Jepang dikenal sebagai salah satu negara modern dan maju sejak pertengahan abad ke-20 sampai sekarang. Berbagai keberhasilan tersebut menimbulkan kekaguman bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk di Indonesia. Dunia akademisi dan jurnalistik Indonesia sering mengutip contoh keberhasilan Jepang dengan memberi opini ‘cultural determinism’ atau ‘budaya sebagai faktor penentu’. Menurut anggapan itu, Jepang berhasil karena memiliki budaya unggul. Dari opini tersebut, lahirlah kesimpulan bahwa jika bangsa lain (termasuk Indonesia) ingin maju seperti Jepang, maka yang perlu dipelajari adalah budaya Jepang. Dalam Seikatsu Kaizen ini, pembaca diajak menelusuri perjalanan sejarah modernisasi Jepang, yang dimulai pada tahun 1860-an. Kita akan melihat apa saja upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat Jepang, sehingga berhasil mewujudkan negara yang modern, sejahtera, dan maju dengan rakyat yang disiplin, rajin, produktif serta memiliki rasa tanggung jawab sosial.
Lagi-lagi saya kecele dgn judul bukunya. Ternyata buku ini adalah nonfiksi sejarah 150 thn Jepang mereformasi tradisinya, dan BUKAN BUKU SELF-HELP.
Tadinya orang² Jepang juga hidup dlm budaya ngaret, super santai alias gak produktif. Suka mabuk-mabukan dan telanjang di depan umum. Boros dan gengsian (BPJS: Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita). Berkat gerakan reformasi Meiji yg kontinyu hingga abad 21 (hampir 150 thn), maka etos kerja mereka menjadi efektif dan efisien spt skrg. Penyuluhan yg tiada henti ternyata bisa juga menghilangkan semua tradisi² buruk ini. Walau kemungkinan besar dikarenakan sebagian besar orang Jepang cukup terbuka dan pragmatis.
Dari buku ini, saya lihat Indonesia cukup banyak mengadopsi sistem reformasi Jepang, spt RT. Sayangnya mental² yg bikin susah maju spt budaya ngaret dan boros msh melekat pd kebanyakan org Indonesia.
Saya kecewa saat membaca buku ini, gak ada bedanya dgn baca Wikipedia. Cara penulisan author sangat kaku dan baku macam buku pelajaran anak sekolah. Isinya cuma variasi tahun, nama² tokoh, poin-poin penting dgn penjelasan minimalis. Mana enak baca buku macam begini?
Sebenarnya saya pengennya ksh 2 ⭐ aja, tapi kasian, jd 3 ⭐ utk ongkos riset.
Hampir setiap orang tahu bahwa Jepang merupakan salah satu negara maju dengan masyarakat yang terkenal disiplin, tepat waktu, dan tertib dalam menjaga kebersihan. Buku yang ditulis oleh Susy Ong ini membahas reformasi yang dilakukan oleh pemerintah maupun gerakan-gerakan perubahan hidup untuk mengubah pola hidup masyarakat Jepang.
Sebelum era sekarang, Jepang jauh dari peradaban yang kita kenal seperti sekarang. Budaya mereka yang (hampir mirip dengan budaya yang mengakar pada masyarakat Indonesia) suka terlambat, boros, malas bahkan menjangkiti hampir setiap masyarakat disana, bahkan negara barat memberikan julukan 'waktu Jepang' karena saking lambatnya mereka saat membuat janji dengan seseorang. Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan gerakan pola hidup sehat dengan melakukan penyuluhan di penjuru negeri. Memang proses yang dilakukan perlu waktu bertahun-tahun dan akhirnya bisa dilihat seperti yang kita ketahui saat ini.
Melalui buku ini, perspektif saya terbuka bahwa sebenarnya menjadikan masyarakat menjadi lebih tertib, beradab, bermoral akan meningkatkan faktor ekonomi suatu bangsa. Bahwa perilaku dan pola hidup yang tepat membuat seseorang menjadi produktif. Kekurangan buku ini (menurut saya) yaitu banyaknya penggunaan tanda petik satu (') daripada penggunaan tulisan miring untuk suatu istilah.
