Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ramadhan di Priangan

Rate this book
Kumpulan artikel Haryoto Kunto dari harian Pikiran Rakyat yang mengungkap dongeng dan kisah lama seputar penyelenggaraan ibadah puasa di Tatar Priangan tempo dulu. Ramadhan di Priangan merangkum cerita Mesjid Agung Bandung; cerita tentang tradisi penduduk Priangan menjalankan ibadah puasa, yang diawali dengan acara botram, mandi keramas, makan sahur, ngabuburit, buka puasa, tarawih ke mesjid, menyambut malam likuran, ngabungbang, bayar zakat fitrah; serta shalat Idul Fitri yang dilanjutkan dengan makan kupat, berkunjung ke rumah kerabat dan para sepuh yang dihormati.

114 pages, Paperback

First published January 1, 1996

9 people are currently reading
87 people want to read

About the author

Haryoto Kunto

10 books27 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
26 (55%)
4 stars
18 (38%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
1 (2%)
1 star
2 (4%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Hani.
25 reviews2 followers
April 24, 2020
Salah satu buku yang memberikan gambaran mengenai bagaimana warga Kabupaten Bandung menyambut Bulan Suci Ramadhan. Haryoto Kunto dikenal sebagai kuncen Kota Bandung. Cukup banyak buku yang ditulis oleh beliau yang menceritakan Kota bandung tempo doeloe. Namun pada buku Ramadhan di Priangan ini, beliau hanya mengangkat cara warga menyambut ramadhan di Bandung.
Dimulai dari awal Ramadhan, masyarakat Bandung mengawalinya dengan melakukan munggahan yaitu kegiatan berkumpul dengan keluarga dan diikuti dengan berziarah ke makam keluarga. Kegiatan munggahan ini masih dapat dijumpai dalam kehidupan modern masyarakat Bandung.
Banyak hal yang dapat dilakukan masyarakat Kota Bandung dalam mengisi waktu menunggu buka puasa. Anak-anak yang tinggal di sekitar Ci Kapayang akan membuat perahu dari pelepah buah damar yang kemudian akan dihayutkan di Ci Kapayang yang berdekatkan dengan Kantor Walikota Bandung. Adapula yang melakukan ngabuburit dengan cara mengajak anak kecil menonton di sekitar kawasan alun-alun.
Hal lain yang diceritakan Haryoto Kunto dalam buku ini adalah peran Mesjid Raya Bandung dalam Bulan Ramadhan. Tidak hanya sebagai penanda waktu masuknya imsyak ataupun berbuka, masjid juga berperan sebagai tempat warga Kota Bandung mengumpulkan zakat fitrah dan zakat mall.
Buku ini lebih menghimpun sejarah-sejarah kecil dari sudut pandang orang biasa yang hidup pada zaman tersebut.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
May 28, 2018
Judul lebih tepatnya Ramadhan di Bandung. Sebagai referensi utama Komunitas Aleut, ini buku pertamanya Haryoto Kunto yg saya selesaikan. Tentang fragmen-fragmen selama memasuki Ramadan, aktivitas di bulan ini, dan sampai fenomena lebaran. Zen RS pernah bikin esai soal buku ini, dan komentar menariknya adalah bahwa Ramadan bukan cuma milik muslim, melainkan sudah jadi fenomena kultural.
22 reviews16 followers
December 26, 2021
Di tahun 1910-an, suara bedug dan kohkol di Mesjid Agung Bandung masih terdengar hingga daerah Dago. Saya jadi membayangkan bagaimana suasana tenang begitu menyelimuti salah satu daerah Priangan itu. Sekarang mah boro-boro. Suara pengeras modern tidak mampu menjangkau radius hingga berkilometer, ya, karena terdistorsi kebisingan yang luar biasa.
1 review
February 19, 2019
Buku bagus mengenang,,,
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
September 11, 2013
Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.

Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.


