Melalui buku ini, penulis yang merupakan pendiri Youth Laboratory Indonesia, mengajak kita untuk mengetahui dan memahami generasi milenial lewat pengelompokkan generasi yang khas Indonesia. Dengan memahami mereka lebih dalam, kita akan mampu mempersiapkan generasi berikutnya dengan tepat.
Muhammad Faisal adalah seorang youth researcher, pendiri Youth Laboratory Indonesia, sebuah biro riset pertama di Indonesia yang mendedikasikan diri pada studi perilaku dan budaya anak muda Indonesia.
Beberapa lembaga dan brand yang pernah dibantu Youthlab antara lain, Nike, Google, Coca-Cola, TNI AD, Kementrian Pekerjaan Umum, Kepolisian Republik Indonesia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kantor Staff Kepresidenan.
Penulis pernah menjabat sebagai Head of Asia di Youth Research Partners, sebuah jaringan peneliti kepemudaan global yang terdiri dari 20 anggota dari berbagai negara. Penulis juga dipercaya sebagai narasumber untuk media internasional ternama terkait tema anak muda Indonesia, yaitu Spiegel Magazine dari Jerman, dan Le Monde Diplomatique dari Perancis.
Penulis mendapatkan gelar doktoralnya di Universitas YAI Persada pada 2015 dengan predikat cum laude serta kekhususan pada bidang psikologi sosial-politik di bawah bimbingan Prof. Sarlito Wirawan Sarwono.
Sedangkan, gelar Magister didapatkan penulis pada 2007 dengan predikat cum laude di Universitas Indonesia. Penulis juga menyelesaikan studi sarjana di Universitas Indonesa pada 2004. Saat ini penulis aktif melakukan penelusuran etnografis terhadap kehidupan anak muda Indonesia dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia yang dimulai sejak 2009.
Penulis aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta.
Penulis berhasil mendefinisikan pembagian generasi yang khas Indonesia. Sebuah upaya yang patut diapresiasi untuk membantu generasi muda Indonesia mengenal dan mengembangkan diri.
Buku ini lahir dari penelitian Bang Faisal (saya memanggil penulisnya seperti itu) tentang anak muda Indonesia selama satu dekade terakhir. Sebagai orang yang menyaksikan Youthlab Indonesia, biro riset yang ia dirikan, sejak awal dan menikmati temuan-temuannya, membaca buku serasa memakai pakaian yang telah dijahit dari kain-kain yang telah ia temukan sepuluh tahun terakhir ini. Hidup saya serasa begitu mudah. Ada seseorang di luar sana yang pontang-panting melakukan penelitian selama satu dasarwarsa, sementara saya cukup menyisihkan waktu tiga jam saja untuk menyelesaikannya. Meski begitu, saya percaya selalu ada batas antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Membaca buku ini mungkin ide paling utama yang mau disampaikan selain “Teori Generasi” yang akan berulang, tak lain dan tak bukan adalah arketip anak muda Indonesia yang komunal. Meme yang menyebut sosial media/handphone menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh sepertinya hanya berlaku untuk generasi yang lebih senior. Terlalu sering kita lihat, lingkar pertemanan baru yang lahir dari kesamaan kegelisahan yang dibagi di internet. Hal macam begini lazim terjadi di komunitas pengguna Tumblr (platform yang dibikin koma oleh Kementerian yang bahkan menyebut namanya saja saya malas itu). Begitupun cara pandang terhadap nongkrong yang dibaca oleh generasi senior sebagai “sitting, talking, and doing nothing” perlu juga dijembatani sehingga tidak terus-menerus “gagal paham” dengan apa yang dilakukan generasi anak-anak mereka. Tentu saja upaya memahami ini tak hanya soal-soal tetek-bengek tahun 2019 yang ternyata hampir 30% pemilihnya nanti adalah orang-orang berusia di bawah 30 tahun. Jika ini yang dilakukan, politik lagi-lagi akan dicap buruk seperti yang telah mengendap di kepala generasi sebelumnya.
