Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perahu Kertas

Rate this book
"Imaji adalah unsur dominan dalam puisi", seperti Mata Pisau; kumpulan puisi dalam Perahu Kertas adalah salah satu dari kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono yang mendukung pernyataan tersebut.

Paperback

First published January 1, 1983

39 people are currently reading
1414 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,589 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
278 (42%)
4 stars
223 (34%)
3 stars
128 (19%)
2 stars
16 (2%)
1 star
9 (1%)
Displaying 1 - 30 of 68 reviews
Profile Image for Sheila.
478 reviews109 followers
September 30, 2020
Buku antologi puisi pendek berisi sekitar 50 puisi, dan saya menyelesaikan buku ini dalam 1-2 jam.

Baru saya sadari, ternyata ini adalah buku pertama saya dari Alm. Sapardi Djoko Damono, seorang penyair senior yang karyanya selalu dijadikan patokan kualitas karya-karya puisi sesudahnya. Berawal dari keisengan saya memilih buku ini untuk dipinjam melalui aplikasi Ipusnas, saya kemudian menyadari mengapa Alm. Sapardi begitu dicintai dan diidolakan.

Buat saya, tulisannya bernyawa. Saya paling suka tulisan-tulisan yang menggunakan majas personifikasi. Entah itu Hujan yang menjadi tua, Cermin yang suka berbohong, atau Seruling yang memiliki angan-angan. Mereka tiba-tiba saja jadi hidup dan akrab, seperti teman lama.

Saya butuh puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono lainnya. Saya terutama penasaran tentang pandangannya terhadap cinta, sebuah gaya yang begitu kuat hingga mampu menarik manusia (dan saya) untuk berpuisi.
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
June 23, 2011
Yang fana adalah waktu
Kita abadi


Kalau ada penulis puisi di Indonesia yang saya suka (karena saya nggak terlalu dalam menyukai puisi), jawabannya bukan Chairil Anwar atau W.S.Rendra--terlepas dari fakta bahwa mereka berdua itu penulis puisi beken Indonesia--tapi adalah beliau ini, Pak Sapardi Djoko Damono. Puisi pertama yang menarik minat saya adalah puisi "Yang Fana Adalah Waktu", yang saya temukan secara kebetulan di salah satu cerpen yang saya baca di majalah. Pertama kali baca dan saya langsung jatuh cinta, bahkan sampai sering saya deklamasikan di angkot bersama teman saya waktu SMP. Begitu SMA, saya beruntung ternyata perpustakaan sekolah punya copy dari antologi Perahu Kertas, yang di dalamnya terdapat puisi kesukaan saya. Saya baca dan--seperti saat pertama kali membaca Yang Fana Adalah Waktu--saya kembali jatuh cinta pada tiap puisinya.

Puisi-puisi karangan beliau selalu menceritakan tentang kehidupan dan kematian, yang dikemas dengan bahasa yang indah dan terkadang sulit dicerna maksudnya (tapi itu mungkin karena saya membacanya waktu masih SMA), tapi begitu berhasil menghayati maksud dari puisinya, kita bisa mendapatkan sebuah prosa yang sangat indah.

Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?
tanyamu. Kita abadi.
Profile Image for Nanto.
702 reviews102 followers
June 14, 2009
Saya punya bukunya. Meski kalau diminta untuk menunjukannya saya haru ngubek tumpukan buku dulu. Beli tidak sengaja di Palasari. Di toko buku yang biasa buka siang hari itu. Saya menemukan di tumpukan bukunya yang tampak tidak tertata. Terakhir saya ke Palasari bersama rekan-rekan Durjana dan Dycka saya tidak lagi melihat toko si bapak itu buka. Duh, kok baru sadar? Sudah tutup atau merger dengan toko lain? Kangen saya untuk berbincang tentang buku yang sedang populer dan isinya. Si Bapak yang satu ini cukup saya dengar rekomendasinya. Teman saya si Randu malah memujinya dia bisa menebak selera baca pengunjung tokonya dan memberikan rekomendasi yang baik. Yah semoga sukses dan sejahtera saja buat si Bapak. Seperti Bapak Ampera yang kemarin saya kunjungi.

