Sofia hanya tahu satu cita-cita, bermain piano. Namun, ayahnya hanya tahu satu tujuan, menjadikan Sofia pengacara. Gadis itu sudah menyerah, hingga ia bertemu Romi yang membuatnya jadi lebih berani mengikuti kata hati. Mereka sepakat untuk membuat demo bermain piano empat tangan demi mendapat beasiswa kuliah musik di Amerika. Sofia sangat menikmati saat-saat berlatih bersama Romi di Ruang Musik sekolah. Alunan indah nada piano dari keempat tangan mereka membuat Sofia lupa akan kesedihannya.
Sayangnya, ada dua fakta yang tak boleh dilupakan Sofia. Saat hatinya mulai merasakan desir aneh ketika berada di dekat Romi, ia harus ingat bahwa Romi telah memiliki Kikan. Saat semangat mengejar impiannya mencapai puncak, ia harus ingat bahwa ayahnya tak akan merestui. Patah hati Sofia terasa berkali-kali lipat lebih sakit. Akan bagaimana ia mengatasinya|?
Suka sama bukunya. Ini bku teenlit yang aku cari, sih. Soalnya bukan soal cinta2an alay, tapi tentang mimpi dan arti dari mimpi itu sndri. Ending yg realistis dan gaya berceritanya enak banget.
Aku paling excited waktu tahu keberadaan buku ini setelah tahu kisah utamanya nyambung dengan salah satu subplot dalam novel Memorabilia yang baru saja kubaca. Dan alhamdulillah langsung berjodoh sama buku ini. Sheva memang nggak pernah nggak berhasil membuatku terhanyut pada drama-drama kisahnya. Kisah-kisah Sheva hampir semuanya tentang pahit-manis drama hubungan antarmanusia, cinta, dan usaha meraih impian. Takjub juga baca testimoni para pembaca Wattpadnya yang bilang kalau mereka beneran dapat efek secara nyata dalam mengejar impiannya berkat novel ini. Whoa.
Banyak kutipan yang bikin merenung dan jleb banget. Paling favoritku adalah yang ini:
"Jangan selalu merasa nggak enak sama orang lain. Mereka belum tentu juga merasa nggak enak sama kita. (Sofia to Romi, hal. 171)"
***
Sayang referensi ke Memorabilianya kurang kuat, profil Memorabilia kurang ditekankan di sini. Juga bagaimana Sofia mengambil keputusan untuk melelang CD video permainan pianonya dengan Romi lewat webzine itu. Iya aku baru aja baca Memorabilia sehingga bisa langsung nyambung. Lainnya yang mungkin belum pernah baca Memorabilia gimana?
Nanti reviewnya dilanjut, deh. Laper, nih. Haha. Yang jelas aku suka banget sama novel ini. Aku berdebar-debar menunggu Sheva bakal cerita apa lagi di novel-novel berikutnya. Soalnya kisah dari omnibus Blue Romance tuh masih banyak yang bisa dikembangkan buat jadi novel penuh, loh. Mungkin kisah cewek yang gebetannya digebet sama ibunya sendiri? Atau kisah cowok blasteran Perancis yang dihantui masa ketika ia meninggalkan istrinya di Yogyakarta karena kesulitan hidup? Atau...
Ke mana pun kita pergi, kita pasti akan selalu kembali ke hal yang kita sukai.
Setiap orang pasti punya impian masing-masing yang ingin diraih. Sayangnya, ada hal-hal yang mungkin saja menghalangi kita meraih impian itu bahkan melupakannya. Seperti kisah Sofia dalam novel ini.
Impian Sofia bermain piano harus pupus karena ayahnya ingin Sofia melanjutkan kuliah hukum dan bekerja di firma hukum keluarganya.
Hal ini tentu saja menjadi dilema tersendiri bagi Sofia. Bagaimana pun tidak mudah, melepaskan dan mengikhlaskan impian yang sudah kita pupuk sekian lama. Namun,memperjuangkan pun Sofia tahu itu sungguh tidak mudah.
