Bagi generasi langgas, travelling itu bermakna exploring -yang dicari adalah pengalaman baru, bukan hanya berjalan-jalan. Tentang kota yang dituju, orang-orang asing, budaya setempat, dan juga cerita dari teman seperjalanan.
Berbagai hal baru ini tentunya memengaruhi seorang millennial traveler. Setelah exploring, kita melihat sesuatu jadi berbeda. Dengan melihat dunia luar, kita biasanya akan lebih mengapresiasi kondisi yang dimiliki, dan bahkan yang paling penting, menemukan fakta-fakta baru tentang diri sendiri yang belum ditemukan sebelumnya.
Born to Explore adalah cerita perjalanan penulis selama 12 hari di Eropa dan berbagai inspirasi yang ditemukannya. Semoga dapat memberikan inspirasi bagi millennials lainnya ketika melakukan exploring di mana saja, baik itu di Eropa ataupun di kota tempat tinggalnya.
We are born to explore new things, and explore ourselves more.
Yoris Sebastian adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang dikenal bergerak dalam bidang industri kreatif. Pada usia 26 tahun, Yoris terpilih menjadi GM (General Manager) Hard Rock Cafe Indonesia, menjadi GM termuda se-Asia dan termuda kedua di dunia. Pada usia 34 tahun, selepas keluar dari Hard Rock, ia mendirikan sebuah perusahaan konsultan kreatif OMG (Oh My Goodness).
Yoris terkenal dalam hal inovasi dan ide kreatif. Pria yang suka minum air putih ini menunjukkan konsistensinya dalam membuat ide-ide kreatif yang tidak biasa yang dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai berpikir "out of the box". Menurutnya, ide kreatif akan segera berkembang bila dimulai dengan hal yang kecil (start small).
Well, sebelum saya memberikan alasan-alasan yang lebih lengkap, saya harus menyampaikan kepada semua pembaca ulasan ini bahwa saya adalah salah satu orang yang ikut dalam kompetisi #GenerasiLanggas yang diselenggarakan di instagram beberapa waktu lalu.
Dan, jika dengan demikian kalian berpendapat, "ya wajarlah dikasih 1 bintang, dia kan kalah dalam lomba, paling juga sirik!" maka, seharusnya kalian tidak menyiakan waktu kalian membaca ulasan ini lebih lama, karena apapun yang akan saya sampaikan, maka yang ada dalam benak kalian hanya akan berkutat seputaran, "alah elo aja yang sirik."
Kalah dan menang dalam kompetisi itu biasa banget. Saya memulai berkecimpung dalam dunia per-kompetisi-an ini sudah lama. Sebelum sekolah pun saya sudah sering ikutan lomba. Di sepanjang hidup saya, sudah berapa ratus perlombaan yang saya lakoni. Sebagian lagi memperoleh hasil yang baik, selebihnya saya tidak beruntung.
Berkesempatan "mengelilingi" Eropa dengan "hanya" mengunggah foto di instagram, terang saja mencuatkan harapan bagi saya untuk dapat menjejaki benua impian tersebut. Begitu pemenang diumumkan, dan saya tidak berada diantaranya, tentu saja saya kecewa. Namun, jika-boleh-geer, di usia sekarang ini, saya sudah mampu mengelola rasa kecewa dengan lebih baik. Jika memang itu bukan rezeki saya untuk menginjakkan kaki ke tempat yang baru, ya saya meyakini saja, bahwa kesempatan itu akan datang nanti. Di saat yang tepat.
3 pemenang sudah dipilih. Mereka adalah Cindy, Okky dan Eva. Saya menyampaikan selamat buat mereka (langsung melalui IG mereka masing-masing). Walaupun kalah, namun harapan saya untuk "berkeliling" Eropa setidaknya dapat diwakilkan oleh ketiga pasang mata para pemenang ini. Secara rutin, saya menyimak perjalanan mereka saat melakukan trip ke Eropa. And it was amazing!
Rasa antusias saya terhadap perjalanan mereka ini kian menjadi-jadi pasca saya mengetahui bahwa perjalanan mereka akan dibukukan. Yey! betapa menyenangkannya jika saya dapat "merasakan" keseruan perjalanan mereka dari sudut pandang yang lebih luas dan unik. Yakni melalui : sebuah buku.
Makanya, begitu toko buku online kesayangan membuka pre-order untuk buku ini, saya (salah satu) orang yang terdepan dalam melakukan pemesanan. Apalagi ada embel-embel, "buku yang dipesan awal akan berbonus tanda tangan" sebagai kolektor buku bertanda-tangan penulisnya, tentu kesempatan ini tak boleh dilewatkan! (walaupun endingnya, saya hanya mendapatkan tanda tangan Dilla Amran, dan tidak untuk ke-4 'penulis' lainnya).