Penulis mampu menjelaskan khas atau ciri dari Generasi ke generasi di Indonesia. Dengan pembuktian perbandingan dengan beberapa ahli/pengamat generasi Muda di belahan dunia lain. Buku ini juga dapat memberi insight bagi generasi muda tentang bagaimana Behavior mereka dapat terbentuk seperti yang ditampilkan saat ini. Terlebih lagi menjelaskan secara gamblang mengenai tantangan dan kesempatan yang akan dihadapi generasi muda untuk menjadi betul-betul juga siap menjadi Pengubah Indonesia yang lebih baik.
I really apreciated, the Author use simple words to makes reader to understand Whats happen in Indonesian Young Generation. Me as a youngblood loves to read Less page. So i need to write down the important things, but the Author indirectly makes a conclusion the end of chapter. Then i dont have to bring my note.
Setiap tahunnya pasti akan ada buku-buku out of the box yang terbit. dan buku genarsi phi ini adalah buku out of the box yang paling teratas dalam list saya sejauh ini. Tidak hanya memberikan pemahaman baru tentang karakteristek pemuda, tetapi buku ini juga memberikan gambaran dan prediksi tentang masa pemuda yang akan datang, sangat luar biasa. selain itu, buku ini juga sangat memotivasi saya untuk mencoba dunia entrepreneurship, sebab sayang sekali rasanya bila sudah melihat informasi penting yang diambil dari hasil penelitian ilmiah tapi pembaca tidak memanfaatkannya. Untuk itu saya sangat berterima kasih pada penulis yang telah memotivasi saya untuk mencoba berbisnis. Saya berharap penulis akan membuat buku keduanya kelak suatu hari nanti.
It seems difficult to find the book that show us the characteristic of Indonesian generation segment X,Y,Z due to the large area and population that has thousands of the ethnic with their uniqueness. However, this book serve incredible insight of Indonesian youth segment.
The book is presented in a simple language with deep analysis based on longitudinal research conducted by the author were able to explain the Indonesian youth generation with all their potential.
Buku yang sangat menarik sekali untuk dibaca, penulis dengan jelas memaparkan pembagian generasi yang sesuai di Indonesia, Dengan pemaparan hasil riset ilmiah penulis mampu menjelaskan bagaimana perkembangan komunitas anak muda dan juga aspirasi dari trendsetter dalam suatu komunitas. Buku ini tentunya akan menjadi guideline dalam pemahaman dan pembagian generasi di Indonesia kedepannya . Recommended sekali bagi yang ingin memahami bagaimana millenials di Indonesia...
Istilah-istilah "Generasi X, Y, Z" yang sering kita dengar selama ini sebetulnya kurang tepat digunakan untuk mengelompokkan pembagian generasi di Indonesia. Alasannya, Indonesia mengalami peristiwa-peristiwa transisi budaya dan politiknya sendiri yang tidak sama dengan negara lain, sehingga pengaruh terhadap generasi masyarakatnya pun memiliki keunikan tersendiri. Berangkat dari premis inilah Muhammad Faisal memperkenalkan generasi Phi.
Penulis mengelompokkan generasi masyarakat Indonesia sejak kemerdekaannya menjadi empat generasi: Generasi Alpha sang pionir, bersifat ideologis dan visioner, yaitu pada generasi Ir. Soekarno dan para founding fathers lainnya; Generasi Beta yang heroik, tumbuh di masa Indonesia yang baru merdeka tengah bergelut dengan konflik ideologis dan ancaman perpecahan, sehingga generasi ini berjiwa pahlawan demi mempertahankan kesatuan bangsa; Generasi Omega, kurang lebih tumbuh pada masa orba dimana situasi ekonomi-politik cenderung stabil, sehingga mereka tumbuh lebih individualis dan kompetitif; lalu Generasi Phi, yang tumbuh pasca peristiwa reformasi 1998. Kami (cieh kami, soalnya menurut pembagian M. Faisal, saya pun termasuk Gen Phi :p) tumbuh di era keterbukaan informasi, di saat tidak ada lagi indoktrinasi ketat a la orde baru, dan di saat yang sama masuk teknologi internet yang memungkinkan kami mengakses sekaligus terpapar pada informasi yang tak terhingga banyaknya, lebih dari yang mampu kami cerna.