Ketika harapan itu nyata, kehadiran Romi yang membuat Sofia ingin mengejar impiannya, akankah Sofia mempertaruhkan semuanya demi impiannya atau melepasnya untuk keluarganya? . Ide cerita yang sederhana dan sering sekali dialami oleh remaja. Pastinya ada yang memiliki kasus serupa seperti Sofia dan Kak Sheva berhasil mengemas cerita ini dengan menarik.
Yang aku suka, Kak Sheva membuka kisah Sofia ini 8 tahun setelah masa remaja Sofia dan dibuat semacam kilas balik gitu. Aku jadi dibuat penasaran apakah Sofia berhasil meraih impiannya atau tidak dan bagaimana hubungannya dengan Romi.
Cerita bergulir dengan lancar. Aku suka dengan detail tentang musik dan piano, suka dengan ide memasukkan tentang Blue Romance dan Memorabilia dalam novel ini. Kalau kamu yang sudah membaca kedua buku itu pasti jadi semacam nostalgia.
Secara keseluruhan, kamu mencari sebuah kisah remaja yang tidak melulu tentang cinta, tentang perjuangan meraih mimpi, aku rekomendasikan novel ini untuk kamu baca, khususnya buat remaja nih. .
Ekspektasi awal, endingnya bakal indah bagi Sofia karena tipikal pertentangan antara orang tua dan perjuangan mimpi biasanya punya hasil akhir pilihan orang tua yang kalah. But, no. Sebenarnya lebih dari itu. Aku suka akhirnya begitu bagi Sofia, tapi agak merasa kurang dengan bagian paling akhir.
Oke, pertama, ini bagus. Narasinya enak dibaca, dialognya juga bisa dibedakan "voice"-nya. Karakter-karakternya juga jelas dan yang paling kelihatan khas adalah Sofia. Bukannya karakter Romi lantas abu2 sih, dia juga oke, tapi pengakuannya soal Kikan itu bikin kesel. 😅
Kedua, terlalu banyak kata berulang di satu kalimat bahkan paragraf. Ada juga kalimat yang intinya sama diulang lagi dengan kemasan berbeda. Jadi, lumayan bikin risih.
Ketiga, Kikan itu karakter jahat. I mean, kupikir bakal banyak drama, ternyata enggak. Dia ini berpotensi, sih, jadi antagonis di antara mereka (selain bokapnya Sofia), tapi kurang dimaksimalkan. Fakta beredar yang berurusan dengan Kikan akan dibalas dengan nggak mengenakkan, nggak dimaksimalkan di sini. Penulis memilih cut masalahnya begitu aja dengan bikin Sofia cuek. Udah. Sayang banget menurutku, hmmm.
Keempat, ending udah cakep, tuh. Aku udah sempat mikir bakal kasih 4 bintang, tapi terpaksa harus dipangkas karena entah kenapa tensi & emosinya anjlok drastis. Cita2 Sofia memang terpenuhi, tapi rasanya kosong gitu aja. Kayak dipotong, tapi bekasnya kasar.
So far, aku bisa enjoy sih sama ceritanya. Pertentangan mimpi orang tua dan mimpi pribadi yang masih menjadi perdebatan ini topik yang relate. Sebenarnya, eksekusi penulis di sini juga realistis, sih. Pencinta teenlit dengan tema tersebut bisa coba baca buku ini.