Dibuat kaget dengan pembukaan buku ini, citra masyarakat Jepang dalam benakku yang mendapat predikat "rajin, pekerja keras, mandiri" seketika pudar. Hal ini membuka wawasanku bahwa predikat2 baik tersebut tidak serta merta langsung dimiliki oleh masyarakat Jepang itu sendiri, namun dibutuhkan berbagai usaha dan upaya terutama sejak zaman pasca kekalahan perang dunia kedua untuk mencapai pola hidup tersebut.
Jika ditelusuri, pola hidup masyarakat Jepang zaman dulu tidak berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia, atau bahkan sama, sama2 terbelakang atau bahasa kasarnya "tidak beradab", seperti kencing sembarangan, telanjang di jalan raya, datang terlambat dan hal buruk lainnya. Faktor penyebabnya tidak lepas juga dengan sejarah historis sebagai daerah jajahan negara adidaya seperti Amerika dan Inggris, begitu pun dengan Indonesia.
Dengan keadaan sejarah yang seperti itu, tentu negara Jepang akan mustahil untuk menjadi negara yang sejajar atau bahkan menyaingi negara2 maju seperti Amerika. Oleh karenanya, perlahan-lahan pemerintah Jepang mulai mempelajari tata cara berperilaku yang beradab dengan mengirimkan para akademisi ke luar negeri.
Di tiap babnya dijelaskan tahap2 masyarakat Jepang hingga menjadi seperti sekarang ini. Paling suka bab yang membahas upaya memperbaiki pola hidup dengan melakukan berbagai kampanye. Poin yang aku inget itu, pemerintah Jepang membentuk yayasan BLU (Better Life Union), program kerjanya yaitu mengampanyekan reformasi nasional melalui media pameran, penerbitan majalah (ilustrasinya untuk tahun itu termasuk bagus lho!) dan buku, bahkan mensosialisasikan kepada ibu rumah tangga bagaimana mengefisiensikan waktu dengan memasak masakan yang sehat dan bergizi namun tidak memerlukan waktu yang lama melalui demo memasak oleh truk yang berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Kereeenn
Hal-hal yang aku sebutin tadi, mungkin udah masuk ke dalam kelebihan buku ini. Kekurangannya menurutku, masih banyak kata2 yang typo apalagi buku ini masuk ke dalam kategori sejarah dan pengetahuan, jadi menurutku sayang ajaa, dan aku juga tipe orang yang gatel kalo liat tulisan yang typo. Bahasa yang digunakan termasuk ringan dan gaul uyy wkwk, baru kali ini aku ga pusing dan jadi suka baca sejarah.
Pertanyaanku adalah, bahkan negara maju seperti Jepang membutuhkan beratus-ratus tahun untuk memajukan kualitas masyarakat dan negaranya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Seikatzu Kaizen Penerbit: Elexmedia Komputindo Pengarang: Susy Ong . 🇯🇵 tinggal di Jepang, dan merasakan sendiri betapa hebatnya hospitality orang-orang Jepang, kadang sampai heran “koook bisaa”, membuat saya berpikir bahwa ini adalah sebuah budaya yang tercipta mungkin sejak Jepang lahir berabad-abad silam. . Ternyata tidak, mereka mengalami masa-masa kelam juga terutama dalam pola hidup, dibuku ini diceritakan detail bagaimana pemerintah Jepang bisa mereformasi pola hidup masyarakatnya. Nyaris tidak percaya yang dipaparkan, kemana ajaaaaa saya selama ini baru tahu hal-hal begini; Jepang ternyata pernah mengadopsi budaya barat secara berlebihan, pernah berpola hidup secara “berantakan” lebih dari kondisi Indonesia sekarang ini. Mencuri, pelacuran, berbohong, terlambat, malas bekerja, foya-foya dan semua diubah dalam waktu yang menurut saya relatif singkat. . Membaca buku ini, membicarakan sisi gelap Jepang dimasa silam, justru membuat hati saya sedikit pedih, kenapa? . Jepang yang telah meninggalkan keboborokannya dengan reformasi besar-besaran pada pola hidup dan adat, menurut saya sedikit banyak menggambarkan kondisi Indonesia sekarang ini. Kebarat-baratan, pelacuran, pencurian, berita kriminal memenuhi berita. Tapi ada