Karakteristik Gen Phi berdasarkan penelitian di buku ini yaitu merasa teralienasi, kreatif, dan berpikir out-of-the-box. Uniknya, karena merasa teralienasi, Gen Phi akhirnya justru kembali menjadi bersifat komunal/kolektivis. Ini adalah ciri khas generasi Indonesia yang tidak ditemukan di negara Asia lain. Gen Phi lebih berorientasi pada hobi dan passion untuk membangun karier dibanding pekerjaan "mapan" menurut definisi generasi senior, semisal jadi dokter, pengacara, atau PNS. Gen Phi juga menganggap "anti-mainstream" lebih keren daripada arus mainstream. Alias, dibandingkan generasi senior yang mengikuti budaya yang dipopulerkan media mainstream seperti televisi, Gen Phi lebih suka membuat gaya dan identitas yang "beda" dengan apa yang didiktekan arus-utama.
Sebagai bagian Gen Phi, buku ini cukup memberikan insight bagi diri saya sendiri. Sebelumnya saya kira, saya ini individualistis karena tumbuh besar di Jakarta. Saya kenal banyak orang di internet, tapi ternyata memang lebih senang kalau bisa mengajak mereka "gath" atau kopdar, ketemu langsung di dunia nyata. Saya kira saya ini seorang "misfit", yang merasa ga cocok masuk kelompok mana pun. Tapi begitu ketemu orang-orang yang "nyambung" dan sepemikiran, ya saya memang merasa ingin diterima oleh mereka, ingin dianggap sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Dengan kata lain ya saya memang seorang Gen Phi yang merasa teralienasi dan "anti-mainstream", tapi sebenarnya komunal-komunal juga hahahaha.
Masih banyak pastinya insight yang bisa didapatkan dari buku ini. Hasil penelitian yang progresif disampaikan dengan gaya penulisan pop yang pas. Tidak terlalu kaku-serius kayak bikin laporan penelitian, tapi juga nggak terlalu sok asik sampai jadi garing.
Pesan utama yang tampaknya ingin dibawa oleh penulis adalah, Gen Phi di Indonesia sangat heterogen sifatnya dan tak bisa digeneralisir. Anak muda tiap daerah memiliki gaya dan identitas yang berbeda dengan anak muda daerah tetangga. Namun penulis mendorong supaya kita dapat terus berkolaborasi menciptakan gaya kreasi dan identitas baru yang dapat benar-benar menjadi youth culture khas Indonesia, yang dapat membawa kita menghadapi tantangan perubahan zaman.
saya mengenal tulisan beliau dari pertengahan tahun 2013 lewat slideshare yang ada di google. rasanya asyik membaca terjemahan angka2 statistik dalam bahasa yang mudah dicerna. Sempat beberapa kali mendengar beliau akan menulis sebuah buku, bukan main saya tunggu. Hingga keluar dengan kolaborasi dengan penulis lain di buku Generasi Langgas. Sekarang saya membaca utuh di Generasi Phi. Menurut saya, Generasi Phi ditulis lebih lengkap dan sistematis dan dari klasifikasi-klasifikasi jenis generasi yang ada di Indonesia, tidak perlu susah-susah membayangkan teori ini di kehidupan kita sehari-hari itu seperti apa. Saya menjadi teringat lagi hasil-hasil riset yang dulu saya baca di slideshare beliau ternyata masih nyambung dan ada benang merahnya, dan itu beliau tuliskan di Generasi Phi ini. Untuk yang bekerja di industri yang membutuhkan insight-insight perilaku manusia di Indonesia (ternyata saya jadi paham tidak cuma bagaimana generasi saya memiliki karakter, tetapi juga karakter generasi di atas saya) buku ini bisa menjadi bacaan yang ringan dan relevan dengan jaman sekarang (tidak harus baca buku antropologi yang bahasanya ampun itu, tapi penting juga sih hehe). Tetapi untuk yang bekerja atau berkecimpung di luar industri tersebut, buku ini tetap layak dibaca karena setidaknya kita jadi memahami diri sendiri mengapa kita kadang melakukan hal-hal yang kekinian namun tidak meninggalkan budaya Indonesia. Selamat membaca teman-teman
Bukunya bagus dan memancing keingintahuan tentang kemungkinan-kemungkinan yang diimplikasikan oleh penulis. Sayangnya, buku ini tidak lengkap membahas metodologi dan definisi dari beberapa konsep, yang sebenarnya lebih menarik bila referensinya langsung dituliskan. Tentu saja, menulis diseminasi riset untuk kalangan awam memunculkan kesulitan dan tantangan sendiri, tapi tentu itu tidak menghalangi untuk bersikap lebih detail. Overall bagus, menuai beberapa tanya.
