Saya tertarik mengikuti diskusi serat Centhini ini karena komunitas Salihara menyelenggarakan kegiatan 6 (enam) pekan sastrawan dan seniman perempuan di indonesia.
Di samping itu ada hal lain yang menarik, khususnya mengenai serat Centhini karya Ibu Inandiak, dimana dilakukan pembahasan dari sudut pandang ke-perempuan-an terhadap suatu karya, yang tokoh utama di dalam buku tersebut justru didominasi oleh kaum laki-laki, dengan segala aktivitas dan tingkah lakunya dalam kehidupan, walaupun buku tersebut berjudul Centhini, yang diambil dari nama abdi dalem si tokoh wanita Tembangraras.
Satu hal lagi yang patut dipuji dari pengarang kelahiran Perancis yang sekarang bermukim di Yogyakarta dan berkeinginan menjadi warga negara Indonesia, seperti yang disampaikannya di dalam forum diskusi tersebut bahwa tidak mudah untuk menjadi WNI walaupun telah berkarya untuk bangsa ini, adalah keberanian beliau untuk menginterpretasikan dan mengapresiasikan serat Centhini menurut pemahaman beliau sendiri serta menyisipkan padanan, tema dan makna karya sastra dunia lainnya, salah satunya Victor Hugo, ke dalam centhini yang notabene karya sastra Jawa.
Elizabeth D. Inandiak menambahkan bahwa ia ingin menambahkan suatu nuansa dan rasa yang lain serta memperkaya khasanah karya sastra yang tebal aslinya mencapai 4200 halaman folio dan terbagi menjadi 12 jilid tersebut. Tepatnya, sang pengarang Centhini: Kekasih yang Tersembunyi ini tidak semata-mata hanya ingin menterjemahkan bulat-bulat karya tersebut dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Perancis, disamping keterbatasan dan ketidakmengertian beliau akan bahasa Jawa pada waktu itu, tetapi adalah keinginannya untuk menjadi bagian dari serat Centhini itu sendiri. Beliau ingin diingat sebagai seorang pengarang yang memberi nilai lebih terhadap Serat Centhini tersebut.
Beliau malah mendorong para pengarang atau sastrawan baik di Indonesia maupun di luar untuk juga ikut memberi nilai lebih terhadap Centhini, dengan mengapresiasikan dan melihat Centhini dengan perspektif yang berbeda, secara Centhini sendiri sangat terbuka luas untuk bisa ditilik dari segala macam pemikiran karena Centhini, menurut beliau, tidak hanya sebagai sebuah karya sastra, tapi juga filsafat hidup, politik, lingkungan, tuntunan bermasyarakat dan menyangkut segala aspek kehidupan yang berlaku secara universal.
Jadi sah-sah saja kalau buku beliau ini mendapat tanggapan dan komentar yang beragam dari berbagai pihak, baik yang mengkritik dan yang memuji, seperti yang terlihat dalam sesi tanya jawab. Salah satu kritikan yang saya kutipkan disini adalah keberanian ibu Inandiak membalikkan suatu episode dalam Serat Centhini, dimana dalam buku beliau digambarkan Sultan Agung Mataram bersenandung tembang kerinduan kepada penguasa laut selatan Ratu Kidul, yang menurut versi aslinya justru sebaliknya, Sang Ratu-lah yang bersenandung menahan kerinduan terhadap Sultan Agung.
Pembalikan episode, penyisipan nuansa dan tema karya sastra dunia yang dimasukkan Elizabeth D. Inandiak ke dalam Centhini dilakukan dengan sangat halus dan baik, sehingga pembaca awam atau yang belum sempat membaca terjemahan literal-nya tidak akan menyadari adanya interpretasi tersendiri dari sang pengarang.
Sehingga member GRI yang hadir di diskusi tersebut (Nanto, Miaa, Ari dan saya) sempat bertukar pikiran dan bercanda untuk membuat Centhini versi alternatif, yang penting dapat memperkaya khasanah karya sastra agung itu sendiri. Toh itu sah-sah saja.
Saya pribadi saat membaca buku Centhini versi Ibu Inandiak, serta mendengar pemaparan beliau tentang sisipan karya sastra dunia ke dalam Centhini, malah membayangkan dan teringat tokoh Don Juan dalam karya Albert Camus The Myth of Sisyphus saat sampai pada episode Cebolang, tapi tentu dengan ending episode yang berbeda untuk kedua tokoh tersebut. Untuk episode tokoh lain seperti Jayengraga atau Amongrogo, malah terbayang Buddha yang berkelana mencari inti kehidupan, serta membayangkan pergulatan batin Sang Gautama menyikapi godaan hidup pada episode percakapan Amongrogo dengan Sultan Agung yang lagi bersemedi di puncak bukit. Episode pembalikan senandung kerinduan Sultan Agung atas penguasa laut selatan, mengingatkan saya akan tokoh mitos dalam legenda Yunani Kuno, yang bila kerinduannya memuncak untuk bisa bertemu, sang tokoh akan bersenandung di pinggir samudera memanggil kekasihnya yang ada di dasar lautan. Tetapi jika episode senandung itu tidak dibalik, saya malah teringat episode opera karya Richard Wagner yang saya tonton, dimana Isolde bersenandung sedih dan pilu saat memangku jasad Tristan, sang kekasih, yang gugur dalam pelukan, di bibir pantai.....
Aaahhh....sudahlah Do..!! Sudah terlampau panjang ini review, sudah panjang pula khayalan kau.... bisa termehe mehe nanti...!!! :)
Demikianlah......
PS:
Untuk laporan diskusi serat Centhini dipandang dari sudut Islam dan Kejawen oleh Ibu Junanah MSI (pembicara kedua), minta sama Cak Nanto aja yah hehehe. Perbandingannya merujuk ke thesis doktoral H.M. Rasjidi, Documents pour servir à l'histoire de l'Islam à Java, Ecole Francaise d'Extreme Orient, Paris, 1977.