Tujuh cerita tentang kehidupan perempuan yang memilih untuk percaya kepada dirinya sendiri Dari tujuh penulis perempuan, tujuh tokoh perempuan dengan permasalahannya masing-masing.
Permasalahan yang amat pelik dan menggelisahkan, tapi masalah mereka tidak pernah kentara oleh siapapun, hanya mereka sendirilahh yang mengalaminya. Tidak semuanya mau memahami mereka, apalagi mendengarkan mereka.
Bahkan keluarga dan orang terdekat mereka. Ini kisah para perempuan, berserta perasaan, suara, dan kehidupannya.
Cho Nam-joo is a former television scriptwriter. In the writing of Kim Jiyoung, Born 1982 she drew partly on her own experience as a woman who quit her job to stay at home after giving birth to a child.
Kim Jiyoung, Born 1982 is her third novel. It has had a profound impact on gender inequality and discrimination in Korean society, and has been translated into 18 languages.
Kumpulan cerita ini memuat tujuh cerita dari perempuan dengan berbagai latar belakang. Namun semuanya mengusung topik feminisme. Dari ketujuh cerita ada tiga cerita yang saya sukai, yaitu : Dear Hyun Nam, Kedamaianmu dan Menopause. . Empat cerita lainnya menarik, tapi agak sulit untuk saya cerna.
Ketujuh cerita menggambarkan betapa hidup perempuan itu complicated . Di Korea, dengan budaya patriarki yang kuat, membuat perempuan sering mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri. Bahkan tidak jarang perempuan mendoktrin pada dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya salah. Dalam cerita Kedamaianmu ada gambaran posisi perempuan dalam keluarga. Seorang lak-laki akan mencari perempuan sebagai kompensasi untuk ibunya yang telah terlebih dahulu menjadi budak dalam keluarga. Perempuan yang akan menjadi istri bertugas mengambil alih beban ibu mertua. Sementara laki-laki bertugas untuk bekerja, mengumpulkan uang agar keluarganya hidup mapan. Dalam catatan penulis, Choi Eun Young menyebutkan bahwa patriarki adalah lawan dari cinta. Semakin tunduk pada nilai patriarki, seseorang (perempuan) akan kehilangan kekuatannya untuk mencintai dan dicintai.
Buku ini berisi 7 cerita tentang perempuan yang ditulis oleh 7 penulis juga. Separuh ceritanya cukup mudah dimengerti. Tentang apa yang dialami kebanyakan perempuan di sana, dan ada juga cerita yang cukup kusuka. Beberapa yang lain jujur saja bikin bingung. Untungnya di akhir setiap cerita terdapat penjelasan dari penulisnya. Tapi beberapa nggak terlalu membantu. Mungkin karena aku ngga relate sama ceritanya atau memang ditulis dengan begitu rumit, seperti sebuah cerita yang nggak ada namanya cuma ditulis "pria itu" "wanita itu" bikin bacanya jadi cepet capek 😅 aku sendiri nggak nyangka baca buku ini bakal lama. Tapi paling tidak buku Cho Nam Joo itu selalu membuatku bersyukur lahir dan tinggal di Indonesia, ya negara ini juga lumayan patriarkinya, cuma masih menemukan banyak Bapak2, adek/kaka cowok yang mau bantu nyapu atau cuci piring, dan kalau ada acara keluarga kayak selamatan dll para perempuan memang masak, tapi para priapun tugasnya juga lumayan, mereka yg angkat kursi, bersih2, belanja air minum dan nyiapin tikar.
Dear Hyun Nam, cerita yang dijadikan judul buku ini, rasanya juga bikin bertanya-tanya, selama itu hubungan tapi ngga bisa mengambil keputusan. Apakah benar-benar sesulit itu jadi perempuan di sana ya?
If that was not titled as feminism novel then I could like more...? Dear Hyun-nam oppa was my favorite because that was very realistic and believable to me. But other stories...? I didn’t get what authors wanna say with their stories. I understand this is short stories and they want to talk about women-hood but that’s about it. Feels like amateur level storybook to me.