Siapakah generasi milenial di Indonesia? Buku ini menjawabnya dengan argumen: pertanyaan itu keliru. Tidak ada generasi milenial di Indonesia; yang ada adalah generasi phi (π).
Menurut Faisal, "milenial" adalah klasifikasi yang secara lokal dibuat berdasarkan pengalaman Amerika Serikat (lahir 1982-2004), yang menjadi satu klasifikasi dalam lintasan generasi yang dibentuk berdasarkan pengalaman unik sosial-politik di sana (baby boomer sebagai generasi pasca-perang, dst). Klasifikasi itu tidak bisa serta-merta diterapkan di Indonesia, karena pengalaman sosial-politik di Indonesia mengalami trajektori berbeda - Revolusi Pemuda, kemerdekaan, Orde Baru, hingga Reformasi. Generasi phi, papar Faisal, adalah generasi yang dibentuk dalam gejolak transisi Orde Baru ke Reformasi; mereka lahir di rentang tahun 1989-2000.
Pokok ini adalah argumentasi utama buku ini. Faisal menentang klasifikasi latah "milenial" yang sayangnya jamak diadopsi mentah-mentah oleh baik pengiklan maupun pembuat kebijakan. Ini mengingatkan saya dengan kritik Jakarta Post (2019) terhadap istilah milenial yang bias-urban dan penelitian saya sendiri (akan terbit) dari pengalaman anak muda di Pulau Seram, Maluku.
Faisal berupaya mendedah karakteristik generasi phi dalam paparannya sepanjang buku ini. Beberapa simpulan yang saya tangkap dari karakterisasi Faisal mengenai generasi phi adalah: mereka anti-mainstream, teralienasi, berkiblat pada passion, berciri lokal/kedaerahan (tidak lagi Jakarta-sentris), ingin tampil unik tetapi di saat bersamaan juga berorientasi pada komunitas dan gemar nongkrong, dan--yang menarik--ada keinginan kuat untuk membuktikan prestasinya atau baktinya kepada orang tua.
Yang cukup berbeda dari banyak karya yang meneliti generasi muda adalah metode Faisal. Selain survei, FGD, dan wawancara, Faisal juga menerapkan partisipasi-observasi (disebut etnografi dalam buku ini). Menurut Faisal (hlm.164-172), generasi phi cenderung memberikan jawaban normatif jika mereka tak mengenal baik peneliti, sehingga menyebabkan banyak penelitian sebelumnya meleset dalam membaca pola perilaku generasi ini. Sebab itu yang perlu dilakukan adalah membangun kepercayaan mereka melalui partisipasi-observasi. Dari situlah baru terbuka pandangan mereka seutuhnya.
Ada satu pokok yang menggelitik saya di buku ini. Generasi phi dalam buku ini dicirikan sebagai sosok yang mengalami gejolak transisi hebat: proses politik Reformasi dan kemutakhiran teknologi, yang menciptakan mereka sebagai generasi yang menekankan ciri individual (tapi tidak individualis) yang kolektif. Dalam penjabaran ini, Faisal berargumen bahwa ciri ini menjadikan mereka sebagai pengambil aspirasi dan pembuat inspirasi alias trendsetter (hlm. 70-74), menghargai sifat kedaerahan dan membangun komunitas (hlm.134-139), dan berusaha mengadopsi kearifan lokal (hlm. 200-206).
