Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mata #1

Mata di Tanah Melus

Rate this book
Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu lebat, juga tak benar-benar hijau. Hijau yang kering dan lesu, namun justru terlihat ramah dan tak menakutkan untukku.

Perjalanan ke salah satu wilayah terluar Indonesia mengantarkan Matara, gadis berusia dua belas tahun, pada petualangan menakjubkan yang belum pernah ia bayangkan. Dunia yang serbaganjil pun menjadi sebuah kenyataan baru untuknya.

192 pages, Paperback

First published January 22, 2018

81 people are currently reading
707 people want to read

About the author

Okky Madasari

23 books447 followers
Okky Madasari is an Indonesian novelist. She is well-known for her social criticism with her fiction highlighting social issues, such as injustice and discrimination, and above all, about humanity. In academic field, her main interest is on literature, censorship and freedom of expression, and sociology of knowledge.

Since 2010 Okky has published 10 books, comprising of five novels, one short-story collection, three children’s novels and one non-fiction book. Her newest book (2019) is Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan or “Genealogy of Indonesian Literature: Capitalism, Islam and Critical Literature”, which is published online and can be freely downloaded from her website www.okkymadasari.net. Okky’s novels have been translated into English, Germany and Arabic.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
228 (25%)
4 stars
423 (47%)
3 stars
224 (25%)
2 stars
12 (1%)
1 star
8 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 244 reviews
Profile Image for Itsmidnightblue.
46 reviews1 follower
June 30, 2022
Ceritanya bagus, saya suka sekali!
Kutipan dari buku ini yang saya suka:

Seperti yang pernah aku bilang, orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana. Anehnya, mereka selalu berpura-pura tahu segalanya. -Okky Madasari, Mata di Tanah Melus
Profile Image for ijul (yuliyono).
815 reviews971 followers
February 5, 2018
mencoba membaca karya Okky Madasari, judulnya. karena dari awal sudah dideklarasikan sebagai 'buku anak-anak', jadi mungkin mau ngasih tahu bahwa di buku ini Okky enggak bakal mengangkat isu sosial yang perlu diperdebatkan dengan sengit. premisnya: tentang asal-usul dan legenda Melus di Tanah Belu, ya.

selintas, kupikir ini based on kehidupan pribadi penulis dan anaknya. i dunno, sih, beneran apa enggak. menarik, cenderung biasa, berunsur fantasi, dan serbacepat-selesainya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
February 2, 2018
Matara sangat menyukai kisah yang sering diceritakan oleh neneknya. Kisah itu adalah pengalamn pribadi sang nenek, ketika gerhana matahari datang dan dia berada di tengah-tengah para raksasa pemakan matahari. Entah benar atau tidak, Matara merasa cerita penuh petualangan itu mengesankan. Dia ingin memiliki kisah sendiri yang mirip dengan itu.

Mama dan Papa Mata berprofesi sebagai penulis. Mamanya penulis buku cerita orang dewasa, sementara Papanya adalah jurnalis di sebuah media massa. Mamanya selalu hidup dalam dunianya sendiri, sibuk dengan kisah-kisah yang akan ditulisnya. Mata tumbuh dengan cerita anak-anak yang dijejalkan padanya. Suatu hari suasana di rumah lebih sering dipenuhi pertengkaran antara Mama dan Papa. Hingga akhirnya Mama mengajak Mata pergi ke suatu tempat yang sangat jauh.

Tempat itu bernama Belu, sebuah kabupaten di NTT dengan ibu kota bernama Atambua. Mereka dijemput di bandara oleh seorang penduduk lokal. Sayangnya, di tengah perjalanan mobil mereka menabrak seekor sapi sampai mati. Mama harus mengganti kerugian sebesar dua puluh juta pada pemilik sapi. Setiap Mata tertidur dia selalu bermimpi didatangi sapi-sapi yang mengejar-ngejarnya. Menurut penduduk di situ, itu karena Mama dan Mata belum minta izin untuk masuk ke Belu. Mereka harus melakukan upacara supaya terhindar dari bahaya.

