Jump to ratings and reviews
Rate this book

Blumbangan, Novel Berlatar Perlawanan Orde Baru

Rate this book
Cerita, tentu saja, tak harus selalu hal-hal besar, misal demokrasi, kiamat, atau menikah. Tidak. Bisa saja idenya hal yang sederhana yang sebagian besar kita tak membayangkannya bisa menjadi sebuah novel yang menarik dan panjang. Sebuah surat, misal.

Terbayangkah?

Lihat salah satu buktinya ini, pemenang lomba cipta Novel Pilihan UNSA 2017. Ini novel, lho, bukan sependek cerpen. Eksplorasi hebat kau, Mas Penulis! (Edi AH Iyubenu)

152 pages, Paperback

Published November 15, 2017

4 people are currently reading
27 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (23%)
4 stars
18 (60%)
3 stars
5 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for Agwi .
31 reviews7 followers
April 8, 2018
Bisa jadi salah satu calon nominasi Kusala KLA tahun ini (?) IMO
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
August 19, 2022
Bagus banget! Ditulis dengan format yang unik (yaitu surat), novel ini menceritakan trauma sejarah pembunuhan dan penghilangan paksa oleh rezim Orde Baru yang dialami penduduk Desa Tretek Ireng. Mereka menggunakan blumbangan atau blumbang (semacam tempat galian seperti kolam untuk tadah air) sebagai tempat bersembunyi dari kejaran maut. Latar tempatnya nggak abstrak, kemungkinan di suatu daerah di Jawa Tengah atau Jawa Timur (berdasarkan cara penulis menggunakan istilah bahasa Jawa yang populer dalam menyebut beberapa frasa dan kata kerja). Garis waktunya jelas, pembaca seolah diajak untuk mengaitkan benang merah dari surat dan jawabannya untuk merekonstruksi kembali penokohan dan alur ceritanya. Seperti saat kita bermain Lego.

Sejarah toh kadang-kadang bisa saja tak diceritakan, pun bisa juga tak dituliskan. (halaman 35)

Di novel ini hampir nggak ada tokoh sentral. Semuanya memiliki peran dan porsi yang sama besarnya, sama berpengaruhnya pada jalan cerita. Kamituo Karni yang dituakan penduduk desa, sepasang suami-istri Rakib dan Warsi, Lek Sanusi yang punya andil besar dalam tiap adegan dan Mardiyem si gadis yang tetap dicintainya meski telah diperkosa oleh serdadu, Marni (mengganti nama menjadi Meriandani) yang jatuh cinta pada Wibisono (yang menamai anaknya dengan nama Wibisono pula), hingga Arjuna (teman Wibosino) dan kekasihnya Meilina yang muncul di akhir cerita.

Aku sengaja mengganti nama, Meriandani, sebab kupikir aku tak bisa selalu menggunakan nama yang sudah menjadi buronan. Sudah terlalu banyak nama-nama yang telah ditetapkan sebagai buronan satu persatu ditangkap dan lantas disiksa sampai mati, dikursi-listrikkan, dihilangkan tanpa jejak, hingga barangkali saja dimatikan dengan satu-dua peluru. (halaman 40)

Sebagai novel fiksi sejarah, novel ini memang terkesan berat sebelah. Penceritaan hanya berfokus pada penderitaan masyarakat Tretek Ireng yang terpaksa harus rela dibohongi oleh tetua kampung terkait pembunuhan dan penghilangan paksa. Bahkan anak-anak sudah terbiasa dengan dongeng Buta Cakil dan hantu-hantuan di hutan yang menjadi tempat eksekusi mati. Meski begitu, dengan gaya menulis narasi yang mengalir dan 'apa adanya' membuat segala yang disampaikan terasa sangat realistis. Seperti ketika mendengarkan kisah lampau yang dilontarkan orang tua dari mulut ke mulut.

Di sisi lain, penggambaran suasana yang represif pada masa Orde Baru dalam novel ini juga terasa mencekik dan memuakkan. Soal pemilu yang seperti nggak ada harganya lagi, soal ketidakadilan dan penindasan masyarakat marjinal, hingga soal betapa berengseknya militer saat itu yang memiliki kuasa lebih atas penduduk sipil. Meskipun nggak segarang dan sesadis narasi novel fiksi sejarah pada umumnya, bagian soal eksekusi mati dan juga surat-surat puitis yang menyayat hati juga menjadi hal yang menambah nilai plus novel pendek yang selesai dalam sekali duduk ini.