Pertanyaan yang menarik bagi saya: apakah ini digambarkan sebagai ciri inheren generasi phi, atau besar juga faktor dari proses sosial-politik tersebut? Faisal mengedepankan Reformasi sebagai turning point, tetapi barangkali akan semakin menarik jika dibahas juga kebijakan pemerintah maupun neoliberalisme dalam membentuk orientasi generasi phi ini. Misalnya, apakah politics of heritage yang menggebu-gebu khususnya sejak masa SBY membangun orientasi generasi phi terhadap kearifan lokalnya?
Satu argumen lain yang jadi pokok penting buku ini adalah: tren generasi bersifat cyclical. Menurut Faisal, setelah generasi phi, kita akan menyaksikan kelahiran kembali generasi pencetus bangsa (generasi alpha α, direpresentasikan Soekarno, dkk) dengan "semangat kebangsaan dan ideologi yang sama [dengan pencetus bangsa], namun diaplikasikan dengan cara-cara yang lebih modern." (hlm. 230) Saya tidak tahu kedalaman analitis seperti ini, karena firasat saya sepertinya ini bisa menjebak kita ke dalam reifikasi tipologi generasi (alih-alih melihat generasi sebagai sesuatu yang unik).
Selain itu, barangkali dalam memaparkan datanya bisa menjadi lebih menggugah bila disebutkan dalam bentuk kalimat langsung atau kutipan. Sehingga pembaca ikut merasakan kedalaman insight yang dirasakan dalam penelitian. Banyak data yang dipaparkan di sini dalam bentuk kalimat tidak langsung, atau lebih banyak merupakan kesimpulan peneliti dalam menginterpretasikan data.
Terlepas dari itu, buku ini sangat padat dan menarik, dan saya cukup yakin bisa memantik banyak diskusi dan perdebatan dalam pertanyaan besar mengenai cara kita memahami anak muda di Indonesia.
Mengenal setiap generasi perlu dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dari generasi senior. Alasan tersebut menjadi salah satu motivasi penulis untuk memperkenalkan generasi phi, sebuah generasi yang mencakup pemuda kelahiran sekitar 1989-2000. Generasi yang diprediksi akan menjadi pengubah melalui kreativitasnya.
Penemuan penulis dari riset-risetnya, bagi saya, termasuk mengejutkan. Sangkaanku, tentang pemuda saat ini (generasi phi) yang mudah terbawa arus, maniak gadjet, dan terkesan borjuis, disanggah hasil riset yang memperlihatkan banyaknya sisi positif yang sering disalahartikan oleh generasi sebelumnya.
Gebrakan sejarah, melalui gerakan reformasi 1998, sangat mempengaruhi karakter generasi phi. Perubahan zaman dari "terkekang" menjadi bebas membuat pemuda era sekarang lebih bebas beraksi dibanding generasi beta (kelahiran 80-90) yang agak terbatasi.
Salah satu yang penemuan menarik yang disampaikan penulis terkait meningkatnya dunia online di lingkup generasi phi, adalah meski era digital di negara lain memperlihatkan semakin meningkatnya sifat indivialistis, ternyata malah berbeda dengan di Indonesia. Pemaparan penulis melalui riset lapangan memperlihatkan sifat dominan pada generasi phi adalah komunal. Hadirnya teknologi #internet menggiring mereka untuk menemukan komunitas-komunitas yang mendukung passion generasi phi.
Sifat komunal inilah kemudian dijelaskan lebih dalam melalui bab filosofi nongkrong, aktivitas yang ternyata menjadi salah satu perantara generasi phi untuk menemukan kreativitasnya. Namun, sisi lemah dari karakter ini adalah kurang mampunya generasi phi untuk PeDe berdiri sendiri.
Beberapa karakter lain juga dituturkan penulis seperti karakter desentralisasi, anti mainstream, dan kemampuan adaptasi yang lebih mudah dibanding generasi-generasi sebelumnya. Semua disampaikan dengan dukungan riset lapangan serta perbandingan kondisi remaja indonesia dan luar negeri.
Tidak sekadar menyampaikan hasil riset, mendekati akhir buku, penulis memberi gambaran metodologi riset yang digunakan. Hal yang selalu digarisbawahi adalah penelitian pemuda di Indonesia tidak dapat disamakan dengan negara lain karena heterogenitas yang sangat komplek.
