Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Setelah berpisah dengan Mala, Nora menggelandang dan dalam kesuraman inilah ia menemukan hakikat cinta. Nora menempuh perjalanan panjang untuk bisa bersama Mala lagi. Ia terjebak di lokalisasi yang membenamkannya dalam kelamnya dunia prostitusi. Sosok Nora yang lugu dan polos rentan membuat pembaca simpati dan jatuh hati. Putu Wijaya secara cekatan mengangkat fragmen-fragmen kehidupan rakyat jelata sebagai imbangan atas dunia para politisi dan konglomerat yang serba gemerlap.

364 pages, Paperback

First published December 1, 2007

4 people are currently reading
63 people want to read

About the author

Putu Wijaya

77 books106 followers
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.

Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.

He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (30%)
4 stars
30 (37%)
3 stars
19 (24%)
2 stars
6 (7%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 12 of 12 reviews
Profile Image for avocatara.
94 reviews8 followers
June 17, 2022
Waktu baca, aku merasa bukunya terlalu membosankan. Hingga beberapa kali sempat malas melanjutkan. Tapi ujung-ujungnya selesai juga. Huaaa.
Aku selalu suka tulisan-tulisan Pak Mala. Entah kenapa sulit untuk melewatkannya
Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
April 23, 2022
Membaca karya Pak Putu Wijaya itu.. Ibarat kita makan pake sambel, pedes tapi bikin nagih...
Keren lah pokoknya...
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
January 31, 2009
Siapa tak kenal Putu Wijaya? Nama itu tak asing lagi di kalangan pencinta sastra dan teater. Kiprah seniman-sastrawan asal Tabanan, Bali ini sudah dimulai sejak ia masih duduk di kelas 3 SMP. Jadi kira-kira sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, ya. Sebab, usia pria bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya kini 64 tahun. Tak heran jika dalam perjalanan yang panjang itu ia telah banyak memperoleh penghargaan dalam dunia yang digelutinya.

Seperti kebiasaan saya membeli buku dengan pertimbangan utama nama penulisnya, maka Nora saya comot dari rak di toko buku tentu karena penulisnya adalah Putu Wijaya. Beberapa karyanya sudah saya lahap sejak mungkin lebih dari sepuluh tahun lalu. Terutama cerpen-cerpennya yang kadang-kadang terasa absurd sebagaimana karya-karya drama yang ditulis dan disutradarainya. Banyak di antara ratusan cerpennya yang saya suka, tetapi tak sedikit juga yang bikin jidat saya berkerut tujuh lapis saking absurdnya. Celakanya, sudah begitupun saya ternyata lebih sering gagal menangkap maksudnya. Umpamanya sewaktu menonton pementasan dramanya yang berjudul “Zero”. Pemahaman saya terhadap apa yang tersaji di panggung benar-benar zero.

Maka, tatkala usai membaca Nora–yang merupakan buku pertama dari rangkaian “Tetralogi Dangdut” seperti tertulis di kover novel ini–dengan sejumlah “ganjalan”, saya berusaha menemukan “pembenarannya”. Maksud saya, ketika di dalam Nora saya mendapati hal-hal yang saya tidak sepakat karena kelewat dramatis, saya berusaha melihatnya dari kacamata yang lain (kacamata apa ya?) kendati tak selalu berhasil.

Novel ini dimulai dengan sebuah pembukaan yang menarik : Nora tanpa sengaja melihat kemaluan Mala, pria lajang tetangganya, saat Mala membuang hajat kecilnya di gerumbul semak kembang sepatu. Ketika itu Nora sedang mencuci piring di sebaliknya. Apa yang dilihatnya membuat Nora panas dingin dan berhari-hari meracau dalam ketidaksadarannya; menyebutkan kata-kata : “Takut…takut…takut. Hitam. Besar. Panjang..”

Igauan tersebut lalu disimpulkan oleh kedua orang tua Nora sebagai akibat dari perbuatan jahat seseorang terhadap putri mereka. Saat kemudian racauan Nora melafalkan nama Mala, tak pelak lagi tuduhan bagi si pelaku perbuatan jahat itu jatuh pada Mala, tetangga mereka, pemimpin redaksi sebuah majalah berita. Maka, lantas mereka mendatangi Mala untuk bersegera menikahi Nora.

