Sebulan lebih aku sudah berada di Berlin. Mencari, mencari, dan mencari. Sampai akhirnya, aku menemukan sebuah jawaban yang terpaksa aku terima. Bukan jawaban terbaik, tetapi aku harus bisa menghargai itu.
Berlin, aku titip dewa kejutanku, ya. Sembunyikan saja senjamu kalau dia nakal, pasti dia langsung jadi anak baik lagi.
Berlin, aku juga titip rasa sayang ini untuknya. Seperti permintaannya, perasaan untuknya tidak akan lagi aku bawa pulang.
Keserakahan seorang penulis muncul, saat menulis buku pertama dirasa laku dan menarik. Lalu, dengan sombongnya melahirkan buku kedua, dengan harapan tokoh dalam cerita masih bisa diterima.
Oke, saya katakan menarik membaca buku pertama dari Geez & Ann ini. Penulis pandai menempatkan diksi, membuai saya sebagai pembaca. Meski anehnya setelah melewati editor, tapi masih terdapat typo. Entahlah, mungkin terlalu mengejar deadline. Pada seri pertama, kedua tokoh hidup, meski deskripsi tidak jelas. Terbantu oleh diksi yang tak dibuat-buat.
Sayang sekali, entah apa yang dicari oleh penulis ini. Kepuasan atas kesombongannya mungkin. Hingga terburu-buru menulis seri kedua. Oke, dengan harga yang tidak murah, saya membaca buku ini, bukan rasa senang yang muncul, bukan dialog-dialog manis seperti yang saya harapkan. Melainkan kisah yang sangat jelas berlebihan dan terlalu dibuat-buat. Seperti khayalan bocah yang sedang puber.
Saya pembaca cepat, meski begitu saya selalu bisa menikmati dan menemukan poin penting dari sebuah buku. Akan tetapi, pada seri kedua Geez & Ann ini, saya merasa ingin segera berhenti dan menutup halamannya. Andai saja penulis ada di hadapan saya, maka saya akan katakan, "kamu jangan serakah. Yang pertama mungkin layak, tapi jangan rakus dengan melahirkan buku kedua secepat yang kamu mau!"
Kelemahan penulis selalu sama, baik pada seri pertama atau kedua. TIDAK JELAS DALAM MENDESKRIPSIKAN LOKASI DAN TOKOH.
Semuanya tempelan! Seperti riset melalui google dengan sumber wikipedia.
Terlalu mengejar rekor, hingga lupa bahwa karyanya sama sekali belum layak turun pasar.
Sejak part awal aku udah dibikin geleng geleng kepala karena kenekatan Ann mencari geez di Berlin dalam keadaan sakit bahkan tanpa bekal alamat pasti dari geez. Pokokny asal datang ke Berlin aja lalu dia datang ke sebuah tempat secara acak dan bertanya kepada orang secara acak pula "permisi, lu kenal sama orang yang namanya geez nggak?" Berharap keajaiban akan membantu dia untuk menemukan cowok itu, seperti menemukan sebuah jarum yang jatuh ke dalam laut.
Apa dia nggak coba cari tahu alamat geez ke saudara atau teman geez sebelum berangkat ke Jerman? Kalaupun bisa ketemu, apa dia yakin kalau geez masih suka sama dia? Bagaimana kalau geez sudah lama melupakan dia? Bagaimana jika geez sudah punya pacar bahkan istri? kenapa ann nggak bisa berpikir sepanjang itu sih?
Novel ini adalah serangkaian cerita tidak masuk akal yang mustahil terjadi di real life.
Ann bisa dengan mudahnya menemukan geez karena secara tidak sengaja ketemu sama bunda nya geez. Padahal mereka belum pernah bertemu. Dan itu terjadi hanya beberapa hari setelah Ann tiba di Berlin
Soal orang orang di Berlin yang bisa mengenali Ann hanya dari cerita yang mereka dengar dari geez.
Soal geez yang mengetahui bahwa Ann akan datang ke Berlin. Bahkan dia tahu kapan waktu pesawat Ann sampai di bandara lalu geez pergi ke sana untuk menjemput Ann (meski tidak ada yang memberitahu dia soal kedatangan Ann). Mau bilang ini semua karena kontak batin? Ya nggak mungkin sampe segitunya keles.
Yang paling ajaib dari semua itu. Adalah buku rahasia geez yang Ann dapatkan dari bunda geez. Geez menuliskan tentang segala hal yang Ann lakukan di jogja dulu dan itu benar benar terjadi. Yah, meskipun geez mengaku bahwa dia punya banyak mata mata. Tapi tetap saja, mana mungkin dia bisa tahu sedetail itu, seolah geez selama ini telah menyamar sebagai bayangan ann yang mengikuti kemanapun gadis itu pergi dan melihat sendiri segala hal yang Ann lakukan.
