Awarded the Nobel Prize in Literature in 1913 "because of his profoundly sensitive, fresh and beautiful verse, by which, with consummate skill, he has made his poetic thought, expressed in his own English words, a part of the literature of the West."
Tagore modernised Bengali art by spurning rigid classical forms and resisting linguistic strictures. His novels, stories, songs, dance-dramas, and essays spoke to topics political and personal. Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), and Ghare-Baire (The Home and the World) are his best-known works, and his verse, short stories, and novels were acclaimed—or panned—for their lyricism, colloquialism, naturalism, and unnatural contemplation. His compositions were chosen by two nations as national anthems: India's Jana Gana Mana and Bangladesh's Amar Shonar Bangla.
Novel ini ditulis oleh Tagire yang merupakan pemenang Nobel Sastra tahun 1913. Tagore bersama Gandhi juga merupakan sepasang sosok guru bangsa yang sangat berpengaruh di India.
Novel Bimala ini mengambil setting dunia ningrat India di sekitar tahun 1908 ketika gerakan swadhesi (cinta produk dalam negeri) mulai digulirkan di India. Seperti kisah perjuangan lainnya, dalam gerakan swadhesi ini juga terdapat aliran revolusioner yang ingin mendorong proses perubahan secara fundamental dalam tempo yang singkat. Gerakan ini terkadang menjadi gerakan yang “machiavelian” atau menghalalkan segala cara untuk mewujudkan perubahan itu. Karena tidak punya landasan moral yang kokoh, gerakan ini juga mudah ditunggangi oleh kepentingan para pimpinan yang mengatasnamakan rakyat.
Di sisi lain, dalam gerakan swadeshi terdapat kalangan pro perubahan evolusioner. Gerakan ini memakai cara-cara anti kekerasan dan mendudukan etika universal ataupun etika agama (settingnya: Hindu) sebagai pilar gerakan. Bahwa perubahan harus dimaksudkan untuk menuju pada kebenaran dan bukan menciptakan penindasan baru.... Ending dari cerita ini gerakan moral-lah yang akhirnya memenangkan pertarungan itu...
Novel yang diterjemahkan dari bahasa Inggris ini mempunyai alur yang enak dinikmati, gaya bahasanya padat dan penuh mutiara filsafat yang bisa dijadikan sumber pembelajaran dalam kehidupan ini....
Novel ini sepertinya yang mengilhami novel As I Lay Dying dari William Faulkner untuk menggunakan multipel narator yang kemudian menjadi meledak penggunaannya di khazanah susastra Amerika Latin. Sebuah percobaan novel yang progresif dari Tagore.
Catatan : Novel Bimala ini adalah terjemahan dari novel The Home and the World.
membaca buku ini di era modern seperti sekarang adalah sebuah anugrah (barangkali) buatku karena dengan begitu aku bisa membedakan mana tindakan anarkis fanatik dan tindakan yang tepat dan seharusnya. bersyukur aku ngga terhasut dalam dialog persuasif yang dikemas secara puitis itu. sebel sama para karakter utamanya, watak mereka terlalu realistis apalagi si sandip sandip itu! dia kayak makanan basi yang dibungkus dalam kemasan mewah berhias emas, cerdas tapi bodoh. betulan merupakan gambaran lelaki misoginis! sedangkan Nikhil adalah ilmu pengetahuan yang membosankan tapi mencerdaskan. kalau kata sandip bimala bagai ratu lebah, bagiku bimala hanyalah katak amfibi yang bingung mau hidup di air atau darat. naik turunlah emosiku pas baca buku ini.
secara keseluruhan buku ini menggambarkan kondisi India pada era swadeshi, dimana mereka mulai membesar besarnya sikap cinta tanah air dan memboikot apapun tentang luar negeri. diambil dari sudut pandang keluarga terpandang pemilik pasar, terasa sekali peliknya pemikiran masyarakat pada saat itu. benar benar frustasi andaikata aku jadi Nikhil, mana si istri selingkuh terang terangan (sama sahabat sendiri lagi??? ga tau diri emang). sebagaimana buku jaman dulu, kepenulisannya sangat cantik, puitis!
Novel kuat yang mengambil latar dunia ningrat dan tuan tanah di Benggala pada tahun 1908 ini secara bagus menjalin tumbuhnya sebuah kisah cinta dengan kesadaran politik. Bimala tercabik-cabik antara kewajiban terhadap suaminya, Nikhil, dan tarikan yang teramat kuat dari Sandip sang pemimpin gerakan politik yang radial dan memukau. la berjuang keras untuk mengatasi perbenturan yang tak terdamaikan antara tertib dunia rumah dan kebebasan-bisa juga keliaran-dunia luar.
Kisah Bimala in boleh jadi merefleksikan konflik internal India sendiri yang membayangkan pemecahannya yang tragis pada 1947. Kita bisa merasakan kompleksitas dan dimensi-dimensi sosial pada masa Tagore untuk memahami zaman kita.
Namun demikian, novel in tetaplah sebuah karya sastra yang secara indah menggambarkan lubuk batin manusia yang subtil dan tak terpermanai. Sebuah novel percintaan yang tak biasa. yang hanya mampu ditulis oleh sastrawan bear sekelas Tagore.
Novel ini berpusat pada tiga karakter Bimala, Nikhil, dan Sandip — yang ketiganya adalah representasi dari semangat nasionalisme yang menguasai Benggala pada dekade pertama abad dua puluh. Dalam kisahnya, pembaca disajikan ketiga tokoh yang mendramatisir konflik batin, yang juga erat dengan alegori politik. Novel ini ditulis dalam konteks politik, yaitu Gerakan Swadeshi. Melaluinya pula, Tagore memperingatkan bahaya ekspresi aksi massa dan bangkitnya ektremisme.
if someone reminds me about how much hatred i've had toward historical-fictional, maybe not for bimala. the story kind of insisting to knew it about what really happened in internally india back then CUMA sekedar dari cerita bimala, suami nikhil, dan sandip............??!! i should literally giving one high applause 👏👏👏👏👏👏👏
Ini dia, novel percintaan yang dahsyat di jamannya. Novel yang dengan membacanya kita paham bagaimana proses swadesi itu bermulai. Bimala, seorang perempuan yang dikisahkan mengalami kegalauan, dan berusaha keras menyeimbangkan, antara kewajibannya untuk mengabdi kepada suami dan mengabdi kepada tanah air melalui doktrin swadesi. Bande Mataram!!