Pertama kali mendengar bahwa Okky akan menulis cerita anak, saya sudah excited. Okky yang terkenal dengan novel-novel bernafaskan kondisi sosial kali ini menulis sebuah cerita yang bisa dibaca oleh anak-anak. Dengan Mata, seorang anak kecil yang baru tamat SD, Okky menyajikan petualangan di sebuah tempat di ujung timur Indonesia.

Dalam novel ini, Mata membaca berkali-kali buku Alice in Wonderland. Tidak disangka Mata mengalami sendiri menjadi seorang "Alice" dengan cita rasa lokal. Bertemu suku Melus, kerajaan kupu-kupu, dan raja buaya membuat pembaca ikut merasakan petualangan Mata.

Konon suku Melus adalah penduduk asli Belu. Keberadaan mereka terdesak oleh pendatang-pendatang. Dalam buku ini suku Melus tinggal di tempat rahasia. Barang siapa yang satang ke tempat itu tidak akan bisa keluar lagi. Bayangkanlah perasaaan Mata yang berpisah dari ibunya dan tersesat di tempat antah berantah yang tidak memperbolehkannya bertemu lagi dengan ibunya. Untungnya ada Atok, anak laki-laki suku Melus yang mau menolongnya, meski akan mendapat murka para leluhurnya.

Saya merasa cerita ini belum selesai. Akan ada petualangan Mata berikutnya. Entah itu masih di tempat yang sama, atau dia hanya mengikuti Mamanya yang haus akan topik baru untuk ditulisnya.

Profile Image for Mandewi.
575 reviews10 followers
September 2, 2019
Terlalu banyak pemikiran orang dewasa yang dijejalkan ke kepala anak usia 12 tahun.
Profile Image for gh.
114 reviews
September 4, 2022
Wahh aku suka dengan buku ini, cerita petualangannya mengingatkanku dengan cerita Alice in the wonderland dan juga animasi spirited away. Di balik cerita petualangannya, karakter mata mampu mengembalikan sosok anak kecil dalam diri aku sendiri, sosok yang udah lama ditutupi, dan tidak terlihat dalam usia yang semakin dewasa.

"Seperti yang aku pernah bilang, orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan pertanyaan sederhana. Anehnya, mereka selalu berpura-pura tahu segalanya."
- Matara (hal 34)
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
February 4, 2018
Yang bikin berkesan malah pilihan namanya. Melus, atok, matara. Nanti deh review menyusul ;)
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
May 7, 2020
*baca gratis di Gramedia Digital
sampai tgl 09 Mei 2020 aja..
=)

cerita anak-anak, lumayan seru..
:D
Profile Image for Shabieela.
22 reviews
February 24, 2023
Sebagai penggemar acara bolang alias bocah si petualang, Akuu benar-benar suka ama ini buku!! Kayak nostalgia di masa kecil pas lagi suka ngayal petualangan keliling Indonesia T_T

Bercerita tentang Mata yang diajak jalan Mama-nya untuk pergi berlibur, awalnya Mata kita mereka akan berlibur ke tempat-tempat yang terkenal kayak Bali, sumba, dll. Tapi rupanya mereka akan ke tempat yang namanya asing di telinga, mamanya bilang "Buat apa ke tempat yang sudah banyak dikunjungi orang??" Akhirnya Mata hanya diam dan mengikuti kemauman mama karena jarang sekali mereka berlibur, maka nikmati ajalah.

mulailah petualangan Mata di sebuah tempat Indonesia yang bernama BELU. Nah, pernah dengar nggak?? Samaa, aku juga baru tahu ada nama ini tempat di Indo. Awal kedatangan mereka bisa dbilang sial banget, harus ngeluarin uang 20Jt karena supir mobil ibunya menabrak sapi warga, kemudian disusul runtutan kejadian yang bisa dibilang sial lagi T_T harus bikin sesembahan yang berujung tersesat di hutan, ditahan sama suku Melus karena diganggap berbahaya, bertemu ratu kupu-kupu, dan rentetan petualangan seru dan magis lainnya yang bercampur sama budaya lokal. Eksentris banget deeh pokonya!! ><

