, Dhanu dan Najla aku jadi bisa memahami bagaimana perasaan mereka dan bagaimana mereka menyikapi kondisi mereka yang terjebak dengan friendzone ini. Mau jujur juga banyak banget yang harus dipikirkan. Hubungan mereka sungguh rumit sekali.
Dari ide cerita sederhana, tapi gaya menulis Kak Innayah enak untuk diikuti sehingga aku begitu betah membaca hingga halaman akhir. Aku jadi penasaran bakal dibawa kemana hubungan ketiganya. Apa akan tetap menjadi sahabat sejati atau ada yang akan berubah menjadi sepasang kekasih?
Nyatanya?
Endingnya benar-benar mengejutkan. Aku tak menyangka bakal diakhiri seperti ini. Namun, menjadikan kisah friendzone ini jadi berbeda dengan kisah lainnya.
Secara keseluruhan, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu yang sedang atau pernah jatuh cinta pada sahabatmu sendiri. Kamu tidak sendiri, karena banyak yang pernah berada di posisimu :D
Hal pertama yg aku ucapin seabis baca buku ini adalah: Alhamdulillah, aku diberi kekuatan hati buat bresin buku ini.
Ini bukan review ya, ini cuman unek2 doang. Jadi berspoiler pasti.
Ini bukan bukunya jelek, ya. Tapi certa friendzone love triangle kayak gini itu bukan cerita yang aku suka, jadi makanya aku tersiksa.
2 bintang itu semua buat Najla, 0,5 nya buat Fadli. 😂
Aku nggak, sula Dhanu ya jujur. Karena dia super duper brengsek parah di ujung buku. Wah gila sih, dia perlu di sleding. Wkwk. (Tapi aku anehnya pingin dia suka Najla dan lupain Thalia, tapi aku nggak mau Najla sma Dhanu. Laaah gimana sih ini. 😂)
Aku sih udah fix benci juga sama Thalia. Soalnya dia ini sok penting bnget. Gimana ya. Dia ini plin plan parah.
Thalia sama Dhanu ini sma2 egois dan malah bikin Najla tambah menderita. Masa Najla lagi di titik terendah aja mereka tuh masiiiih aja bikin dia harus nanggunh certa2 mereka yg itu2 aja. Mana di akhir Dhanu minta Najla jdi temen spesial padahal dia suka Thalia??? Widih!!! Anda ini apa2an bung! Red flag parah.
Dari awal pertemanan mereka itu timpang. Di sini, cuman Najla doang yg berusaha ngertiin mereka, tapi mereka tuh nggak berusaha ngertiin Najla. Iya, kebahagiaan Najla pas ama mreka berdua emang bner, tapi mereka nggak berusaha biat nyari tahu apa yg Njala rasain. At least soal keluarganya pun mreka tuh nggak yg peduli banget gitu.
Yaampun, Jla, semoga kamu dapet orang2 yang bner sayang dan peduli sama kamu, ya.
Trus ya aku tahu sih di sini tokoh utamanya emang Thalia sama Dhanu makanya mreka selalu dibikin spesial. Kayak Thalia itu pokoknya cwek polos yang lovable dan disayangi semua orang. Dia ceeek rapuh yg emang hrus dilindungi. Bah, yang ada dia aslinya sok parah, sok banyak yg suka. Ih nggak suka ih.
Aku di sini cuman peduli sama Najla :(:( Sayang Najla banyak2. Sayang sih dia nggak dieksplor jauh. Yaaah semua tokoh di sini emang nggak ada yg in depth sih. 😂
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel kedua karya Innayah, aku manggil langsung, soalnya ternyata kita seumuran. Hihi.. Novel keduanya ini, menceritakan dari sudut pandang pertama. Jadi, Najla, Dhanu dan Thalia dapet porsi untuk menceritakan segalanya dari sisi mereka dan juga apa yang mereka rasakan. Jadi, kita tau pasti, gimana perasaan mereka masing-masing.
Buku ini bukan buatku, banyak hal yang malah terasa cringe, alih-alih sendu atau greget sama romansanya.
Oke, buku ini ceritanya mengenai tiga orang sahabat; dua cewek, satu cowok. Pernah dengar pendapat kalau cowok dan cewek itu nggak bisa murni sahabatan? Nah, buku ini membuktikan pendapat itu. Dhanu suka dengan Talitha, sedangkan Najla menyukai Dhanu. Talitha? Dia suka Dhanu juga tapi denial. Ceritanya berputar di kisah mereka, mengenai bagaimana Dhanu yang masih mengharapkan hubungannya dengan Talitha bisa bertahap, bukan sebagai sahabat lagi. Lalu, Talitha yang masih enggan menanggapi pernyataan Dhanu dan mengklaim dirinya menyukai orang lain, Fadli.
Yang paling nggak menguntungkan posisinya di sini adalah Najla, si karakter yang selalu ada di cerita dan dikenal sebagai si pasrah dan asal-kau-bahagia-aku-juga-bahagia.