Buku ini sendiri sosoknya tipis. Kertasnya terbilang artistik. Kertas stensilan yang membuatnya ringan selain memang ketipisan halaman buku ini. Buku yang Sempat saya temukan tak lama saya membeli buku Hujan Bulan Juni di Gramedia Merdeka Bandung. Isinya sebenarnya semua ada di buku Hujan Bulan Juni. Jelas puisi yang ada di buku ini lebih tua dari buku Hujan Bulan Juni yang terbitan Grasindo. Beberapa yang tercantum lagi di buku Hujan bulan Juni adalah Hatiku Selembar Daun, dan Kepompong Itu, Yang Fana adalah Waktu, Kuterka Gerimis, termasuk juga Perahu Kertas.

Soal isinya? Buat saya SDD selalu mendedahkan makna terdalam dari dikotomi prosa yang puitik dan puisi yang prosaik. Saya menemukan kalimat itu di buku Rahmat Djoko Pradopo. Kalimat yang sulit saya rumuskan. Awalnya hanya mengucap simbol dalam puisi SDD selalu dirangkai dalam kalimat yang terbilang panjang. Tidak selalu patuh pada rima puisi tradisional yang lazim saya pahami. Dikotomi yang disajikan oleh Rachmat Djoko Pradopo berhasil merumuskan hal yang saya maksud atas puisi SDD buat saya. Suguhan poetikanya selalu membuat saya ngelangut. Selain itu, bahasa yang khas dan kesetiaan SDD pada hujan, waktu, dan hal remeh yang berhasil dikemas dalam liris puisinya merupakan hal yang tak bosan untuk selalu dikunyah saat suntuk dengan kalimat teknis bacaan wajib. Dalam kalimat seorang kawan, dia menceritakan kekagumannya lagi, SDD menuliskan sebagian puisinya ketika ia SMA. Jaman SMA? Duh.. pengajaran sastra yang segitu-gitunya membuat saya lari ke sejarah.

Ah sudahlah! Ini bukan review, bukan juga bermaksud menjadi lembar puja-puji. Ini hanya keterbatasan saya untuk mengucap terimakasih kepada Pak SDD atas sajaknya yang merupakan halte istirahat diantara serakan istilah akademis yang rigid.

Terimaksih Pak SDD yang telah banyak membuat saya terpana karena Sihir Hujannya. Sihir yang menuding diam saya sehingga akrab dan tidak berebut eksistensi dengan bayang-bayang sendiri saat Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari.

Saya Cuplik sajak Perahu Kertas yang menjadi judul buku ini. Sajak lainnya silakan ditilik ke halaman ini.

PERAHU KERTAS

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."
Profile Image for Manik Sukoco.
251 reviews28 followers
December 29, 2015
Like his other works, in this book, Sapardi focused more on the human condition rather than revolutionary and social ideas. His poems are simple yet pregnant imagery from everyday life.

"PAPER BOAT"
When you were a child you made a paper boat and sailed it
on the river shore; the stream flowed gently, and
your boat swayed its way towards the ocean.
“It will stop at every big port,” an old man told you.
Feeling happy, you went home with vibrant pictures
in your head. Since then you kept expecting to hear
by chance any news about the boat that was
always on your mind.
At long last the message reached you from that old man, Noah. He said,
“I used it in a big flood and your boat
is now stranded on a hill somewhere.”

"METAMORPHOSIS"
a stranger is taking off your clothes layer by layer,
seating you in front of the mirror and tempting you
to ask, “whose body am I wearing right now?”
a stranger is quietly writing down your life story, reflecting
on your birthdate, making up the story of the reason
of your death –
a stranger is quietly turning into yourself
1 review
October 18, 2015
...
Aku berdiri jenuh ditepi waktu
Senandung gamang berlarik menjadi kepalan debu
Jariku yang salah, buta melipat aksara
Jika Aku mengemis kepada mata yang menatap punuknya
Akulah yang hidup...
Terdalam,terkandas kabari Aku.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
February 27, 2018
** Books 38 - 2018 **

2,7 dari 5 bintang!

Lagi-lagi dibuat banyak tidak pahamnya ketimbang isi puisi dari eyang Sapardi Djoko Damono ini.. Ada beberapa yang paha tapi saya lagi gak mau berfikir keras untuk memahami isi suatu puisi hahaha

Baru tahu kalau ini versi cetak ulang tahun 1983 dikirain saya puisi baru lagi padahal yang hujan bulan juni saja saya belum membacanya.. masih anteng dan damai didalam TBR wkwkk

Terimakasih Gramedia Digital Premium!
Profile Image for athiathi.
367 reviews
July 17, 2022
"cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa berkata:
mengapa kau seperti kehabisan suara?"

