Kenapa dunia harus seperti ini? Kenapa kampungnya seperti itu? Kenapa ia seperti ini? Kenapa kehidupan kota seperti itu? Kenapa orang-orang makin hari makin tidak peduli dengan sesamanya? Dan kenapa-kenapa yang lain yang lahir dari inti kegelisahan….
Karena kegelisahan-kegelisahan itulah ia akhirnya bertindak dengan caranya sendiri. Bertindak dengan cara yang ia bisa. Yaitu menulis.
Ia gelisah melihat pohon-pohon makin sedikit karena sering ditebang. Maka ia menulis cerpen. Ia gelisah dengan gaya hidup orang-orang perkotaan. Maka ia menulis cerpen. Ia gelisah dengan apa yang terjadi dalam sejarah di negerinya. Maka ia menulis cerpen. Ia gelisah dengan makin rapuhnya kemanusiaan manusia. Maka ia menulis cerpen. Ia gelisah dengan kesedihan orang lain. Maka ia menulis cerpen. Ia gelisah dengan dirinya sendiri. Maka ia menulis cerpen. Dan seterusnya. Buku cerita ini adalah kumpulan kegelisahan-kegelisahannya yang ia tuliskan dengan sesuka hatinya. Iya, sesuka hatinya. (Daruz Armedian)
Dalam kajian psikologis, terdapat dua ciri dari abnormalitas atau ketidaklaziman. Pertama, suatu hal yang melanggar batas kebiasaan dan budaya masyarakat. Misalnya, sebagian besar orang bekerja dengan sesama manusia, maka menjadi tidak lazim apabila ada seseorang mencari nafkah melalui kerja sama dengan makhluk astral. Kedua, pelanggaran respons perasaan.
Akan menjadi tidak lazim jika seseorang merasa sedih tetapi diekspresikan dengan tertawa terbahak-bahak. Hal tersebut dianggap sebagai deviasi atau pelanggaran dari keadaan normal manusia.
Maka demikianlah kesan saya ketika menggauli cerpen “Usaha Bandu Memburu Hantu” dan “Stasiun yang Diabaikan Kereta” dalam kumpulan cerpen Sifat Baik Daun (2017) karya sastrawan muda, Daruz Armedian. Adalah Bandu, seorang pemuda yang mencari nafkah dengan cara menghalau hantu dari kampung ke kampung, menjalani laku aneh dan mengalami kejadian yang tidak pernah wajar.
Sebagaimana pekerjaan tak lazim yang dijalaninya, alat-alat yang dia gunakan untuk memburu hantu juga tidak pernah lazim dan di luar logika manusia: tusukan jarum berkarat, rambut perawan, tiga butir kacang hijau, atau hanya sebatang lidi. Namun, Bandu tidak pernah gagal dalam memburu hantu yang dia incar, sehingga meskipun dianggap “tidak normal”, Bandu kerap dicari untuk mengusir hantu-hantu yang berkeliaran di kampung-kampung.
Mengamini pepatah sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga, tak berbeda juga kiranya; sepandai-pandainya Bandu memburu hantu, akhirnya dia kesurupan juga. Pada akhirnya, Daruz menggiring pembaca pada sebuah paradoks. Selepas Bandu memburu hantu di desa Doreno, dia tidak sadar bahwa hantu tersebut terus menguntitnya, atau jiwa manusia memiliki sisi “hantu” yang lain, sehingga Bandu tertuntun membunuh ibunya sendiri.
Ketidaklaziman yang sama juga dibuka dari cerpen “Stasiun yang Diabaikan Kereta”. Begitulah, mereka akan menikah karena sama-sama saling membenci, tulis Daruz di kalimat pembukanya. Setiap bagian kalimat dari cerita pernikahan Eliana dan Jenar yang dilandasi dengan kebencian dibangun dari logika yang terbalik. Boleh jadi, di sinilah kreativitas Daruz ketika menciptakan tokoh-tokoh dan adegan yang di luar logika dan norma budaya.
Sebagaimana kata Damhuri Muhammad, cerpenis akan lebih bergelut dengan “cara”, ketimbang berobsesi pada tercapainya tujuan. Lebih bergelimang dengan proses ketimbang menghamba pada “hasil”. Daruz berhasil merangkai “cara” mendobrak logika dan menjalani laku tidak lazim (abnormal) sekaligus, sehingga tercapai tujuan dan hasil penceritaan estetik yang unik dan tidak biasa.
Apakah hipotesis abnormalitas di atas terbukti setelah membaca cerpen-cerpen Daruz? Dari segi karakter-karakter tokohnya, barangkali jawabannya: Ya. Tokoh-tokoh cerpen yang terbuhul dalam antologi ini terdiri dari karakter-karakter yang tidak lazim atau bahkan sakit mental.