Ada manusia-manusia yang menangis menahan perih saat tanah dan sawah mereka dibeli dengan harga murah dan mereka menjadi gelandangan di kampung mereka sendiri, saat pabrik-pabrik yang dibangun di atas tanah mereka enggan mempekerjakan mereka yang memang tak ahu apa-apa soal mesin pabrik. Yang mereka tahu hanya bagaimana cara melestarikan alam untuk anak cucunya kelak, bukan justru merusak alam. (halaman 106)

Blumbangan memang nggak sempurna, tapi sukses menjadi novel yang mengena.
Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
January 31, 2021
Novel berlatar menjelang kejatuhan Presiden Soeharto memang nggak sedikit. Aku beberapa kali menemukan karya dengan latar belakang semacam itu. Namun khusus novel ini, satu hal yang kiranya patut kuancungi jempol adalah penggunaan teknik berceritanya. Pandasi kerangka kisahnya disusun dari lembaran-lembaran surat, kita mengenalnya sebagai teknik epistolari. Dari lembaran itu, sekian fragmen kemudian disatukan, seperti menyusun puzzle. Menarik sekali. Perubahan sudut pandang yang dipakai penulis pun mulus. AKu suka.
Profile Image for ❦.
204 reviews6 followers
September 19, 2025
“Ya, ya, ya, sekalipun sejarah bisa disingkirkan dengan tinta hitam, pembungkaman atau pun pembredelan, tetapi siapakah yang bisa menyingkirkan ingatan, Meriandani? Siapa? Siapa, Meriandani? Aku ingin tahu.”
p. 24
novel singkat yg memiliki halaman kurang dari 150 ini cukup intens dan sukses membuatku merasakan berbagai macam emosi. sedih, miris, marah, takut, dan ngeri, semuanya bercampur jadi satu.

membaca novel ini rasanya kayak lagi nemenin temen yg lagi baca surat dari gebetannya. aku bisa lihat bagaimana suatu peristiwa terjadi dari dua sudut pandang: si pengirim surat dan si penerima, Meriandani. intinya, cerita dari tiap sudut pandang hampir mirip, tapi ada beberapa detail tambahan yg diceritakan oleh tokoh lain dan juga Meriandani sendiri—yg menjelaskan ulang detail dari peristiwa yg dituliskan pada surat tersebut dengan caranya sendiri.

novel ini bercerita tentang bagaimana kehidupan warga desa Tetrek Ireng dan sekitarnya berlangsung di masa orde baru, masa di mana banyak serdadu yg ditugaskan melakukan patroli untuk membasmi "maling ayam". pada masa itu, banyak laki-laki yg ditangkap serdadu apabila mereka terciduk sedang membicarakan soal pemberontakan atau hal yg mengarah pada pemberontakan. pokoknya, obrolan yg dianggap para serdadu berbahaya, maka akan langsung diangkut ke dalam truk untuk kemudian di ... (*sensor*) oleh karena itu, para warga desa memutuskan untuk membuat blumbangan sebagai tempat persembunyian. dari mulai turunnya malam hingga menjelang adzan subuh, mereka akan bersembunyi dari incaran para serdadu di situ.

aku merasa miris melihat bagaimana warga desa Tetrek Ireng diperlakukan oleh para serdadu, pun miris melihat kelakuan mereka yg semena-mena terhadap rakyat sipil. kok bisa ya mereka berani melakukan kekerasan dan penyiksaan terhadap rakyat yg notabenenya sudah membiayai peralatan perang mereka melalui uang pajak? apa mereka lebih takut dengan orang yg berkuasa di atas mereka daripada takut dengan Yang Maha Kuasa?

aku pun merasa ngeri melihat bagaimana keseharian para warga Tetrek Ireng yg selalu merasa resah ketakutan dan tak berdaya tiap gelap malam tiba, karna pada saat itulah para serdadu mulai berpencar untuk melakukan pencidukan kepada siapapun yg dicurigai oleh mereka sebagai "maling ayam". siapapun kena. siapapun diburu. siapapun akan dieksekusi. ngeri. 😬

hal miris lainnya dari novel ini adalah ketika penduduk desa menceritakan kelakuan kejam para serdadu. di tiap obrolan, warga tidak berani menyebutkan secara gamblang kata serdadu atau aparat. ketika mengobrol, mereka lebih sering menggunakan istilah isyarat seperti, "si itu" untuk para serdadu dan "soal itu" untuk kegiatan pemberontakan. seakan-akan, apabila mereka keceplosan, maka tiba-tiba serdadu akan muncul di hadapan mereka dan langsung menangkap dan kemudian mengeksekusi mereka. miris. bahkan untuk membicarakan gerakan pemberontakan pun, mereka menggunakan kata sandi "maling ayam" yg artinya mencuri kembali hak-hak kebebasan yg selama ini dibungkam oleh para penguasa.