Bagian lain yang kusuka adalah Hatiku Selembar Daun.

Buku puisi ini menurutku cukup dapat dinikmati. Dapat diselami. Namun, aku hanya bisa menyelam sebentar, tidak sedalam yang lain.

Puisi-puisi di dalamnya sangat indah 💛
Profile Image for Afy Zia.
Author 1 book116 followers
May 26, 2020
2 bintang.

This book was okay. Awalnya baca buku ini karena tugas kuliah.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 6, 2022
Favorit pembaca tentu, Yang Fana adalah Waktu. Tapi tak itu saja, saya suka puisi Peristiwa Pagi Tadi yang ditujukan SDD pada GM karena puisinya perihal Ahmad Wahib. Koleksi abadi para penikmat puisi SDD. Tapi yang fana adalah waktu, bukan?
3 reviews
March 25, 2011
Kisah ini dimulai dengan Keenan, seorang remaja pria yang baru lulus SMA, yang selama enam tahun tinggal di Amsterdam bersama neneknya. Keenan memiliki bakat melukis yang sangat kuat, dan ia tidak punya cita-cita lain selain menjadi pelukis, tapi perjanjiannya dengan ayahnya memaksa ia meninggalkan Amsterdam dan kembali ke Indonesia untuk kuliah. Keenan diterima berkuliah di Bandung, di Fakultas Ekonomi. Di sisi lain, ada Kugy, cewek unik cenderung eksentrik, yang juga akan berkuliah di universitas yang sama dengan Keenan. Sejak kecil, Kugy menggila-gilai dongeng. Tak hanya koleksi dan punya taman bacaan, ia juga senang menulis dongeng. Cita-citanya hanya satu: ingin menjadi juru dongeng. Namun Kugy sadar bahwa penulis dongeng bukanlah profesi yang meyakinkan dan mudah diterima lingkungan. Tak ingin lepas dari dunia menulis, Kugy lantas meneruskan studinya di Fakultas Sastra. Kugy dan Keenan dipertemukan lewat pasangan Eko dan Noni. Eko adalah sepupu Keenan, sementara Noni adalah sahabat Kugy sejak kecil. Terkecuali Noni, mereka semua hijrah dari Jakarta, lalu berkuliah di universitas yang sama di Bandung.Mereka berempat akhirnya bersahabat karib. Lambat laun, Kugy dan Keenan, yang memang sudah saling mengagumi, mulai mengalami transformasi. Diam-diam, tanpa pernah berkesempatan untuk mengungkapkan, mereka saling jatuh cinta. Namun kondisi saat itu serba tidak memungkinkan. Kugy sudah punya kekasih, cowok mentereng bernama Joshua, alias Ojos (panggilan yang dengan semena-mena diciptakan oleh Kugy). Sementara Keenan saat itu dicomblangkan oleh Noni dan Eko dengan seorang kurator muda bernama Wanda. Persahabatan empat sekawan itu mulai merenggang. Kugy lantas menenggelamkan dirinya dalam kesibukan baru, yakni menjadi guru relawan di sekolah darurat bernama Sakola Alit. Di sanalah ia bertemu dengan Pilik, muridnya yang paling nakal. Pilik dan kawan-kawan berhasil ia taklukkan dengan cara menuliskan dongeng tentang kisah petualangan mereka sendiri, yang diberinya judul: Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Kugy menulis kisah tentang murid-muridnya itu hampir setiap hari dalam sebuah buku tulis, yang kelak ia berikan pada Keenan. Kedekatan Keenan dengan Wanda yang awalnya mulus pun mulai berubah. Keenan disadarkan dengan cara yang mengejutkan bahwa impian yang selama ini ia bangun harus kandas dalam semalam. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan kehidupannya di Bandung, dan juga keluarganya di Jakarta. Ia lalu pergi ke Ubud, tinggal di rumah sahabat ibunya, Pak Wayan. Masa-masa bersama keluarga Pak Wayan, yang semuanya merupakan seniman-seniman sohor di Bali, mulai mengobati luka hati Keenan pelan-pelan. Sosok yang paling berpengaruh dalam penyembuhannya adalah Luhde Laksmi, keponakan Pak Wayan. Keenan mulai bisa melukis lagi. Berbekalkan kisah-kisah Jenderal Pilik dan Pasukan Alit yang diberikan Kugy padanya, Keenan menciptakan lukisan serial yang menjadi terkenal dan diburu para kolektor. Kugy, yang juga sangat kehilangan sahabat-sahabatnya dan mulai kesepian di Bandung, menata ulang hidupnya. Ia lulus kuliah secepat mungkin dan langsung bekerja di sebuah biro iklan di Jakarta sebagai copywriter. Di sana, ia bertemu dengan Remigius, atasannya sekaligus sahabat abangnya. Kugy meniti karier dengan cara tak terduga-duga. Pemikirannya yang ajaib dan serba spontan membuat ia melejit menjadi orang yang diperhitungkan di kantor itu. Namun Remi melihat sesuatu yang lain. Ia menyukai Kugy bukan hanya karena ide-idenya, tapi juga semangat dan kualitas unik yang senantiasa terpancar dari Kugy. Dan akhirnya Remi harus mengakui bahwa ia mulai jatuh hati. Sebaliknya, ketulusan Remi juga akhirnya meluluhkan hati Kugy. Sayangnya, Keenan tidak bisa selamanya tinggal di Bali. Karena kondisi kesehatan ayahnya yang memburuk, Keenan terpaksa kembali ke Jakarta, menjalankan perusahaan keluarganya karena tidak punya pilihan lain. Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu. Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Annida.
61 reviews7 followers
February 18, 2022
"ada yang menanggalkan pakaianmu satu demi satu, mendudukkanmu di depan cermin, dan membuatmu bertanya, "tubuh siapakan gerangan yang kukenakan ini?"