harapan, karena dalam buku ini disebutkan “heaven helps those who help themselves” . Alih-alih selalu takjub dengan negara orang, dan mencaci negara sendiri. Lebih baik mencari tahu bagaimana mereka membentuk peradaban. . Buku nonfiksi yang mudah dipahami, komperhensif tapi mengingat penulis pernah bekerja di program berita metro tv, saya berekpektasi tinggi dalam bahasa yg digunakan. Tapi nyatanya banyak susuan kata yg menurut saya bisa dibuat lebih ringkas, misal “kabar mengenai Jepang sebagai negeri emas, dicatat oleh Marco Polo sebagai negeri emas”. . Juga banyaknya rujukan url gambar yang disisipkan untuk kita cari sendiri, bukannya melampirkan gambar secara langsung, bagi pembaca hardcopy tentu merepotkan, untung keponya tinggi. Tp ini mungkin berkaitan dengan hak cipta sebuah karya.
Buku ini menjelaskan reformasi pola hidup masyarakat Jepang dari yang dahulunya tidak disiplin, suka foya-foya dan teledor menjadi disiplin, hidup minimalis, dan memiliki etos kerja tinggi seperti yang umum dikenal saat ini. Terbentuknya sifat yang mendorong berbagai kemajuan tersebut membutuhkan proses yang panjang yang melibatkan pemerintah dan masyarakatnya. Buku ini menjelaskan secara singkat proses dibalik transformasi budaya Jepang dari yang dulunya terbelakang dan tidak beradab menjadi maju seperti yang dikenal di zaman modern ini. Buku ini ditulis merujuk pada studi pustaka yang penulis lakukan langsung di perpustakaan nasional Jepang di Tokyo (National Diet Library). . Pada abad ke-16, para pedagang dari Portugis banyak berdatangan ke Jepang, selain untuk berdagang juga untuk menyebarkan agama Kristen. Misi ini mendapat pertentangan dari pemerintah Jepang saat itu, yaitu rezim Tokugawa, yang akhirnya mengusir para pedagang dan misionaris Portugis tersebut dan memberlakukan larangan perdagangan bagi negara-negara Barat, kecuali Belanda melalui VOC dengan syarat memberikan informasi perkembangan situasi dunia saat itu. Larangan perdagangan luar negeri ini terus berlaku hingga pada tahun 1850 Amerika Serikat mengirimkan empat kapal perang ('kapal hitam') ke Jepang dan menembakkan meriam ke sejumlah titik di pesisir pantai Jepang sebagai paksaan terhadap pemerintah Jepang untuk mencabut larangan tersebut. . Pembukaan kembali akses perdagangan di Jepang ini justru membuat ekonomi Jepang semakin terpuruk karena pada saat itu masyarakat Jepang masih mengandalkan industri rumah tangga. Hal ini memicu ketidakpuasan masyarakat Jepang dan akhirnya menimbulkan terjadinya apa yang dikenal sebagai 'Restorasi Meiji' pada tahun 1868. Peristiwa ini, yang merupakan keruntuhan era kekaisaran, dikenal juga sebagai titik awal modernisasi Jepang. Selain itu, pembukaan kembali akses perdagangan ini membuka mata pemerintah dan masyarakat Jepang kalau mereka ternyata jauh tertinggal dari negara-negara Barat. Hal ini membuat pemerintah mulai mengirimkan banyak orang ke luar negeri untuk mempelajari sistem ekonomi dan industrinya. . Diantara negara-negara yang dikunjungi adalah Amerika Serikat dan Jerman. Di Amerika Serikat, utusan-utusan dari Jepang tersebut diminta untuk mempelajari efisiensi produksi lewat teori Frederick Taylor yang terkenal saat itu. Di Jerman sendiri, mereka diminta mempelajari metode penghematan waktu produksi. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa kualitas dan kuantitas produk mereka masih jauh tertinggal dari negara-negara Barat. Kasus produksi Yamaha yang saat itu memproduksi piano dijadikan studi kasus dalam buku ini. Selain itu, hasil studi banding ke luar negeri tersebut menyadarkan masyarakat Jepang untuk segera meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka. Tercetuslah program wajib belajar dan pedoman-pedoman 'berkelakuan baik' yang harus dilaksanakan. . Upaya mereformasi pola hidup di Jepang saat itu dilakukan dengan penerapan undang-undang dan sosialisasi menggunakan buku dan majalah. Salah satu buku yang dijadikan pedoman adalah buku berjudul 'Reformasi Adat di Jepang' karya Dohi Masataka yang memuat penggambaran kondisi sosial masyarakat Jepang era 1880-an dan kritik terhadapnya dan juga seruan untuk mereformasi adat tersebut. Upaya lain adalah dengan cara 'membentuk budaya nasional baru', seperti memperkenalkan agama Shinto dan bushido baik ke dalam maupun luar negeri, untuk menggantikan 'budaya lama' yang terbelakang. Upaya ini disebut juga sebagai 'rekayasa budaya'. Bushido sendiri merupakan jalan hidup para bushi, kasta tertinggi dalam hierarki sistem feodal masyarakat Jepang saat itu. . Upaya-upaya tersebut menunjukkan reformasi pola hidup Jepang merupakan kerjasama antara pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan masyarakatnya. Upaya tersebut tidak akan berjalan tanpa dukungan satu sama lain.
Diceritakan pula asal usul budaya Jepang 'sedikit bicara banyak bekerja' yang umum dikenal saat ini. Budaya ini pada awalnya dibentuk sebagai upaya pemerintah Jepang meredam aksi protes masyarakat saat terjadi kesulitan ekonomi setelah perang melawan Rusia pada tahun 1905. Saat itu, pemerintah Jepang mengangkat sosok petani bernama Ninomiya Sontoku yang walaupun mengalami gagal panen tapi tidak kehilangan akal dan bangkit dari keterpurukan yang dialaminya. . Kekalahan Jepang di Perang Dunia II telah diperingatkan sebelumnya oleh para pakar, yang disebabkan karena mereka masih kalah dari segi teknologi dan efisiensi, terutama di bidang produksi peralatan militer. Semua pihak pada saat itu memiliki pemahaman yang sama untuk memajukan teknologi mereka. Upaya tersebut dimulai pada tahun 1946, dimana para pimpinan perusahaan membentuk forum diskusi dan pertukaran informasi antar perusahaan. Langkah selanjutnya adalah melakukan pelatihan tentang quality control kepada segenap karyawan perusahaan pada tahun 1949. Upaya tersebut berlanjut dengan diberikannya insentif berupa penghargaan Deming Award pada tahun 1951 sebagai pendorong agar perusahaan berkompetisi untuk menghasilkan teknik QC terbaik. . Faktor lain yang disebut para pakar sebagai penyebab kekalahan Jepang di Perang Dunia II adalah buruknya kualitas SDM yang dihasilkan oleh sistem pendidikan mereka. Oleh karena itu, salah satu langkah yang ditempuh adalah mereformasi sistem pendidikan, yang menekankan untuk menghasilkan masyarakat yang kreatif, kritis dan mampu berpikir ilmiah. Diberlakukan pula pendidikan luar sekolah untuk kelompok pra-sekolah dan dewasa. . Langkah kedua untuk bangkit dari kekalahan tersebut adalah kampanye gerakan menabung nasional untuk merekonstruksi perekonomian negara yang terus digencarkan Masyarakat dihimbau untuk terus menabung sebagai modal peningkatan produksi perusahaan dan daya saing di pasar internasional. . Selain itu, pemerintah juga memberikan himbauan tentang hidup sederhana, baik dari segi sandang, pangan, maupun papan. Setelah itu, pada tahun 1956, pemerintah dan tokoh masyarakat memulai kampanye nasional 'bertingkah laku sesuai dengan standar masyarakat yang beradab' melalui himbauan agar masyarakat tepat waktu, mengantre, buang sampah pada tempatnya, dan menanam pohon dan bunga untuk menciptakan lingkungan yang asri. Ada dua pelajaran yang dapat dipetik terkait keberhasilan kampanye Jepang ini. Pertama, pendekatan berjenjang, dimulai dari himbauan, setengah pemaksaan, sanksi sosial hingga dialog. Kedua, pendekatan yang dilakukan secara perlahan, misalnya melalui buku dan majalah sehingga masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya.