Tibalah saat yang ditentukan ketika bukunya tiba di genggaman saya. Dengan semangat, saya merobek plastik buku ini, membaui harum kertas buku yang khas itu, membuat postingan khusus di instastory bahwa betapa saya tak sabar ingin membacanya. Dan, tak menunggu waktu lama, pasca pulang bekerja, di satu Sabtu malam, saya mulai membaca buku ini.
Namun, kecewaan bertubi-tubi yang ternyata saya dapatkan. Pertama, dari segi bobot, buku ini termasuk kurus. Hanya memiliki 145 halaman saja. Kedua, konsep berceritanya yakni seperti Enikki aka buku harian bergambar ala Jepang (saya pernah mengikuti kompetisi Enikki tingkat nasional, dulu saat masih SD, sehingga saja familiar dengan istilah ini).
Jadi, ada banyak sekali gambar/ilustrasi di tiap-tiap halaman buku ini dengan tulisan yang seadanya. (kadang diselipi pesan sponsor pula. Hmm). Silakan koreksi saya, namun sepertinya 1 sub bab rata-rata berisi 1 sd 2 halaman (sudah dengan gambar/foto) atau paling banyak 3 halaman. Hal ini menjadikan buku ini terasa kurang dalam, dan buku ini tak ubahnya hasil adaptasi dari kisah-kisah di instagram (karena IG seperti itu toh, ada foto dan sedikit caption).
Bagi admin IG @GenerasiLanggas, sayalah orang yang sempat DM ke Anda dan bertanya (pure bertanya ya, bukan mempertanyakan, itu dua hal berbeda) yang isinya kurang lebih, "apakah pemenangnya semua berasal dari Jakarta?" yang lantas dijawab, "Nggak kok, pemenangnya berasal dari Bekasi, Tangerang dan Malang."
Kenapa saya bertanya tersebut? karena saya tahu, sebagai penyelenggara lomba, tentu ada beberapa alasan subjektif (atau hidden criteria) dari penyelenggara dalam menentukan pemenang. Dan itu sah-sah saja. Tentu penyelenggara ingin pemenang memiliki mobilitas yang cenderung lebih mudah karena waktu pengumuman pemenang yang mepet dan mereka harus bolak-balik ke Jakarta untuk meeting awal, pengajuan visa hingga kemudian berangkat dan pun kemudian hadir saat launching buku. Gak kebayang jika pemenangnya dari Kalimantan atau Maluku, toh.
Nah, latar belakang pemilihan pemenang ini juga yang saya harapkan akan hadir melalui buku ini, namun itu tidak ditemukan. Sejak awal dilakukan pengumuman pemenang memang sudah disampaikan, namun sangat normatif. Pasti seru jika alasan panitia memilih pemenang disampaikan dengan lebih lengkap, agar dapat menjadi acuan bagi generasi langgas lain jika kemudian ingin mengikuti lomba senada (jika kembali diadakan).
Menyantap Born to Explore ini saya seolah membaca pict-book yang seyogyanya buku anak-anak. Saya tidak menemukan sisi-sisi perjalanan unik dan pengalaman yang seru dari buku ini. Oh ya, walaupun di halaman sampul tertulis jika ada 5 orang yang menulis buku ini, namun saya juga tidak merasakan perbedaan "napas"dari bahasa tulisannya.
Sepanjang membaca, saya hanya merasakan satu sudut pandang mata di buku ini. Padahal awalnya saya mengira buku ini akan menjadi semacam antologi yang masing-masing punya sudut pandang yang berbeda. Mungkin sejak awal konsep buku ini diniatkan untuk dilakukan peleburan satu sudut pandang saja, tapi yang ada saya tidak mendapatkan banyak hal yang menarik.
Saya membayangkan jika masing-masing (terutama pemenang) menuliskan cerita yang mereka anggap paling unik dan menarik. Well, dari ketiga pemenang, mungkin Cindy yang paling berpengalaman karena pernah bikin novel (btw, terima kasih cerita di blognya tentang behind the scene saat dipilih jadi 6 besar dan dikontak panitia, diminta bikin surat pernyataan hingga kemudian diumumkan jadi pemenang, menarik. Sayang tulisannya sudah gak ada. Hayo tulis lagi pengalaman seru di Eropanya di blog, pasti menarik karena sudut pandangnya beda), namun kedua pemenang lainnya dapat juga menulis.
"Aku memang suka foto-foto, tapi kalau disuruh bikin caption, selalu nyerah," tulis Okky. Hmm, harusnya sih coba aja dituliskan. Bukan soal bagus atau gak bagus. Toh ada editor ini yang dapat membantu agar tulisannya menjadi lebih menarik untuk dikonsumsi publik.
Sayang sekali....