Buku rahasia itu (yang ditulis entah berapa tahun yang lalu) juga bisa menceritakan segala hal yang akan Ann lakukan selama di Berlin tanpa ada yang meleset sama sekali. Buku itu seolah mewakili geez untuk berbicara dengan ann.
Misalkan saja, geez menulis "kamu sekarang pasti sedang makan roti di hotel kan Ann? " Dan memang itulah yang terjadi ketika Ann membaca tulisan itu.
Aduh. Plis deh, cenayang juga nggak akan bisa sampe segitunya. Bahkan ikatan batin tidak bisa dijadikan alasan yang masuk akal.
Dibuku itu, geez juga memberikan alasan soal dia yang hampir tak pernah mengabari Ann selama Ann di jogja. Yang bagiku, alasan itu sama sekali nggak bisa diterima.
Cewek manapun yang ada di posisi Ann pasti akan beralih ke cowok lain yang lebih bisa memberikan kejelasan.
Berhubung novel ini bergenre romance aku merasa nggak begitu sreg sama serangkaian peristiwa nggak logis yang ada di novel ini karena aku adalah tipikal orang yang menjunjung tinggi logika dalam pernovelan. Kecuali jika dari awal novel ini dilabeli romance fantasi itu mah lain cerita.
(INI REVIEW JAHAT. DARIPADA SAKIT HATI MENDING JANGAN DIBACA. SKIP AJA)
Jahat banget sih kasih bintang 1, tapi saya juga nggak nemu alasan kuat agar supaya buku ini diberi bintang 2. Atau bahkan 5. Soalnya, saya cuma betah baca buku ini sampai halaman 30, itu pun terseok-seok dan penuh keterpaksaan. Ya, mau gimana ... terlalu banyak alur yang buat saya mendadak mikir "APAAN SIH," berkali-kali setiap berganti halaman. Sosok Keana alias Ann benar-benar nggak mampu menarik simpati saya sebagai tokoh yang rela berjuang, sebab dalam sakitnya tetap berusaha mencari Geez, cinta sejatinya. Alih-alih mikir Ann sbg perempuan super-tangguh, saya malah mikir ini cewek egois banget dan nggak punya otak. Udah tau gagal ginjal, malah nekat berangkat ke Berlin cuma demi mengejar cinta yang entah ketemu, entah juga enggak. Tokoh Leo juga seolah cuma jadi 'ban serep' ketika penulis kehilangan ... ide, mungkin? Karena di beberapa bagian Leo cuma dateng, dikasih dialog sebaris dan tau-tau ilang alias cuma dapet peran yang seuprit aja. Anyway, ini review saya buat 30 lembar halaman yg saya baca. Semoga aja saya berhasil mengumpulkan niat untuk membaca sampai tuntas. Satu hal yang bikin saya bersyukur ketika membaca novel ini adalah: untung gue berhasil baca karena minjem, bukan beli :p
Buku pertamanya aja udah hancur, buku kedua malah semakin hancur:D bukan semakin hancur lagi sih, tapi ini novel udah gila segila-gilanya. Tokoh cewek yg bernama Ann alias Keana Amanda, kena gagal ginjal yang katanya udah parah, eh... dengan nekatnya pergi ke Berlin:D ninggalin pendidikannya pula. Cuma demi ngejar-ngejar seorang cowok yang gantungin dia bertahun-tahun. Stres. Nggak mikir apa lo sebagai seorang cewek? Lo kan berpendidikan dan udah mau jadi dokter, kok goblok amat? Eh gini ya Keana Amanda, wanita berpendidikan itu seharusnya nggak ngejar-ngejar cowok, apalagi tuh cowok ga pasti, justru harusnya Lo yang dikejar-kejar dia dong, ogebbb🙃 sorry nih ya, kesannya lo kayak cewek murahan:')
Dan untuk tokoh cowoknya yang bernama Geez alias Gazza Cahyadi, ini sih lebih gak masuk akal dari Ann. Dia seolah tau semua yang dilakuin Ann, bahkan saat Ann mau pergi ke Berlin, dia juga tau bahkan sampe nyusulin ke Bandara buat jemput dia padahal gak ada yg ngasih tau. Hellowwww, lo cenayang, ya, Geez? Atau punya kemampuan buat baca pikiran seseorang?:) Btw kok lo Setega itu sih gantungin anak orang? Mana selalu ngasih harapan lagi, eh tapi gak lama tiba-tiba ngilang tanpa kabar:') pantes aja lo dinamain dewa kejutan wkwk
Oh ya, satu lagi. Tokoh Leo ini gunanya buat apa, sih? Heran gue. Nggak penting-penting amat juga aelah. Malah kesannya kayak orang tolol.