Tanpa kuasa menolak, Mala pasrah saja pada todongan orang tua Nora. Ia yang dikenal sebagai seorang yang kritis, rasional, cerdas, berpendidikan tinggi, berpandangan luas, tiba-tiba menyerah begitu saja pada “nasib” yang disodorkan oleh ayah Nora. Menikahlah ia dengan Nora, gadis kampung lugu yang tidak pernah benar-benar dikenalnya. Agar tindakan Mala tampak masuk akal, Putu Wijaya memberi penjelasan sederhana: setiap orang punya sudut gendeng yang tidak dimengertinya sendiri. Tubuh sudah punya kemauan sendiri dan bertindak seenak udelnya tanpa konsultasi. Mala seperti dihipnotis, mengiyakan semuanya.

Setelah menikah, Mala ternyata hanya dijadikan sapi perahan oleh keluarga istrinya itu. Seluruh kebutuhan keluarga dia yang mencukupinya. Sementara itu, Nora sama sekali tidak pernah disetubuhinya sebab ia mengira istrinya itu sedang hamil akibat perbuatan lelaki lain sebelum menikah dengannya. Sampai berbulan-bulan ia tak menyadari bahwa Nora sebenarnya tidak pernah hamil.

Pada suatu hari tanpa persetujuan Mala, orang tua Nora menerima lamaran dan hendak menikahkan Nora dengan orang lain. Keberatan Mala tidak digubris. Mereka tetap menikahkan (lagi) Nora dengan laki-laki yang masih ada hubungan sanak famili dan meminta Mala membiayai pernikahan tersebut. Lagi-lagi Mala tidak berdaya.

Sementara itu, kehidupan Mala di luar hubungannya dengan Nora, juga sedang mengalami ujian. Pergaulannya yang luas tanpa disadarinya telah melibatkannya dengan Yayasan Nurani, perkumpulan politik yang berkedok yayasan yang agenda utamanya makar dan mengubah NKRI menjadi negara serikat. Tiba-tiba saja Mala telah terseret sebuah persoalan besar yang di dalamnya menyertakan pula kedua sahabatnya, Midori dan Adam. Termasuk pula dana sebesar 400 miliar rupiah. Persoalan semakin rumit sewaktu kemudian Midori ditemukan tewas terpotong-potong. Sebuah konspirasi tingkat tinggi yang tidak Mala mengerti telah menjeratnya sebagai tersangka pelaku pembunuhan tersebut.

Meski dengan geregetan, saya akhirnya bisa juga menamatkan novel ini. Bukan karena menarik, tetapi lantaran penasaran ingin tahu mau dibawa ke mana cerita ini sebenarnya. Jelas sekali, buku ini berpijak pada realisme, walaupun di beberapa bagian terlihat dilebih-lebihkan. Seperti gambar karikatur. Atau ibarat lagu dangdut yang syair dan ceritanya kerap sangat dramatis (untuk tidak menyebutnya norak) dalam mengungkapkan sesuatu. Apakah itu sebabnya Putu menamakan karyanya ini sebagai “Tetralogi Dangdut”?

Mulanya sih saya masih bisa ketawa-ketiwi lantaran menganggap lakon ini sebagai sebuah gaya lucu-lucuan ala Putu. Namun, lama-lama jadi sebal juga saat Putu makin “seenaknya”. Bagai menonton pertunjukan sandiwara panggung yang banyak adegan improvisasinya. Peristiwa dan para pemain sering ujug-ujug datang dan pergi seolah tanpa direncanakan. Misalnya saja, kita baru tahu bahwa Mala ternyata punya pinjaman 100 juta rupiah kepada kantornya untuk membangun rumah padahal sebelumnya hal tersebut tidak pernah disinggung-singgung. Fakta ihwal utang Mala itu muncul secara sekonyong-konyong di tengah adegan raibnya dana sebesar 400 miliar dari rekening Mala.

Demikian pun tentang karakter Mala yang kelewat baik sehingga malah jadi “bodoh” itu, rasanya kok berlebihan betul. Ada fakta yang saling bertentangan dalam karakter Mala. Ia yang cerdas, serbarasional, calon doktor, jadi terasa aneh ketika tak berdaya berhadapan dengan keluguan Nora dan kebebalan keluarganya. Atau barangkali saya harus ikhlas untuk sepakat dengan apa yang dikatakan Putu, bahwa setiap orang memiliki sudut gendeng yang tidak dimengertinya? Yang pasti sih, saya capek mengikuti alur logika buku ini yang terasa dibentur-benturkan. Saya tidak yakin, seandainya bukan Putu Wijaya yang menulis, apakah bakal ada penerbit yang mau menerbitkannya. Yang jelas, saya sudah memutuskan untuk tidak membaca buku lanjutannya. Atau mungkin Anda punya pendapat berbeda?***



Profile Image for scar.
4 reviews
January 4, 2022
Buru-buru baca ini setelah baca Dangdut.

