Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mediating Islam: Cosmopolitan Journalisms in Muslim Southeast Asia

Rate this book
Arguing that our definition of Islamic journalism is too narrow, this study examines day-to-day journalism as practiced by Muslim professionals at five exemplary news organizations in Malaysia and Indonesia.

At Sabili, established as an underground publication, journalists are hired for their ability at dakwah, or Islamic propagation. At Tempo, a news magazine banned during the Soeharto regime, the journalists do not talk much about sharia law; although many are pious and see their work as a manifestation of worship, the Islam they practice is often viewed as progressive or even liberal. At Harakah reporters support an Islamic political party, while at Republika they practice a �journalism of the Prophet.� Secular news organizations, too, such as Malaysiakini, employ Muslim journalists. Janet Steele explores how these various publications observe universal principles of journalism and do so through an Islamic idiom.

183 pages, Paperback

Published March 15, 2018

5 people are currently reading
33 people want to read

About the author

Janet Steele

4 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (26%)
4 stars
6 (40%)
3 stars
4 (26%)
2 stars
1 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
April 13, 2018
Buku ini saya rasa menjadi buku yang perlu dibaca oleh mahasiswa jurnalistik, komunikasi, atau wartawan. Karena saya yang bukan bagian dari ketiganya saja merasa tercerahkan oleh bagaimana islam dan komunikasi media massa.

Pertama yang diluruskan Janet Steele adalah homogenitas dalam penelitian jurnalistik islam. Kebanyakan hanya fokus pada isu timur tengah dan lebih khusus aljazeera. Janet steele menawarkan fokus lain yang memang harus diperhatikan. Misalkan, mengapa tidak fokus ke Indonesia yang adalah negara dengan jumlah umat islam terbesar. Juga Malaysia rumpun Indonesia yang 11-12 dengan kondisi Islam di Indonesia. Namun, di beberapa halaman belakang, Steele menegaskan perbedaan dua negara tersebut dalam menerapkan islam dalam kehidupan bernegara.

Lima media massa yang diteliti: Sabili, Republika, Harakah, Malaysiakini, dan Tempo. Kelimanya punya cara pandang berbeda dalam menempatkan Islam dalam urusan jurnalistik. Meskipun, dari ketiga media massa Indoensia wartawan yang diwawancarai rata-rata mengaitkan pekerjaan dengan Islam; bermanfaat, menebarkan kabar baik dan mencegah keburukan. Misalkan Sabili mewartakan soal ideologi islam dengan sangat kokoh dan setia pada pakem. Sabili bukan milik partai oposisi ataupun partai pemerintah, jadi kebanyakan yang diusung adalah soal ideologi Islam, negara syariah, dan isu-isu timur tengah. Berbeda dengan Harakah Malaysia yang memang dimiliki oleh partai pemerintah dan dengan lantang dijadikan alat politik.
Republika punya cara sendiri. Menjadikan Islam sebagai konsumen dan lahan laba.

Tempo dan MalaysiaKini saya rasa punya kesamaan. Meski kalau dari penjelasan Steele saya rasa, Malaysiakini lebih sekuler dan plural. Heeheee.....

Buku yang menarik. Mencerahkan.

Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.