Butuh hampir satu abad, 100 tahun untuk membuat mental rakyat Jepang kala itu tahun 1800-an. Mental dulu yang dibetulkan baru kemudian membangun fasilitas negara. Hasil baca buku Karya Susy Ong, yang S1, S2, S3 nya di Tokyo. Tak heran berapa banyak literatur berbahasa Jepang yang sudah beliau lahap. Hampir semua tentang kajian budaya. Tentang gimana awalnya negara Jepang ini, hingga akhirnya bisa jadi macan asia. Jika Asia punya Jepang, maka Eropa punya Jerman.
Konon dalam buku itu, kaisar yang sedang memimpin, menginginkan negaranya maju, beretika seperti negara Eropa yang banyak diceritakan VOC. Jadi memang kehadiran VOC di masa itu sudah tersebar kemana-mana, namun khusus di Jepang, VOC tidak bisa menyusup sampai ke seluruh wilayah Jepang, sama kaisar hanya diperbolehkan di wilayah Selatan saja. Tak heran kalau main ke Jepang Selatan (Nagasaki, Kitakyushu) banyak peninggalan Belanda di sana. Perjanjiannya kala itu, VOC boleh di wilayah selatan, tapi syaratnya VOC harus beri kabar tentang kondisi dunia luar.
Nah, karena dapat info bagus dari VOC tadi, kaisar Jepang kepengin bagus juga negaranya. Maka disusunlah misi keliling dunia, sowan ke negara-negara maju. Misi Iwakura namanya, memakan waktu hampir dua tahun dengan kapal laut. Diawali dari Jepang, Amerika, Inggris, Belanda, Perancis, Turki, Arab, India, Indonesia (masih Kerajaan Sriwijaya masa itu), Malaysia, Thailand dan kembali lagi ke Jepang. Namun sebelumnya di tahun 700M di awal, Jepang sudah berguru pada China. Dari perjalanan keliling dunia tadi, kaisar banyak belajar. Lalu menerapkan apa yg ia dapat secara positif dari hasil keliling dunia. Mereformasi seluruh budaya Jepang yang sudah tidak relevan, dll dsb. Ada pertempuran sengit disana.
Hasilnya ya yang bisa kita lihat sekarang ini. Orang Jepang rajin banget. Antri rapi jali. Ndak mengeluh, kerja keras. Bersih, ramah, empati tinggi.
Selalu takjub.
Aku di awal hidup bersinggungan dengan orang Jepang, satu pertanyaanku, selalu "Kok bisa begitu, ya mereka, gimana caranya?" Terjawab di Buku Karya Susy Ong ini.
Kalo denger Jepang ga akn jauh dr ngmongin anime-nya, manga-nya, musik-nya, film/dorama-nya, sejarah-nya, alam-nya dan budaya-nya. Yg jelas klo ngmongin Jepang semua pasti setuju dengan etos kerja mereka yg menjadi salah satu terbaik di dunia. Tepat waktu, disiplin, sopan ah hampir semua. Dan itu ternyata didapatkan tidak dengan mudah, ada cerita "perjuangan" 150 tahun untuk menjadi Jepang yg skrng kita kenal.
Buku ini merangkum semua data yg menjelaskan bagaimana perjuangan Jepang menjadi negara semaju skrng dengan tidak memasukkan unsur politik di dalamnya. Benar2 pas dan tidak ada tendensi apa2. Fokus pd budaya dan etos kerja org Jepang saat ini. Bisa jd jawaban bagi mereka yg penasaran knp sih Jepang bisa semaju skrng ini. Dan sy salah satu org yg mengidolai Jepang krna hal ini salah satunya.