Sekali lagi aku mengawali tahun baruku dengan membaca buku eyang Sapardi, setelah tahun lalu aku membaca bukunya yang lain.
Profile Image for Tutyevelina.
7 reviews1 follower
August 24, 2012
Yang fana adalah waktu
Kita abadi

Seharusnya kita bertemu sebelim waktu ini muncul. Ah bapak Sapardi aku benar-benar ingin bertemu -_-
Profile Image for Laily.
15 reviews8 followers
September 10, 2012
SDD memang selalu awesome! ;) I love his poems.
Profile Image for Daniel.
1,179 reviews852 followers
March 28, 2022
Sapardi Djoko Damono
Perahu Kertas
Gramedia Pustaka Utama
100 halaman
7.6
Profile Image for Els~.
29 reviews3 followers
September 11, 2022
Sebagaimana karya Eyang yang lain, puisi dalam buku ini sederhana dan menyenangkan. Yang mengherankan, saya tidak pernah bosan untuk membacanya. Untuk itu, saya tidak pernah ragu untuk mengatakan bahwa membaca puisi-puisi Eyang seperti self-healing bagi saya. Terdengar berlebihan memang, tapi saya berkata apa adanya.

Saya bisa saja membaca ulang puisi-puisi tersebut dua sampai tiga kali. Bukan karena bait-bait puisinya yang sulit dimengerti, tapi karena saya jatuh cinta pada rangkaian katanya. Misalnya saja dalam Puisi yang berjudul "Yang Fana adalah Waktu". Saya yakin, banyak diantara pembaca juga jatuh cinta dengan puisi Eyang yang satu ini.


Ada beberapa puisi lainnya yang juga saya sukai, salah satunya berjudul "Hatiku Selembar Daun".


hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;

nanti dulu, biarkan aaku sejenak terbaring di sini;

ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini

senantiasa luput;

sesaat adalah abadi sebelum kusapu tamanmu setiap pagi.

Entah mengapa, rasanya seperti saya jatuh cinta pada keabadian, sebagaimana Eyang mengabadikan keabadian dalam puisi-puisinya. Puisi lain yang juga saya sukai berjudul "Benih". Baru kali ini saya membaca puisi Eyang yang bertema pewayangan Ramayana.