Aku suka narasinya yang enak dibaca aja. Mungkin, idk, rasanya susah mencari apa yang bikin aku tertarik selain itu karena yah berbagai alasan. Beberapa hal yang nggak sreg selagi baca ini (kemungkinan mengandung spoiler, so please be wise):
Buat yang suka cerita-cerita romansa sekolah yang dipikirin cuma cinta (literally cuma cinta-cintaan aja), mungkin jodoh sama buku ini.
Buku ini bangus banget, percaya deh. Apalagi buat kita kita yang lagi kejabak friendzone yang sumpah rasanya gak enak banget di buku ini aku bisa ngerasain langsung gimana jadi pemeran utamanya. Gaya bahasa yang digunain juga enak dibaca, khas anak muda jaman now lah pokoknya. Oiyaaaa ada quotes juga pastinya. Recomended banget lah buat pecinta Friendzone series hehee
Pertama kalinya membaca novel karya kak Rintik Sedu. Suka sama namanya. Sewaktu baca blurbnya udah langsung bilang dalam hati, harus baca novelnya, soalnya bikin baper. Apalagi warna covernya ada yang pink. Yang biru juga keren . . Bahasa yang digunakan oleh kak Rintik Sedu ini mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Apalagi ada banyak kalimat yang bisa dijadikan quote. Okay, baper. Lanjut. Apalagi saat interaksi yang terjadi antara Geez dan Ann, bikin mupeng, terus pingin gigitin bantal, nguyel-nguyel kugan, gigitin lengan cogan . . Ehh, jangan salah disini kakak Princess sempat mikir yang beda lhooo, kayaknya habis ini kayak gini deh, nanti endingnya kayak gini deh di buku 1 ini. Ehh, ternyata kejutan banget. Kisah mereka sungguh sederhana dan banyak hal yang tak terduga yang terjadi pada Ann. Lupakan Geez yaa, Ann, karena sesungguhnya Geez milik kakak Princess. Ahay! . . Walaupun disini curhatan Ann terkesan lebay pada Gee, tapi salut lho, jaman sekarang jarang ada yang curhat-curhatan gini. Biasanya kan megang gadget susah diajak curhat *noted banget*. Perasaan Ann yang labil, khas anak remaja pada umumnya sih. Jangan lupakan juga yaa disini kita diajak untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, bisa menyesuaikan diri dengan pola pikir seiring bertambahnya usia, dan tentang keluarga serta cinta kasih . . Kalau kau mencari novel romance remaja yang bikin baper, jangan lupa baca novel ini ya
Novel ini kategori Teenlit, tapi nggak ada moral value yang bisa kutangkap dari novel ini. Konfliknya hanya cinta cintaan aja.
Semua karakter tokohnya kurang kuat. Apalagi Thalia dan Dhanu sebagai dua tokoh utama. Najla mendingan sih.
Awalnya nggak ada tokoh yang aku suka. Tapi menjelang ending, aku suka Najla. Si cewe baik dan Kuat.
Thalia plin plan banget. Katanya cewe dingin, tapi nggak ada satu bagian pun yang mengindikasikan bahwa dia punya karakter dingin. Malah dia itu cerewet banget dan juga egois. Sampe ending pun nggak tau Thalia sebenarnya suka sama siapa? Huhu Katanya suka Fadli, tapi kayak cemburu kalo Dhanu nggak ada didekatnya. Terus dekatin Radith karna katanya mau balas dendam, eh malah pacaran sama si Fadli. Udah dapatin Fadli, kok masih ragu aja sama perasaannya😭
Dhanu terlalu bodoh sih jadi cowo. Heiii, ada Najla yang selalu setia disampingmu. Ngapain pikiran Thalia mulu.
Konflik keluarga Najla juga nggak digali lebih dalam. Nggak jelas nih masalah ortunya apa.
Dialognya juga kadang cheesy banget. Apalagi pas pov Dhanu. Duh.
Aku awalnya juga bosan banget baca ceritanya. Nggak ada gairah sama sekali. Capek banget bacanya, jujurly. Tapi ketika udah klimaks menjelang ending, udah sedikit seru sih.
Ketika membaca draf pertama naskah ini, saya tahu kalau Innayah Putri punya sesuatu yang jarang dimiliki penulis remaja lain. Ada diksi yang bikin saya bergumam, “Ih, waw.” nggak kepikiran gitulah. Dan setelah revisi bolak-balik, jadilah Kata 3 Hati versi baru, yang tentunya sudah melewati perombakan banyak dari versi wattpad yang menurut penulisnya merupakan naskah pertama yang ditulis, tapi terbit kedua. Hem....
Idenya sebenarnya sederhana dan banyak sekali digunakan. Tapi aku suka gimana penulis menyampaikan, sehingga ide yang kelewat lumrah ini jadi menyenangkan untuk disimak. Dan pemilihan ending yang sungguh berani.😊
walaupun ceritanya tentang cinta segitiga, tapi nggak sedrama yang biasanya aku tonton/baca sih. emosinya dapet banget, apalagi yang bagiannya najla😭👍 endingnya jauh dari perkiraan sih, sedikit gantung