Lebih buruk dari buku pertama. Saking buruknya, jadi malas untuk mengulasnya di sini.
Tapi sudahlah, sebagai pengguna goodreads yang baik, saya akan menjelaskan kenapa saya menyebut buku ini buruk. So here we go.
Ada kecenderungan para penulis-penulis teenlit Wattpad dari dulu sampai sekarang untuk menarik empati penonton dengan cara yang sangat meonoton dan membosankan. Apa itu? yaitu dengan memberikan penyakit akut ke karakter utamanya. Saya sudah sering sekali menemukan banyak novel teen-lit yang karakter utama perempuannya sakit-sakitan. Saya tidak tahu ini karna penulisnya yang terlalu malas menggali konflik dalam cerita atau bagaimana. Tapi ini sungguh sangat mudah tertebak.
Kedua, tentu saja kesalahan-kesalahan deskripsi indrawi yang coba di gambarkan penulis. Di salah satu bagian, saya lupa halaman berapa, kalo tidak salah halaman 113. Di sana Ann berbicara dengan Geez yang tidak bisa berbicara secara verbal, selain dengan menulis kata lewat selembar kertas. Yang mana seharusnya Ann cuman bisa membaca pesan dari Geez lewat selembar kertas itu. Akan tetapi penulis malah keliru dalam mendeskripsikan transisi komunikasi mereka dengan menulis "Aku senang mendengar kalimat dari Geez". Mendengar? Bukannya Geez tidak bisa berbicara? Bukannya dia cuman menulis pesan lewat surat? Harusnya dibaca kan, bukan didengar. Alhasi detail-detail kecil seperti ini jadi membuat pembaca cukup terganggu.
Selain itu masih banyak plot-plot tidak masuk akan yang terkesan seakan dunia dan orang-orang dalam buku ini hanya berputar dalam cerita Geez dan Ann. Tidak ada konflik yang cukup berarti dalam seri ke-dua ini, selain penantian-penantian yang meragukan dan membosankan.
Maaf banget ngasih rate segini, karna jujur ceritanya mulai terlalu drama.
Gua suka kenyataan kalo emang ann bisa bangkit dari keterpurukan nya akibat kepergian geez dengan adanya bayu. Tapi dengan beberapa konflik lain seperti ternyata hati yang diberikan ann ke bayu hanya selewat dan ann yang tetiba berani ngambil resiko buat nyamperin geez ke berlin dengan tanpa satupun petunjuk itu menurut gua sangat diluar nalar.
Maksudnya, cinta ya cinta, tapi realistis nya kita gabisa ngambil tindakan seberani itu apalagi setelah 6 tahunan berpisah, ada banyak kemungkinan yang terjadi.
Dan yang paling bikin gua hmm, adalah dewa-kejutan-geez yang makin ga bisa gua pahamin, terlalu fiksi dan hampir 98% itu gamungkin ada di real life. Gua sampe banyak berfikir 'hah? Kok bisa?' setiap geez menunjukan 'kekuatan kejutan' nya ke ann. Maksudnya ya bener-bener gaada yang kayak geez tuhhh.
Satu-satunya hal yang bisa gua apresiasi dan gua senangin dari sekuel nya ini adalah ceritanya yang makin fokus ke Keana Amanda. Ga seperti yang pertama yang cuman ceritanya seputaran geez aja, disini ada tentang cita-cita dan mimpi ann dan gimana strugling nya ann ngadepin penyakitnya, pokonya lebih nunjukin kedewasaan dibanding buku pertamanya.
Sisanya dan segala kebetulan yang terjadi maaf banget gabisa gua terima, at the end buku ini hanya bisa gua nikmatin sampe ke buku pertamanya. Gatau nanti kalo baca buku ke 3 nyaaa, semoga ada mood buat lanjutin.
Di series ke 2 Geez dan Ann ini lebih baper dari buku pertamanya. Karena jawaban-jawaban yang menggantung buku sebelumnya tentang Geez terjawab di sini.
Jadi, Ann memutuskan pergi ke Berlin untuk mengajak pulang Geez. Karena Ann akhirnya sadar Geez tidak akan tergantikan. Andaikan dulu Ann dapat menekan keegoisannya dan membuka kado dari Geez di ulang tahunnya yang ke-16, hidupnya tak akan rumit. Hatinya tidak terluka, juga hati lainnya yang menawarkan kebahagiaan pada Ann.
