Jump to ratings and reviews
Rate this book

Djenar: A Mother's Dignity

Rate this book
Seluruh hidupku berubah 180 derajat saat kedua anak menggemaskanku berubah. Galang yang menjadi semakin liar di usia 14 tahun. Dan Kin semakin tertutup di usia 12 tahun.

Aku tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran mereka. Yang aku tahu hanya... bagaimana menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk kedua bayiku.

Hampir seluruh waktuku tersisa untuk bekerja. Sampai suatu haru, ketika aku dipusingkan dengan jerawat si bungsu dan mendapat email dari sekolah Galang. Aku harus segera melunasi biaya sekolah Galang hampir 31 juta dalam kurun waktu tiga bulan, bunyi emailnya.

Hampir 31 juta dalam tiga bulan!

Ini gila!

Aku harus mencari di mana uang sebanyak itu, sementara penjualan asuransiku mengalami masa-masa anjloknya?

Kalau kau ibu single seperti aku dan dihadapkan dengan masalah seperti itu, apa yang akan kau lakukan?

Ada ide untuk berbagi?

580 pages, Hardcover

First published October 1, 2017

3 people are currently reading
35 people want to read

About the author

Al-Al Malagoar

1 book51 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (33%)
4 stars
8 (38%)
3 stars
5 (23%)
2 stars
1 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for alineafajr.
27 reviews5 followers
December 2, 2017
Saya tahu saya boros bintang untuk Djenar walaupun ada kesalahan label kategori, mengesampingkan itu semua, i think it's more than just worthed! kalau bisa saya mau kasih lebih dari 5 malah. Dan sampai sekarang saya masih sulit percaya kalau ini adalah novel debutnya kak Al di penerbit mayor. 😂

Hal pertama dan juga berkali-kali saya lakukan ketika mulai membaca Djenar adalah; berkali-kali mengucap 'Istighfar—lalu senyum-senyum yang secara harfiah sebenarnya adalah 'ngakak'. 😂😂😂😂 (italic mode: on) Ya Allah kuatkan hamba!!!(italic mode: off).

Sedikit menyesal, tapi juga bersyukur karena tidak menyentuh wattpadnya kak Al, 😂😂😂 entah kenapa saya selalu lebih menikmati satu kesatuan berbentuk buku fisik.

Ok, back to the point, definitely Djenar's brilliant!, i loveeeee every single tenseness about Jen's life, eventho struggling in almost every moment in her life, terutama ketika Jen berhadapan dengan anak-anaknya, Galang dan Kin, kak Al put it all in funny and smart ways.

Sosok Jen, menuntun pembaca untuk tanpa sadar berpikir, "Apakah sosok ibu selalu se'paranoid' itu?", "Apakah sikap seorang ibu kepada anak-anaknya akan selalu seperti itu?". who knows? Yang saya yakini, sosok Jen terasa sangat nyata lewat tulisan kak Al, meskipun seperti setting tempat, contohnya nama kantor atau perusahaan cenderung tidak masuk akal, tapi dalam Djenar, semua terasa baik-baik saja dan masuk akal 😂😂😂 wow!

Novel setebal 576 halaman ini membuat saya sukses mengeluarkan kata-kata yang wajib tidak lulus seleksi lembaga sensor. 😂😂😂 Sungguh, bagaimana tidak, bisa-bisanya saya terbiasa dengan segala macam 'bahasa' yang biasanya sangat saya hindari.

Surprisingly saya menamatkan buku ini tanpa terganggu sedikitpun dengan 'bahasa' yang biasanya not my cup of tea.

Ide ceritanya asyik, alur maju yang dibawakan dalam ceritanya lebih maha asyik! Sayangnya terdapat beberapa typo dan kesalahan kategori yang tersemat pada buku ini. Dan hal lain yang membuat saya sedikit terganggu hanyalah kekeras-kepalaan Jen yang sulit ditoleransi, but, Jen's so realistic. Dan Barat, digambarkan sebagai lelaki idaman yang 'Hawt', honestly, maybe because my ideal type is sangat berbanding terbalik dengan Barat, makanya saya kurang menikmati, but back to the point, Barat tipe idealnya Jen bukan saya ya. Belum lagi Padang, pria dengan tipe suami-able ini, hmm, padahal awalnya saya nge-ship berat Jen dan Padang, namun penulis berkehendak lain, hubungan Jen dan Padang berkembang dan tidak sesederhana itu. 💕

Sarat dengan kesan feminist, ide ceritanya yang diramu sedemikian rupa menghasilkan 'sesuatu' yang menurut saya wajib diacungi jempol. Buku ini memiliki alur yang terstruktur dengan baik, sehingga saya hampir tidak menemukan plot hole, kalau pun ada, sungguh tidak berpengaruh apa-apa dalam cerita yang disuguhkan.

