Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
Seperti sufi, Mala melepaskan segala yang dimilikinya. Ia mengkaji ulang kehidupan dalam pelariannya. Sebagai buruan justru ia bisa memaafkan musuh-musuhnya. Di puncak kepasrahan tujuannya hanya satu, menemukan Nora. Namun, ternyata menerima kenyataan dan berdamai dengan diri sendiri tak semudah itu. Banyak gugatan tersurat yang disampaikan Putu Wijaya terhadap keyakinan-keyakinan yang telah pakem di masyarakat pada bagian ini. Gugatan itu terasa sangat kuat, tak sekadar tawaran untuk melihat dari sudut pandang lain.

428 pages, Paperback

First published April 1, 2008

7 people are currently reading
38 people want to read

About the author

Putu Wijaya

54 books106 followers
Putu Wijaya, whose real name is I Gusti Ngurah Putu Wijaya, is an Indonesian author who was born in Bali on 11 April 1944. He was the youngest of eight siblings (three of them from a different father). He lived in a large housing complex with around 200 people who were all members of the same extended family, and were accustomed to reading. His father, I Gusti Ngurah Raka, was hoping for Putu to become a doctor, but Puti was weak in the natural sciences. He liked history, language and geography.

Putu Wijaya has already written around 30 novels, 40 dramas, about a hundred short stories, and thousands of essays, free articles and drama criticisms. He has also produced film and soap-opera scripts. He led the Teater Mandiri theatre since 1971, and has received numerous prices for literary works and soap-opera scripts.

He's short stories often appear in the columns of the daily newspapers Kompas and Sinar Harapan. His novels are often published in the magazines Kartini, Femina and Horison. As a script writer, he has two times won the Citra prize at the Indonesian Film Festival, for the movies Perawan Desa (1980) and Kembang Kertas (1985).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (22%)
4 stars
18 (45%)
3 stars
11 (27%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Indarpati Indarpati.
Author 5 books13 followers
January 6, 2010


Mala adalah buku kedua dari tetralogi dandut yang ditulis oleh Putu Wijaya, salah seorang sastrawan besar yang dimiliki Indonesia. Di buku kedua dari tetralogi dangdutnya ini Putu berceloteh tentang banyak hal. Dari konspirasi orang berduit untuk melanggengkan kekuasaannya, hingga siasat orang kecil untuk tak mau kalah mendapat keuntungan dari kejadian di sekitar.

Cerita dibuka dengan lahirnya seorang bayi, anak dari salah satu tokoh di buku ini, Budi. Pada saat yang sama dengan kelahiran anaknya, Budi juga mendapat kabar bahwa mantan bosnya, Mala, bebas dari penjara. Pak bos yang kemudian kedudukannya digantikan oleh Budi ini dihukum karena dianggap bersalah telah membunuh pacarnya, Midori dengan cara dimutilasi. Meski banyak pihak menyangksikan kemampuan Mala karena membunuh lalat saja rasanya dia tak mampu, tapi pengakuan yang keluar dari bibirnya akhirnya menyorongkan dia ke penjara.

Budi, yang sedikit banyak merasa bersalah kepada Mala yang di masa lalu begitu baik padanya mendapat dukungan sepenuhnya, bahkan disogok oleh Adam, seorang tokoh intelektual, banci penyuka sesame jenis yang mulutnya manis dan berbisa. Tak tanggung-tanggung, nyogok Budi agar tetap mau menjadi bonekanya dengan mobil baru yang diidamkan Saras, sang istri yang mantan temannya sesama reporter, rumah di Pondok Indah, juga jabatan.

Belum lagi diceritakan Budi hendak mengikuti nuraninya atau memutuskan menikmati kesempatan yang belum tentu datang seumur hidupnya itu, cerita menggelinding bak bola liar ke tokoh lainnya, termasuk Mala sekeluarnya dari penjara dan mencari tambatan hatinya, Nora. Kisah Nora, Mala, dan tokoh-tokoh lainnya diceritakan dengan lugas lewat dialog-dialog segar. Namun selain dialog segar ala orang kecil yang tak perlu dikunyah lama sebelum ditelan itu, banyak juga kalimat yang menuntut kerutan dahi dan hati sebagai bahan perenungan seperti yang dilakukan oleh tokoh Budi saat mendapati kalimat-kalimat Adam seperti di halaman 30.

“Bukan kebenaran yang akan mengubah dunia, tetapi kepercayaan. Dan kepercayaan tidak akan bisa dicapai hanya dengan kejujuran. Semua terletak pada kelihaian. Cara mengemas lebih penting daripada isi.”

Atau, coba tengok kalimat Adam di halaman 31.

“Apa artinya kebenaran kalau bertahun-tahun menghilang. Apakah ia akan kembali benar dalam kehidupan sekarang yang sudah sangat berbeda. Perlukah kita memperjuangkan kembali kebenaran yang sudah terlupakan oleh waktu, untuk apa dan mengapa?”

