Suatu ketika, saya membaca tulisan Bre Redana -wartawan senior Kompas, mengenai Senjakala Media Cetak. Di titik itu saya sadar bahwa media cetak memang sudah tua, sudah senja. Ia tergerus media online yang terus tumbuh naik dan besar. Bre Redana tampak gelisah dalam tulisannya tersebut -sebab beliau salah satu wartawan yang memang masih pernah liputan sambil bawa-bawa notes dan pena.
Koran Kami with Lucy in The Sky diluncurkan berbarengan dengan pensiunnya beliau dari jabatan wartawan setelah 35 tahun mengabdi di Kompas. Saya hadir di acara peluncurannya dulu, semata-mata hanya karena penasaran. Tetapi sayangnya tidak ada sesi bincang buku di sana. Acara itu lebih terlihat seperti sebuah reuni. Meski demikian, saya sudah membaca bukunya sampai habis.
Koran Kami with Lucy in The Sky memang berkisah mengenai semangat wartawan-wartawan senior. Dikisahkan, mereka yang pensiun kemudian berniat membangun sebuah proyek idealisme bernama Koran Kami. Meski berawal seperti sebuah novel yang membara penuh semangat, buku ini berakhir seperti curhatan om-om senior yang rindu masa muda. Ya, saya harus katakan begitu. Sebab, semakin ke belakang semakin hilang gagasan dan proses pembuatan korannya. Yang ada hanya curhatan SS -tokoh utama di buku ini, seorang wartawan senior yang baru pensiun.
SS berkisah mengenai banyak hal, mengenai masa mudanya, mengenai teman-temannya yang meliput perang, meliput acara debus, istrinya yang bernama Vera dan kerap dipanggilnya Ve, bahkan arsitek Semarang yang merancang salah satu rumah peristirahatannya.
Tetapi, di kisah SS ada Lucy. Perempuan muda itu kemudian dijulukinya sebagai Lucy in The Sky. Bukan, bukan nama resto di kawasan Selatan Jakarta itu, sih. Meski memang namanya sama persis. Tetapi Lucy in The Sky merupakan salah satu judul lagu band legendaris The Beatles. Judul aslinya adalah Lucy in The Sky with Diamonds.
Saya kira tak ada yang istimewa dari buku ini, tapi entah mengapa saya cukup menyukainya. Sebab di dalamnya saya bisa melihat geliat dan gairah wartawan-wartawan senior semasa muda mereka, dan juga kecemasan mereka atas tumbuhnya media online. Kegelisahan Bre Redana mengenai Senjakala Media Cetak itu agaknya berubah menjadi sebuah buku fiksi.
Saya tahu bahwa semangat mereka membara, tak ada apa-apanya cita-cita saya semasa kecil jika dibandingkan dengan keringat dan kerja keras mereka.