Biasanya mba Okky nih tulisannya rada gelap ya, kayak Pasung Jiwa, tapi karena ini buku anak-anak, jadinya lebih ceria dan berkilau-kilau gitu. Imajinasi yang ada di sini pun persis khayalan anak kecil yang polos tapi nggak berlebihan jadi masih cocok banget buat orang dewasa yang lagi pengen berpetualang, huehehe.
Profile Image for Rani Rachman.
93 reviews4 followers
June 3, 2021
Mata di Tanah Melus: Pembelajaran Sejarah dan Budaya melalui Novel Anak.

Buku bertema novel anak pertama yang di tulis oleh penulis kak Okky Madasari. Bercerita tentang Matara, gadis kecil penyuka cerita-cerita. Matara diajak oleh Mamanya untuk berlibur ke wilayah yang di kenal dengan nama Belu, dengan menaiki pesawat Matara sampai di wilayah terluar Indonesia itu. Tapi kemudian banyak hal terjadi ketika Matara sampai di Belu, dan petualangan pun dimulai.

Selesai membaca buku ini, pembaca akan mendapatkan pesan moral untuk menjaga lingkungan, bahwa ada juga manusia yang bersikap jahat dengan merusak lingkungan dan hewan di sekitarnya untuk keuntungan pribadi, buku ini memperkenalkan tentang isu-isu lingkungan yang banyak terjadi di wilayah terluar Indonesia.

Pembaca juga akan di manjakan oleh ilustrasi di dalam buku ini, membuat pembaca tidak bosan untuk terus membaca terutama bagi anak-anak yang kebanyakan menyukai sesuatu yang bergambar, tapi ilustrasi tidak terlalu banyak sehingga membuat fokus cerita teralihkan.

Ciri khas dari penulis kak Okky Madasari yang hampir selalu menyisipkan unsur sejarah dan budaya Indonesia dalam setiap karyanya, pembaca juga akan menemukan hal itu pada buku ini. Sejarah dan budaya wilayah terluar Indonesia yang mungkin jarang sekali kita dengar atau ketahui, di bungkus dalam suatu cerita petualangan yang seru dan ringan untuk di baca oleh anak-anak.

Di buka dengan cerita yang selalu di dengar si Anak (sebagai narator) bernama Mata tentang cerita ketika matahari di lahap oleh raksasa dan Mar si gadis kecil dalam cerita ketika kejadian itu tetjadi di jemput oleh raksasa.

Melalui penuturan si anak, dimulai dengan pengenalan tentang orang-orang di sekitar si anak, nenek, mama dan papa si anak, kehidupan sekolahnya, yang semuanya di perkenalkan dari sudut pandang seoarang anak kecil, di jelaskan berdasarkan bagaimana matanya menangkap kehidupan sekolahnya, gerak-gerak mama papanya dan analisis polos seorang anak kecil untuk menggambarkan sifat mama papanya.

Cerita berlanjut ketika Mata secara tiba-tiba di ajak pergi berlibur oleh Mamanya. Mata merasa senang karena akan di ajak pergi liburan, dengan menaiki pesawat Mata dan Mamanya sampai di tempat tujuan. Tapi kesenangannya sirna setelah tahu tempat tujuan liburannya. Suatu daerah terpencil yang bahkan namanya baru di dengar oleh Mata, yaitu daerah Belu, tepatnya di kota Atambua.
Daerah dimana hal-hal mistis masih begitu kuat.
Bagaimanakah petualangan Mata di daerah terluar Indonesia itu?