"Jangan suka melamun, aku tidak suka dengan apa yang kamu lamunkan. Hal-hal yang tidak menyenangkan bukan untuk dilamuni, Ann, melainkan dijauhi.'' Hlm. 110
Kepergian Ann ke Berlin ini terbilang nekat. Karena dia tidak mencari tahu dulu di mana tempat tinggal Geez. ditambah kesehatan Ann sedang berada ditingkat paling rendah. Ann sepertinya lupa, Berlin itu tak seluas daun kelor. Coba mencari ke tempat yang pernah diceritakan Geez sebelumnya. Sayang, nihil! Ditambah kondisi Ann yang semakin down. Keras kepalanya nih ya, Ann gak mau konsumsi obatnya. Duh, cewek satu ini kalau sakit bukannya malah gak bisa cari Geez? Beruntunglah ada dokter ganteng bernama Leo, yang tidak lelah mengekori Ann kemanapun.
Pencarian Geez yang membuat Ann hampir menyerah, membuka jalan saat seorang perempuan menyapanya. Dari sanalah pintu mulai terbuka. Geez yang ternyata tengah menderita.
“Yang kumengerti... pasti Tuhan tidak akan bermaksud buruk dengan rencana-Nya.” Hlm. 123
Tuhan memberikan jalan untuk Ann bertemu dengan Geez. Untuk mengajaknya pulang. Namun, ternyata tak sesuai yang diharapkannya. Geez tengah menderita dan itu semua karena Ann. Membuat Ann ingin selalu berada di Geez, bagaimanapun kondisinya sekarang. Karena untuk Ann, Geez rumahnya. Rumah untuk pulang.
Sayang, Geez ingin mengikhlaskan Ann untuk pergi. Apa yang akan dilakukan Ann, bertahan atau pergi? Terutama setelah membaca buku harian Geez yang baru Ann sadari Geez tak pernah jauh darinya walau jarak memisahkan. Bagaimana kecewa Geez saat dulu Ann lebih memilih orang lain. Penasaran dengan endingnya? Silahkan baca novelnya langsung ya.
Secara konflik dan alur, ada kemajuan di buku kedua ini. Konfliknya tidak bertele-tele. Walau ada beberapa konflik yang terlalu tak masuk akal. Geez yang seakan tahu segalanya.
Di buku kedua memang ada orang baru yang jatuh hati pada Ann. Di sini aku suka dengan Ann, yang hatinya tak goyah walau Geez menyuruh dia pergi. Tapi Ann, tidak bersembunyi dibalik hati yang lain. Geez, masih memberikan sensasi yang mendebarkan. Karena diksi yang digunakan penulis sangat baik. Yah, walau aku masih bertanya, kenapa saat menceritakan cerita ini dari sudut pandang Ann, malah terasa kaku. Dan ada beberapa kalimat yang kurang sepadan dengan kalimat sebelumnya. Semoga selanjutnya, penulis memerhatikan juga diksi yang digunakan oleh pembawa ceritanya.
Pesan, Keterlambatan adalah penyesalan yang tertunda.
Overall, aku memang lebih suka buku kedua ini dibanding buku pertama. Rekomen yang suka romace.
Yaah kalo akhirnya nggak sama Geez juga jadi kayak whats the point of the story ya wkwk. Tapi sayang bgt character developmentnya nggak kerasa. Naskahnya jadi gitu2 aja. Hopefully getting better in the next story
This entire review has been hidden because of spoilers.
*beli ebook di Google Playstore 16rb, pas ultah Gagas Media =)
langsung habis dibaca kemarin, gara" mati lampu & hilang sinyal.. nggak tahu mau ngapain jadi baca ebook ini aja.. :D
ehmm.. tetap yaa dengan segala kejutan, yg bagi q tetap nggak masuk akal.. yaa kali, baru pertama kali lht wajah Ann, orang" langsung tahu itu dia.. terus, itu tiket bisa tepat gitu waktu & jam keberangkatan'y, mungkin Geez peramal.. :p
tapi masih mending novel ini, daripada yg pertama.. walaupun tetap aneh dimana" cerita'y.. :D
Satu-satunya yang bagus dari novel ini adalah gaya bahasanya. Untuk faktor lain, aku rasanya ingin menangis saking menderitanya! Nah silakan kalian baca sendiri review lengkapnya di sini ToT
Buku pertamanya lebih baik dari buku kedua. Tapi gak sampai aku kasih nilai dua dari lima juga, meskipun peringkatnya ada di bawah buku pertama. Di sini terlalu banyak drama, juga Ann yang nangis nyaris di semua bab. Bacanya lumayan capek karena dia betul-betul habisin banyak halaman untuk nangis🥲.
Ternyata Leo seperti Bayu dan Raka. Aku lumayan bingung karena Ann ini digambarin sebagai orang yang jarang berteman sama laki-laki, tapi begitu ketemu Leo kok bisa langsung nyaman bahkan sampai Leo suka dia juga? Maksudku, kenapa semua tokoh laki-laki di sini selalu berakhir suka sama Ann? Pertanyaan itu juga harus ditanya ke Geez yang sampai buku kedua ini selesai, aku masih gak ketemu alasan Geez sebegitunya sama Ann. Sebetulnya apa, sih, yang disukain Geez sampai segini gilanya mau bahagiain Ann?