aku sangat menikmati momen membaca novel ini, karena selain cara penyampaian ceritanya yg unik —yakni dengan menggunakan surat-menyurat— gaya berceritanya pun sangat lugas. sayangnya, untuk aku yg bukan orang Jawa, terdapat beberapa kata dalam bahasa Jawa yg tidak diterjemahkan atau diberi catatan di catatan kaki sehingga hal tersebut cukup membuatku kebingungan selama membaca. ;)

bagian yg aku suka dari novel ini adalah narasi dari surat-surat yg ditulis oleh Wibisono. isi suratnya sangat puitis, melankolis, dan reflektif. kutemukan beberapa kali pertanyaan dari Wibisono yg membuatku termenung. apalagi pertanyaan soal kemanusiaan dan keadilan.
Ia sudah merasa jengah melihat pembunuhan demi pembunuhan yang konon dilakukan demi menjaga keamanan. Ah, keamanan macam apa yang ingin diwujudkan andai satu orang bisa merasa aman sementara orang yang lain merasa jiwanya terancam.
p. 130
Profile Image for Ptiyeah.
34 reviews
April 18, 2025
Buku ini terdiri dari surat dengan segelintir kisah dengan sudut pandang yang berbeda.

Wibisono adalah seorang pemuda yang bertemu perempuan bernama Meriandani. Mereka kemudian bertukar surat akibat Wibisono menjadi buronan para serdadu. Dalam surat-surat itu, Wibisono menceritakan kisah perjalanannya yang kerap sembunyi-sembunyi.

Meriandani adalah seorang gadis yang tinggal di Desa Tretek Ireng yang juga merasakan kekejaman pemerintah Orde Baru. Hutan di kampungnya terkenal dengan Buta Cakil, merampas nyawa para suami dan juga anak-anak mereka. Aslinya itu adalah tempat para serdadu membunuh para suami dan nyawa anak-anak mereka yang tak bersalah. Bapak Meriandani adalah salah satu korbannya, ia disika, dipopor, disetrum, baru ditembak agar mau mengakui rencana diskusinya beberapa hari lalu. Kamituwo Karni atau kakeknya turut menjadi korbannya. Meriandani dan Ibunya sama-sama menunggu, lelaki yang dicinta datang, meski mereka tahu bahwa nyawa lelaki tersebut sudah melayang.

Buku ini sangat amat menarik. Babnya itu bukan berisi kata atau kalimat melainkan nomor surat, misal surat kedua. Lalu disambung dengan jawaban dari Meriandani. Kadang buku ini berganti sudut pandang ke Sanusi atau tokoh lain, tetapi tidak membuat bingung pembaca. Blumbangan sendiri merupakan tempat semacam sumur untuk menampung air. Dalam buku, blumbangan terkenal dengan tempat persembunyian Kamituwo, Sanusi, dan teman-temannya dari serdadu.

Kalimat dari buku ini juga sangat mudah dipahami. Seru banget meski buku ini kayaknya underrated. Ayo ramaikan baca Blumbangan ini!

"Kadang kala Sanusi tak mengerti, mengapa manusia lebih berkuasa menentukan nasib manusia lainnya dibanding Dia yang Berkuasa? Dan mengapa pula manusia seakan-akan lebih tahu kesalahan manusia lainnya dibanding Dia yang Maha Tahu? Hingga saat manusia yang satu berbuat salah kepada manusia yang lain — jika memang itu benar-benar salah— harus diciduk, dilenyapkan, dihilangkan, bahkan dibunuh?

Mungkinkah penghakiman itu dilakukan agar kesalahan demi kesalahan itu tak mengotori dunia tempat manusia saling bernaung? Atau apakah tak ada ruang bagi orang-orang yang berbuat salah untuk memperbaiki kesalahannya dan bersama-sama menata dunia yang lebih indah, lebih baik, dan tentu saja lebih damai. Damai saat tak ada darah-darah yang berceceran. Pun, tak ada pula keinginan untuk saling membalas dendam. Atau bertekad untuk membalas darah dengan darah. Nyawa dengan nyawa." – 89
Profile Image for WidhiKasih.
23 reviews
March 6, 2024
Sebuah novel dengan latar Orde baru ini cukup berbeda dalam penyampaiannya, menggunakan penggalan surat-surat lalu dilanjutkan dengan sudut pandang orang pertama sebagai penerima surat yaitu Marni atau Mariadani.