Konflik yang dibangun pada setiap part pun bisa dibilang apik, terutama penggambaran kaitan emosi antara orangtua dan anak, antara Jen, Galang dan Kin.

Pace-nya? hmm, walaupun buku ini tebal, tapi tidak ada yang terasa terlalu cepat atau terlalu lambat, semua mengalir dengan natural.

Bukankah sebelumnya sudah saya katakan? Sesuatu yang seharusnya tidak wajar pun terasa sangat wajar dalam DJENAR

Terlepas dari apapun dan bagaimanapun komentar saya tentang Djenar, buku ini mengandung banyak pesan moral di dalamnya, baik untuk pembaca yang berperan sebagai orangtua maupun pembaca yang perannya sebagai seorang anak.

Untuk anak, apapun yang dilakukan orangtua, sudah pasti ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, maka, berbicaralah dengan baik tentang apapun yang kalian inginkan tanpa harus melawan orangtua.

Dan untuk orangtua, anak, bukanlah robot atau peliharaan yang harus diatur dalam bertindak, namun dukunglah hobinya, kesenangannya, minatnya, dalam bentuk arahan agak hobi dan minatnya dapat terarah dalam bentuk yang positif, tanpa harus melarang apa lagi mengatur.

I LOOOOOVVVVEEEEE JEEEENNNN!!!!💕💕

PS: Dedek-dedek emesh under 21y.o. please stay away from this book, because buku ini untuk pembaca yang sudah matang baik secara umur, emosi, maupun kesehatan jiwa yes! so, be cool and wise.
Profile Image for Hani Risjad.
73 reviews16 followers
December 15, 2017
❝Mah, apakah arti perempuan itu?❞
.
.
❝Perempuan, anakku, adalah mahlukbrangguh yang berjuang demi keluarganya. Perempuan adalah mahluk yang akan mengiris dagingnya demi kebahagiaan buah hatinya. Perempuan adalah mahluk penuh cinta yang akan menawarkan nyawanya demi melahirkan buah hatinya. Perempuan adalah mahluk paling ajaib, yang membiarkan tubuhnya dirajam ribuan luka demi tawa dan senyum anak-anaknya. Dan perempuan, anakku, ibu dari segala ibu.❞ —[Djenar, 551]
.
.
Tak ada ciptaan tuhan yang paling indah dan mulia di dunia ini selain seorang Ibu.
Djenar. Berkisah tentang perjuangan seorang perempuan, single parent, single mom, single fighter demi membesarkan, mendidik, merawat dan melindungi anak-anaknya.

Dihimpit oleh kebutuhan ekonomi, permasalahan dalam pekerjaan serta tekanan dari berbagai macam arah, membuat Djenar harus kuat berdiri dan menopang kehidupan keluarganya sendiri.

Trauma di masa lalu, ketakutan dalam menjalin suatu hubungan sampai takut akan kehilangan orang-oramg tercinta, membuat Djenar akhirnya lebih memilih membangun tinggi tembok. Menciptakan sekat dari dunia luar. Djenar membangun dunianya sendiri dengan egonya.

Jadi, apa yang aku rasakan setelah membaca ini? Campur aduk! Entahlah susah di jelaskan. pada reviewku di Instagram, aku setengah mati memuji-muji alur cerita dari buku ini. Walaupun sejujurnya aku membenci keegoisan Djenar.

Buku ini hebat. Buktinya bisa membuat aku berulang kali meneteskan airmata. Jujur, aku rindu Mama setelah baca buku ini. Aku terharu. Aku sedih. Aku bisa merasakan bagaimana perjuangan seorang perempuan yang hancur dan harus bertahan hidup tanpa pasangan.

