Pandu Hamzah — Penulis Puisi-puisi Candrika Adhiyasa dalam SUDRA dengan intens menelanjangi panu, kadas, kurap tubuh realitas sosial kontemporer dengan memakai gagang bahasa yang ujungnya bercabang dua: satu frustatif, dua substansif. Torehan yang frustatif bisa kita rasakan segera dengan vulgar, torehan yang substansif butuh mengedon dalam jiwa untuk kemudian berurat menjadi sebuah kesadaran bahwa bagaimanapun puisi adalah sahabat terjujur bagi kita untuk tetap melakoni zaman dengan tetap eling dan waspada.
Rudy Aliruda — Penyair, Ketua FTBM Purwakarta, Bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta Berbicara dengan lugas dan bebas, puisi-puisi dalam SUDRA cenderung memosisikan diri sebagai saksi yang melepaskan berbagai kabar dari beragam fakta yang terpapar pada dunia empiris. Kritik sosial dalam puisi-puisi Candrika Adhiyasa telah genap menjadi nyawa yang serta-merta hidup sekaligus menghidupi puisi-puisi itu sendiri, perihal renungan, penghayatan, serta seruan dari ruang personal menuju keluasan ruang kolektif, sebuah ikhtiar penyampaian pesan yang efektif kepada khalayak pembaca.
D. Ipung Kusmawi — Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Sastrawan, Aktor teATeR SADO Kuningan Dari puisi-puisi Candrika Adhiyasa, saya dapat menangkap riuh marginalitas dari desa-kota, miskin-kaya, hingga rakyat-penguasa. Dengan kelugasan kata-kata, puisi-puisinya juga melecutkan kesadaran saya bahwa betapa Indonesia belum sepenuhnya MERDEKA!
Efvhan Fajrullah “Fajar Barasukma” — Penyair, Jurnalis Palembang Pos (Peraih Anugerah Seni Batanghari Sembilan dari Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010 Kategori Teater) Tiga larik/kalimat dalam sajak Di Kampungku yang terdapat dalam buku kumpulan puisi SUDRA karya Kaka menurut saya cukup mewakili ‘kekhasan tema’ yang diangkatnya, dan menyigi sajak melalui telisik interpretatif. Telisik interpretatif dimaksud tanpa bingkai teori kritik sastra tertentu, melainkan pemahaman personal, yang dalam hal ini bisa sang penulis maupun pembaca.
Arip Hidayat — Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan, Kepala Dapur Sastra Universitas Kuningan Dalam puisi-puisi Kaka kali ini, kita tidak hanya disuguhi diksi, imajinasi, dan emosi, tapi juga dalamnya kontemplasi.
Tedy Maulana Ibrahim — Sastrawan Keresahan-keresahan Sang Penulis akan keadaan kampung halamannya banyak tergambar jelas dalam puisi-puisi di buku ini. Tepat kiranya jika saya sebagai Sang Pembaca memaknai puisi-puisinya sebagai catatan keresahan kaum SUDRA—yang banyak tertuang, tergambar di tulisan-tulisan Kaka. Bagi saya, SUDRA adalah sebuah langkah maju dari seorang anak muda yang suka menulis puisi dan mempunyai kepekaan nurani.
Moch. Soleh Sohih — Penyair, Wakil CEO PPMPI Publisher; Dewan Persatuan Penulis Muda dan Pemula Indonesia SUDRA, begitulah Candrika Adhiyasa memberikan tajuk pada antologi puisi ini. Ia berhasil mengemas dengan rapi segala unek-unek yang selalu mengantre, memadati dan membuat gaduh pangkal hatinya. Membaca buah tangan Kang Candrika ini saya selalu merinding, ada benih dalam setiap diksinya, ada hidup dalam setiap lariknya di mana setiap jengkal sajaknya berpautan dengan kaum sudra, golongan masyarakat kelas bawah. Membaca sajak-sajak di dalam buku ini kita akan membaca diri; membaca tanah air, membaca muka penguasa sehingga kita tetap menjadi pribadi yang rendah hati dengan memetik makna dari setiap diksi di dalam sajak-sajaknya.
Riaz Resmaya — Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Sastrawan, Aktor teATeR SADO Kuningan Dalam antologi SUDRA kali ini, Kaka mengedepankan nilai-nilai sosial yang mengungkap beberapa peristiwa kehidupan. Entah itu sebagai pengalaman atau daya nalar. Berbeda dengan antologi puisi sebelumnya yang saya baca, dalam antologi SUDRA kali ini, Kaka sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kaka lebih berani menemukan kekhasan puisi yang ditulisnya. Ia kini tak lagi terbatas oleh rima-rima dan irama yang ada. Ini penting, karena kemajuan seseorang dalam menulis bisa dilihat dari perkembangan bahasa yang digunakan.