Bagi Tessie, Michael adalah orang yang paling berarti dalam hidupnya, kendati mereka hanya sesekali bertemu. Memang perjalanan hidup setiap manusia memiliki kekhasan masing-masing bukan? Kali ini pun, Tessie singgah di pulau tempat kediaman Michael, yang selama ini senantiasa dianggapnya sebagai salah satu pelosok keteduhan dalam perjalanan hidupnya yang serba sibuk. Tetapi justru saat ini meledaklah kejadian-kejadian yang menggoncangkan seluruh masyarakat pulau itu. Dan di tengah ketegangan itu, Tessie menyadari bahwa hidup ini bagaikan jembatan ...
Born in Tomohon, North Sulawesi, on 9 June 1943, Katoppo studied theology from 1963 at the Jakarta Theological Seminary, Sekolah Tinggi Teologi.
In 1979, Katoppo spoke about "Asian Theology: An Asian Woman's Perspective" at the first Asian Theological Conference in Sri Lanka. She served the ecumenical idea as a member of the Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT), and was part of the executive committee of the Indonesian National Council of Churches (PGI). She has been described as "independent, forthright, and conversant in a dozen Asian and European languages", and was internationally known as a female theologian. Katoppo died in Bogor on 12 October 2007.
Katoppo's Christian novel Raumanen, published in 1977, won the first prize at the Jakarta Arts Council Novel Competition. Her book Compassionate and Free. An Asian Woman's Theology was published in 1980 by Orbis in Maryknoll, New York. It was one of the first books to present an Asian feminist theology which used Asian myths and stories to interpret theology, and supports an image of God also as a mother. The book was translated into Dutch and German. Because Katoppo considered her work apolitical and did not want it thought of as having any feminist political agenda, she believed the term "feminist theology" to be "too loaded". Susan Evangelista of Ateneo de Manila University summarized Katoppo's perspective of the virgin Mary as being the core of "women's theology"; and rather than being limited to the role of the virgin mother of Jesus, Evangelista believes Katoppo saw Mary as a totally complete woman who, while obedient to God, serves as the perfect balance to men.
Marianne Katoppo saya yang pertama, tentang Terese yang datang mengunjungi sahabat-sahabatnya di suatu tempat di Asia Tenggara, dekat tanah lahirnya Indonesia. Tulisan yang menarik mengenai jalan hidup orang-orang religius yang terjun langsung dalam masyarakat, tidak berkhotbah, dan tidak memandang dirinya lebih baik. Juga di sana sini banyak nilai kemanusiaan dan emansipasi wanita. Tokoh-tokohnya mengagumkan dengan perbedaan mereka masing-masing. Alur ceritanya datar dan pendek saja, tapi tulisannya menenangkan saat dibaca... atau mungkin karena saya juga termasuk orang-orang yang jarang menderita itu, ya?
"Hidup ini bagaikan jembatan, janganlah engkau bangun rumah di atasnya."
Ceritanya kurang gereget. Gak ada konflik yang bikin kita menggebu-gebu dan penasaran dengan ceritanya, tapi beberapa bagian menguraikan maksud dari judul "Rumah di Atas Jembatan". Juga penulis menunjukkan secara gamblang bagaimana laki-laki menganggap perempuan sebagai saingan. Ketika bersuara atau menyatakan ketidaksukaan, langsung dipandang negatif. Empat kutipan yang paling mengena dan aku suka:
"Wanita yang beremansipasi itu sungguh payah—tak boleh disayang lagi, langsung menganggap dirinya dihina atau diancam." (Halaman 22)
"Pengalamanku kemudian mengajar padaku bahwa jarang terdapat lelaki yang begitu ikhlas memberi dukungan moral pada perempuan. Umumnya kaum pria, apalagi di kalangan apa yang dinamakan ilmuwan, sangat membanggakan kebolehannya, dan tak selalu bersikap positif terhadap orang lain—apalagi wanita—yang kira-kira dapat menjadi saingan." (Halaman 37)
"Binatang tidak berakal yang lazimnya dianggap musuh bebuyutan bisa bersahabat, pikirku. Mengapa justru manusia tidak bisa?" (Halaman 92)
"Dan dari Michael aku belajar bahwa mengasihi orang lain itu bukan berarti memilikinya, menguasainya, memasukkan diri secara paksa dalam kotak yang telah kita sediakan baginya dalam angan-angan kita." (Halaman 99)
Seperti cerpen, karena ya cuma seratusan halaman. Mungkin novelet kali, ya.
Nggak disebut nama negara dan tahun kejadian. Tapi ini tentu di Ceylon alias Sri Lanka, sebuah negara pulau di Asia Selatan dgn riwayat perseteruan etnis Tamil dan Sinhala.
Kerusuhan yg pecah akibat perseteruan ini menjadi latar saat Theresa, perempuan Indonesia sang narator sedang berkunjung ke negara ini menjumpai sahabat lamanya.