Buku ini berisi tujuh cerita yang ditulis oleh tujuh penulis. Tema besarnya adalah feminisme. Dari tujuh cerita itu, hanya empat yang aku pahami: Dear, Hyun Nam; Kedamaianmu; Menopause; dan Anak Mars. Sisanya superabsurd.
Afterword dari penulis Choi Eun-young yang menulis cerita "Kedamaianmu" ini segetir ceritanya, tapi penting untuk disampaikan. Begini bunyinya:
Aku sering memikirkan kata-kata Bell Hooks yang mengatakan patriarki adalah lawan kata dari cinta. Semakin tunduk kepada nilai patriarki, seseorang akan kehilangan kekuatannya dalam mencintai dan dicintai. Kesadaran otoritas patriarki menganggap bahwa perempuan adalah milik laki-laki, tanpa melihat statusnya di atas atau di bawah. Usaha-usaha merampas pemikiran dan kebebasan perempuan pada akhirnya tidak akan membawa kebahagiaan pada siapa pun. Patriarki tidak ubahnya racun yang mengubah hati yang hangat dan lembut menjadi batu yang keras. Manusia menjadi kehilangan cinta. Serasa hidup tapi mati. HIngga akhirnya menjadi eksistensi yang tidak indah.
Aku tidak ingin menjadi manusia yang seperti itu.
(...)
Patriarki menuntut ketundukan satu sisi dan menghancurkan martabat manusia dengan berbagai cara, sehingga manusia tidak bisa merdeka. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia menuntut rasa patuh dari manusia lain.
Dan ini bagian terfavoritku:
Tidak ada rasa sakit yang wajar diterima dengan alasan kita adalah seorang menantu, istri ibu, dan anak perempuan. Singkatnya, tidak ada alasan yang membenarkan seseorang menderita hanya karena ia adalah perempuan.
Aku memimpikan dunia di mana ada cinta yang menjadi kebahagiaan bagi satu sama lain dengan memberikan kebebasan.
Buku ini berisikan 7 cerpen dari author wanita yg isi temanya adalah feminisme. Boleh dibilang it's not my type of book. Keseluruhannya hampir menyuarakan hal yg sama, tertekan oleh sistem patriarki (tapi tanpa solusi).
3-4 cerpen di awal masih realistic fiction, tapi ke belakangnya makin noir dan sci-fi. Dan makin jungkir balik otak saya. Karena malas mikir apa maksud dari ceritanya, aku pilih "I don't care what you mean" ajalah. Sptnya penerbit menerbitkan buku ini dan mengharapkan bakal "meledak" spt Kim Ji-Young 1982. Tapi beda vibe nya sih kurasa.
Buku "Dear, Hyun Nam" sebenarnya berisi tujuh cerita pendek (aku sempat salah kirain novel, ga teliti 😂) serta satu esai yang membahas bagaimana perempuan menyuarakan dan disuarakan dalam karya tulis.
Dari tujuh nama, setidaknya aku kenal dua orang, yaitu Cho Nam Joo yang menulis "Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982" dan "Saha Mansion" (setidaknya dua buku ini yang pernah kubaca) dan Gu Byeong Mo yang menulis "Wizard Bakery". Meski tidak mengenal yang lainnya, pembaca akan diberi data singkat tentang penulis termasuk penghargaan yang diterima dan catatan pemikiran mereka di bagian akhir tiap karya.