Di dalam ceritanya kak Okky melalui penutur menyisipkan beberapa informasi kecil, misal saja seperti tempat hidup orang utan di kalimantan. kak Okky Madasari menyisipkan sindirian terhadap sistem pendidikan di sekolah

Mata di Tanah Melus bukanlah sekedar cerita petualangan anak kecil yang menghabiskan waktu liburannya. Kak Okky Madasari menyisipkan berbagai cerita terkait mistis yang di miliki oleh masyarakat adat yang pada buku ini di kenal dengan orang Melus, yang bisa disimpulkan sebagai masyarakat adat yang hidup di pedalaman, yang mempunyai tugas untuk menjaga tanah dan alamnya agar tetap terjaga dan tidak di jamah oleh orang luar. Berusaha melindungi tanah milik anak-cucu generasi mendatang, sehingga tidak di rampas oleh orang luar.
Buku ini juga mengangkat tema tentang menjaga binatang, seperti kupu-kupu yang jika dibiarkan terus diburu akan punah juga. Mengajarkan kepada pembaca untuk selalu menjaga keseimbangan anatara alam dan binatang.

Mungkin bagi yang tidak tahu (seperti saya contohnya) akan mengira bahwa Belu setting tempat pada cerita ini adalah fiktif belaka (maafkan wawasan tentang wilayah di Indonesia saya sangat kurang) hehe tapi setelah meng-google ternyata daerah tersebut benar ada. Kabupaten Belu adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Dan yang membuat saya takjub lagi ternyata Melus pada judul buku ini adalah nama suatu suku, jadi manusia Belu pertama yang mendiami wilayah Belu adalah suku Melus yang juga dikenal dengan    sebutan “Emafatuk   Oan   Ema   Ai   Oan“, (manusia  penghuni  batu  dan  kayu). Tipe manusia Melus adalah berpostur kuat,   kekar dan   bertubuh   pendek (sumber: https://belukab.go.id/?page_id=500 ) dan ini sesui dengan diskripsi di buku Mata di Tanah Melus.


Membaca buku ini saya kira akan berisikan kisah petualangan gadis cilik kebanyakan yang menantang tapi dengan kisah yang sederhana seperti petualangan sherina mungkin, tapi ternyata Mata di Tanah Melus menyajikan cerita yang lebih imajinatif, di luar nalar dengan menghubungkannya dengan adat, suku yang ada di Indonesia. Seperti membaca buku Alice in Wonderland tapi dengan nuansa Indonesia. Cerita petualangan yang menegangkan tapi seru di balut oleh kearifan lokal dan dipadukan dengan ilustrasi yang menggambarkan beberapa adegan membantu pembaca memvisualisasikan bayangan beberapa gambaran yang dijelaskan dalam buku. Ilustrasi yang cukup tidak berlebihan sehingga membuat fokus cerita teralihkan.


Buku ini memiliki unsur yang begitu kompleks, unsur yang di angkat dalam buku ini bisa di bilang fantasi, tapi juga sejarah yang benar adanya. Serta unsur tentang lingkungan hidup. Sungguh novel middle grade yang tidak hanya memberikan pesan moral tapi juga akan memperkaya pengetahuan pembacanya. Mengangkat isu-isu lingkungan di wilayah terluar Indonesia dimana banyak orang pendatang yang kemudian menggusur tanah dari suku asli daerah tersebut, mengambil kekayaan alamnya tanpa memikirkan generasi mendatang. Sepertinya poin yang ingin di tekankan kak Okky pada cerita tentang orang-orang yang seenaknya mengambil tanah masyarakat adat hanya untuk mengeruk kekayaan alamnya.

Selesai membaca buku ini, saya jadi terpikir kalau konsep Mata di Tanah Melus ini mengingatkan akan kisah Alice in wonderland (yang disebutkan diawal buku menjadi buku fovorit Mata), tapi dengan dibalut kearifan lokal Indonesia, dengan segala hal mistis dan kepercayaan suku adat yang berada di daerah terluar wilayah Indonesia.
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
January 27, 2018
** Books 17 - 2018 **

Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2018

3,3 dari 5 bintang!