Buku pertama kan Ann masih SMP, di sini dia udah koas. Tapi aku sama sekali gak lihat perkembangan karakter Ann. Masih sering lari dari masalah kayak anak SMP yang kehilangan arah. Masa iya, kehidupan kuliahnya sama sekali gak nambahin karakter lebih dewasa di diri dia?
Menurutku buku kedua ini dramanya jauh lebih banyak dan jadinya terlalu gak realistis. Di buku pertama, aku masih percaya kalau hal itu bisa betulan terjadi. Tapi di buku kedua ini susah kalau mau mikir begitu juga. Aku suka sama ide ceritanya, tapi penulisannya bikin aku lagi kayak baca cerita anak remaja yang patah hati. Dan, sangat disayangkan Tari gak terlibat banyak. Ann justru cenderung lebih banyak cerita ke Leo, orang yang baru dia kenal, dibanding ke Tari yang jelas sahabatnya sejak SMA. Kayak, Ann kenapa bisa semudah itu nyaman dan percaya sama laki-laki?😞
Dan untuk Geez, stop menjawab semua pertanyaan dengan "Karena aku Geez."
"Dia akan kembali untuk Keana yang sakit, bukan untuk Keana yang ia kenal."
Mau kasih 2.5 bintang buat buku ini, padahal Geez and Ann #1 sangat menarik buatku, tapi waktu dibuat sekuel kenapa jatuhnya maksa ya? Seriously, banyak banget adegan sinetroniah yang nggak masuk akal. Banyak banget tokoh yang jatuh sakit sampai aku capek bacanya, berusaha menamatkan ceritanya susah payah karena udah telanjur baca seri pertama.
Pls lah, buat ketiga, jangan terlalu maksa. Untuk pelajaran juga kalau misal harus selesai di situ ya sudah akhirii, jangan semakin diperpanjang yang justru merusak cerita.
Kelebihannya: diksi! Diksinya jempolan, bisa membuat pembaca terhibur, mendalami emosi jiwa dari para tokoh. Good job, terus berlatih, Tsana!
Saya mengakui kalau rangkaian kata yang dibuat oleh penulis cukup indah, tapi sayang tokoh yang dibuat ngga seindah itu. Geez dan Ann bagi saya bukanlah tokoh yang berhasil membuat saya merasa sayang dengan mereka. Geez yang terlalu mengada-ngada dan Ann yang terlalu keras kepala.
Saya merasa seri kedua ini sedikit lebih baik dari seri sebelumnya, karena tidak ada bagian yang membuat saya terlalu overthinking. Alhamdulillah. Di seri ini saya lebih menerima apa yang saya baca, karena udah berusaha kebal setelah membaca buku seri pertama yang ternyata oh-agak-di-bawah-ekspektasi-saya-ya-hehehehe
Buatku ceritanya kurang masuk akal. Aku penikmat cerita fantasy sebenarnya, tapi untuk cerita romance begini gak cocok lah diselipin hal-hal yang gak masuk akal. Gak bisa diterima sama otak aku tu.
Just like it, no more. Untuk anak umuran SMP dan awal masuk SMA lah ya. Gak cocok buatku di umur sekarang hehe. Baca review-ku yang Geez & Ann nomor satu deh.
I gave it 3 stars since i like this one better than the first one. They've grown up and things are getting more sense with that mature thought and feeling of them, and there sure had a lot more drama and tears which why i love it. BUT still there are lots of flaws i found when i read this book.
Satu hal utama yang aku gak suka dari buku ini: tokoh utama perempuannya. Entah kenapa dari buku pertama ini dia kesannya egois tapi oke lah karena di sana dia masih remaja. Tapi ternyata pas udah dewasa pun dia masih begitu? I don't see any character development here. Ketika Geez akhirnya sadar dari koma dan memutuskan untuk mengikhlaskan hubungan mereka, Ann kecewa. Girl i don't think you had the right to feel that way, am i right? Dia yang pertama gak bisa jaga komitmennya dengan Geez, dia yang pertama menyerah sama hubungan mereka dan Geez legowo-legowo aja dengan fakta itu, walaupun dia mengaku sakit hati tapi dia tetap berusaha melanjutkan hidup. Tapi ketika posisinya dibalik, Ann kecewa? Dengan egoisnya marah-marah dan berbalik pergi menghindar seperti yang sudah dilakukannya selama ini? Dia selalu merasa paling tersakiti dalam hubungan ini. Fixed dari sini aku hilang respek sama Ann, you gotta touch some grass.