Indonesia mau mengejar Jepang? Klo melihat kondisi skrng sih, harus sy akui kita msh seperti Jepang 150 tahun lalu. Jauuhhh banget. Ciri2 Jepang dlu ternyata mirip sm Indonesia saat ini, miris. Walau semakin k sini makin ada perbaikan, terutama sy teringat dengan Revolusi Mental. Ini mirip dengan apa yg dilakukan Jepang dlu, dmn perubahan budaya salah satunya dr malas menjadi rajin bekerja adalah salah satu kunci menuju kemajuan. Selain itu mngkn kita perlu membuat peraturan yg "detail" seperti di Jepang. Contoh aja, smp cara berjalan di jalan aja dibuatkan peraturan dan detailnya. Akankah Indonesia meniru seperti itu? Ah klo melihat org Indonesia skrng sih mustahil ya... Maaf sy pesimis, tp entah nanti 😇
reformasi moral Susy Ong menulis jepang yang kita kenal sekarang ini adalah bentuk dari upaya pemerintah selama bertahun-tahun untuk mereformasi pola hidup yang kita kenal sebagai budaya jepang, masyarakarnya berbudaya sopan santun, etos kerja tingi, disiplin,dan berbagai sifat baik lainnya dengan menimnggalkan budaya lama orang Jepang. Dulu sebelum mengenal Jepang yang sekarang, masyarakatnya tidak produktif, boros, suka pamer dalam upacara seremonial, suka telat, dan kebiasaan buruk lainnya. Upaya pemerintah yang konkret dan sungguh-sungguh, mulai dari merekayaaa sejarah, menulis pedoman hidup, melibatkan tokoh-tokoh penting dalam lini kehidupan, sosialisasi di media massa hingga door to door. Contoh reformasi pola hidup dari yang kecil seperti jumlah baju yang dimiliki orang Jepang supaya memiliki gaya hidup hemat, menghimbau resepsi kelahiran, pernikahan, dan kematian dengan sederhana dengan melibatkan berbagai tokoh, sesuatu yang mendasar yang menimbulkan negara Jepang memiliki kualitas SDM handal dan berbudaya baik. Sebbuah upaya yang jarang dipikirkan penguasa di negara-negara lain.
kekurangan buku: Sejarah yg dituliskan tidak runut, sehingga ada lubang-lubang yang perlu pembaca tahu selain dibuku ini
Terima kasih Susy Ong, semoga pemerintah Indonesia bisa belajar banyak dari buku ini, mereformasi pola hidup warga Indonesia dengan budayanya sendiri, seprti Jepang yang dikenal budaya Jepang, nantinya entah berapa puluh tahun kedepan identitas masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya, yakni "budaya Indonesia".
judul dan sinopsis sampul belakang dari buku ini menarik minat saya untuk membeli dan membaca tentang masyarakat Jepang sebagai salah satu negara terkenal di dunia lewat teknologi, drama, game, anime, manga, budaya dan acara kebudayaannya, buku non fiksi yang membahas tentang Jepang selalu menarik
dari buku inilah saya jadi tahu bahwa dulunya bangsa Jepang juga pemalas, jorok, ga disiplin, suka ngaret. setelah bertemu bangsa Amerika dan sadar sudah tertinggal jauh, mereka berubah sikap walau hal itu butuh waktu lama. hasilnya dapat dilihat sendiri lewat tv atau pergi langsung ke negara itu
membaca dan membandingkan dengan Indonesia sangat relevan, karena ada kesamaan yang terlalu persis 100% dalam perilaku malas, suka ngaret, ga disiplin, jorok yg masih menempel di sebagian orang Indonesia. Hanya kalau ada penyuluhan dan contoh dari tokoh wakil rakyat yang disiplin dan konsisten, baru rakyat sebuah negara bisa berubah. hal itu yang belum terjadi di Indonesia tapi bukan mustahil bisa terwujud di masa depan yang jauh
buku ini menjelaskan dgn bahasa yg sederhana, enak dibaca sekaligus menambah pengetahuan sejarah budaya dan sosial masyarakat Jepang dari Era Meiji hingga jaman modern pasca Perang Dunia II. buku ini juga layak untuk dijadikan acuan dan perbandingan bagaimana cara menjadi manusia yang baik dan benar, disiplin dan berguna untuk diri sendiri, masyarakat dan negara dgn cara yg persuasif dan manusiawi
Seikatsu Kaizen ; buku yang membawa tema bagaimana masyarakat jepang bisa sampai ke titik dimana mereka disiplin dan masyarakat idaman bagi sebagian masyarakat.
