Jump to ratings and reviews
Rate this book

Koran Kami with Lucy in The Sky

Rate this book
Santosa Santiana diajak sahabatnya untuk membikin sebuah koran pada saat industri koran mulai terdesak oleh media digital. Mereka lalu mengumpulkan teman-teman lama, berspekulasi membikin koran dengan cakrawala bahwa media cetak -sesuatu yang nyata dan bisa dipegang- tetap memiliki kemungkinan hidup di tengah pergeseran kepercayaan orang terhadap sesuatu yang bersifat virtual di mana yang nyata dan tidak nyata kabur batasnya.

Proses kerja membikin koran mengembalikan mereka ke sebuah dunia yang pernah mereka geluti berikut nilai-nilai dari zaman yang telah berlalu cukup lama. Sebuah zaman di mana hidup seolah cukup hanya dengan cinta.

194 pages, Paperback

First published November 29, 2017

1 person is currently reading
14 people want to read

About the author

Bre Redana

26 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (17%)
4 stars
10 (28%)
3 stars
17 (48%)
2 stars
2 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
January 26, 2021
Suatu ketika, saya membaca tulisan Bre Redana -wartawan senior Kompas, mengenai Senjakala Media Cetak. Di titik itu saya sadar bahwa media cetak memang sudah tua, sudah senja. Ia tergerus media online yang terus tumbuh naik dan besar. Bre Redana tampak gelisah dalam tulisannya tersebut -sebab beliau salah satu wartawan yang memang masih pernah liputan sambil bawa-bawa notes dan pena.

Koran Kami with Lucy in The Sky diluncurkan berbarengan dengan pensiunnya beliau dari jabatan wartawan setelah 35 tahun mengabdi di Kompas. Saya hadir di acara peluncurannya dulu, semata-mata hanya karena penasaran. Tetapi sayangnya tidak ada sesi bincang buku di sana. Acara itu lebih terlihat seperti sebuah reuni. Meski demikian, saya sudah membaca bukunya sampai habis.

Koran Kami with Lucy in The Sky memang berkisah mengenai semangat wartawan-wartawan senior. Dikisahkan, mereka yang pensiun kemudian berniat membangun sebuah proyek idealisme bernama Koran Kami. Meski berawal seperti sebuah novel yang membara penuh semangat, buku ini berakhir seperti curhatan om-om senior yang rindu masa muda. Ya, saya harus katakan begitu. Sebab, semakin ke belakang semakin hilang gagasan dan proses pembuatan korannya. Yang ada hanya curhatan SS -tokoh utama di buku ini, seorang wartawan senior yang baru pensiun.

SS berkisah mengenai banyak hal, mengenai masa mudanya, mengenai teman-temannya yang meliput perang, meliput acara debus, istrinya yang bernama Vera dan kerap dipanggilnya Ve, bahkan arsitek Semarang yang merancang salah satu rumah peristirahatannya.

Tetapi, di kisah SS ada Lucy. Perempuan muda itu kemudian dijulukinya sebagai Lucy in The Sky. Bukan, bukan nama resto di kawasan Selatan Jakarta itu, sih. Meski memang namanya sama persis. Tetapi Lucy in The Sky merupakan salah satu judul lagu band legendaris The Beatles. Judul aslinya adalah Lucy in The Sky with Diamonds.

Saya kira tak ada yang istimewa dari buku ini, tapi entah mengapa saya cukup menyukainya. Sebab di dalamnya saya bisa melihat geliat dan gairah wartawan-wartawan senior semasa muda mereka, dan juga kecemasan mereka atas tumbuhnya media online. Kegelisahan Bre Redana mengenai Senjakala Media Cetak itu agaknya berubah menjadi sebuah buku fiksi.

Saya tahu bahwa semangat mereka membara, tak ada apa-apanya cita-cita saya semasa kecil jika dibandingkan dengan keringat dan kerja keras mereka.
Profile Image for Rheza Ardi.
32 reviews1 follower
June 21, 2020
Di video ini

https://www.instagram.com/tv/CBm_oKHD...

saya mengulas novel buatan Bre Redana. Tentang seorang pensiunan wartawan yang bikin koran di masa ketika media digital menggilas eksistensi media cetak. Ternyata, ada seorang wanita muda yang tertarik bergabung. Di video ini saya bilang "too good to be true", padahal mungkin emang biasa aja cewek kayak gitu. Mohon maaf kalau ternyata terbaca seperti mengobjektifikasi. Nggak begitu kok niatnya. Hehe.

Oke balik lagi ke novelnya. Cerita tentang Santosa Santiasa dan timnya juga seru. Kocak. Tiap orang punya ciri khas masing-masing, yang umum ada di kehidupan kita. Misal: orang yang menyebut dirinya dengan nama sendiri. Atau orang yang gila touring sampe dianggar irasional sama orang lain yang nggak ngerti asiknya motor touring.