Soal Geez, akupun heran dengan dia. Dia menuliskan buku rahasia Geez yang katanya akan menjawab semua kebingungan Ann, tapi dari sepanjang cerita yang mengungkap isi buku rahasianya ini, GAK ADA SATUPUN YANG MENJAWAB SEMUA ALASAN DIBALIK SIKAP MISTERIUSNYA ITU. Di buku itu dia cuma tulis rentetan kejadian sejak mereka pertemuan pertama sampai ke saat sebelum dia koma. Kesannya jadi cuma mengulang keseluruhan cerita tapi dari POV-nya dia. Kenapa dia gak coba menghubungi Ann dengan cara lain ketika Ann gak mau baca dan balas emailnya, kenapa dia gak pulang sehari dua hari aja untuk meluruskan keraguan di antara mereka, malah memasang teropong sana-sini yang sebetulnya gak membantu sama sekali tanpa dia berani menampakkan diri secara langsung, itu semua tidak dijelaskan mengapa. Plus, bagaimana cara Geez mengetahui seluk-beluk apa yang Ann rasakan dan apa yang akan dilakukannya meski sudah bertahun-tahun tak ketemu terlihat sangat tidak realistis kecuali antum cenayang. Imagine how awkward it'll be when she's eventually a different person now. Gimana dia bisa merasakan kalo Ann akan datang ke Berlin dengan tanggal dan hari yang tepat tanpa komunikasi itu terlalu mengkhayal dan kurang realistis bagiku.
Untuk detail cerita sendiri, banyak yang tidak konsisten dan kalau pembacanya teliti, tentu bakal membuat bingung. Contoh, dikatakan kalo terhitung sudah 15 hari Geez koma sejak dia tertabrak saat hendak menjemput Ann di bandara. Tapi di beberapa halaman kemudian, tertulis bahwa dia baru koma selama 6 hari. Lalu, entah kenapa aku merasa penulis seakan memaksakan semua tokoh laki-laki yang masuk ke hidup Ann menjadi love interest-nya. Raka, Bayu, sampai Leo. Untuk Raka, aku bahkan kaget mereka bisa temenan normal dan somehow perasaan itu jadi suka? Kasusnya Bayu, aku merasa sejak pertama kali dia muncul dia memberikan kesan kakak laki-laki yang sebatas mendengar keluh kesah & menyampaikan penghiburan semata. Belum bagaimana dia bersikap terlalu akrab pada pertemuan pertama mereka, sekelas barista memanggil customer-nya dengan sebutan kamu? Nah dude, you sure went too far. Pun saat Ann mengajaknya menjalin hubungan, kupikir jahat betul perempuan ini, padahal cuma sebatas tindakan impulsif semata. Terakhir, Leo. Nah ini lebih gak masuk akal lagi. Aku gak melihat landasan yang konkrit dan build-up yang jelas gimaba dia bisa berakhir suka pada Ann. Pas dia ngomong dia suka Ann di mobil itu, aku sampai terbengong-bengong. 'Bentar-bentar, kok tiba-tiba suka????' Kayak random banget gitu. Mungkin untukku, kasus ini cukup berhenti di Bayu, yang mana itu yang paling meninggalkan luka karena Geez bahkan sampai melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Dialog bahasa inggris di buku ini terasa kurang natural. Ada beberapa yang terasa jelas terjemahan dari bahasa indonesia ke bahasa inggris. Terlepas dari itu, aku cukup suka gaya penulisannya terutama ketika Geez dan Ann berbicara kepada satu sama lain. Puitis tapi tidak dalam kadar yang berlebihan, cocok dengan genre buku ini.
Kurasa perjalananku dengan Geez dan Ann cukup sampai di sini. Cukup dengan mengetahui mereka akhirnya kembali menemukan satu sama lain dan memutuskan untuk berjuang bersama-sama lagi. Mungkin, mungkin nih aku bakal baca Buku Rahasia Geez karena penasaran dengan pola pikir cowok misterius satu ini, tapi tidak dengan buku ketiganya. Menurutku buku kedua ini sudah cukup merampungkan keseluruhan cerita Geez dan Ann.