Buku ini memang bagus dan dapat memberikan wawasan tentang bagaimana jepang sampai ke titik sekarang yang jaran orang mau tau apa yang telah mereka lalui sebagai masyarat yang pernah disebut tidak beradab oleh bangsa barat, banyak dari kita tidak berkaca bahwa masyarat jepang juga menjadi disiplin seperti sekarang bukan meripakan sesuatu yang instan dan peranan pemerintahan juga sangat penting membawa jepang hingga seperti sekarang. Memang jika ditelaah lebih dalam apa yang dilakukan pemerintah jepang pada masa pernaikan perilaku pola hidup masyarakat nya saya dapat membayangkan bagaimana pemerintah pada waktu itu sangan totaliter dan sampai mengatur ke urusan agama (rekaya agama)
Ada kekurangan dalam buku ini yang memurut saya menjadikannya sedikit memusingksn, seperti banyaknya pembahasan yang berulan-ulang dan tidak berurutan dalam pembahasannya (peristiwa yang tidak beruran) yang membuat saya sendiri harus menyusun kembali peristiwa-peristiwa tersebut dalam kepala saya.
Namun buku ini layak dibaca terutama anda yang mendambakan masyarakat indonesia seperti masyarakat jepang :p
Buku ini bagus banget buat kalian yang pengin lebih mendalami tentang Jepang. Dari buku ini aku banyak mengetahui tentang hal yang menyebabkan Jepang bisa sampe secanggih sekarang, seaman sekarang sekeren sekarang!
Ternyata, proses itu memang nyata adanya. Jepang engga semerta merta menjadi negara maju. Engga semerta merta menjadi salah satu negara adidaya setingkat di bawah Amerika Serikat. Semua itu melalui sebuah proses yang sangat panjaaangg.
Reformasi mental itu nyata. Jepang adalah salah satu bukti nyatanya.
Hal hal yang ingin kita ketahui tentang reformasi pola hidup Jepang, lengkap semua ada di sini.
Engga nyesel baca buku ini. Nyesel karena buku ini udah sekitar dua tahun ada di rak buku tapi baru beberapa hari lalu aku baca dan selesaikan. Kenapa engga aku baca dari dulu? Tahu gitu aku bakal lebih tahu banyak tentang Jepang lewat buku ini, lengkap beserta pola pikir masyarakatnya.
Keren banget sih. Karena baca buku ini, aku jadi yakin buat baca buku selanjutnya: Shakai Kaizo. Siap lebih mendalami Jepang!
Buku buku kayak gini penting dan perlu banget beredar di toko buku. Sangat berguna dan sangat sangat informatif apalagi untuk para pembelajar bahasa Jepang.
Mau bilang buku science sosial ini rekomendasi banget buat kalian yang ingin tahu soal pola hidup jepang zaman dulu sampai sekarang. Narasinya enteng banget. Berasa kayak kalia baca dongeng mengenai kisah orang jepang, tapi nggak bikin kalian ngantuk.
kayak, kalian disedot ke jepang zaman dulu terus disuruh sama penulis ngelihat perubahan pola hidup masyarakatnya. Enteng dan teratur banget penulis ini ngasih narasi ke pembaca.
ya cuma agak banyak isi yang diulang-ulang di setiap bab. Jadi, saya milih ngeskip karena intinya sama. Nggak nyesel lah nemu buku ini di Toko Gramedia. Krena seworth it itu!!!