Tujuh cerpen dalam buku ini:
📝 Dear Hyun Nam Tentang perempuan yang dianggap tak berdaya
📝 Kedamaianmu Tentang penempatan perempuan dalam ranah domestik
📝 Menopause Tentang perempuan yang meragukan dirinya sendiri
📝 Semua Berada di Tempatnya Tentang perempuan yang mempunyai sisi maskulin dalam dirinya
📝 Orang Asing Tentang perempuan yang tak melulu harus menjadi tokoh pendamping
📝 Harpy dan Malam Festival Tentang perempuan yang "dibunuh" karena kecantikannya
📝 Anak Mars Tentang sisi keibuan dari seorang perempuan
Pada judul-judul cerpen awal, aku masih bisa menikmatinya secara biasa. Kehidupan yang mereka alami kukenali terjadi di sekelilingku entah dari berita, lingkungan sehari-hari, hingga cerita-cerita yang terdengar. Tapi, mulai menuju akhir, aku diajak menikmati genre yang berbeda. Ada sisi imajinatif yang terkesan melebar dari harapan cerita tentang perempuan yang "nyata". Kumcer ini menyajikan sisi realistis, misteri, hingga fantasi dari seorang mahasiswi, ibu, menantu, hingga tokoh yang terlibat dalam perburuan berdarah-darah serta pergi ke Mars dalam satu buku. Positifnya, kita diberi ragam bentuk yang bisa dipakai untuk menyuarakan perempuan. Tapi, sayangnya, mungkin ada pembaca yang kaget dengan perpindahan suasana itu.
3.5 stars. Some of the stories were awesome and some of them were soso or disappointing. But overall, I enjoyed reading this book and all the authors are so skillful in writing. Especially I loved the stories by bomi and byungmo. I can't stop thinking about them. I think they opened the new world of Korean literature with the female gaze. It's so fresh. I need more projects like this. I just need more feminism novels.
Cho Nam - Joo merupakan seorang penulis asal Seoul, Korea Selatan. Salah satu hasil karyanya adalah novel Dear, Hyun Nam. Novel ini menceritakan tujuh perempuan yang berbeda. Tujuh perempuan tersebut memiliki permasalahan hidup yang berbeda. Salah satunya, menceritakan tentang kehidupan wanita yang memilih untuk percaya kepada dirinya sendiri.
Ada seorang wanita yang bertanya dimana lokasi Fakultas Teknik. Lalu, ia bertemu dengan seorang laki - laki yang bernama Kang Hyun Nam yang ingin pergi ke Fakultas Teknik. Awalnya, wanita itu merasa sangat gugup. Sesampainya di Fakultas Teknik, hatinya berdebar sangat kencang. Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka semakin dekat. Hyun Nam sangat menyukai anak kecil. Hyun Nam ingin mempunyai tiga anak. Selama ini, Hyun Nam berbicara seolah - olah sudah pasti mereka akan mempunyai anak dan membesarkannya. Wanita itu berpikir untuk tidak memiliki anak. Karena, ia tidak ingin pekerjaannya berantakan karena melahirkan dan mengurus anak. Pertanyaan Hyun Nam bukanlah “Apa menurutmu mempunyai anak adalah ide yang bagus?” melainkan “Kira - kira setelah anak umur berapa tahun kau bisa mengasuhnya sendiri?” Tidak lama kemudian, Hyun Nam melamar wanita itu. Tetapi, wanita itu menolak. Wanita tersebut tidak akan hidup lagi sebagai “Wanita Milik Kang Hyun Kam”. Selama ini, Hyun Nam tidak menghargainya sebagai seorang manusia. Hyun Nam seringkali membuat wanita tersebut bergantung pada cintanya. Hyun Nam seperti tidak menjaga wanita tersebut yang tidak tahu apa - apa, melainkan membuat wanita tersebut menjadi orang yang tidak tahu apa - apa. “Apa ia senang membuatku menjadi orang bodoh, lalu mengontrolnya sesuka hatimu?” ucap wanita tersebut. Maka, wanita tersebut memutuskan untuk tidak menikah dengan Hyun Nam.
Novel ini memberikan banyak pelajaran bagi pembacanya. Novel ini mengajarkan kita untuk percaya kepada diri kita sendiri. Novel ini juga mengajarkan kita untuk belajar memahami apa itu soal percintaan.
Walaupun novel ini merupakan novel terjemahan, penyusunan kata serta penggunaan bahasa sehari - hari di novel ini tertata dengan baik. Hal yang kurang dalam novel ini adalah cerita ini ditempatkan dalam satu buku. Karena, tema dan genrenya jauh berbeda.