Well, mungkin salahnya saya jika terlalu berespektasi terhadap buku ini. (padahal espektasi saya biasa saja, sih). Dan memang tidak ada satu penulispun di muka bumi ini yang dapat memuaskan espektasi setiap pembacanya. Namun, setidaknya itulah kekecewaan yang saya rasakan dan saya sampaikan dalam ulasan ini.
Saya membaca ini dalam sekali duduk (saking tipis dan ringgannya buku ini, hmm tak lebih dari 1 jam). Sayang sekali, hingga ke halaman terakhir, saya masih tidak menemukan hal-hal unik dan menarik selain layoutnya yang juara banget (juga beberapa ilustrasi yang ternyata dibuat oleh salah satu kontestan lomba yang tidak menang).
"Jadi, perjalanan ke Eropanya begini doang nih?" pikir saya.
Untuk itu, harapan saya kepada ketiga pemenang (terutama Cindy yang seorang blogger), teruslah berbagi pengalaman-pengalaman kalian saat ke Eropa melalui media yang kalian punya. Jika bisa menulis di blog, itu lebih baik. Jika hanya dapat dilakukan di IG, ya lakukanlah (toh udah gak ada peraturan maksimal posting 3 kali sehari seperti saat sedang dalam perjalanan, kan?)
Saya pernah berada di posisi kalian, berada di posisi pemenang untuk sebuah hadiah perjalanan. Saya mengalahkan banyak orang dalam kompetisi tersebut. Dan, yang saya pribadi rasakan hingga detik ini ialah, saya punya tanggung jawab moral untuk menceritakan sebanyak-banyaknya dari apa yang sudah saya dapatkan saat di perjalanan. Karena, saya pikir, dengan terpilihnya saya sebagai pemenang, mereka (para peserta yang kalah) sudah menitipkan mata, rasa dan raga mereka kepada saya untuk menjalankan perjalanan yang mereka idam-idamkan itu.
Oke, sebagaimana sebuah karya yang tak mungkin menyenangkan semua pihak, begitupun dengan ulasan ini. Mungkin diantara kalian ada yang tidak sepakat dengan apa yang saya tuliskan, namun inilah sudut pandang saya -sebagai orang yang kalah dalam kompetisi tersebut, terhadap karya kalian. Apapun yang saya sampaikan dalam ulasan ini murni pikiran saya secara pribadi, dan setidaknya saya sampaikan secara jujur di sini.
I don't know what possessed me to spend that much money on this 77K full-colour book that is basically an advert for Samsung Galaxy A7 (I suppose it kinda worked cause I kinda want to look into this phone now) and Tokopedia, mixed with some app reviews (and restaurant reviews but without actually telling you what the name of the restaurants are - perhaps you're supposed to explore the cities to find those restaurants?), and sprinkled with tons of half-decent photos, although the illustrations, especially the hand-drawn ones, are spectacular.
It included some stickers though, so maybe I'll write the purchase off as a sticker purchase? *shrug*
Jadi ceritanya awal2 aku bingung, kenapa penulisnya banyak sekali? Haha. Ternyata emang ini buku based on perjalanan #langgastoeurope Nah, siapa aja yaa?
Kenalan dulu yuuk~ 👨@yorissebastian ➡ udah kenal dong ya, Pendiri OMG Consulting ini udah nulis 8 buku. Kalo belum tau apa itu Generasi Langgas, sila dicari bukunya! 👩@dillaamran ➡ Managing Partner OMG Consulting, kak Dilla nih yang handle urusan detail2 trip. 👧@cindyypm ➡ kakak fresh graduate ini juga nulis novel loh~ 👦@okkymahardikha ➡ langsung buka halaman 134-135 deh. Isinya kak Okky Style ✌ 💁@khafizahherfana ➡ member paling muda ini fasih berbahasa Perancis! Yaiyalah belajar sejak 2015. 😱
Udah pada kenal? Alhamdulillah.. Aku dong baru kenalan kemarin 😂😂😂
Mereka ber-5 serta mas Surya-videografer, bertolak ke Eropa selama 12 hari.
Emang cukup waktunya? Ya nggak ke semua kota lah, Eropa kan gedeee~ cek aja peta benua Eropa 😆😆😆 Trus, ke mana aja dong?
Jadi, selama 12 hari mereka ke 8 kota di 4 Negara. Tepatnya berangkat 10 September 2017 dan 23 September 2017 udah nyampe Jakarta lagi. 😱😱😱
Musim terbaik untuk ke Eropa adalah musim panas, tapi pasti tiketnya lebih mahal dong ya. Opsi lainnya yaitu musim semi atau musim gugur, dimana pemandangan bagus dan udara tidak terlalu dingin. Ada yang berani ke Eropa pas winter? 😆
Destinasi pertama yaitu Paris. Nggak perlu ditanya senangnya pas liat Eiffel Tower! Sampe nangis-nangis haru katanya. 😆
Lalu berlanjut ke Mulhouse. Perjalanan ke Firenze via Colmar, mampir Como, dan muter dikit ke Milan.
