Permata Padang Pasir. Demikian julukan yang diberikan masyarakat Mekah pada sosok Aminah binti Wahab, Ibunda Rasulullah Saw. Julukan itu disematkan karena kecantikan, keanggunan, dan budi pekerti Aminah yang sangat luar biasa. Tak heran, karena sikap dan akhlaknya yang baik itu, maka banyak pemuda Quraisy yang ingin menjadikannya sebagai Istri.
Dari sekian banyak pelamar, tak seorang pun pemuda yang diterimanya. Ia berharap orangtuanya menikahkan dirinya dengan pemuda yang juga memiliki akhlak mulia. Dan sosok itu ada pada diri Abdullah bin Abdul Muthathalib. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya pun menikah.
Kebahagiaan langsung menyelimuti keduanya. Namun, kebahagiaan yang dirasakan pengantin muda ini, tak berlangsung lama. Tumpuan hidup dan tulang punggung keluarga, harus pergi dan tak pernah kembali. Berbagai ujian dihadapinya dengan penuh kesabaran dan tawakal.
Setelah menyelesaikan buku Fatimah, saya lanjut membaca buku tentang Aminah, ibunda dari Baginda Rasul SAW.
Saya agak kurang cocok dengan gaya bahasa yang disampaikan oleh penulis. Dan saya juga agak sangsi dengan pemilihan kata di dalam bukunya yang agak terlalu drama (IMHO)..
well.. di shirah nabawi emng kisah tentang Aminah maupun Abdullah kurang mendetail.. seperti misalnya ttg nazar Abdul Muthalib yg ingin menyembelih Abdullah. saya pernah dengar hal ini tp belum baca secara langsng selain dari buku ini. Dulu baca Shirah juga sepertiny g ada, eh tp mungkin saya nya yg g baca dengan baik hehe. tapi di buku Aminah ini kurang dijelaskan kisah ibunda dari kecil secara mendetail, mungkin juga sulit ya mendapatkan narasumbernya.. Aminah adalah sosok yang mulia, cantik, sabar, anggun, pemberani. orang yang menatapnya tidak ada yang sanggup membencinya. begitu juga dengan Abdullah, mereka ada pasangan mulia yang Allah titipkan Baginda kita Nabi Muhammad. di buku ini dikisahkan kalau Aminah, Abdullah, dan Abdul Muthalib memiliki firasat yang sangat kuat akan kelahiran Nabi Muhammad. lalu Aminah yang paling peka kalalu dia menyadari bahwa Nabi akan menjadi anak yatim piatu, hidup mandiri dan merasakan langsung kasih sayang orang tua, sahabat dan saudara dari lingkungannya. Nabi Muhammad akan menjadi sosok yang berani dan berjiwa teguh. lalu yang tidak saya temukan adalah Ummu Aiman, apakah Ummu Aiman ini Barakah? Kalau saya bandingkan dengan film the massanger of God, beda banget... kalau di buku ini Yahudi baru mengejar Muhammad ketika mereka tiba di Yastrib. di Film sudah dari masa kelahiran. Kemudian di film Halimah membawa nabi kembali ke kampungnya setelah mengantarnya ke ibunya, karena di Mekah sedang ada wabah (usia 2 th). Juga Halimah mengembalikan Muhammad ke Aminah saat usia 7 tahun karena Nabi di kampungnya sudah dikejar2 Yahudi. di bawa ke Yastrib selain untuk ziarah juga untuk sembunyi. sedangkan di buku, Halimah membawa kembali ke kampung karena sudah berjanji pada penduduk kampungnya untuk membawa nabi kembali, Nabi membawa keberkahan pada kampung mereka. juga mengembalikan pada Aminah antara peristiwa pensucian qolbun Nabi atau Yahudi juga sudah mengejar mereka. lalu Aminah dan Nabi ke Yastrib karena Aminah merasa terpanggil Abdullah untuk menyusulnya.
Terlepas dari itu semua, kisah tentang Nabi ini perlu dimaknai, dicontoh, dan disyukuri bahwa menjadikan hati itu bersih dan penuh keimanan adalah wajib, anak yang sholeh harus dididik sejak lahir. tidak melulu dengan pengajaran khusus tapi juga menstimulasi anak untuk merenung.. Iman itu segalanya, jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Lebih menyenangkan baca kisah sejarah dalam bentuk novel gini juga sebenernya. Saya pernah baca buku yang Khadijah yg penulisnya wanita, bentuk buku persis novel (bukan yang hard cover itu loh y). Buku lebih berat dari ini sih menurut saya karena lebih banyak syair dan tidak banyak percakapan di dalamnya.. jadi kurang menempel di kepala rasanya. Lebih oke baca langsung dari shirah nabawi klo disuruh milih buku Khadijah itu atau Shirah.
Intinya buku Aminah ini secara penulisan enak banget, tapi karena banyak main feeling dan penggambaran yang tidak ada perawinya saya tdak 100% percaya dengan isinya. Tapi kurang lebih sosok Aminah adalah seperti yang digambarkan buku ini.
“Perempuan yang baik, suci, dan saleh adalah sandaran sepanjang masa, dan kekuatan dalam menghadapi perjalanan waktu.” ~h.10
Ibunda Rasulullah saw. termasuk sosok yang jarang dibahas atau dikisahkan dalam satu buku penuh, dan lebih sering diceritakan figurnya bersama dalam sirah Rasulullah saw. Sehingga, kehadiran buku ini di pasaran bisa menjadi tambahan bacaan tentang sosok Aminah ra. Bab-bab awal dituturkan tentang masa kecil Aminah yang sudah memiliki kepribadian memukau di kalangan Bani Zuhrah hingga perjodohannya dengan Abdullah, sosok ayah Rasulullah saw, yang juga dibahas sedikit terutama terkait kisah penebusan dirinya.
Kisah Ibunda Aminah kental dengan sifat sabarnya dalam menghadapi ujian. Perpisahan dengan suami, Abdullah, yang terjadi selang beberapa bulan setelah menikah menjadi awal ujian ketegaran Aminah dalam buku ini. Berlanjut, perpisahan dengan sang putranya, Muhammad, yang dipersusui oleh Halimah Sa'adiyyah, hingga usia sapih. Kesabaran dan ketegaran menjadi kekuatan kisah si Permata Padang Pasir.
Saat ini penulisan biografi dengan gaya novel sedang naik daun. Jenis bacaan non fiksi – biografi yang dulunya terasa kaku menjadi lebih luwes dan menyenangkan, dengan sentuhan-sentuhan fiksi di dalamnya. Seperti juga, buku biografi Aminah, Permata Padang Pasir terbitan @bukurepublika. Novel biografi Aminah, ibunda Rasulullah saw. juga ada selipan-selipan fiksi untuk digunakan supaya pembaca lebih dapat merasakan perjalanan kehidupan tokoh.
Dalam buku ini sosok Aminah sebenarnya ingin digambarkan senatural mungkin, perasaan, ketegaran, dan kesedihannya, tapi menurut saya, masih terasa ada kekakuan dalam bahasanya, entah karena penerjemahannya atau memang dari sang penulis. Jika sedikit membandingkan dengan novel Sibel Eraslan yang juga banyak mengambil sosok perempuan di sekitar Rasulullah, gaya bercerita Abdul Salam Al-Asyri tidak terlalu meresap dan membuat pembaca merasakan perasaaan Aminah. Meski begitu, novel biografi ini masih layak untuk dijadikan bacaan untuk lebih mengenal sosok yang sarat dengan kemuliaan, Bunda Aminah ra.