Novel ini layak untuk dibaca oleh kalangan remaja hingga dewasa. Setelah membaca novel ini, kita akan menemukan nilai - nilai yang memberikan banyak pelajaran berharga.
Feminisme artinya gerakan kesetaraan wanita. Setara yang bagaimana? Apakah jika perempuan punya profesi mentereng seperti jadi dokter, jadi polisi, jadi direktur, atau jadi presiden dan laki-laki jago mengerjakan urusan rumah tangga macam mencuci, menyapu, mengurus anak itu berarti sudah setara? Aku rasa bukan seperti itu.
Sependek yang aku pahami, setara artinya sama-sama punya pilihan. Tanpa melihat apakah seseorang itu laki-laki atau perempuan, mereka punya kesempatan memilih yang sama, pendidikan seperti apa yang ingin mereka dapatkan, pekerjaan apa yang ingin mereka lakukan, makanan apa yang ingin mereka nikmati hari itu, dan hal-hal lainnya. Tentunya ini pilihan bertanggung jawab yang dengan sadar dipilih sepaket dengan konsekuensinya. Perkembangan zaman membuat kita lupa bahwa "punya pilihan" adalah sebuah hak istimewa (privilege). Apakah wanita yang bisa dengan bebas pergi arisan, belanja ke mall, pesan layanan antar makanan dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah berarti lebih setara dan istimewa? Aku rasa bukan seperti itu juga konsepnya.
Kalau mau ngomong-ngomong soal bukunya, cerita 1-3 aku masih ngerasa "relate". Cerita selanjutnya agak lost, ga paham :D Paling relate cerita tentang menopause *haruskah aku belajar tentang menopause? Harus bersiap toh itu pasti akan terjadi kan.. Tapi cerita tentang wanita hamil yang dikirim ke Mars menarik juga, ga nyangka untuk novel bertema wanita tapi lingkup yang diangkat bisa macem-macem ga cuman seputar pekerjaan rumah atau keluarga.
Btw, bintang 4 karena beberapa terjemahan ada yang sepertinya kurang 1 kata jadi beberapa bagian sulit dipahami apa maksudnya *tapi ya naskah asli pasti bahasa korea kan, ga akan ngerti juga aku >.
Judul: Dear, Hyun Nam Penulis: Cho Nam Joo, dkk Penerbit: Bhuana Sastra Dimensi: 7 bab (epub), cetakan pertama 2022, edisi digital RBK ISBN: 9786230408014
Terdiri dari 7 cerpen dengan 7 penulis wanita membawakan kisah dengan tokoh utama wanita. Ada tiga kisah yang mudah dicerna dan mungkin relevan dengan pembaca menurut saya. Pertama, potret hubungan toxic/cowok red flag dan akhirnya tokoh wanita sadar ia bisa memilih pergi dan berdaya didetailkan dalam cerpen "Dear, Hyun Nam". Kedua, isu patriarki yang tergambar detail dari hubungan keluarga serta ibu dan anak perempuan sulung di Korea Selatan dalam cerpen "Kedamaianmu". Ketiga, kisah tentang kegelisahan seorang ibu akan perilaku anak sulung laki-lakinya serta pengasuhan anak perempuannya dengan suami yang tak peduli dan mementingkan gender namun malah dianggap sebagai hormon dalam cerpen "Menopause".
Tiga judul itu, menyuarakan beberapa kehidupan wanita terkhusus di Korea. Namun bagi saya sebagai muslim tentu ada banyak yang tidak saya setujui sebab berbeda nilai/prinsip. Selebihnya 4 cerita yang tersisa bagi saya agak absurd dan kurang saya pahami. Terutama cerpen berjudul "Semua berada di tempatnya" dan "Orang asing". Meski sudah membaca epilog yang menerangkan masing-masing cerpen, tetap saya tak memahami konteks dan isu yang ingin disampaikan kecuali tokoh utama dan pekerjaannya antimainstream untuk wanita.
Cocok dibaca bagi yang suka isu feminisme, patriarki, dan potret wanita di korea selatan.