Ada 11 bentang belia writing marathon series. Covernya cantik-cantik 😍 Pengen semuanya, tapi karena aku koleksi buku Kak Sheva, jadi aku baca ini duluan. Menurutku ini buku bagus buat remaja. 😊
3⭐untuk alur maju-flash back yang rapiii banget, aku kayak baca jurnal Sofia 😍 4⭐untuk deskripsi detail yang bikin aku hanyut sama ceritanya, bahkan kayak masuk mesin waktu doraemon ke tahun 2008 😍 4⭐untuk Penokohan yang kuat. Persahabatan Sofia, Jihan, Sarah, Dimas, Gilang, Romi, Kikan, Darius, Herman, dkk kerasa solid banget. 4⭐untuk plot twist yang nggak ketebak dan bikin terharu 5⭐untuk insight dari cerita ini 💕
Rata-rata 4⭐ yey! 🙌 -- Aku suka banget klimaksnya. Semua tokoh terlibat. Plot twist nggak ketebak. Sempat kesel pas sebelum akhir. Trus bisa lega banget pas ending. So sweet pokoknya. . Sama kayak #novelmemorabilia, novel #recallingthememory agak gloomy tapi manis 🍨 . Dari segi kepenulisan, Recalling The Memory paling rapi dan bisa melibatkan emosi dibandingkan karya-karya sebelumnya. Good job, Kak Sheva! Aku tunggu karya kak Sheva selanjutnya 😍
Bisa dibilang ini novel seri Belia Writing Marathon yang paling saya suka. Cara penulisnya bercerita rapi, riset tentang pianisnya niat (kadang ada novel yang menceritakan tentang suatu profesi tapi sepertinya kurang riset), cerita cintanya juga ga receh dan menye-menye. Penokohannya kuat, saya bener-bener dibawa sebel sama kekurangan sifat Sofia, bisa ikut jatuh cinta sama Lelaki Midas-Romi, dan poin kecil yang saya ingat adalah Sarah-Dimas yang selalu konsisten suka makan. Overall suka banget sama cerita tentang impian seperti ini, dengan bumbu romance yang ga overdosis. Very recommended
Bagusnya buku ini adalah pengetahuan tentang lagu-lagu piano. Istilah di buku ini juga bukan asal sebut, tetapi ada riset juga. “Great minds think alike” karena sepatu converse mereka yang samaan terus, intinya sesuatu yang logis dan berkelas. Herannya tiga kali di bagian terakhir aku lumayan sedih, dan tentu saja ada plot twistnya. Kekurangannya hanya sedikit membosankan jika dibaca sepenggal-penggal apalagi pas dibaca di kelas dulu campur aduk sama materi pelajaran. Baca momen terakhir yang tertunda di rumah jadi penutup buku Recalling the Memori paling baik.
Menemukan novel ini di tengah padatnya jadwal kuliahku sekarang. Novel yang sederhana namun manis dengan latar belakang SMA rasanya seperti bernostalgia dan lari dari kenyataan untuk sementara waktu. Novel ini juga menyelipkan beberapa judul sheet piano yang sesuai dengan seleraku. Membaca buku ini sembari mendengarkan instrumental piano yang tertulis di novel ini menurutku adalah cara terbaik menikmati novel ini :)
Salah satu kutipan dari buku ini: kemana pun kita pergi, kita akan kembali ke hal yang kita sukai.
Kalau kalian mengharapkan kisah yang ceria, mending mundur. Soalnya buku ini cenderung kalem sekaligus nyelekit, tanpa ada antagonis ala sinetron, tanpa kisah cinta yang bikin eneg. Disini lebih banyak menyinggung masalah impian yang tak didukung oleh orang tua, tentu didampingi romansa (yang sekali lagi ga bikin eneg) dan kebohongan. Ouch.
Ke mana pun kita pergi, kita pasti akan selalu kembali ke hal yang kita sukai.
Salah satu novel teenlit terbaikku. Tema seperti ini jarang banget ada di genre teenlit Indonesia. Aku suka penokohan di buku ini, terkesan realistis dan 'hidup'. Konfliknya juga dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nggak cuma menyajikan kisah pemeran utamanya, tapi juga pengetahuan tentang musik, khususnya piano. Aku merasa buku ini lebih 'dewasa' dari buku-buku teenlit lain, tapi nggak membosankan sama sekali untuk dibaca.