Saya suka karena ini pertama kalinya Mbak Okky mengangkat tema tentang petualangan anak-anak yang bernuansa fantasi

Buku ini juga memberikan pesan moral bahwa tidak semua manusia bersikap baik ada juga yang bersikap jahat dengan merusak lingkungan dan hewan di sekitarnya :'(

Entah mengapa buku ini konsepnya mengingatkan saya akan kisah Alice in wonderland dan Thumbelina namun dibalut dengan kearifan lokal

Profile Image for Acha Asha.
6 reviews
December 3, 2019
Bought this and the other two meaning as gifts to my young readers, but ended up reading all 3 books and loving them, this book is about the adventure of Mata in the unseen places somewhere in eastern part of Indonesia. On each book she would team up with a local. The book is the well-package combination of a third-world fantasy, culture, history and philosophy. I know, looks heavy for a child but believe me it was not as heavy as you might think. super recommended. I finished each of of all three books in one sitting in all my 2 hour-ish flights
Profile Image for Truly.
2,769 reviews13 followers
January 9, 2020
Kejadian Mata bertemu dengan beberapa suku, mirip sekali dengan kisah Alice in Wonderland. Keduanya bertemu dengan aneka sosok yang tak pernah terbayangkan sebelum melanjutkan perjalanan. Alice mencari jalan keluar kembali ke dunianya, sementara Mata mencari jalan untuk bertemu dengan ibunya kembali.

Kalau saya adalah anak-anak usia 7-10 tahun, sepertinya bakalan menikmati ini seperti ketika saya menikmati kisah Lima Sekawan, Sapta Siaga, dan sejenisnya.
Profile Image for Iman Danial Hakim.
Author 9 books384 followers
September 21, 2020
Debut yang baik untuk sebuah siri fantasi kanak-kanak. Semoga sekuelnya lebih hebat.
Profile Image for Ana Shofiya.
48 reviews4 followers
December 2, 2022
Bagian separuh awal pace nya lambat bgt, tp pas udah mulai petualangannya pace nya cepet bgt. Mungkin krn aku seru bacanya jadi cepet wkwkwk
Profile Image for Rewina Pratiwi.
61 reviews1 follower
January 7, 2023
Mata di tanah Melus ini karya yang kupikir sudah sejak lama kita rindukan: sastra anak! Bersama Matari, seorang anak kelas 6 SD, aku berkelana ke Belu dan tentu saja pada akhirnya ke Melus.

Terus terang aku baca buku ini pakai kaca mata orang dewasa, yang kalau kata Mata, "Orang dewasa memang selalu tak punya jawaban untuk perntanyaan-pertanyaan sederhana" tapi hobi sekali membuat pertanyaan-pertanyaan rumit dan memaksa menemukan penyelesaiannya. Lalu, dari membaca buku ini aku punya beberapa hal untuk dibagikan.

Pertama, kisah yang dituturkan dalam buku ini sarat akan kritik sosial. Betapa menyebalkannya orang-orang yang datang dari "pusat", dalam hal ini seringkali adalah kota, yang berkeinginan untuk mengobok-obok kehidupan masyarakat adat. Berburu, merampas lahan, mengekspos, dan merebut ruang hidup.

Kedua, "Mata di Tanah Melus" kupikir juga bisa menjadi pintu gerbang bagi anak-anam untuk mulai berkenalan dengan upaya dekolonisasi. Aku kepikiran begini saat pandangan Mata berubah terhadap pernyataan ibunya yang datang bersama peneliti dan berniat ingin menggali informasi tentang orang Melus dan mengabarkan kepada dunia.

Aslinya aku dilema. Jika memang betul kisah ini bisa jadi pintu gerbang dekolonisasi, tapi kenapa selalu dan hampir harus dikisahkan dengan hadirnya representasi liyan yang kesasar masuk di tengah sebuah komunitas. Ehm, tapi lupakan dulu lagi nggak minat pusing.