Ngomong-ngomong, buku Puisi yang berjudul Perahu Kertas ini dapat diakses di Aplikasi Ipusnas. Salah satu buku yang sangat laris dibaca, karena saya harus menunggu antrean beberapa hari untuk dapat mengaksesnya.
Profile Image for Saji.
98 reviews5 followers
June 26, 2022
"jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan
yang gerimis pandangmu adalah seru butir air
tergelincir dari duri mawar (begitu nyaring!);
swaramu adalah kertap bulu burung yang gugur
(Begitu nyaring!)"
Penggalan puisi "Lirik untuk Lagu Pop"

Dulunya, saya pernah lihat-lihat cuplikan buku ini. Dan saya suka puisi-puisi bunga di awal-awal buku. Tapi, setelah itu saya malah beli buku puisi Hujan Bulan Juni. Entah kenapa, belum juga selesai baca Hujan Bulan Juni. Padahal cocok banget dibaca bulan ini. Apa mungkin karena Hujan Bulan Juni itu kumpulan puisi pilihan ya. Puisi-puisi di dalamnya memiliki gaya berbeda-beda.

Sementara Perahu Kertas ini, gaya puisinya mirip-mirip. Banyak menyebut bunga, burung, hujan. Tone puisi-puisi di Perahu Kertas juga damai, indah, dan melankolis. Beneran cocok buat dibaca di taman atau padang rumput.

Seandainya larik-larik di dalamnya dibacakan dalam sebuah film, pasti bagus banget. Sebab, emang membacanya serasa berdialog atau bermonolog dalam sebuah cerita. Ah, senangnya.

Piknik sambil membawa buku Perahu Kertas bisa jadi sebuah liburan yang aesthetic dan puitis.

"Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput; nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini; ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi."

(Puisi Hatiku Selembar Daun)
Profile Image for Rose Diana.
Author 3 books1 follower
July 8, 2020
Puisi pilihan saya di buku ini selain Yang Fana Adalah Waktu.

____
Peristiwa Pagi Tadi
kepada GM


Pagi tadi seorang sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor
      tentang lelaki yang terlanggar motor waktu menyeberang.

Siang tadi pesuruh kantor bercerita kepada tukang warung
tentang sahabatmu yang terlanggar motor waktu
menyeberang, membentur aspal, lalu beramai-ramai
diangkat ke tepi jalan.

Sore tadi tukang warung bercerita kepadamu tentang aku yang
terlanggar motor waktu menyeberang, membentur aspal,
lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu
setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal
sesampai di rumah sakit.

Malam ini kau ingin sekali bercerita padaku tentang peristiwa
      itu.
Profile Image for Aninda R.
36 reviews1 follower
July 27, 2020
Perahu Kertas is a compilation of Sapardi Djoko Damono's poems. I usually don't read poetry because for me poetry is usually harder to understand than a novel. Poetry is always full of personal thoughts that, for me, are usually hard to interpret.

This book is no exception, I have to admit, I don't understand some of the poems written here, but I love how you can definitely feel that every word is carefully chosen to represent what he wanted to express and so the problem is with me not being able to understand it.

I managed to vaguely interpret some of the poems too and I really enjoy the process of understanding it. My favorite poems from this book are Bunga 2, Yang Fana Adalah Waktu, and Hatiku Selembar Daun. I might try to re-read the book again to try and understand more poems.
Profile Image for Arystha.
323 reviews11 followers
June 4, 2023
Buku cetak ulang dari versi perdananya yang terbit tahun 1983. Berisi 42 puisi Sapardi, beberapa di antaranya merupakan puisi-puisi yang familiar bagi penikmat sastra, seperti "Yang Fana Adalah Waktu", "Tuan", dan "Hatiku Selembar Daun". Format buku ini memisahkan judul puisi pada halaman genap, dan berhadapan dengannya adalah bait-bait puisi di halaman ganjil.



Sajak Telur

dalam setiap telur semoga ada burung dalam
setiap burung semoga ada engkau dalam setiap
engkau semoga ada yang senantiasa terbang
menembus silau matahari memecah udara dingin
memuncak ke lengkung langit menukik melintas
sungai
merindukan telur
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
October 15, 2019
Disadari atau tidak, rasa-rasanya tahun ini adalah tahun-tahun di mana saya mulai rajin membaca puisi. Puisi eyang Sapardi tentu saja tidak boleh dilewatkan begitu saja. Menikmati kumpulan puisi pada buku ini seperti menikmati sarapan dengan segelas susu dan roti bakar dengan isi selai blackcurrent atau nanas. Apalagi kalau kau menikmatinya di minggu pagi, pasca senam atau jogging dan menikmati pemandangan kota dari sudut stadion yang bermandikan cahaya mentari pagi. Ya lagi-lagi ini soal makanan. Saya mengumpamakannya seperti itu.
Profile Image for Suci Noorjannah Novianti.
175 reviews3 followers
August 26, 2020
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
"Tapi, yang fana adalah waktu bukan?"
tanyamu. Kita abadi.
.
.
Puisi Cat Air untuk Rizki
Angin berbisik kepada daun jatuh yang tersangkut
kabel telepon itu, "aku rindu, aku ingin mempermainkanmu!"
kabel telepon memperingatkan angin yang sedang
memungungut daun itu dengan jari-jarinya gemas, "jangan brisik, mengganggu hujan!"
hujan meludah di ujung gang lalu menatap angin
dengan tajam, hardiknya, "lepaskan daun itu!"
Profile Image for aeri.
103 reviews1 follower
May 12, 2021
"Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar."
(hlm. 33)