Lagi-lagi, cerita Mala dan Nora bikin saya penasaran. Makin lama rasanya saya makin suka sama Mala.



Seperti buku pertama, di buku kedua, Nora, ini juga banyak tokoh yang muncul, ya. Saya suka perpindahan narasi dari satu tokoh ke tokoh lain yang mengalir aja. Kalau baca ini, saya ngebayangin setting seperti sinetron, karena dialognya juga cocok dalam setting seperti itu. Enak dibacanya. Gak sabar baca buku ketiga dan keempat!
Profile Image for Izzat Isa.
417 reviews50 followers
October 21, 2020
Karya ini sangat santai dan terasa membaca pengalaman masyarakat kelas bawahannya. Corak pemikiran mereka kelihatan agak dungu namun itulah hakikatnya dalam jurang kelas sosial. Itulah Nora, isteri Mala. Ada yang lucu, malahan ada yang jorok. Namun itulah masyarakat awam. Yang kita tak duga namun wujud di sekeliling kita. Di pertengahan bacaan, kita seterusnya menemui satu kisah seakan konspirasi yang menjerat Mala. Bagaimana kesudahannya? Teruja pula untuk membaca sambungannya!
Profile Image for Firda Mahdanisa.
57 reviews5 followers
March 15, 2022
Selalu menyenangkan membaca Putu Wijaya dengan siratan-siratan sarkasme yang dibalut dalam cerita-cerita unik, kalau tidak bisa dibilang aneh. Walau begitu, sama seperti buku pertama, aku tenggelam dan terlalu larut di dalamnya. Sepertinya untuk memahami cerita ini, memang perlu paham konteks secara luas.
Profile Image for DKay.
63 reviews1 follower
May 20, 2022
Masi ga paham sama jalan pikiran Nora di buku ke-2 ini, terinspirasi dengan idealisme mbak2 penjaga wartel. Jalan ceritanya belibet pindah2 sudut pandang tp malah bikin ceritanya jelaas. Endingnya gantung bat tp gapunya buku ke-3 )):
Profile Image for dyta suwahjo.
7 reviews6 followers
February 25, 2023
di buku yg ini lebih banyak kata2 quotes-able apa lg isi suratnya pak mala buat nora tp endingnya agak hdkallandb
Profile Image for Ancilla Irwan.
56 reviews10 followers
November 30, 2008
I love it!
It covers almost every social problems in Indonesia.

It says how human relationship is being measured with numbers (money). How a person will be treated by others, depend on how wealthy this person. Brotherhood, friendship and even blood ties might be changed due to this numerical condition.

It supports my skepticism on politic. Politic in the country or even in the family. This book says quite lot politic in the office. How to get rid of colleagues who we don't like. How to safe our own position.

The human trafficking happens in many ways. Some people take advantage from naive people. Helping hands don't mean that they really help you. It seems that this world wouldn't do anything for nothing.

So, I really recommend this book to those Indonesian readers who have interest with social issues.
Profile Image for Mustamin Al-mandary.
13 reviews1 follower
September 9, 2008
Sebagaimana novel-novel Putu, novel yang disebutkan sebagai konsumsi orang dewasa ini merupakan buku pertama dari tetralogi dangdut. Isinya menceritakan tokoh Nora yang menjalani lakon hidup yang susah ditebak. Nora diperjualbelikan oleh orang tuanya. Bahkan ketika sudah menikah dengan Mala pun, suami yang kemudian menikahinya setelah bapaknya memaksa Mala karena dituduh menghamili, Nora kemudian dikawinkan lagi dengan keluarga Nora sendiri. Betul-betul sebuah alur cerita yang susah ditebak, bahkan dimengerti. Di novel ini, Putu juga memaksa kita untuk mondari mandir dari satu plot ke plot lainnya. Jika tidak cerdik dan kurang daya ingat, Anda tidak bisa merangkai ceritanya dengan bagus. Hm....
Profile Image for Sefryana.
Author 24 books278 followers
August 7, 2008
seperti karya putu wijaya yang lain, saya terpesona oleh pengkarakterannya..^^
Displaying 1 - 12 of 12 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.