Pyuih, membaca paragraph di atas, aku jadi ingat ‘the untold history’ termasuk di dalamnya kisah Arok Dedes yang dipaparkan Pram dengan sudut pandang sama sekali lain dengan sejarah yang dijejalkan kepada kita sejak masih SD. Saya, Anda boleh mencaci kata-kata Adam sang oportunis sejati bunglon sempurna di novel Mala ini. Tapi satu hal yang harus kita amini juga, adalah bahwa sedemikian jauh kita telah terseret oleh dunia baru yang penuh liku, yang mengaburkan kebenaran, keadilan, kesetiaan pada nurani. Novel Putu Wijaya, mengajak kita kembali memperbincangkan semua ini di tengah malam sunyi, hanya pada diri sendiri.

Tanah Baru, 05/01/’10 08.33
Profile Image for Diana.
10 reviews7 followers
August 19, 2009
MALA akhirnya bersedia mengakui bahwa dia adalah pelaku mutilasi pada korban yang diakui sebagai Midori, bintang film panas sekaligus sahabatnya itu. Sahabat yang telah menyeretnya pada sebuah konspirasi politik yang tidak dikehendakinya.
Pengakuan itu dilakukan MALA dengan jaminan bahwa NORA,istri yang kekasihnya tidak akan dibunuh. Cintanya pada NORA yang lugu dan sederhana itu ternyata mampu membuatnya bersedia mengorbankan hal-hal terpenting dalam hidupnya.

Selama MALA berada dalam penjara, kantor media tempatnya bekerja telah mengalami perubahan besar. Gedungnya sudah tak lagi tua dan kumuh. Berubah menjadi gedung menjulang tinggi. Adam, yang mengaku sebagai sahabatnya, yang juga sekaligus menyeretnya masuk penjara, menjadi salah satu jajaran pimpinan bersama Budi, wartawan yang dulu menulis tentang Midori dan menyudutkannya. Saras, wartawan yang dulu sering bertengkar dengan Budi, atas nama cinta akhirnya menyerah pada pelukan Budi dan menjadi istrinya, mereka dianugrahi dua orang anak. Saras,Budi, yang dulu begitu idealis itu telah berubah menjadi manusia yang silau pada kemewahan dan kemapanan. Adam menguasai mereka dengan materi hingga mereka kehilangan nalar kritisnya. Semua menjadi nisbi.
“Dan kita mau saja dikuasai karena kita tergantung…hidup enak ini telah membuat kita menjadi lemah dan lembek”(48)
Kantor kecil itu ternyata penuh konspirasi besar, sarat akan kekuasaan. Adam begitu licin dan licik memainkan peran. Skenario disusun dan dimainkannya dengan indah, halus dan lembut. MALA sengaja disingkirkan karena dianggap menggalang gerakan makar di kantor dengan mempekerjakan orang-orang yang ‘tidak bersih lingkungan’.
“Waktu itu kita dihadapkan kepada dua pilihan. Membela satu orang yang tidak bersalah, tapi menghancurkan hidup ratusan orang yang bergantung pada perusahaan. Atau manunda,sambil mencari waktu yang tepat untuk mengembalikan kebenaran pada kebenaran dan keadilan pada keadilan. Sebab kalau waktunya tidak tepat, kebenaran dan keailan hanya akan menjadi teori indah yang tak berguna. “ (45)
Pimpinannya bertekuk lutut pada seseorang yang ditelepon selalu berkata “dari pada demikien…. Bla bla bla Diusahaken bla bla bla…” Adam menurut karena punya ambisi ingin jadi presiden. Untuk itu dia harus dicalonkan partai. Partai mau menerima asal Adam menguntungkan partai. Untuk mewujudkan itu, medianya harus ‘bersih’.

Sementara MALA semakin dilupakan setelah bertahun-tahun kasusnya berlalu. Media tak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘penting’. Tak ada lagi yang terlalu peduli tentang kebenaran bahwa MALA benar membunuh atau tidak. Tak ada lagi yang ingin tahu siapa sebenarnya pembunuh Midori, atau benarkah itu mayat Midori. Berita tentang kebebasannya pun hanya mengisi kolom kecil disudut Koran, kalah dengan head line berita KAKEK MEMPERKOSA CUCUNYA KETIKA LAGI SHALAT. Kebenaran bisa menjadi begitu salah dan begitu benar ditangan pers. Pers mempunya kuasa yang begitu besar untuk menentukan sebuah kebenaran. Pers mempunyai control utama pada apa yang akan diperhatikan orang dan apa yang akan diabaikan. Dan Adam memainkannya dengan mulus. “Apakah artinya kebenaran kalau bertahun tahun menghilang. Apakah ini akan kembali benar dalam kehidupan sekarang yang sudah sangat berbeda. …” (31) “Sebuah berita kecil lewat dan tidak ada orang yang peduli. Padahal dalam berita itu ada lorong untuk membaca kebenaran. “(39)