Ke Italia nggak lengkap tanpa wisata kuliner. Sarapan di Firenze a.k.a Florence dan lunch di Bologna, sebelum dinner di Barcelona, jadi pengalaman tersendiri.
Spanyol jadi wisata yang sangat menarik, selain mencoba makanan khas, yaitu Tapas, pengalaman free walking tour di Gothic Quarter, Parc Guell dan Sagrada Familia tentu sayang untuk dilewatkan. Aku mau kesanaaaa. 😍😍😍
Terakhir ke Amsterdam! Uwuwu~ siapa yang gak tau? 3,5 abad jadi negara jajahan Belanda nggak bikin kita bisa bahasa Belanda. Disitu kadang saya merasa sedih. Pengalaman di Belanda banyak dipost oleh kak okky @okkymahardikha. Sorry for spamming like, kak. ✌Aku suka banget fotonya!
Kenapa dipilih 4 negara itu? Jawabannya ada di halaman 1. Kak Okky, Kak Cindy dan Kak Eva belum pernah ke Eropa. Sementara Mas Yoris dan Kak Dilla sudah. Karena perjalanan ini judulnya Hura-Hura Inspiratif, tentu ada yang ingin didapat.
Aku chat panjang dengan Kak Dilla. Kata kak Dilla, 4 negara dengan 4 bahasa dan budaya berbeda ini dianggap paling mewakili Eropa. Aku setuju banget sama ini. Kenapa nggak ke Eropa Utara? Kawasan Skandinavia budayanya mirip-mirip. Kalo mau seru ya ke Rusia sekalian. Tapi waktunya gak cukup lah ya~
Trus, Apa nih yang bisa kamu dapatkan kalo baca buku ini? Banyaaaaaaaaaaak banget. Buku ini beda dengan travel guide, dan bukan buku curhat (atau pamer?)
Format buku ini unik; Judul, insight, foto, ilustrasi, quotes. Nah, makanya buku ini full color!
Nggak rugi deh bacanya. Insight-nya nggak cuma relevan untuk Europe trip, tapi juga bisa dipake untuk keliling Asia, Indonesia, bahkan kota tempat tinggal kamu.
Pas bukunya datang, aku exited banget! Ada 5 sticker puzzle landmark yang bisa ditempel di cover. Jadi kamu bisa bikin custom cover dengan landmark favorit kamu.
Sayangnya, seperti buku nonfiksi lain, aku sempat males baca di tengah. Tapi tetap selesai 1 minggu. Aku selalu berusaha selesai baca sebelum jadwal review tayang.
Aku tipe pembaca sistematis, jadi format unik gini awalnya bikin bingung. Buku ini bukan travel guide, jadi jangan harap isinya poin2 pembahasan tentang tempat wisata, transportasi, rekomendasi kuliner. Lebih dari itu, buku ini membagikan pengalaman. Cocok banget buat yang pengen merasakan atmosfer Eropa tanpa ke sana langsung.
Apa yang kamu bayangkan jika mendengar kata Eropa? Bagaimana jika kamu berkesempatan bisa jalan-jalan gratis ke Eropa? Wah, seakan mimpi jadi nyata ya?
Inilah yang dirasakan 3 pemenang foto kontes selfie yang diadakan oleh Generasi Langgas dan Gagas Media. 3 orang yaitu Eva, Cindy dan Okky tak menyangka foto selfie dan caption mereka yang menarik akan membawa mereka ke pengalaman jalan-jalan seru ala backpacker ke Eropa 😍😍😍😍 Ah, aku yang bayangin saja sudah terharu banget. Apalagi yang merasakannya ya.
Nah, novel Born To Explore ini merangkum kisah perjalanan Eva, Cindy, dan Okky ditemani Kak Yoris dan Dilla serta 1 videografer bernama Surya.
Mereka berenam akan menjelajah Eropa selama 12 hari. Dalam buku ini mereka berbagi keseruan mereka menjelajahi mulai dari Paris hingga Amsterdam. Semua itu terangkum melalui cerita dan foto-foto mereka selama disana.
Kemasan buku ini begitu menarik dan berbeda dari buku travelling lainnya. Tidak khusus membahas 1 tempat atau apa, tetapi lebih kepada bagaimana makna perjalanan itu sendiri. Bagaimana 3 peserta yang belum pernah sama sekali Eropa tidak tahu detail perjalanan mereka. Mereka malah menemukan banyak hal menakjubkan.
Walaupun buku ini memang membahas perjalanan ke Eropa tetapi tips-tips dalam buku ini juga bisa buat jadi referensi kita loh jika mau travelling ke benua lain karena bersifat umum.