Lelaki bunuh diri yang terjun dari gedung lantai 13 karena mimpi buruk dalam cerpen “Ia yang Terbangun dari Tidurnya karena Mimpi yang Kurang Menyenangkan”, daun yang mampu berbicara dan memiliki perasaan dalam cerpen “Sifat Baik Daun”, atau perempuan yang menjelma menjadi babi dalam cerpen “Alasan Kenapa Membenci Babi”.
Sebagai pengisah, Daruz bisa dikategorikan sebagai penulis yang lincah dalam menjalin kata-katanya. Ada semangat “main-main” dan eksperimen dalam pengisahannya. Ada dua kemungkinan bisa ditarik, boleh jadi Daruz adalah penulis egois yang menulis untuk dirinya sendiri, seperti halnya penulis Dea Anugrah dalam Bakat Menggongong (2016). Atau Daruz mengamini pernyataan Seno Gumira Ajidarma, bahwa semakin hebat seorang penulis, semakin dia bermain-main dengan tulisannya.
Tentu, beda Seno, berbeda pula Daruz. Tidak dimungkiri, pendekar cerpenis sekelas Seno yang sudah melampaui “maqom”-nya, bebas bermain dengan kata-kata sehingga apa pun tema yang Seno garap akan melahirkan cerita yang indah. Namun, cerpenis cum penyair peraih penghargaan manuskrip puisi Dewan Kesenian Jawa Timur 2017 ini seolah menyimpang dari “permainan” sehingga beberapa cerpennya di atas terasa dangkal, rumit, dan banal. Meskipun hanya sekedar “main-main” agaknya Daruz harus lebih serius untuk dapat memenangkan permainan yang dia mulai.
Jumlah cerpennya terhitung banyak menurutku. AKu sudah mengulas buku ini di basabasi.co, silakan kalau mau membacanya di http://basabasi.co/sebuah-usaha-meraw...
Sifat Baik Daun. Kumpulan Cerpen yang terhitung cukup banyak, dan sedikit angot-angotan untuk aku baca. Tahun 2018 udah baca, sisa berapa cerpen lagi, tapi kebanyakan lupa, lalu kubaca ulang sekarang, dan kurasa beberapa lama lagi juga aku akan lupa isinya. Tetapi kesedihan dalam buku ini akan tetap terasa, mungkin ketika aku hanya memegang bukunya.
Daruz penulis cerpen yang, hmm, bagus sih, tapi nggak juga, apa ya, mungkin puisinya jauh lebih hidup ketimbang cerpen-cerpennya. Buku kumpulan cerpen ini manis, enak dibaca, tetapi ada sesuatu yang membuatku ingin buru-buru menyelesaikannya, seperti tidak betah, mungkin karena begitu-begitu saja dan aku bosan. Tidak ada yang membuat terkenang lama dan membikin tak ingin pisah.
Ide-idenya menarik, cara Daruz membuka cerita, asyik, tetapi pertengahan dan sampai akhir, rata-rata ya begitu saja. Meskipun begitu, ya aku tetap suka. Dan aku ingin menuliskan beberapa cerpen di buku ini yang kusuka, biar kelak ketika aku membaca reviewku sendiri terhadap buku ini, aku bisa tersenyum, karena mungkin tahun depan ketika aku baca cerpennya, wah, ternyata jelek, kok bisa ya aku suka? Atau perasaan-perasaan yang lain, pikiran-pikiran yang lain.
1. Membiarkan Kau Menjauh 2. Celana Dalam Menggantung di Jemuran dan Nostalgia Si Pengarang Tua 3. Khotbah 4. Perempuan Berambut Panjang dan Lelaki Sunyi 5. Surat Cinta dari yang Telah Tiada 6. Perempuan Imajiner di Dermaga Masa Lalu 7. Mahar Pohon-Pohon 8. Apa Kabar Diriku? 9. Kematian Kambing Mat Sumbing 10. Mewawancarai Emmanuel Jin 11. Lelaki dengan Pabrik Cerpen di Kepalanya
Khusus yang "Mewawancarai Emmanuel Jin" aku suka dua kalimat terakhirnya. Dua kalimat terakhirnya saja. Tapi sukanya sampai suka banget. Serius.
Kok banyak ya yang aku suka? Harusnya kan dikit ya kalau aku di awal kesannya biasa aja gitu sama buku ini. Hmm, sungguh aneh.
Sukses terus buat Daruz, semoga makin pintar menuliskan keresahan, dan tetap manis 💙
Kumpulan cerpen yang berangkat dari kegelisahan manusia. Cerpenis yang berbakat. Menyentuh hal-hal paling subtil dalam lubuk hati. Bahasanya jujur dan penuh kerendahan hati