I bought this book at first on a whim, but it turns out that I really like this book. The story is light but as interesting as it is to be enjoyed. Tbh while reading it, I don't feel bored at all. This book also allows us to "enter" Sofia's past and feel the excitement between Sofia and the other characters.
Kisah sederhana yang diceritakan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Pengetahuan tentang musik dan piano menjadi nilai plus dalam novel ini. Alurnya mengalir, tapi tidak ada kejutan berarti. Ada begitu banyak detail tak penting yang cukup membosankan. Tiga bintang.
Konflik dalam cerita ringan, tetapi pada masanya di tahun 2018 yang sangat banyak pasaran novel bertajuk 'bad boy' atau laki-laki kulkas sembilan pintu yang bagi pribadi saya sendiri membosankan, cerita ini membawa angin baru bagi saya. Sejauh bagaimana cerita ini berjalan, alur bergerak maju ke depan tanpa melirik ke belakang lebih jauh, protagonis kita, Sofia, terus meyakinkan dirinya sekaligus terus mengasah bakatnya dalam bermain piano untuk melanjutkan pendidikan formal musiknya selepas sekolah nanti. Namun kehendak orang tua Sofia berkata lain sehingga konflik terjadi, di tengah konflik berkepanjangan menjadi awal cerita ini, Sofia bertemu dengan Romi. Karakter Romi digambarkan sebagai siswa SMA sehat baik-baik ekstrover penuh percaya diri, hal ini berbanding terbalik dengan Sofia yang sangat berhati-hati juga penuh pertimbangan di setiap langkahnya, keduanya bereda, tetapi sebagaimana subjudul berkata, 'kita bersisihan. Namun tidak sejalan,' benar-benar sangat menggambarkan dinamika dari hubungan keduanya untuk mendukung satu sama lain di sepanjang alur cerita. Akhir kata, menjelang akhir cerita, tempo alurnya terlalu cepat meskipun begitu buku ini selalu menjadi tempat saya kembali pulang apabila sudah melangkah terlalu maju dan lupa akan tanah.
'Coba aja dulu.'
Satu kata yang sampai saat ini saya simpan di dalam benak saya untuk berani bermimpi sebagaimana Sofia di dalam cerita ini walaupun pada akhirnya tidak semua hal bisa diwujudkan hanya dalam satu langkah saja.
Setelah hampir setahun akhirnya buku ini kebaca juga. Quickest read. Aku babnya yang nggak panjang-panjanh amat, jadi less daunting, butuh sekitar 3 jem doang bacanya. Karakter-karakternya bagus. Well-rounded. Kelebihan dan kelemahannya juga balance. Penulisan alurnya rapi banget! Penulisannya juga bagus. Pesan ceritanya juga sangat menginspirasi. Overall, cerita yang bagus banget buat remaja.
"Ke mana pun kita pergi, kita pasti akan selalu kembali ke hal yang kita sukai." - Pg. 251
Done! Perlu perjuangan menyelesaikan buku ini. Karena dari awal posting aku lagi terserang flu berat dan badan lagi gak dalam kondisi yang fit. Pulang kerja pasti tepar. Tapi akhirnya aku berhasil menyelesaikan kisah Sofia - Romi ini.
Cerita yang menurut aku menarik karena mungkin inilah yang banyak dihadapi oleh remaja-remaja yang akan melanjutkan studinya. Mulai dari cita-cita, pemilihan jurusan, keinginan dan harapan. Banyak yang bisa memilih sesuai keinginan hatinya seperti Romi namun, banyak juga yang harus mengikuti keinginan orangtuanya seperti Sofia.
Yang kepo endingnya apa Sofia bakalan sama Romi apa nggak bisa cari bukunya di toko buku terdekat ya! Buat aku pribadi, dari sini banyak yang bisa dijadikan pembelajaran berharga.