Jadi, maukah kau melukaiku sekali lagi tetapi tidak sepedih sebelumnya?
Pengantar:
MENULISKAN MALAM, MENUNTASKAN HARU
Memahami puisi itu sulit. Menulisnya jauh lebih sulit lagi.
Puisi bukan perkara rima, bukan cuma kata-kata yang indah, atau sekadar metafora. Puisi adalah sakit hati, rindu, cinta, amarah, rasa takut, kekalutan, kehilangan, kehidupan, kematian, dan segala sesuatu setelah itu.
Satu kata dapat menjatuhkan air mata. Satu kalimat bisa membuat tenggorokan tercekat. Menulis dengan hati sungguh menguras emosi. Dan orang-orang yang memahami puisi pasti bisa merasakan hal ini.
Puisi adalah jiwa. Puisi adalah rasa. Dan rasaku sederhana: cinta benci dendam rindu sakit hati. Sesederhana puisi-puisi dalam buku ini.
Berbeda dengan beberapa buku puisi bahasa inggrisnya, puisi ini lebih menonjolkan kegelapan, dendam, sakit hati-hati, dan penyakit hati lainnya.
Hasil fotografi yang diselipkan dalam buku puisi ini memang keren tapi bagiku terlalu seram. Dan ada juga yang terlalu vulgar.
Membaca puisi ini saya jadi ingat kenangan di tahun 2018 saat mengikuti lomba cipta puisi, kata mentor saya saat itu, puisi saya bahasanya terlalu polos, harus dibuat lebih nakal, well saat itu saya bahkan diberikan dua buah puisi yang juara tahun sebelumnya, bahasanya memang vulgar tapi saya sama sekali tidak bisa mengikuti jejak itu, karena mungkin kurangnya referensi puisi yang bahasanya demikian, hingga saya menemukan ini, saya merasa aneh saat membacanya, tapi saya tetap melanjutkan, seolah bukan itu pesan yang ingin penulis sampaikan.
Syukurlah, saya bisa menyelesaikan buku puisi yang memang tipis ini tanpa harus mengernyit lagi saat membaca kata-katanya yang tidak biasa bagi saya.
Awalnya saya bingung dengan judulnya saat saya masih membaca dalam separuh buku.
Judulnya, "Pada Suatu Hari Saat Aku Tidak Mencintaimu Lagi"
Namun isinya seperti kebalikan dari judulnya. Karena bercerita tentang sosok yang ditinggal kekasihnya, atau sosok lain yang terlibat kisah singkat namun terlanjur menyelaminya dan tenggelam.
Apakah judul buku ini adalah harapan para sosok bahwa 'aku ingin berada pada suatu hari saat aku tidak mencintaimu lagi'. Atau judul buku ini adalah sebuah topeng dari hati yang merana namun tak ingin terlihat keadaan sebenarnya. Hmm...
Beberapa puisi 18+ memang saya kurang bisa menyelaminya. Entah saya yang terlalu polos. Atau puisinya yang terlalu vulgar. Selain itu, kata-kata dalam puisinya cukup mengena di hati.
Cinta adalah menunggu tanpa kepastian yang membuat diriku setengah ragu namun kau akhirnya datang setelah aku begitu lama menunggu dan menunggu bahkan hampir bosan menunggu dan kau tiba-tiba muncul menyeruak di antara kerumunan orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa memedulikan yang lain seolah dunia hanya berputar untuk mereka dan mereka saja dan di antara begitu banyak orang-orang yang lalu lalang aku bisa mengenalimu hanya dalam sepersekian detik mataku mampu memilahmu dari keramaian seakan ada cahaya terang yang berpendar dari dalam tubuhmu dan menjadi suar bagi diriku ah indahnya pemandangan itu: kau berjalan ke arahku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku puisi ini termasuk kontemporer dan bisa dibilang setipe sama puisi-puisi Lang Leav atau Rupi Kaur yang cenderung tidak memperhatikan rima atau bunyian di belakangnya.. buku ini mengambil tentang tema percintaan dan sakit hati
Saya salah satu penikmat buku puisi yang melihat dari pernukaannya berbeda dengan puisi Eyang Sapardi Djoko Damono yang menurut saya perlu pemahaman lebih dalam untuk mengartikan setiap larik di puisinya.. kalau buku puisi ini termasuk yang dibaca sekali duduk akan selesai >_<
Di dada itu, Sayang aku ingin mengulang kepedihan-kepedihan yang tak pernah terbayangkan
Puisi di buku ini selayaknya luka. Diawal terasa biasa saja namun semakin lama luka itu menjelma kepedihan yang tak tergambarkan. Segala hal digunakan untuk mengalihkan kepedihan itu, air mata, amarah, dendam dan kenangan-kenangan yang terdiri atas cinta, kehilangan sampai berahi dan erotika. Namun, kenangan ternyata lebih pedih dari kehilangan dan kehilangan tidak lebih pedih daripada luka yang telah berubah menjadi penderitaan. Dia tetap saja merindu. Perih yang begitu panjang. Sendirian
1. Harusnya judulnya "Pada Suatu Hari KAU Tidak MencintaiKU Lagi" 2. Foto-foto bonekanya creepy 3. Readers, ini bukan puisi cinta, ini cuma kumpulan tulisan tentang kesangean dan kerinduan ML sama mantan 4. Mas Adi K lebih cakep nulis dalam bahasa Inggris saja
rindu, cium, cinta, berahi, pagi, malam. kata yg byk muncul d buku puisi ini. baca cepat aja sih buku ini, krna isinya terlalu dangkal, cendrung membosankan. untung baca gratis d ipusnas.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Suka bangetttt 🖤🖤🖤 Membaca kumpulan puisi ini, my dark-depressed soul meronta-ronta... I can feel every pain in every poem I read. This is mental!! Damagenya ga ngotak wkwk
puisinya terlihat vulgar tapi ini mungkin sama seperti band Cigarettes aftes sex yang liriknya erotis tapi itu menunjukkan bahwa dia bergitu tulus pada pasangan yang tidak ia miliki lagi
I like this book. Another review said the dolls pictures is creepy but I think it's artistic. This genre is not for everybody, but I like the vulgar poems & the rest of it.