MALA tak lagi mempedulikan apakah dia masih penting atau tidak bagi teman-teman dan orang lain. Yang penting baginya setelah bebas adalah menemukan kembali NORA dan mencintainya, memberinya belaian, kecupan, percintaan yang selama ini hanya ada dalam hayalnya. Dia akhirnya sadar bahwa NORA adalah sebagian dari hatinya.
“ Hanya kamulah yang masih kumiliki sekarang, karena semua orang tak ada di tempatnya ketika aku memerlukan . Hanya kamulah yang masih terus menjadi titik yang tak bergerak, tempatku memandang. Hanya kamulah rumahku, tempat aku rindu dan kembali, meskipun kamu mungkin tak setuju. Aku mencintaimu,NORA,”
Sayang NORA tak pernah tau isi surat itu, dia hanya bisa membaca namanya disurat itu, dan itu saja cukup untuk membuatnya berbunga-bunga. Hal sepele yang tak perlu repot untuk membuatnya bahagia. Menemukan namanya ditulis MALA dalam suratnya, tak peduli apa isinya. NORA pun mencintai MALA,menunggunya bebas, menanti percintaan dengannya, dan terus menunggu MALA bergerak mendekatinya. Tapi yang didapatinya adalah MALA pergi dengan meninggalkan sebuah buku catatan. Buku yang berisi tumpahan kecintaan, kerinduan, dan kekecewaannya pada NORA.

MALA merasa hidupnya tercabik dan terlempar begitu jauh. Dia merasa pengorbanannya sia-sia. Dia pertaruhkan hidupnya, karirnya, masa depannya untuk mengakui perbuatan yang tak pernah dilakukannya, hanya demi kecintaannya pada NORA. Tapi yang didapatinya adalah pengkhianatan(menurut anggapan MALA). NORA menikah dan bercinta dengan orang lain, sementara dia menahan seluruh hasratnya dan berharap NORA hanya akan menjadi miliknya satu-satunya seutuhnya.

NORA tak mengerti mengapa MALA pergi, dia merasa tidak melakukan apa-apa. Dia hanya bergerak sebagaimana tubuhnya mengalir. Dia bicara dengan bahasanya, bukan bahasa MALA. Dia masih menunggu dengan setia, membeiarkan dirinya tetap perawan, dan berharap MALA akan kembali. Tapi MALA tak pernah kembali. Selamanya.
Profile Image for Ancilla Irwan.
56 reviews10 followers
May 16, 2009
As a sequel, Putu Wijaya keeps the reader's curiosity to a certain level. He lets the reader to be patiently read how this will be ended. Like previously, He makes the flow to be not in an order. I personally think that he makes the book just like what I see in daily life. The cases couldn't be solved directly. Any social situation is much more complex than we thought, it is simply not a black or white. For instance, we couldn't really put sex workers much under the ex-head of militant. Or, a becak rider under the police officer. Or a convict under the director of mass media. And so on... Yes, we have strata in our society which is usually be defined by financial condition. But then, as a human could we really put people differently? Or more, under the law of morality, it would not be as easy as we assumed.

Money plays important role in society. It seems that people might do anything in the name of wealthy. Not only virginity that can be bought, but also dignity! Yes, human dignity! What a poor creature!

This book, as so the three others, I believe, will be good sketch of the community. We can "see" a lot!

These is the paragraph that I really like in this book:
"Mungkinkah agama hanya dipakai sebagai atribut, bukan penyelarasan jiwa sebagai makhluk beradab, yang seharusnya sadar pada apa yang pantas dan tidak? Manusia diajak memikirkan kehidupan sesudah mati secara mendalam, tapi melupakan kehidupan yang sedang dijalani. Orang berlomba-lomba mendekatkan dirinya pada Tuhan, tetapi sambil menginjak sesamanya. Seakan-akan moral, tuntunan, etika, agama, dan sebagainya itu bukan mendamaikan, tetapi menyulut permusuhan..." (p.223).

The free translation of that paragraph is as follow:
"Is it possible that religion being used as an attribute, not to maintain the balance of soul as civilized creature, who have to aware what are proper or not? Human has been pushed to think deeply about life after death, but forgotten the life itself. People urge themselves to get closer to GOD, meanwhile, they step on their fellows. It seems that moral, guidance, ethic, religion and others are not make peace, but being triggers of enmity..."




Profile Image for Adriani Zulivan.
61 reviews5 followers
January 13, 2013
Tak banyak buku seri yang dapat dibaca terpisah, buku ini salah satunya. Jadi pengen cari 3 edisi lainnya...
4 reviews
June 9, 2012
Gantung Endingnya... belum nemu lanjutannya.... :)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.