Continuum 4/5 ⭐️ #sofiawritesreview (Sastra, Ilustrasi)
Sama dengan pertemuan, perpisahan juga bagian dari kehidupan yang tak terelakkan. Kita bisa sangat bersyukur atas pertemuan-pertemuan yang membahagiakan dan tak jarang kita mengutuk pertemuan yang berujung pada hal-hal yang membuat kita menyesalinya. Tidak berbeda jauh dengan perpisahan. Ada perpisahan yang tidak diharapkan, namun ada pula perpisahan yang sangat diinginkan agar segera terjadi.
Continuum menghadirkan gabungan cerita puitis dengan ilustrasi cat air tentang satu sosok anak bernama Tom yang ingin menemukan ayahnya. Tom sendiri tidak tahu banyak mengenai sang ayah kecuali dari kardus berisi barang-barang ayahnya yang dia temukan di loteng. Sepertinya sang ayah merupakan seorang astronot yang belum jelas di mana keberadaannya. Satu-satunya petunjuk berasal dari keterangan ibu, bahwa sang ayah ada di langit. Tom kemudian berharap untuk mencari keberadaan ayahnya tersebut.
Mau tidak mau aku menghubungkan kisah Tom ini dengan salah satu permasalahan keluarga yang cukup banyak terjadi, yaitu ketidakhadiran pihak orang tua (salah satu atau keduanya). Bukan hanya ketidakhadiran secara lahir, akan tetapi banyak juga permasalahan keluarga berasal dari ketidakhadiran peran orang tua secara batin untuk mengisi batin si anak. Kedua permasalahan itu banyak menjadi sumber masalah dalam keluarga yang akan berakibat pada kehidupan si anak kelak.
Selain kisah Tom, ada juga kisah beberapa tokoh lain yang terbagi menjadi dua, The Imaginary Club dan The Reality Club. Kedua bagian tersebut sepertinya menggambarkan dua kehidupan Tom, satu yang imaginer dan satunya lagi yang nyata. Dari karakter-karakter tersebut dituturkan kisah Tom selanjutnya. Ini tebakan sok tahuku saja sebenarnya, karena aku merasa belum sepenuhnya berhasil memecahkan kode-kode yang disuguhkan penulisnya, khususnya di bagian sosok perempuan dewasa yang ada di antara anak-anak dalam buku ini. Aku fokus pada apa yang terjadi pada Tom yang kisahnya terinspirasi dari lagu Space Oddity - David Bowie. Bagian Tom mengingatkanku pada kisah Pepper dan Salva di Di Tanah Lada 😭. Meski aku nggak sepenuhnya paham, tapi aku mendapatkan pengalaman membaca yang selalu seru, berkesan dan bikin otak cenat-cenut (dalam arti baik) dari karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.
Oiya, buku ini menurutku bukan buku bacaan anak-anak sekalipun ceritanya soal anak-anak, melainkan sastra dalam bentuk puisi naratif atau narasi yang puitis(?). Aku kira Semua Ikan Di Langit adalah buku yang paling sulit aku cerna tanpa perenungan panjang setelahnya, kali ini Continuum menggeser posisinya sebagai buku indah, rumit dan mindblowing. Setelah ini, aku pun masih akan mencoba untuk lebih memahaminya.