Selain itu, dalam buku ini akan kita baca cerita tentang suasan Bandung di bulan Ramadhan. Saat dimana malam-malam Ramadhan setiap rumah menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka serta menyalakan obor untuk menerangi jalan dan lorong yang gelap. Padahal saat itu aliran listrik belum ada. Jalanan di malam hari masih gelap. Maka pada bulan Ramadhan jalan-jalan di Bandung menjadi terang oleh lampu-lampu yang dinyalakan oleh warga.

Warga Bandung juga menyambut Ramadhan dengan mengecat atau mengapur ulang dinding-dinding rumah. Membuat lampion-lampion dan saling bersaing dengan tetangga mengenai keindahan dan kehebatan lampion masing-masing. Sayang keriuhan macam ini tidak akan lagi dijumpai di masa kini.

Selain itu dengan membaca buku ini kita akan lebih banyak tahu mengenai sejarah Mesjid Agung Bandung dan wilayah sekitar alun-alun Bandung. Mesjid Agung Bandung memiliki catatan sejarah yang panjang dengan 7 kali renovasi yang mengubah bentuk Masjid Agung Bandung menjadi seperti sekarang. Selain itu diceritakan pula mengenai alun-alun yang sejak dulu menjadi pusat kegiatan masyarakat. Alun-alun menjadi salah satu tujuan ngabuburit warga Bandung dengan berbagai jajanan yang dijajakan penjual.

Dalam buku ini juga tersebar berbagai info terkait jajanan tempo doeloe (perlu klarifikasi ulang sih, sebab kemungkinan besar semua jajanan itu sudah hilang atau pindah tempat). Informasi ini disisipkan pada beberapa bagian. Sempat disebut-sebut tentang soto “cipati” Abah Encim di Pasar baru, soto “Oranje” di Cibadak, dan soto di warung kecil tersembunyi di Jl. Pasundan. Informasi seperti ini mungkin menarik untuk dijelajahi ulang, mengetahui nasib makanan-makanan ini.

Membaca buku ini kita bisa tersenyum-senyum sendiri membaca polah anak-anak yang ikut meramaikan masjid di bulan Ramadhan. Kenakalannya jelas berbeda dengan kenakalan anak sekarang. Yah mereka bukan nakal hanya banyak akal..ha..ha.. (korban iklan) (^_^)v

Bagaimana tidak tertawa kalau kita akan membaca tentang anak-anak yang sukses bikin imam masjid meliuk-liuk kegelian karena ditusuk lidi oleh mereka dari celah bambu. Atau cerita anak-anak yang menukar pasangan sandal di masjid sehingga membuat tidak sedikit orang gagal menahan marah karena mengeluarkan sumpah serapah.

Oiya, pasti menyenangkan kalau menu buka puasa yang tersedia di masjid adalah nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya seperti yang diceritakan dalam BAB Sidekah dan Bayar Zakat (seketika membayangkan d(^_^)b Banyak kemeriahan bulan Ramadhan yang kini telah padam ditelan waktu. Hanya bisa dibayangkan saja. (tapi di kampung saya di Majene, Sulawesi Barat pawai masih diadakan tapi tidak dengan mengusung makanan tapi mengusung berbagai bentuk hiasan yang dibuat dari kertas minyak warna warni sambil bertakbir. Hal ini mungkin tidak akan ditemukan di kota-kota besar dengan jumlah mall yang banyak karena sebagian besar orang akan berdesakan di mall untuk mencari baju lebaran)

Gaya penceritaan Haryoto Kunto memang terkesan ringan sehingga menyenangkan untuk dibaca. Sejarah tidak harus menjadi hal yang membosankan dan serius. Namun meskipun ringan, tulisan Haryoto Kunto pun sangat informatif. Selain itu di dalam buku ini juga ditampilkan foto-foto yang menggambarkan kondisi Bandung tempo doeloe.
Profile Image for Fachri Reza.
12 reviews5 followers
December 10, 2011
mengenang suasana ramadhan yang ga akan pernah kita rasakan lagi *atau mungkin belum pernah?? =P*
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.