Ada 7 cerita pendek, masing2 menceritakan perjuangan menjadi perempuan. Ruwet, tapi perempuan2 ini mencoba menjelaskan isi hatinya melalui kata2, kayak pengen jerit tapi gak bisa keluar suaranya, keluar suara jeritan pun masih disuruh bungkam. Jadi ya serba salah. Cerita pertama yaitu Dear, Hyun Nam. Tentang si wanita yg akhirnya dg berani menolak lamaran Hyun Nam, pacarnya selama lebih dari bertahun2, aku seneng dia mengambil keputusan itu dan mencurahkan unek2nya atas semua yg dia gak sreg selama pacaran dg Hyun Nam. Cerita kedua yaitu Kedamaianmu. Tentang Si Anak Sulung Perempuan yg berada di antara stres dg perilaku ibunya dan dia pun sedang capek jg dg kisah cintanya. Tapi di sisi lain dia sangat kasihan dg ibunya yg selama hidupnya sebagai 'pembantu' selama tinggal dg ibu mertua dan suaminya, tp dia juga marah kenapa kekesalan ibunya thd masa lalunya ditumpahkan padanya. Yoo Jin, aku berharap kamu selalu bahagi. Cerita ketiga yaitu Menopause. Tentang seorang ibu dari 2 anak, laki2 dan perempuan. Usianya tak lagi muda, membesarkan dua anak yg berbeda karakter dan 'kenakalan' anak laki2nya yg dianggap biasa oleh suaminya. Dan dia jg ada rasa iri thd adiknya yg tidak menikah dan bebas bepergian. Namun pada akhirnya dia sadar itu adalah pilihannya utk menikah. Semoga dia bisa melewati masa2 menuju menopause dg baik.
Lalu jujur untuk cerita keempat, kelima dan ketujuh menarik aku baca semua tapi aku tidak terlalu memahami dg baik, untung ada catatan penulis di belakangnya, sedikit membantu.
I read this in korean to get some reading practice and expand my vocabulary, so i perceive this book more like a study material rather than a literary piece.
However, i don't regret having read it and i feel like i got something from almost every story.
I don't understand why all these stories are placed in one book, because their themes and genres differ a lot. It starts with social feminist fiction and than shifts to sci-fi and magical realism (?)
The first four stories were straight up five stars for me, but the last ones were kinda meh.
I skipped second to last one, cause the vocabulary and sentence length were too much for me, i might return to it later when i have some free time. All the other stories were more than manageable difficulty-wise, so i would recommend this book to B2 or so korean learners.
My personal favorite is the story called 경년, where the main character is a middle-aged woman, and the readers percieve her family life through her eyes. It was quite interesting to get her perception of her children, husband, sister etc.
Buku yang berisikan 7 cerita dengan topik feminisme yang ditulis 7 penulis perempuan. Salah dua yang aku tau Cho Nam Joo itu penulis buku "Saha Mansion" & "Kim Ji Yeong, Lahir Tahun 1982" dan Gu Byeong Mo penulis buku "Wizard Bakery".
Semua ceritanya memperlihatkan budaya patriarki yang masih kental di Korea. Bahwa perempuan tidak punya hak untuk memilih. Sedikit saja bersuara maka dianggap membantah. Apapun posisinya perempuan selalu dipihak yang sulit.
Dari 7 cerita, aku lebih suka cerita 1, 2, 3 : Dear Hyun Nam, Kedamaianmu, Menopause. Karena ceritanya yang realistis dan mudah dicerna. Semakin kebelakang ceritanya agak ke fantasi jadi aku lumayan berfikir agak keras dan pelan - pelan bacanya biar paham.
Merupakan sekumpulan cerita pendek dari berbagai penulis perempuan yang memuat perspektif sebagai ibu, menantu, anak, hingga perempuan muda kantoran di Korea Selatan.