Ketiga, ini novel anak tapi bikin aku mikir. Namun perlu kuperjelas bahwa bukan dalam konotasi negatif. Jadi, dari bagaimana cara Mbak Okky berutur di buku ini aku malah bertanya-tanya, "Oh, jadi anak kelas 6 SD boleh ya dikasih kisah seperti ini?" atau kalau dari sudut pandang Mata dalam ngebatinin semua kelakuan orang dewasa dan bagaimana proses berpikir dia dalam buku ini, aku jadi merefleksikan kira-kira adikku yang kelas 6 SD apa juga memiliki sudut pandang begitu? Terus terang, aku juga jadi belajar memahami sudut pandang anak-anak, atau lebih tepatnya sedang berusaha banget.

Overall, kudos to Mbak Okky!
Profile Image for Bila.
315 reviews22 followers
May 8, 2021
3.5 yang kubulatkan ke atas.

Untuk buku petualangan anak-anak, ini udah oke walaupun perpindahan latarnya ada yang terkesan cepet banget malah hampir ga perlu ganti latar. (ya, pas ganti dunia kayanya alurnya jadi cepet banget ga sih? Apa aku bacanya kecepetan?) Pesan yang dibawakan juga oke, ga berat untuk ukuran anak-anak.

Kalau aku baca ini pas umur 12, beuh udah kukasih semua bintang dah 😂

Tapi apa yakin ini cocok buat 5+? Secara bahasa lebih enak 8+ ga sih? CMIIW.
Profile Image for vortuna.
20 reviews
August 9, 2025
nyeritain ttg asal usul daerah Belu, keindahan, dan tradisinya. aku kira bakal nyeritain ttg petualangan Mata aja, engga nyangka kalau ada makna yg dalem bgt diselipin disini. PLUS POIN BUAT ILUSTRASINYA!
Profile Image for Ayu.
73 reviews4 followers
June 8, 2024
Review lengkap akan aku up di akun bookstagramku @booksfairy__
Profile Image for Itsthe_Pra2read.
54 reviews6 followers
April 5, 2024

salah satu Buku bergenre Fantasi, Advanture yang ditulis oleh Okky Madasari untuk anaknya
yang bernama Mata Diraya yang merupakan kisah yang berasa seperti buku dongen salah satunya Alice in Wonderland yang mungkin seru di mata orang lain, tapi untukku rasanya agak bosan untuk aku membaca buku ini kembali walaupun halamannya pendek entah kenapa bagiku ya, Buku ini adalah salah satu buku dari seri Novel Mata Menjelajahi Nusantara yang meraju pada Anak-anak yang sekarang berjumblah 4 Buku



Cerita ini dimulai pada sudut Pandang pertama seorang Tokoh yang sesuai dengan judul Novel bernama Matara (Menurut Mamanya namanya cukup Poetic katanya), dimana dia sama Ibunya pergi berlibur ke pulau Timor salah satu Tujuan wisata yang tak biasa yang menurut Mamanya Matara adalah tempat yang jauh nan Indah disana, Matara sering mendapatkan Anomali yang cukup aneh seperti melihat Kelinci di Langit, mimpi bertemu Sapi yang tertabrak bahkan sampai berhalusinasi tentang dirinya sendiri, di Tengah perjalanan wisata antara Matara & Mamanya yang dipandu oleh keluarganya Tania teman barunya Matara, tiba-tiba Matara Terpisah dari Ibunya & tiba di sebuah suku pendalaman yang adalah wilayah domain Melus yakni Suku yang diyakini sudah Punah, sekarang Mata harus mencari jalan keluar untuk bertemu Mamanya lagi & pulang ke Jakarta.

salah satu Novel yang cukup unik dimana unsur Fantasi di Buku ini cukup dapat dimana kehadiran suku-suku melus yang tidak biasa & cukup mistis, dimana mereka adalah Manusia yang Pintar dibuktikan dari mereka yang bisa bicara dalam bahasanya Matara hanya sekali mendengarkannya, bahkan ada unsur Mitologinya di Buku ini dengan kehadiran para Dewa & Dewi yang disembahi oleh para Suku Melus tersebut seperti Ema Nain, Bei Nai & Laka Loka, ada juga tempat mistis lainnya selain Tanah Domainnya Melus, yaitu Kerajaan Kupu-kupa yang ditinggali oleh seorang Ratu Kupu-kupu yang berbentuk seperti manusia bersayap, Petualangan ini cukup seru dikutik dari rasa putus asa berakhir Harapan yang di depan mata.