Aku bukanlah seorang penikmat puisi, karena aku kurang bisa memahami makna puisi dengan baik. Begitu juga dengan karya Eyang ini, banyak puisi yang kurang aku tahu maknanya, namun sajak puisinya seolah-olah seperti sebuah cerita yang unik dan menarik.

Buku-buku karya Eyang Sapardi memang sangat bagus, tetapi kurang cocok saja denganku. Bagi yang ingin mendalami tentang puisi, mungkin buku ini bisa dijadikan sebagai salah satu referensi yang mumpuni.
Profile Image for Metha Sintani.
27 reviews3 followers
April 2, 2020
Ketika hal biasa menjadi renungan bagi Sapardi dan dituangkan ke tulisannya yang tidak biasa, saat itulah aku ikut berpikir. Apakah yang aku baca dan cerna sama dengan yang eyang Sapardi maksud?
Entah sudah kali ke-berapa aku ulang membaca dan setiap kali itu pula aku mencernanya berbeda.



"Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti
bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi."
Profile Image for Nur Afifah.
96 reviews3 followers
February 20, 2021
Bukan pertama kalinya kau baca puisi, tapi ni pertama kalinya aku baca puisi yang sebagian besar diksinya melibatkan gamabran-gambaran di lingkungan sekitar. Sesederhana itu. Ternyata menulis puisi nggak harus yang waw...

Jujur, ini pertama kalinya aku baca buku karya Pak Sapardi Djoko Damono. Asik. Tapi sulit banget nangkep pesan apa yang disampaikan di dalam puisi. Kayaknya aku perlu belajar membaca puisi.

Setelah baca ini jadi pengin nulis puisi dan gimana sih cara mengulas buku puisi
Profile Image for Rizky Arya.
126 reviews2 followers
March 13, 2021
Puisi-puisi dari pak Sapardi Djoko Damono ini adalah gambaran sederhana tentang kondisi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun sajaknya indah dan menenangkan buat dibaca, yah harus diakui aku kurang paham makna di beberapa kalimatnya. Sederhana tapi tidak sederhana, eh gimana ? wkwk. Meski begitu ada saja kata-kata yang membekas dan sayang kalau tidak dicatat hehe.

Selanjutnya : https://kepinganarya.blogspot.com/202...
Profile Image for Hikaoru.
952 reviews25 followers
March 20, 2021
Kenapa buku ini? Mungkin terlihat ciapan di twitter kemudian terus lewat ke wiki almarhum yang menunjukkan bahawa dia seorang yang terkenal, oh, penulis Hujan Bulan Juni rupanya, buku di TBR yang sudah lama di sana.

Buku ini ada di iPusnas, baca sekali lalu. Bahasanya indah sekali tapi hanya sedikit yang betul-betul terkesan di hati. Pendek kata, puisi adalah suatu yang personal dan kadang-kadang tidak universal untuk dinikmati semua.
Profile Image for Aida.
35 reviews2 followers
May 9, 2022
Berikut sedikit cerita saya, bukan ulasan khusus tentang 'Perahu Kertas'. Pardon me hehe

Antologi puisi pertama saya. Meski bukan (belum) penikmat puisi, ternyata menyenangkan menginterpretasikan sajak-sajak ini sendiri, walau tidak yakin juga bagaimana cara membaca puisi yang benar/? Hehe

Sejauh ini, bacaan paling nikmat untuk dibaca di sela-sela istirahat kerja versi saya adalah puisi. Jadi mungkin, saatnya memberi ruang untuk antologi-antologi puisi lainnya...
Displaying 1 - 30 of 68 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.