Kalau buku kedua lumayan lebih terasa konflik hidupnya. Sebab ternyata masalah hidup Ann tak hanya melulu memikirkan Geez. Namun juga lebih serius karena penyakit ginjal yg dideritanya. Lagi pula, status mahasiswa kan lebih masuk akal jika jatuh cinta terlalu serius ke seseorang. Artinya bukan sekedar cinta monyet lagi. Ann ini banyak juga malaikat2 pelindungnya. Ada Bayu si Barista kopi yg rela menghiburnya dan menjadi pengganti Geez walau dia tau bahwa yg dicintai Ann adalah Geez. Setelah itu ada pula Leo. Dokter ganteng, pintar, dan berprestasi yg selalu ada untuk Ann saat di Berlin. Tapi kehadiran orang2 ini terlalu menyempurnakan hidup Ann. Terlalu memuluskan jalan hidupnya. Seolah, dia jadi mahluk paling beruntung dan istimewa sekali. Belum lagi kepintarannya yg walau galau tetap jadi siswa terbaik dan bida masuk kedokteran. Rasanya jadi terlalu hebat aja sih. Tapi kebetulan2 yg diciptakan Geez menurut saya terlalu ajaib. Lebih ajaib pas di bagian 1 sih sebenarnya. Kesannya jadi terlalu drama dan halu. Tapi oke sih buat bikin pembaca bahagia. Kecelakaan yg dialami Geez jadi bumbu yg menarik. Tapi healinynya terlalu ajaib. Kalau di kehidupan nyata kayaknya persenannya kecil banget. Tapi suka sih dengan novel ke dua ini. Ada kata2 yg saya suka dari percakapan ringan Geez dan Ann. Ada memori2 yg menarik antara kisah mereka berdua. Dan mungkin juga bisa ada dan dialami betulan di kehidupan nyata. Alhasil, saya suka dengan novel ini karena tidak butuh terlalu banyak energi ekstra untuk berpikir jadi tidak bikin stress. Dan lagi pula saya suka dengan endingnya yg ngga bikin kecewa.
Yaa dulu aku terobsesi dengan cerita ini, kupikir begitulah cinta terus mengejar meski jauh dari mata. Namun semakin dewasa aku paham, ini salah tak sesuai prinsipku.
Saat baca buku pertama aku sedikit kecewa dengan sikap Ann dan Geez. Menurutku mereka sama-sama egois, tapi awalnua kupikir itu adalah intrik drama yang penulis masukan.
Dan kemudian aku baca buku kedua, jujur aku menyesal berekspetasi tinggi. Aku tidak mendapati adanya character development dari buku ini, hal yang kupertanyakan sejak di buku 1 pun tak terjawab di buku 2. Penulis hanya fokus pada meromantisasi hubungan sang tokoh yang kurang komunikasi dan pertemuan dadakan mereka.
Aku justru berharap bahawa Ann (mengingat dia sudah kira2 25 thn disini) bisa jadi lebih mature daripada dia saat masih SMA, tapi aku salah. Aku sangat berharap aku sudah tak mengenal Ann yang ada di buku 1, tapi aku salah, mereka masih sama. Seakan di copy paste dan ditaruh begitu saja di buku kedua ini.
Awalnya aku nggak berniat beli buku kedua, karena ya... buku pertama sudah cukup mengecewakan. Tapi, karena penasaran dan ingin tahu saja bagaimana Geez sama Ann di akhir nanti, ya sudah, aku beli.
Langsung saja aku bilang kalau buku kedua menurutku lebih buruk. Banyaaaaaaak banget hal yang semakin nggak masuk akal di sini. Segala kejadian Ann di Poznan itu... bukankah terlalu dibuat-buat? Memang benar julukan Geez adalah 'Si Dewa Kejutan', tapi, makin aku baca, aku makin merasa kalau dia lebih cocok disebut 'Si Tidak Mungkin Ada'. Poznan, buku diari Geez, dan para 'teropong'-nya, bahkan kecelakaan Geez saja sangat tidak masuk akal. Sekuat apa ikatan batin mereka sampai Geez bisa tahu kalau Ann datang ke Berlin?
Satu hal yang menarik perhatianku, aku suka momen di mana Ann menemani Geez di rumah sakit. Hanya itu. Meninggalkan segala kekesalanku terkait apa yang Geez lakukan setelah dia siuman, sampai pada akhirnya Ann kembali ke Indonesia dan menjadi dokter. Lalu pada bagian paling terakhir buku... aku membencinya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku kedua ini melanjutkan dari cerita pertama di mana kedua tokoh utama, Geez dan Ann saling memperjuangkan hubungan dan perasaan mereka. Perasaan yang semakin dicampur adukkan di dalam buku ini membuat pembaca, terutama aku menjadi resah setiap kali akan membalik ke halaman berikutnya.
Buku ini aku rasa cocok untuk pembaca yang masih di usia SMP dan SMA yang masih kaya akan imajinasi. Namun, mohon maaf buku ini sudah tidak cocok aku baca di pertengahan 20-an, karena banyak sekali cerita dan pengembangan karakter yang aku rasa tidak masuk akal terjadi di kehidupan nyata. Begitu pula dengan alur yang ditulis dirasa sangat dipaksakan.
Namun, di akhir bab pada cerita ini, pembaca diberikan hadiah ending sesuai yang diharapkan. Akhir manis yang sudah tentu dinantikan oleh para pembaca dari buku pertama. Overall, buku ini tetap akan menemukan pembacanya dan akan menjadikan buku ini sebagai alasan dia akan jatuh cinta kepada membaca.