Dalam kisahnya saya sendiri lebih menyukai bagaimana penggambaran tokoh Marni, dibanding dengan Wibisono sebagai pengirim surat, sekaligus saya menyukai Kamituo Karni juga Ibunya Marni dan peristiwa-peristiwa di desa Tretek Ireng. Sebab sebagaimana dituturkan dalam novel bahwa Wibisono tidak terlalu digambarakan telalu jelas meskipun diakhir cukup diberi titik terang, namun masih saja ada yang kurang. Surat-surat yang dituliskan bagi saya telalu diromantisasasi.

Untuk judul sendiri mengarah pada peristiwa yang terjadi selama masa orba, dimana orang-orang desa sembuyi di Blumbangan atau kolam liar dari para serdadu. meski tidak dijalaskan pasti pada tahun berapa, namun diakhir novel cukup disinggung sedikit.

Keseluruhan novel cukup mudah untuk dibaca dalam sehari, dan tidak terlalu berat meskipun alurnya maju mudur secara acak.

This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Bukan Petrik.
31 reviews
October 1, 2024
"Kita seakan-akan hanya bersedia menjadi saudara dari manusia-manusia lain yang seiman dengan kita, yang sejalan dengan kita, yang sepemikiran dengan kita, dsn enggan menjadi saudara dalam kemanusiaan dengan manusia-manusia lain yang tak seiman dengan kita, yang tak sejalan dengan kita, yang tak sepemikiran dengan kita—sekalipun kita tahu harga diri mereka terinjak-injak."
Hal. 107

Saya membaca novel ini karena rekomendasi dari teman-teman komunitas di X. Pada awalnya saya mengira bahwa novel ini akan hanya berisi surat-surat perlawanan saja. Ternyata tidak. Menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga, dan gaya bahasanya yang lugas, saya kira novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Ada satu poin minus di dalam buku. Bahwa tidak ada arti harfiah di beberapa kata asing dalam Bahasa Jawa. Sedangkan tidak semua pembaca mengerti dan bisa berbahasa Jawa. Saya kira akan lebih tepat jika ada arti per kata atau keterangan di bawah cerita. Inilah sedikit ulasan dari saya. Terima kasih.
Profile Image for afi.
26 reviews
September 5, 2025
Novel ini adalah novel berlatar orba kesekian yang sudah saya baca. Dapat rekomendasi dari kawan di platform x. Ternyata bagus sekali, menambah wawasan baru mengenai keadaan di zaman orde baru yang ternyata sangat menyayat hati.

Saya pikir scene penginterogasian dan penganiayaan yang dilakukan para serdadu di novel Laut Bercerita sudah yang paling menyeramkan, ternyata di novel ini pun juga digambarkan dengan tak kalah menyeramkannya. Apalagi saat tahu bahwa banyak manusia yang tidak dimanusiakan pada zaman itu. Saya merasa heran, sedih dan tak habis pikir. Bagaimana bisa manusia diperlakukan sebegitunya demi sebuah kelanggengan kekuasaan semata?

Saya juga baru pertama membaca novel yang menggunakan surat-surat untuk menggambarkan alur ceritanya, menarik!
Profile Image for Ella Oktaverina.
293 reviews1 follower
May 1, 2025
Bercerita dengan surat namun tak membuat suasana jadi tak mencekam. Memang sangat mencekam ketika hidup di bawah rezim diktator yang berlindung di balik ketek militer. Rakyat pun tidak bisa bebas, yang ada hanya was was. Baik laki, perempuan, tak pandang bulu, semuanya tak ada yang aman ketika militer berkuasa. Bacaan yang bagus di tengah huru-hara yang sedang terjadi di negeri ini.
Profile Image for Salwa.
1 review
June 27, 2025
Novel dengan tema fiksi sejarah. Berbeda dengan novel lainnya, cerita ini dituliskan dalam bentuk "surat" dan sudut pandang seseorang. Yang mana, kita bisa merasakan kesedihan, ketegangan yang ada didalam surat dan sudut pandang seseorang.

Dan "blumbangan" simple tapi berkesan buat diriku sendiri. Kerennn
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Melisyania .
46 reviews5 followers
August 6, 2024
3.8 kita bulatkan menjadi 4 saja.
ide kepenulisannya unik di awali dengan surat, isu yang di angkat juga menarik (sejarah orba memang selalu menarik) tapi satu yang mengganggu kenapa ada epilog padahal di awal tidak ada prolog?
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.