Pembahasan paling menarik, buatku, adalah saat menyinggung kelompok lower tier yang kerap disebut #generasi 4L4Y. Generasi yang sering dipandang sebelah mata, bahkan diejek ini, menurut penulis memiliki potensi menjadi #youthculture yang unik
Setelah membaca buku ini, saya berharap penulis mau membahas lebih dalam tentang generasi neo-alpha, yang kemungkinan akan dijalani anak-anak saya
Generasi phi adalah mereka yang lahir antara tahun 1989 - 2000 (walah, nggak masuk dong saya wkwkwk). Anak muda dari generasi inilah yg digadang gadang akan menjadi penerus sekaligus yang akan membawa Indonesia kepada kemajuan. Hal ini mengingat pada tahun 2030 sampai 2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yakni ketika jumlah penduduk usia muda lebih banyak dari usia lainnya. Disinyalir jumlahnua mencapai 40% dari total penduduk.
Disebut bonus karena dgn banyaknya penduduk usia produktif tentu diharapkan produktivitas pun meningkat. Kemajuan berjalan cepat, dan negara bergerak dgn penuh semangat sebagaimana anak anak muda yang menjalankannya. Namun, jumlah besar jika tidak diimbangi dengan kualitas juga kurang maksimal hasilnya. Di buku ini, penulis yang juga seorang peneliti mengungkapkan berbagai pandangan dan hasil penelitiannya terkait penduduk usia muda dari generasi phi ini.
Apa itu generasi phi? Rupanya ini adalah penggolongan yang dibuat penulis untuk membagi bagi generasi ke dalam empat masa. Jika kita mengenal generasi Milenial, penulis membaginya menjadi dua yakni generasi theta dan phi. Theta adalah kita eh kita yg lahir tahun 1980an. Generasi pertama adalah Alfa yg lahir di era perjuangan kemerdekaan, sementara generasi Beta lahir selepas kemerdekaan Indonesia. Dengan demikian, kurun masa dan peristiwa sosial politik yang melingkupinya menjadi dasar pembagian generasi ini.
Kembali ke generasi phi yang saat ini merupakan pangsa pasar terbesar, buku ini menjelaskan aneka ciri dan karakter khas dari generasi phi. Ini tentu sangat berguna bagi perusahaan atau produsen atau tokoh politik atau guru dan orang tua dalam menentukan bagaimana cara terbaik untuk bisa nimbrung dan kemudian memaksimalkan potensi generasi phi yg sangat besar. Untuk pembaca generasi phi, buku ini penting untuk mengenali diri lebih dalam sekaligus membandingkan kondisi terkini dengan kondisi generasi terdahulu sehingga masing masing bisa menjadi sinergi dalam memajukan Indonesia.
Isi dan tema buku ini menarik. Penulis meragumenkan bagaimana pemuda di Indonesia mempunyai cara berpikir dan roots yang berbeda dengan generasi di negara barat. Namun ada 2 point yang juga perlu diperhatikan.
1) beberapa penelitian yang dilakukan penulis dilakukan beberapa tahun sebelum terbitnya buku, dan beberapa data tampak outdated. Memang agak sulit menuliskan fenomena yang terjadi sebegitu cepat.
Saya rasa lebih menarik bila penulis menjabarkan lebih lanjut zeitgeist (semangat jaman) setiap generasi yang penulis tuliskan disini, dibanding generasi phi itu sendiri. Karena generasi baru berubah terlalu cepat. Sebagai contoh penulis tidak menjabar dengan detil dampak social media ke anak muda, padahal anak muda Indonesia adalah salah satu yang paling mengikuti tren social media.
Memang betul social media terlalu cepat berkembangnya, tapi bagaimana mereka melihat social media saya rasa bisa didetilkan lagi. Ada beberapa keyword di buku yang hampir menyentuh soal itu. Salah satunya generasi phi condong berperan sebagai kurator daripada kreator. Alangkah lebih menariknya jika hal seperti dibahas karena akan berguna bagi banyak digital marketeers.