Akhirnya selesai sudah aku membaca kisah Geez dan Ann. Jika di buku pertama, aku masih menyimpan banyak tanya akan sosok Geez dan konflik masih terasa berputar-putar soal kebimbangan akan perasaan. Di buku kedua, kisah mereka lebih dewasa.
Ann yang sudah mulai bisa menentukan sikap. Dia mau jujur akan perasaannya dan mencari Geez kembali. Aku dibuat deg-degan akan seperti apa jika Geez dan Ann bertemu, karena Geez ini sejak awal konsisten menjadi pribadi yang misterius dan penuh kejutan. Bagian favoritku saat membaca buku diary Geez, aku jadi bisa lebih mengenal sosok Geez.
Semakin membaca, aku semakin penasaran akan berakhir seperti apa kisah mereka? Akankah semesta berbaik hati mempersatukan keduanya atau malah perpisahan?
Jujur sih udah nyuri lihat rating pas belum baca, harapannya sih semoga lebih baik dari pendahulunya gitu. Emang ada sedikit perkembangan, tapi nggak jauh beda ama buku pertama. Ini sih kaya kilas balik yah, tapi dari POV-nya si Gazza-Geez-Chayadi.
Kalau kemaren Saya bilang kaya AADC sekarang malah lebih banyak lagi. Part Geez ditabrak truck—well kaya One Day banget ini. Part Geez kena paraplegia—lho lho, ini bukan Me before You kan? Wqwq. Untung aja si Geez nggak pengen ikutan Suicide kaya si Will Traynor.
Pinternya penulis sih bikin kita meragu, iya seolah-olah nggak ada happy ending untuk cerita Geez & Ann. Emang kayaknya takdir terlalu mempermainkan mereka sih. Tapi bukan Geez namanya kalau menyerah gitu aja.
Yass, selesai kah cerita geez and ann? Butuh 6 jam untuk baca 2 buku perjalanan mereka
Rating nya meningkat gaess, karena geez masih sama menawan dengan buku pertama, singkatnya buku ini tentang isi hati geez dan jawaban atas pertanyaan ann selama ini, banyak bawangnya mataku jadi berair kan
Endingnya gimana? Silahkah baca sendiri drama keras kepala dan labilnya ann yang berulang kali buatku naik darah, dan bagian yang paling tidak kusuka adalah kenapa sih harus ada orang lain yang berusaha 'menenangkan' yang menurutku dengan cara yang salah. Yah lupakan pendapatku...
By the way ku suka gaya penulisan rintik sedu yang ini, jauh lebih baik dari buku pertama dan itu nilai plus
Dan intinya kalo ada buku ke 3, aku pasti beli hahaha
Kedua kalinya membaca novel karya kak Rintik Sedu. Diceritakan dari sudut pandang orang pertama, disini adalah Ann. Kita sebagai pembaca diajak untuk bisa memahami jalan pemikiran Ann, apa yang dirasakan dan dialami oleh Ann . . Konfliknya sedikit rumit, namun eksekusi penyelesaiannya pun manis, dan bikin baper. Walaupun si Ann disini tetap bikin agak emosi setiap membaca apa yang dia lakukan, namun Geez bikin jatuh cinta dengan segala kedewasaan dan keputusan yang diambilnya . . Endingnya bikin terkejut banget, nggak nyangka. Setting Berlinnya sedikit kurang terasa, namun setidaknya mengobati kerinduan akan keluarga di sana
At first I don't wanna read it, since the first book left quite a "meh" impression. But it turned out to be something I can enjoy, something that made me finish it in just a span of 2 hours. Rasanya kayak diikat untuk nyelesaiin bukunya dalam sekali duduk. Although its ending got me skeptical (since it was too good to be true) but thank God I can enjoy it better than the first one. I don't wanna be hurried to read the next book tho, since I'm not a fan of "that" ending (I also have no idea how tf could it end "that" way??????) But I'll still read it. Whatever ending I might find later, the story needs to be finished. Kudos, Kak Tsana!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ceritanya mengalir biasa saja. Wajar anak muda yang masih labil, tidak konsisten dan cenderung menuruti kata hati yang kadang aneh melakukan hal absurd seperti Ann yang langsung terbang ke Berlin demi cintanya pada Geez. Bucin banget. Dan Geez yang mendepak Ann, kembali ingin bersama Ann saat melihat gadis itu sudah move on.
Meskipun belum baca yang jilid 1, tapi bisa ditebak bahwa ini percintaan remaja yang akan berakhir dengan tenang, aman dan damai kendati tokohnya rada impulsif, keras kepala dan kekanak-kanakan. Tak ada kesan apa pun dari novel ini kecuali langsung kelar saya baca beberapa jam saja saking ringannya cerita ini.