Buku ini adalah bunga rampai tulisan-tulisan tematis saya yang menelaah beragam spektrum kebudayaan dalam arti luas.Ada beragam tanggapan yang saya terima. Beberapa di antaranya menyambut hangat, menyarankan agar dibukukan, dan meminta saya menulis lebih banyak lagi. Ada juga yang menanggapinya dengan curiga. Setelah saya menerbitkan rangkaian tulisan dengan judul utama “Dalam Bayangan Bendera Merah” yang membahas kaitan sastra dan politik serta pelarangan buku kiri, seorang redaktur Pikiran Rakyat yang meloloskan tulisan saya itu mengirim pesan kepada saya agar “berhati-hati”.
Tulisan-tulisan dalam buku ini dibagi dalam empat bagian menurut kecenderungan tema masing-masing. Bagian pertama memuat tulisan-tulisan yang berkaitan dengan khazanah literasi dalam arti luas. Bagian kedua, masih terkait dunia literasi, merupakan catatan muhibah saya ke sejumlah festival kepenulisan dan pekan raya buku di dalam dan luar negeri. Bagian ketiga membahas sejumlah penulis dan musisi terkemuka yang telah menorehkan catatan emas dalam hidup mereka dan menyumbang andil dalam perkembangan kebudayaan. Bagian keempat sedikit banyak berkaitan dengan dunia film—satu cabang seni yang menarik minat saya sejak masa kecil.
Semoga karya sederhana ini bermakna bagi dunia literasi dan wacana kebudayaan kita secara luas, serta bagi usaha-usaha untuk mewujudkan sebuah dunia yang lebih baik.
Anton Kurnia (lahir di Bandung, Jawa Barat, 9 Agustus 1974; umur 35 tahun) adalah seorang cerpenis, esais, penerjemah, dan editor. Ia pernah kuliah di jurusan Teknik Geologi ITB dan Ilmu Jurnalistik IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kini ia tinggal di Jakarta, selain menulis, ia bekerja sebagai Chief Editor di penerbit Serambi, Jakarta.
Karya-karyanya, berupa cerpen, esai, dan terjemahan karya sastra, dimuat oleh berbagai koran, majalah, dan jurnal, termasuk majalah sastra Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kompas, Tempo, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, The Jakarta Post, dan Asia Literary Review. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain dipublikasikan dalam antologi Menagerie 5 (editor John H. McGlynn—Lontar Foundation, 2003).
Sebelum piket layanan pinjaman siang ini, iseng saya berjalan menyusuri rak kelas favorit saya. Kelas 800 tentunya. Tak sengaja menemukan dua buku karya Mas Anton. jadi malu ingat salah satu masih dalam timbunan, sementara yang satu belum juga dibaca. Akhirnya selama piket plus sisa waktu sore ini, saya sukses menuntaskan buku ini. Cara bercerita yang lancar membuat saya begitu menikmati isi buku.
Pada beberapa bagian, saya seakan diajak mengenang masa lalu. Saat kecil ketika urusan bacaan menjadi sesuatu yang sangat eksekutif. Saya ingat, betapa bersemangatnya ketika menemukan buku obralan di toko buku G. Buku-buku yang semula saya baca dengan cara meminjam, langsung saya beli guna melengkapi koleksi. Pokoknya harus punya walau sudah baca.
Urusan ego jika terkait buku sepertinya akan selalu menang. Saya rela tak jajan asal bisa menabung guna membeli sebuah buku. Sampai detik ini, sepertinya saya masih begitu. Rela mengalahkan banyak kepentingan untuk sebuah buku! Padahal saya bisa membacanya di kantor. Sekali lagi, pesona rak buku sebagai altar ego saya begitu memikat, hingga tak kuasa saya lawan *agak lebay dikit ah*
Bagian tentang revolusi budaya di halaman 23 mengingatkan saya mengenai asal mula kemunculan buku. Uraian mengenai beberapa penulis favorit saya, membuat hati ini bersyukur sudah mengenal mereka.
Lain kali jika berburu buku buluk harusnya Mas Anton diajak ^_^
Sebenarnya saya suka tulisan-tulisannya; mengalir meski penuh riset. Tetapi, apa ya... Tema-tema yang dikumpulkan di buku ini kurang luas. Terlebih saya harus skip Bagian Keempat: Sejarah dan Dilema yang membahas tentang perfilman Indonesia. Topik yang tidak begitu saya suka.
Saya harus membandingkannya dengan buku kumpulan esai Anton Kurnia yang sebelumnya saya baca, Mencari Setangkai Daun Surga. Bagi saya buku sebelumnya sih lebih bagus. Dengan bahasan yang saya tak benar-benar tahu sebelumya. Ya, meski, tak kupungkiri, lewat buku ini akhirnya saya pun tahu tentang siapa itu Utuy Tatang Sontani, tahu soal dunia buku anak dan novel-novel populer Indonesia, tahu tentang Gabo, Ismail Marzuki dan Chairil Anwar, tapi bagi saya tetep, saya lebih suka dan menikmat kumpulan novel terdahulu sebab yang ini terlalu banyak pengulangan dengan tema dan bahasan yang terkadang sama.