2) tata bahasa dan cara menulis penulis disini agak kurang asyik. Ada beberapa informasi yang dituliskan berulang-ulang sehingga membosankan. Mungkin ini kesalahan editor atau bagaimana, saya kurang paham. Tapi cara bertutur buku ini jadi kurang enak untuk dibaca, mau sok muda gak dapat, mau serius juga nanggung. Padahal kalau dirapihkan buku seperti bisa menjadi salah satu referensi pop psikologi yang mengasyikan. Saya merekomendasikan pengarang seperti Malcolm Gladwell yang menulis dengan data yang komperehensif dan cara menulis yang mengasyikan untuk dibaca.
Pernahkah anda merasa bingung dengan sikap, perilaku, dan pemikiran anak-anak zaman now?
Jika iya, saya sarankan untuk membaca buku ini. Buku ini disusun berdasarkan riset yang dilakukan oleh Youthlab pada berbagai kalangan anak muda. Bukan cuma di daerah perkotaan namun hingga ke daerah-daerah rural.
Dibagian awal buku ini, penulis membubuhkan kutipan menarik. "Teman-teman akan saya ajak untuk menelusuri dimensi baru dari generasi muda Indonesia yang belum pernah dikaji dan diulas sebelumnya di manapun." Kalimat ini merangsang ketertarikan untuk membalik halaman selanjutnya. Dan benar saja, anda akan menemukan hal-hal baru yang dituangkan berdasarkan hasil riset. Terkadang gap antar generasi menimbulkan miskomunikasi dan mispersepsi. Nah, Buku ini sangat cocok untuk memandu anda memahami generasi zaman now dengan segala kompleksitasnya.
Saya sangat terkesan dengan buku ini karena mampu meramu hasil penelitian namun dengan kata-kata yang ringan. Sehingga pembaca seperti membaca jurnal tanpa perlu mengerutkan kening. 😁😁 Lembaran-lembaran yang ditulis oleh Dr. Muhammad Faisal selaku pendiri Youthlab ini bisa jadi teman #ngabuburead bergizi. Bisa menambah nutrisi otak sembari menanti pemenuhan nutrisi tubuh.
- Ulasan Faisal memberikan kedalaman wawasan tentang generasi millennial Indonesia. - Perbedaan generasi menciptakan gap dan seringkali terjadi mispersepsi dan miskomunikasi. - Penulis, berdasarkan penelitiannya selama satu dekade, mengajak kita untuk memahami generasi millennial melalui pengelompokan generasi khas Indonesia. - Memahami generasi millennial akan mengurangi gap antar generasi dan mempersiapkan generasi berikutnya dengan tepat.
Sebagai seorang peniliti pasar, buku ini tidak hanya menarik dan penuh wawasan, tapi juga dapat dijadikan landasan ilmiah yang cukup ciamik. Dewasa ini, Saya jauh lebih objektif melihat perilaku sekeliling dan Saya sendiri sebagai pemuda. Lebih lanjut, Saya berharap lebih banyak buku seperti ini di pasar Indonesia. Karena ada kemungkinan kita hanya perlu "nongkrong" untuk tau lebih banyak tentang fenomena masyarakat Nusantara.
Sebenernya baca buku ini, karena mau tahu karakter generasi muda sekarang. Biar ngerti generasi bocah-bocah itu gimana. Tapi ternyata, buku ini menarik banget. Walaupun generasi bocah gak banyak dibahas, tapi ini terkait banget sama kerjaan yang mulai banyak menyasar anak muda. Bahasa enak banget dipahami dan cukup cepet juga nyelesein bacanya untuk kategori non fiksi.
Beruntung banget baca buku ini sebelum baca buku-buku lainnya yg bahas tentang generasi. Bener-bener jadi pembuka yg apik dan tepat untuk menggambarkan pemuda Indonesia dari generasi ke generasi
Mungkin karena rentang umur saya berada pada generasi phi, topik yang dibahas di buku ini, makanya saya merasa buku ini sangat menarik.
Terlepas dari itu, poin poin yang disampaikan sebenarnya tak hanya fokus pada titik generasi phi, namun juga membahas tentang hubungan generasi phi pada generasi tua dan mudanya.
Bahasa yang digunakan juga sangat mengalir, sehingga berhasil membuat saya menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk.