Bintang 3 deh..
Jujur saya pribadi merasa tertipu dengan cover dan brulpnya wkwk.
Saya pikir tadinya ini tuh novel horor thriller gitu, eh.. ternyata bukan sodara-sodara wkwk. Ya ceritanya memang tentang hantu sih.. tapi nggak se"hantu" itu. Ini lebih ke fiksi absurd gitu (maaf). Jadi saya rada-rada heran kok bisa rating di GR tinggi ya?
Noir, bercerita mengenai Suri yang bisa melihat sosok hantu atau mahluk-mahluk dari dunia tak kasat mata. Sedari kecil Suri sering dinilai aneh karena suka berbicara sendiri. Bahkan hingga saat ini dirinya berumur 18 tahun, ia hanya memiliki seorang sahabat bernama Siena karena teman-teman yang lain menghindarinya.
Suri memiliki 3 orang kakak laki-laki yang bernama Chandra, Calvin dan Cetta. Ketiga kakaknya itu sangat over protective terhadap Suri, apalagi saat Suri terang-terangan menyukai Sebastian. Namun sayang Sebastian yang sangat takut hantu justru menghindari Suri karena menurutnya gadis itu "menakutkan".
Suri yang bisa melihat hantu, mencoba membantu mahluk-mahluk tak kasat mata itu agar kembali ke tempat seharusnya tanpa sadar konsekuensi yang akan dihadapi. Saat dunia tak kasat mata dan dunia mortal bercampur baur, apakah Suri akan selamat jika semua mahluk menyalahkannya karena telah mengubah takdir?
Hmm, novel ini tuh.. gimana ya jelasinya.. absurd, aneh atau emang otak saya yang gak nyampe?
Pertama-tama saya bingung, penulis ini seorang indigo kah atau hanya manusia "normal"? Saya baru pertama kali baca novel karya Renita Nozaria btw. Ini novel tentang hantu dan dunia tak kasat mata kan. Nah saya tuh penasaran pengambilan sudut atau perspektif tentang dunia yang nggak bisa kita lihat itu dari mana? Atau dari agama apa lah gampangnya.
Kalau diambil dari bahasa para tokoh yang tau bismillah, ayat kursi, izrail dll mungkin Islam kali ya? Tapi kok ada 7 prince of hell yang saya cari-cari di google ternyata itu mitologi berdasarkan tradisi Kristen. Karena jujur saya bacanya itu sampai keder kaya pengetahuan penulis tentang dunia tak kasat mata itu ngawur. Jadi ya udahlah anggap aja ini novel 100% fiksi tanpa campuran agama apapun.
Kedua, ini blurpnya kan tentang "hantu" ya? Memang isi novel ini juga ada tentang mahluk-mahluk tersebut tapi nggak sehantu itu loh. Maksudnya saya fikir novel ini akan fokus mengulas cerita si hantu itu. Mulai dari kematiannya, sosoknya, cara nakut-nakutinya. Eh ternyata engga dong, hantunya itu kaya seklebat-klebat gitu doang. Justru disini lebih banyak adegan jokes jayusnya huhuhu.
Sumpah ya, baca halaman awal sampe 50 ini rasanya udah mau DNF aja. Tapi saya tahan-tahan karena yakin pasti nanti bagus waktu udh di puncak konflik. Akhir ya saya paksa baca ini novel sampai hampir 1 minggu! Mana bukunya tebel, hurufnya kecil-kecil pula -_- novel ini juga masih banyak typonya gaess. Banyak juga kata-kata yang nggak nyambung kaya
"Calvin meraih sebutir kacang didalam kemasan kacang" atau "kita akan harus menghadapi masalah setiap bulannya" Whattt? Maksudnya apa?
Jujurly, novel ini tuh lebih banyak narasinya dari pada dialognya, jadi serasa baca koran. Sekalinya berdialog malah justru dipanjang-panjangin dengan percakapan nggak perlu. Saya tuh sebuuell banget dengan tipe dialog begini -,-
"Jangan main-main"
"Aku nggak main-main"
"Dia mengakui kesalahannya"
"Tapi aku punya alasan sendiri"
"Apa alasannya?"
"Alasan beneran kan?"
"Iya alasan jujur"
Apa sih fungsinya dipanjang-panjangin begini? Cuma menuh-menuhin halaman yaampun.. T.T saya tuh saking capenya baca sampe skip-skip baca dialognya doang. Tapi dialognya justru begini.. -_-
Ketiga, saya pengin bahas masalah tokoh-tokohnya.
Mulai dari Suri. Penulis selalu menegaskan bahwa Suri itu absurd, unik dan ajaib. Tapi menurut saya Suri hanyalah sesosok anak yang over PD dan ceriwis. Maksudnya ya Suri tuh nggak seabsurs itu gitu loh. Kalau mau dibilang absurd dan nyeleneh menurut saya justru si Rana.
Suri itu suka nyeletuk sembarangan, tapi bercandanya itu jayus. Kadang saya nggak suka ketika moment udh di build up se serius mungkin terus tiba-tiba Suri nyletuk sembarangn. Jadi buyar semua moment yang dibangun di novel ini. Terutama saat sidang. Bayangkan posisinya sudah bersama malaikat dan iblis tapi masih aja gayanya selengekan gitu. Kan jadi gemesss. Seolah-olah para pemimpin-pemimpin itu tak ada wibawanya sama sekali. Tempat sidang kaya sekolah jadi mengurangi kemenarikan di novel ini.
Belum lagi kalau sama abang-abangnya! Ini sumpah ya, entah saya memang yang nggak punya abang laki-laki jadi nggak ngerasain begini atau hubungan Suri dengan abang-abangnya itu yang memang terlalu aneh. Mereka itu.. aduh, gimana ya jelasinya.. interaksinya bikin geli. Terlalu romantis gitu lohh.
Zuzurly saya nggak begitu suka interaksi antara Suri sama abang-abangnya kaya gimana gituuu. Mereka terlalu sweet jadi kesanya bikin geli gitu, ngerti nggak sih wkwk. Misalnya kaya pas Suri jatuh dan lecet nggak seberapa, terus para abangnya langsung heboh dan langsung gendong Suri. Atau saat mereka memperlakukan dan berbicara dengan Suri kaya anak kecil, menurut saya itu bikin geli wkwk. Apa lagi sampe abang-abangnya minta cium pipi terus si Suri tidur di paha abangnya mana abis itu dielus-elus lagi rambut Suri.
Ini hubungan kakak adek begini sebenarnya wajar engga sih?? Karena masalahnya tuh gini. Umur Suri 18 tahun, Chandra 24 tqhun, Calvin 22 tahun dan Cetta 20 tahun. Yap. Suri bukan bocah TK gaesss. Apa wajar ya udah segede itu masih manja-manjaan sama abang? Atau saya yang terlalu primitif pikiranya wkwkwk
Next, ada abang-abang Suri : Chandra, Calvin, Cetta trio C yang digambarkan tinggi, tampan dan memiliki kulit sebening dan seterang lampu Philips.
Oke, ini juga mengganggu saya karena KENAPA SEMUA tokoh cowok di sini dijelaskan memiliki fisik yang ganteng luar biasa???
Nggak trio C, Bastian, Sergio, Ayahnya Suri, bahkan para malaikat, iblis dan Erza si hantu juga digambarkan memiliki wajah yang rupawan (mau nangis gue jadinya!) Maksudnya kenapa pula harus dijelaskan secara rinci kalau wajah mereka itu tampan, hidung mancung, kulit putih, mata coklat, rambut hitam dan entah apa lagi -_- kenapa semua cowo yang mengelilingi Suri itu sempurna? Why? Ada apa dengan novel ini?
Oh iya sebelum lupa saya mau jelasin dikit tentang abangnya Suri.
Pertama ada Chandra, kakak pertama Suri yang punya profesi seorang DJ.
Dia cukup terkenal, punya 1,5 juta follower di IG yang entah kenapa juga harus saya sebutin. Dia playboy kelas kakap. Sama kaya Suri, orangnya jayus dan over PD
Lalu Calvin, kakak kedua Suri yg aktif di organisasi ke mahasiswan dan punya hobi belajar. Dia sering paling sering debat dengan Chandra. Punya hobi nonton kartun dan telenovela 90an
Terakhir ada Cetta, kakak ketiga Suri yang dianggap paling normal. Dia seorang selebgram dengan banyak endors. Followers IGnya 4 juta. Dia paling tampan dan paling beken dari abang Suri yang lain. Dia juga paling perhatoan dan sering menjaga Suri. Cetta memiliki pacar bernama Rana. Mereka punya gaya berpacaran yang absurd wk.
Ketiga, masalah plot di novel ini. Bagi saya pribadi plot di novel ini cenderung lambat dan berputar-putar. Seperti yang saya bilang tadi. Dialognya sengaja dipanjang-panjangin. Belum lagi built up moment yang selalu hancur karena tek-tokan para tokohnya. Sangat disayangkan, padahal tema novel ini menurut saya unik banget. Kenapa engga ditonjolkan kisah para hantunya aja sih, maksudnya fokus aja disitu. Kisah Suri dengan yang lain itu selingan aja. Jadi saya sebagai pembaca nggak terheran-heran saat Suri tiba-tiba disidang di sidang tertinggi dengan permasalahan yang menurut saya sepele.
Ya menurut saya aneh aja si, Suri cuma bantu ngobrol doang sama orang yang berhubungan dengan arwah tersebut masa bisa semudah itu kena hukum? Maksud saya, kesalahannya gak fatal gitu loh. Saya sering liat di youtube-youtube gitu kaya Risa Sarasvati atau Sarah Wijayanto ngobrol dengan mahluk tak kasat mata. Bicara apa yang mau disampaikan dan.. fine. Ya mereka fine-fine aja. Jadi saya nggak terima gitu loh ketika Suri hanya menyampaikan pesan dari mahluk yang telah mati ke mahluk yang masih hidup lalu dia dihukum dan sampai Sang Pencipta harus ikut turun tangan dengan permasalahan yang sepele begini? Mereka cuma ngobrol dan menyampaikan, Suri sama sekali nggak mengusik, merusak apalagi ikut campur dalam dunia perarwahan. Kok bisa sampai seperti heboh begitu dunia atas?
Terakhir, saya nggak sreg Suri dapet gelar dari para malaikat bahwa ia adalah mahluk imortal yang memiliki kasih tanpa batas. Karena yang memiliki gelar tersebut pasti hanya Tuhan ya gaes. Mungkin lebih afdol kalau Suri itu mahluk dengan kasih lintas dunia 😌😌
Btw, Noir ini ada sekuelnya. Tapi kayaknya saya nggak lanjut dulu deh bacanya. Karena baca yang ini aja masih pusing wk