Bagian yang paling melekat di kepalaku ada pada bab menopause, dimana berisikan kutipan: "Mengapa orang terburu-buru memutuskan bahwa kau akan kesepian jika tidak menikah? Mengapa mereka tidak mengetahui bahwa ada juga kehidupan lain yang tidak dipilh banyak orang? Pada akhirnya seperti aku dan Jin Ah setiap orang memiliki hidupnya sendiri, dan mereka akan bertanggungjawab atas hidup yang dipilihnya."
Adapun bab terbaik bagi saya terdapat pada bab yang berjudul kedamaianmu, dengan kutipan: "Tidak ada rasa sakit yang wajar diterima dengan alasan kita adalah menantu, istri, dan anak perempuan. Singkatnya tidak ada alasan yang membenarkan seseorang menderita hanya karena ia seorang perempuan."
Buku ini memuat tujuh kisah perempuan yang ditulis oleh tujuh penulis yang berbeda.
Dari 7 cerita itu, favoritku adalah "Menopause" oleh Kim Yi-Seol, menceritakan kisah seorang ibu yang mengalami pergulatan batin setelah mengetahui anak laki-lakinya terlibat dalam seks bebas di bangku SMP. Sekelilingnya (terutama suaminya) tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu permasalahan dan malah merendahkan anak2 perempuan yang mau diajak melakukan hal tersebut. Walaupun kisah ini ditulis mengenai masyarakat Korea, aku pikir cerita ini masih sangat relate dengan yang terjadi di Indonesia.
Aku juga suka dua cerita awal yaitu "Dear Hyun-Nam" dan "Kedamaianmu" yang turut menceritakan kehidupan perempuan di Korea. Tetapi selebihnya aku kurang bisa mengikuti jalan ceritanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita yang menarik untukku hanyalah Dear, Hyun Nam. Tentang dimana seorang perempuan yang hidup seperti seekor burung dalam sangkar. Yang akhirnya sadar bahwa selama ini dia telah hidup dengan orang yang salah dan melewatkan banyak hal hanya demi orang tersebut. Buku ini untukku rasanya agak sedikit berat dan membosankan, terutama di 3 sampai 4 bab terakhir. Entah mungkin karena ini buku terjemahan atau memang bukunya yang membosankan.
Aku sangat menikmati membaca 3 cerita diawal dan memberi ekspektasi yg sangat tinggi dengan cerita2 selanjutnya, namun ternyata ekspektasiku salah, aku malah cukup bingung dengan beberapa cerita selanjutnya. Buatku judul cerita "menopause" adalah yg terbaik, aku sangat suka 3 cerita di awal, benar2 mudah dimengerti dan tidak membuat bingung.
Merupakan 7 cerita yang semuanya mengususng feminisme. Kayaknya cuma Dear, Hyun Nam yang paling menarik. Selebihnya biasa aja dan beberapa malah sulit dimengerti maksudnya apa. Mungkin karena terjemahannya juga kurang enak jadi meskipun dibaca berulang, aku tetap nggak paham substansinya apa.
Sebenarnya cerita-cerita dalam buku ini semua punya hal menarik, hanya saja memang gaya penceritaannya gak semua asyik. Judul favorit : - Dear, Hyun Nam - Kedamaian (tokohnya disebutin semua namanya, bingung bgt bacanya, tapi inti ceritanya sih oke banget) - Menopause
7 short stories of feminism The first 3 are outstanding 5 stars An amazing account of what it feels to live as a woman in Korea of different age groups The next three were a bit abstract hard to understand with so many symbolisms.... a 3 star Last one was interesting 4 star So average 4 star
7 cerita dari penulis wanita tentang feminisme dengan latar belakang yang berbeda-beda pula, ceritanya bagus namun ditulis dengan cara yang rumit sehingga butuh fokus dan pemahaman yang tinggi untuk mencernanya. Diakhir penulis merangkum tiap cerita menjadi lebih ringkas dan mudah dipahami.
Dua bintang, satu untuk Dear Hyun Nam dan satunya lagi untuk Menopause. Dari ketujuh cerita, hanya dua itu yang bisa dipahami, sisanya abstrak dan kurang menggugah.