Woho….. terima kasih Yasmin sudah merekomendasikan buku I am My Own Home and Others Essays karyanya Isyana Artharini. Alhamdulillah, akhirnya beres juga buku ini. Sebenarnya pengen beli buku fisik waktu itu, namun karena kebelet baca maka beli di google play books saja terus baca di tab dan ternyata nyaman juga baca disana, gedhe kan layarnya dibanding kindle, namun yha tidak ramah mata zizizi.
Buku ini mau direview kagak ya… satu sisi takut spoiler, satu sisi ingin memuntahkan pikiran setelah baca buku. Silahkan stop sampai disini jika teman2 tidak berkenan untuk membaca spoiler. Jika berkenan, monggo lanjut.
Langsung taktungtaraktakjes saja, bahwa garis besar buku ini tentang ‘kesendirian’ menjalani hidup sebagai wanita lajang berumur > 30 tahun. Meski aku nggak relate karena aku masih muda (haha), plus aku juga nggak relate karena aku sudah menikah namun ternyata aku bisa diajak turut serta dalam kehidupan cerita non fiksi ini. Aku suka banget bagaimana kegamangan yang ada, kayak yang ooo…. ternyata perihal terkunci di kamar mandi dalam apartemen sendiri bisa sedramatis itu. Kalau sakit dan sendiri ternyata kok sesedih itu.
Bagian awal aku suka banget dimana dia ketemu sineas filem yang suka fafifu terus sempat hidup bareng yang ternyata berakhir. Part paling suka dimana dia ngumpat bastard pas si lakik ternyata mencet pasta gigi dari tengah, aku ngakak poll.
Lalu aku mungkin agak gemes dengan beberapa part di tengah tentang jalan2 yang kadang terlalu cepat alurnya atau dan tidak jelas terus pas dia suka ngutip atau teringat quote di buku (yang ini sering banget) dimana ada bagian yang menurutku harusnya tidak perlu. Ini bagian tengah yang cukup membosankan si.
Berlanjut ke bagian akhir, favoritku dimana ia tinggal bareng sama H, seorang yang under privilese dimana mereka suka masak bareng, bertukar pikiran dan bertengkar. Menyenangkan sekali baca tulisan bagian ini.
Part fandom sampai ke Amsterdam bikin hah kok bisa seh. Tapi, aku juga agak relate sedikit. Misalnya aku ngumpulin foto2 F4 pada zamannya beli di abang2 depan sekolah pas masih SD. Meski ya agak jauh juga “modalnya” dibanding mbak Artharini yang ke Amsterdam dari Jakarta buat nonton konser.
Part terakhir itu judul buku ini diambil. Esay terakhir tentang bagaimana memiliki rumah atau umur segini apa harus punya rumah (daripada buat beli barang aneh2 atau nonton konser) dan bagaimana dia berusaha punya rumah dan tetek bengeknya, nelpon developer, juga bagian bank. Aku suka bagian menjadi dewasa ini. Hahaha…. relate sekali karena ya pasti sama2 mikir apakah perlu beli rumah dengan kenaikan harga properti tiap waktu. Juga memang apa salahnya punya rumah, kalau tidak dipaksakan kapan bisa punyanya? Gitu. Juga konsep bahwa apakah punya rumah bakal tetap disitu2 aja, padahal ada orang yang punya rumah tetap aja bisa jalan2 kemana2 dan ya misal rumahnya disewain.
Overall 4/5