Kekurangannya hanya pada typo dan beberapa perpindahan setting tempat dan waktu yang masih terlalu cepat. selebihnya sempurna.

5 bintang layak untuk buku ini. Ini salah satu contoh kalau naskah atau novel wattpad itu tidak semuanya buruk. Tidak semuanya cacat!

Tak kenal maka tak sayang. Belum baca, belum terjun, belum tau sensasinya kita nggak akan pernah tau kan?

Bacalah. maka kau akan mengerti.
Profile Image for Katherine 黄爱芬.
2,430 reviews293 followers
December 1, 2025
Novel ini menceritakan kisah tentang perjuangan single mother yg harus menghidupi dua anaknya yang sudah beranjak remaja.

Awalnya aku lumayan demen dgn perjuangan Djenar alias Jen yg selalu pontang panting mencari celah untuk mendapatkan uang, diserbu berbagai tekanan bahkan cercaan dari orang sekitarnya sbg janda. Namun sayangnya chaos yg terjadi dalam hidup Djenar berputar putar terus selama ratusan halaman dan mencapai klimaksnya nyaris mendekati 500 halaman (dari total 576 hlm). Saya hampir menyerah membaca drama bertubi-tubi sepanjang hidup Djenar. Dan penyelesaian konflik dgn POV dari Galang, anak lelakinya yg pemberontak, sejujurnya kurang memuaskan saya.

Tokoh Jen ini saya suka effort-nya, gigih dan lumayan gokil dalam mencari uang karena prinsipnya anti meminjam uang, boro-boro kepada teman² dekatnya, dgn keluarganya pun Jen anti minjam duit. Tapi akhirnya malah semua pihak MENYERANG Jen. Mulai dari anak-anaknya yg remaja dan membuat masalah hingga perebutan anak asuh dgn mantan suaminya. Sangat disayangkan author membuat tokoh antagonisnya, si Mariana itu layaknya antagonis template sinetron, ya mungkin maksudnya supaya dramatis tapi bagi saya ini terasa over lebay. Dan Jen juga jatuhnya jadi sama, banyak tindakannya yg saya anggap over lebay juga.

Plot ceritanya masih OK, alurnya enak diikuti. Tapi tokoh-tokoh pria di novel ini entah kenapa SEMUA, ya benar SEMUANYA MULUTNYA KY PEREMPUAN.... Sibuk menggurui Jen sana sini. Kalau gw jadi Jen, gw gaplokin semua satu satu dah 🤣🤣🤣🤣 Dinamika pertemanan dan koleganya Jen aja yg agak weird, tapi gak mengganggu inti ceritanya.

Jadi, maafkan saya yg belum bisa memberikan 4 ⭐, sempat mikir 3.5 ⭐ tapi penyelesaian ceritanya gitu amat, seperti tergesa-gesa aja. Jadi 3 ⭐ udah pas ya, maaf gak bisa mark up ⭐.

Profile Image for Dian.
21 reviews4 followers
September 20, 2018
Salah satu novel terbaik yang pernah aku baca
6 reviews
November 14, 2019
Kalau rate bintangnya sepuluh pun, aku kasih rating maksimal buat buku ini.

Jujur aja, aku sedang mencari novel dengan sudut pandang baru. Romansa oke, tapi aku mulai jenuh dengan hal-hal berbau pencarian jodoh yang cuma dikupas di permukaan saja. Aku butuh sesuatu yang lebih dalam, yang mengejutkanku. Lalu waktu aku lihat sinopsis ini, aku putuskan untuk beli. Berharap dapat sesuatu yang fresh dari sini, dan harapanku nggak meleset.

Satu kata aja deh setelah baca Djenar. Edan! Udah lama banget nggak nemu novel yang bisa bikin hati jungkir jempalik macam ini. Nemu novel ini di Pameran kota dua minggu lalu, dan dari sekian banyak novel yang aku beli, this is the best purchase. Dan ketika aku kepo biografi pengarangnya, ternyata dia dari dunya oren. Auto fallaw~~

"Orang muda tidak akan pernah tahu rasanya menjadi orang tua. Tetapi akan salah sekali jika orang tua lupa rasanya menjadi orang muda." Dumbledore, HP 5.