Katakanlah, novel ini oleh-oleh perpisahan dari Pak Bre Redana. Untuk para wartawan yang seprofesi dengannya. Untuk peminat industri media. Untuk pecinta lagu Lucy In The Sky With Diamond dan The Beatles.
Profile Image for Devina Heriyanto.
372 reviews253 followers
February 19, 2018
Ini adalah sebuah ode dari Bre Redana, wartawan pensiunan Kompas, kepada dunia jurnalistik dan tentunya, koran. Buku ini adalah fiksi yang berbumbu fakta dan opini, dengan cerita yang biasa saja serta karakter-karakter yang unik tapi dua dimensi. Ada romantisasi berlebih terhadap sosok Lucy, seorang gadis yang baru dikenal karakter utama SS selama membuat 'Koran Kami'. Mungkin penggambaran ini wajar saja dulu, tapi sekarang terkesan stereotipikal dan dangkal.

Kalau Anda tertarik dengan jurnalisme dan sosok Bre Redana, bacalah buku ini. Kalau mengarapkan sebuah novel konvensional dengan cerita dan karakter yang menarik, lewatkan saja.
Profile Image for Andris Sambung.
39 reviews3 followers
January 24, 2018
Koran Kami With Lucy In The Sky sebuah kenang kenangan dari seorang wartawan yang telah mendedikasikan sebagian hidupnya di Koran Besar bernama Kompas. buku ini menjadi sebuah memori dalam perjalanannya menjadi wartawan
2 reviews1 follower
October 15, 2018
Teman saya bilang, buku ini adalah jerat romantisme Mas Bre.

Saya bilang tidak apa-apa. Dunia memang berubah, tapi ada banyak hal dari masa lalu yang harus dipertahankan. Bagaimanapun, manusia harus punya akar agar menjadi kuat.
Profile Image for Bagus.
477 reviews93 followers
December 10, 2018
Cerita yang bentuknya seperti memoar, dengan dibumbui sedikit pelajaran mengenai perubahan dinamika manusia abad 21 yang mulai beralih dari media cetak ke media digital. Sebuah kritik sosial yang tidak menggurui.
Profile Image for Meila Nada.
76 reviews2 followers
February 6, 2019
Isinya luas, kadang membicarakan koran, modernisasi, era orde baru, komunis, dan reformasi ada semuaa tapi terlalu berat buatku huhuhu:') dan satu pertanyaan setelah selesai baca, apakah Lucy menyukai SS? Hmmm
Profile Image for Steven S.
703 reviews66 followers
January 21, 2018
Membuat koran itu mudah, kawan. Bebas.

Memori. Ini benang merah yang berkelindan sepanjang buku tipis tersebut.

Sepanjang waktu Bre bernostalgia soal masa-masa jurnalistik menjadi vocatio. Panggilan. Hingga simpang surut kehidupan. Era baru muncul. Digital menggantikan yang lama, kuteringat senjakala media cetak kolom penulis di Kompas minggu (yang kemudian ramai-ramai dibahas minggu demi minggu di berbagai media).

Tidak berlebihan ketika membaca Lucy in the sky, seolah kita sedang beriringan mendengarkan petuah-kisah manis-dari sosok yang paham luar dalam isi perut bisnis media.

Saya sendiri menikmatinya. Dari awal ceritanya mengalir. Tak terkesan kita sedang membaca sebuah memoar. Opini Bre kadang meledak di beberapa bagian. Mengkritisi hayat hidupnya yang dulu begitu disegani. Ini bukan pabrik sandal, pungkasnya. Hmm.

Tulisan bergenit-genit ria pun tak menjadi pembatas kenyamanan membaca buku ini. Saya anggap sebagai bumbu pemanis dan itu yang (saya kira, bisa benar bisa keliru) disebut sebagai transedensi humanis. Bumbu ini saya kira bukan hanya sebagai pemanis bahkan boleh dibilang seperti bumbu pelengkap yang tanpanya buku ini rasanya akan datar dan terasa seperti kakek yang mengulangi ceritanya di masa muda setiap kali bertemu.

Di buku ini terhampar begitu banyak kritikan sengit soal jurnalisme. Meski yang dikritik akan membaca atau tidak. Siapa tahu.

Sudah ah. Saya ingin mendengar podcast yang baru rilis. Menunggu waktu New York ternyata bikin keki. Disini malam, disana sedang segar-segarnya. Judulnya "The Daily" bikinan The New York Times yang berdurasi 20 menit, mengetengahkan apa yang sedang hangat di dunia, dan yang bikin beda (dan jadi Podcast terbaik 2017 versi Vulture.com) adalah ini usaha jurnalisme kawakan dunia (NYT) bikin berita jadi lebih hidup. Coba deh dengar satu podcastnya.

Tiap hari 5 hari dalam semingggu bisa diakses disini The Daily NYT

Buku ini saya kira akan menarik bagi Anda yang punya ketertarikan dengan dunia media. Calon wartawan. Mahasiswa jurnalistik, filsafat pun boleh baca Koran Kami Lucy in The Sky.

Tetap sehat dan berbahagia Bapak dan Ibu.
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.