Buku ini menceritakan tentang bagaimana Jepang bisa menjadi (negara/masyarakat) Jepang yang sekarang: bersih, taat aturan, beradab, pekerja keras, dan lain-lain.
Buku ini akan menjawab pertanyaan seperti "Kok bisa ya Jepang kayak gitu? Orang Indonesia nggak bakal bisa kayak gitu, sih. Susah dibilangin."
Dari segi keilmuan, buku ini sangat bagus. Namun, cara penyampaiannya masih kurang baik sehingga banyak perulangan pembahasan. Kebahasaannya pun masih perlu banyak perbaikan sehingga sering ditemukan saltik, kata tidak baku, dan kalimat tidak efektif sehingga sulit dipercaya bahwa ini terbitan Elex.
Adalah tulisan tentang masa lalu Jepang hingga bisa menjadi seperti sekarang. Setelah kalah perang, reformasi pendidikan menjadi langkah awal untuk bangit. Ga nyangka, Jepang cuma butuh waktu 10 tahun untuk melakukan perbaikan dan peningkatan industri dan kehidupan sosial pasca perang. Kerennya, perubahan-perubahan ini dilakukan secara masiv tidak hanya oleh rakyat tapi juga dari pemerintahan. Siapa sangka Jepang sekarang juga karena belajar dari budaya Barat yang ketika itu dinilai lebih maju. Indonesia pasti pengen begini juga.
Buku ini sangat ringan dibaca untuk kelas sejarah, pembaca bisa memahami gambaran umum apa yang terjadi pada jepang hingga bisa sehebat ini. Suzy ong berhasil membawa kita bersafari kepada masa lampau dan berandai-andai mengenai masa depan. Setelah membaca ini muncul 2 hal dalam kepala saya: 1. Bagaimana mengkritik Indonesia sehingga makin mencintai Indonesia 2. Kapan dan Bagaimana cara Indonesia dapat bereformasi menuju Indonesia yang unggul
Lebih seperti buku mengenai sejarah perkembangan budaya di jepang daripada pedoman. Ada beberapa tema yang sedikit menyindir budaya indonesia dan tidak memberi solusi, banyak juga kritik2 halus, mungkin penulis menjelaskan dan ingin memberikan lesson mengenai bagaimana sejarah dapat membuat pembaca belajar dari pengalaman negara jepang.
OK, now I get how Japan was modernized and why the Japanese people behave the way they do in public. Sayangnya, penulisan buku ini terkesan buru-buru karena banyak kata bahasa Inggris yang tidak dimiringkan, pola kalimat yang rancu, dan tanda koma yang tidak pas peletakannya. Hal kayak gini tuh ganggu banget lho!
Bagi saya yang meminati masalah sosial dan politik, saya menemukan beberapa hal yang dibahas di sini sangat edukatif dan menarik. Terutama bagaimana pemerintah Jepang merekayasa ritual-ritual agama sebagai salah satu metode untuk reformasi masyarakatnya.
Buku ini membuat saya mengetahui bagaimana perilaku masyarakat Jepang yang sering menjadi contoh dari negara lain , ternyata terbentuk dari proses panjang beratus-ratus tahun lamanya, dan butuh waktu yang tidak singkat serta konsisten dari setiap masyarakatnya.
Mungkin bisa dibilang bahwa Indonesia yang sekarang adalah Jepang jaman dulu, atau malah menurutku Jepang bisa lebih parah saat itu. Budaya ngaret, tidak disiplin, mabuk-mabukan, konsumtif, suka berfoya-foya, pernah menjadi hal yang biasa di Jepang. Buku ini menceritakan bagaimana Jepang bisa bangkit sampai menjadi negara yang maju seperti sekarang. Semuanya berkat keseriusan pemerintah, kerja sama dari instansi lain yang terkait, serta kepatuhan masyarakat. Penulisannya sangat ringan dan mudah dipahami, seolah-olah sedang didongengi. Penulis juga berpesan bahwa Indonesia juga bisa mengikuti jejak Jepang asalkan semua pihak serius dan mau maju.