Saya memamah novel Young Adult SEVENTEEN ONCE AGAIN hanya satu hari kurang. Tepatnya 12 jam dari sejak saya menyantap halaman prolog. Dari halaman pertama ini, saya sudah dibuat 'jatuh sayang' sama buku ini dengan kalimat; ketika para penggila traveling selalu mengatakan bahwa hidup adalah serangkaian perjalanan, bagiku hidup justru sekelumit pelarian. This! Telak, kalimat pembuka yang langsung menyentuh syaraf sensitif (baca: rasa penasaran) saya untuk lebih menggumuli buku ini dengan mata, otak, dan hati terbuka. *baju nggak terbuka woi! Sialnya, saya mendadak risau dengan kalimat menyihir tadi?
Benar, ini adalah kebiasaan saya membaca novel, penuh curiga. Apalagi ini novel Handi, yang novel-novel sebelumnya saya sudah sering kena plintiran cerita yang memaksa saya berucap, SIALAN GUE SALAH NEBAK! Oleh karena itu, saya pun tak sabar untuk meraba maksud kalimat itu sampai prolog tuntas. Briana, nama tokoh novel ini, diceritakan seperti orang yang ingin lindap, menghilang, atau apa pun untuk menghindari semua hal yang berkutat dengan masa lalu. Dia ingin menyendiri. Sendiri. Melahap kesepian yang sudah menjadi dunianya selama ini. Entah, kesalahan apa yang dia perbuat sampai-sampai memutuskan untuk hidup seperti mati. Bukankah rasa sepi bisa membunuh seseorang pelan-pelan tanpa ia sadari? Mungkin, Briana sengaja melarikan diri. Mungkin lho ini. Eh, tapi kalau benar, dia ingin lari dari apa? Masa lalu apa yang membuatnya hidup semacam ini? Tanya lokus otak dengan dendrit sok detektif saya ini.
Saya jadi husnudzon sama Tuhan, atas kecelakaan Briana yang merenggut ingatan lima tahun terakhirnya. Ya, Briana pasti sering membatin, andai saya bisa melupakan kenangan pahit ini! Atau mengeluh segenap hati; andai Tuhan bisa menghilangkan kenangan buruk lima tahun lalu dari tengkorak saya. Nah, harapan hatinya itu dikabulkan lewat kecelakaan itu. Ketika dia harus kehilangan ingatannya setelah jatuh dari lantai tiga dengan kepala terbentur keras. Anugerah atau bencana, karena setelah itu Briana hanya mengingat momen-momen indahnya saat fia masih 17 tahun. Iya, hanya momen bahagia. Tuhan baik juga, berkenan sebentar mengambil memori buruk yang mengubah Briana hingga menjadi zombi yang terkubur dalam kelam sepi tak bertepi. Pikiran positif saya ini rupanya sama persis dengan yang dirasakan Mama Briana. Tosss, sama Mama. *sok kenal.
Melihat Briana kembali ceria, lincah, bisa tersenyum tulus, membuat Mama berpikir alangkah baiknya Briana semacam ini. Kemudian rencana merahasiakan tentang masa lalu Briana dan mendukung akan ingatan putrinya yang menyangka masih 17 tahun terus dipertahankan Mama. Saya persis tahu cara Mama untuk meyakinkan Briana bahwa ingatannya benar; hanya perlu menjauhkan Briana dari orang-orang di masa lalu dan fakta-fakta tentang putrinya. Mendaftarkan ke sekolah SMA luar Jakarta dengan bantuan relasi adalah keputusan Mama paling memungkinkan waktu itu.
Pertanyaannya, sebenarnya apa kesalahan atau hal getir di masa lalu Briana? Sampai Mamanya pun tak tega jika dia kembali mengingat kenangan buruk itu? *sumpah saya penasaran sangat.
Apalagi di sekolah baru itu, kehidupan Briana seolah menemui babak baru. Dideketin sama Ben, cowok manis dengan postur tegap pendiri club penyiaran, dapat rival Alisha, cewek sempurna (sesempurna iblis juga) yang mirip Hitler berganti jenis kelamin, Bapaknya penguasa SMA situ lagi. Eh belum lagi ada Om Bastian (maksudnya guru Bahasa Inggris yang masih muda) baik banget dan selalu bisa diandalkan Briana. Pasti bakal seru hari-hari Briana di sekolah baru itu. Meski Mama mengutus abang Briana, Andra, untuk lebih protektif demi kesehatan dan kondisi ingatan Briana. Lantas, bagaimana kisah yang sudah terlanjur di jalin di SMA baru, ketika Brian telah mendapatkan ingatannya utuh? Astaga, dia sudah 22 tahun?
Seru! Bikin lanjut baca terus pokoknya. Handi benar-benar lihai dalam meramu penutup tiap chapter hingga menarik saya buat larut bersenyawa dengan cerita Briana, sampai lupa makan, mandi, atau sekadar membalas chatting yang sedikit penting. Hehe... Apalagi pertanyaan saya di atas; kesalahan Briana di masa lalu ditahan-tahan jawabannya. Emang Si Bri ini dulu kenapa sih? Handi sangat elegan menguak misteri itu dengan sedikit demi sedikit memulihkan kembali ingatan Briana dengan pemicu tokoh-tokoh di SMA barunya. Sumpah, seru dan bikin deg-degan. Alur maju mundur yang bagus dan runtut. Setiap satu lokus memori Briana terbuka, akan ada scene masa lalu yang kemudian dijabarkan Handi. Jadi, tidak begitu rumit dalam mengikuti loncatan alurnya. Justru metode ini membuat cerita hidup dan nggak flat.
Soal karakter, Handi sudah jagonya. Saya hampir selalu suka sama karakter utama cewek yang Handi buat. No drama, kuat, dan nggak 'keju' orangnya. Dia biasanya pura-pura kuat sih. Ya, kayak Briana. Dengan melarikan diri begini. Karakter utama cowok juga pas. Stabil. Sifat remajanya juga terasa. Saya bersyukur novel ini masuk YOUNG ADULT. Tulisan Handi ini termasuk tulisan yang menggunakan gaya agak kaku? Atau bisa saya bilang sedikit kurang cair, encer. Berbobot dan sedikit agak berat. Seolah saya membaca tulisan Handi di novel-novel romance dewasanya. Hehehe.
Kemudian saya menemukan tiga typo, walau tak begitu mempengaruhi kenikmatan saya menelanjangi kisah Briana ini. Cuma, saya kok sering bolak-balik mengecek timeline yak. Duh, ini sih karena IQ saya yang merosot tajam. Jadi lupa ini kejadian tahun berapa sih, lalu balik lagi. Hahahaha... *malu saya.
Akhir kata, saya puas. Saya merasakan klimaks saat membaca novel Handi ini. Pun, saat mendapati endingnya, saya merasa adem dan tiba-tiba ingin manja-manja sama penulisnya. Hihihihi... Empat bintang buat SEVENTEEN ONCE AGAIN, yang mengajarkan saya betapa pentingnya bisa memaafkan diri sendiri. Ya, karena memaafkan diri sendiri ternyata tak semudah memaafkan orang lain. Terima kasih Handi Namire :* @handinamire