Kalimat itu bener-bener terngiang waktu aku baca interaksi antara Galang dan Djenar. Sebab, aku nggak pernah bisa menjudge salah satu tokoh pun dengan label 'salah'. Sementara sebagian besar novel selalu punya tendensi tokoh yang antagonis dan protagonis, aku nggak nemu itu di sini. di satu waktu aku ketemu noktah hitamnya seorang tokoh, setelahnya kesanku dibikin ambyar dan memaksaku merekonstruksi kesanku buat dia. Bahkan Chris dan Mariana (asem tenan kan, ketika aku paham bahwa Chris mau berjuang dengan keadaan keluarganya yang sekarang karena dia mau belajar dari masa lalu) Aku bahkan kudu berdamai dengan diri sendiri waktu aku dendam banget sama duo durjana ini. Walaupun, satu satunya yang belum sembuh dari sakit hati adalah Mariana. Dia masih terus kemakan penyakit hati bernama iri, kayaknya. Aku nggak nemu scene dia sadar, soale. Nggak kayak Chris. What I wanna say is, mereka benar-benar cerminan manusia yang selalu punya dua sisi, salah dan benar, bertumbuh. Aku harus mengapresiasi penulis untuk kepiawaiannya yang satu ini. Sebab sulit sekali membangun tokoh yang banyak, kompleks dan membuat pembaca paham dengan teknik showing. *Sungkem*

Plot dan setting udah pas. Aku nggak merasa kesulitan mengikuti. Walaupun, aku sempat meletakkan buku ini barang sejenak waktu di awal-awal. Sebab, gaya bahasanya nggak aku banget. Aku nggak biasa ketemu 'kau' di kalimat semi formal. 'kau' yang satu kalimat dengan 'nggak'. Buatku pribadi, itu terdengar kontradiktif. Dan selain Jancuk, aku nggak nemu bahasa khas Suroboyoan. Seperti 'kon', 'sampeyan', 'mari'. But it is okay. Semakin aku baca, semakin aku tenggelam dalam problem yang disajikan. Secepat itu aku sama sekali nggak masalah dengan gaya bahasanya. Aku geregetan dengan eksekusi sempurna setiap klimaksnya. Aku ikut hancur waktu Djenar tumbang dan teriak-teriak minta tolong sama Barat. Aku dendam waktu Chris dan Palung Mariana datang dengan segala ancamannya, aku paham banget Djenar merasa terkurung, putus asa (padahal aku belum punya anak). Dan di waktu yang sama, penulis menunjukkan kalau karma nggak semudah itu datang setelah orang-orang berbuat jahat. Ye kan? Nggak seinstan itu. Kadang yang disakiti pun harus lebih berjuang lagi demi membebaskan diri sendiri dari penyakit hati.

Aku suka nama-nama tokohnya. Unik. Siang, Malam, Anyelir, Padang, Barat (uwuww kenapa dia seksi banget!! Bukan, bukan karena dia ngerokok, tatoan or dll. Seksi dariku adalah cowok dengan pola pikir yang wow. Aku nggak bisa!! Aku dibuat terperangah sama Barat dan Padang. Oh tidaakk!!)

POV-nya, adalah amunisi yang tepat untuk eksekusi cerita. Aku benar-benar dibuat larut dalam segala problematika Jenar. Dan aku nggak menemukan ada kebocoran POV di sini. Yang, mengingatkanku akan pentingnya sebuah komunikasi. Bukan lempar-lemparan kode dan berharap si lawan bicara bisa paham secara ajaib. Sebab sepelik apapun permasalahanmu, kamu nggak bisa berharap orang lain paham tanpa adanya komunikasi.

First of all, aku selalu punya ketertarikan khusus dalam tokoh dan penokohan. Di setiap novel, aku akan kepo sejauh apa seorang karakter mampu memukauku. Sedalam apa si penulis mampu menggali dan menyajikan tokoh-tokohnya, berikut cara berpikirnya. Aku merasa bahwa, itu adalah kunci untuk membuat tokohmu terasa dekat dan hidup. Seperti sekarang, kesan yang aku dapat dari Padang adalah, aku bakal takut banget kalau Jenar nikah sama dia. Karena, yah...Padang itu orangnya emosian. Adegan dia marah karena hal remeh cem Doraemon emang imut. Padang gitu, bisa emosi gegara musang unyu, wkwkwk...tapi justru itu, dia bisa emosi sedemikian hebatnya sampai mencaci maki orang karena Doraemon. Aku takut kalau suatu saat mereka nikah, Padang akan emosi hanya karena hal-hal kecil. Dia bilang sendiri kalau dia punya masalah mengelola emosi. It scares me.

Kan, sekuat itu jangkar yang ditancepin di pikiranku. Padahal aku tahu Padang cuma tokoh fiktif tapi heiii...si penulis ngebuid dia sedemikian nyatanya. Gimana aku nggak was-was? Wkwkwk

Kurangnya? Hmm...kurang panjang *ampun!* Tapi aku paham kok, dan puas dengan endingnya. Aku kagum sama Galang. Remajanya kerasa banget, apalagi di bab-bab pas POV-nya dia. Aku paham, aku sendiripun menunggu-nunggu kalimat ketika dia punya kesan buruk pada Mariana dan Chris. Tapi itu nggak aku temukan, dan aku bahkan paham ini. Dia cari sesuatu dan dua orang itu memberikannya, masih sepolos itu. Kerasa banget dia bertumbuh. Aku bisa ngebayangin pada saatnya nanti, ketika dia sudah sedikit lebih besar dan menemukan fakta bahwa yang memfitnah sang ibu adalah Mariana, kesan baik pada Mariana mungkin akan berkurang.

Sekian review dari saya. Maaf jika ada salah kata. Ya ampun, aku nggak bisa ngebayangin kalau aku nemu ini di wp dan kudu nunggu up setiap babnya. Bisa tersiksa banget aku! Wkwkwk...Terima kasih kepada penulis karena sudah melahirkan karya yang luar biasa ini. Aku dapat banyak sekali pembelajaran dari sini. Aku bahkan dapat banyak pembelajaran dari segi kepenulisan, terutama building up karakter.

Thank you. Sekiaann~~
Profile Image for Nisa Atfiatmico.
2 reviews
November 11, 2019
Setelah baca novel ini aku langsung nyariin ibuku. Aku peluk dia, sambil nangis lalu minta maaf. Hehhe cengeng banget ya aku ini.

Jujur saja, dulu aku selalu membangkang karena orang tuaku sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku yang merasa lebih membutuhkan perhatian daripada sekadar materi, sering banget menyalahkan ibuku yang memilih tetap berkarir.

Buku Djenar ini membuat aku sadar, bahwa aku sebagai anak tuh egois. Coba dulu aku berpikir dari sisi orang tuaku. Mereka berdua sibuk bekerja agar bisa memberiku yang terbaik. Mereka berkorban, mereka juga tersiksa, mereka juga merindu. Harusnya dulu aku tidak nakal agar beban mereka tidak bertambah berat.

Buku Djenar 😍
Profile Image for Gabriella Halim.
194 reviews13 followers
July 22, 2019
more on: https://whatsgabyread.blogspot.com/20...

Di awal, aku respect banget sama Djenar, karena dia sosok yang kuat, tangguh, tahan banting lah. Mirip-mirip sama mamakku. Kerja iya, ngurusin rumah iya. Sayangnya, pas dia nemuin Galang main musik, Djenar malah marah-marah, bilang musik nggak jelas segala macem. Di sini aku mulai kesel banget sama Djenar. Seakan-akan dia mengecilkan sebagai seorang musisi. Meskipun, emang kadang iya, penghasilan dari seorang musisi yang belum ternama nggak banyak, tapi kan nggak begitu caranya.
Profile Image for nenkeowynkim.
1 review
February 23, 2018
bintang 5 buat djenar jejak jenaka, buat kamu mah. sumpah yah baca ini itu antara gemes liat djenar, kesel karna dia ga mau ngutang dan hebat dia sebagai ibu tunggal. perjuangan u/ anak2nya luarrrr biasaaaaaa..... dan aku lebih sukanya lagi gaya bahasa yg digunakan sama kak al itu nyeleh tapi ngena di hati sampe ke jantung. sampe aku bertanya2 ini yg bikin djenar bnrn kak al kan? kak al next time klo ke cirebon bilang2 yah. aku mau minta TTD secara langsung 😊😊😊😊 sukses selalu kak 🙂🙂🙂
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.