sayang ada Kekurangannya salah satunya adalah sifat dari Karakter yang didepicted dimana salah satu contonya adalah tokoh Matara sendiri sebagai Protagonis di Cerita ini dimana dia seperti Tokoh yang cukup cengen, dimana dia sering menangis setiap melihat hal yang tak biasa & sepertinya dia sepertinya kurang Mandiri dalam mengambil keputusan, sepertinya dia juga cukup egois sepertinya karena dia hanya mau 1 Tujuan ya walaupun Aku tahu dia pengen bertemu lagi sama Mamanya, bicara soal Mamanya Matara dia juga salah satu Tokoh yang aneh, bahkan menurut Matara sendiri, dirinya ini seperti sikap Overprotectivenya keteralaun bahkan sampai meraju kepada keputusan salah satunya memindahkan Matara ke sekolah Swasta hanya karena Pelajaran Agamanya mempunyai bagian tentang Neraka & isinya beserta dia cuma satu-satunya orang tua yang melarang anaknya untuk Study Trip keluar Negeri karena menurutnya tidak mendidik, (masalah ini lebih parah di bukui selanjutnya), kekurangan lainnya adalah perasaan saya ketika membaca buku ini dimana, Aku kaya merasa malas saja membaca buku ini seperti ada aja gitu yang kurang, sepertinya ini cuma aku aja/karena Novel ini dibaca untuk anak-anak.



seperti yang sudah disebutkan buku ini adalah Tribute sang Penulis terhadap anaknya bahkan terpampang di Halaman depan sebagai bentuk kasih sayang seorang Mama terhadap Anaknya, walaupun ini bukan hari Ibu, tidak perlu menunggu hari perayaan untuk menyenanangi ang Ibu untuk itu, seperti deskripsi di Buku ini Pesawat Kecil Kami mendarat di Antah-Berantah... adalah petualangan yang cukup seru untuk menjelaskan keindahan Negara Indonesia tercinta kita ini, & tidak cuma meraju pada Pulau Jawa & Bali saja, karena negara ini adalah Negara yang luas & Bahkan terpampang di Peta Dunia secara langsung sebagai Negara Kepulauan Terpanjang, sepertinya sampai disitu saja Review saya hari ini, Terima Kasih, sampai Jumpa di Review Aku selanjutnya, Daaaahhhhh! =) :)

Profile Image for S&.
46 reviews
March 10, 2025
Saya menyukai naskhah ini atas sebab yang sederhana.

Sebuah karya fantasi kanak-kanak. Tiada alur cerita yang kompleks tapi menarik mengisarkan si Mata berpetualang dengan hunjaman pemikiran hal-hal dewasa. Latar tempatnya digubah seperti dalam dunia Ghibli & Barbie. Cukup menghadirkan cebisan nostalgia buat saya yang sudah menginjak dewasa.
Profile Image for Mareliana.
16 reviews
March 29, 2023
Sebuah novel anak dengan petualangan yang menyenangkan, disisipi unsur sejarah dan budaya Indonesia, ringan dibaca anak-anak dan orang dewasa pun juga bisa menikmatinya.

Premis : Matara, seorang gadis berusia dua belas tahun yang diajak berlibur oleh Mamanya ke wilayah terluar Indonesia, selama berlibur banyak kesialan yang dia dapatkan, salah satunya Matara tersesat ke wilayah antah berantah dan terpisah dari Mama. Dalam usahanya bertemu dan berkumpul lagi dengan Mama, Matara harus melewati banyak halang rintang dan membawanya pada petualangan yang menakjubkan.

Tema dan Genre : Children's Fiction, Fantasy, Family, Friendship, Social Culture.

Tokoh dan Karakter:
- Matara : seorang gadis berusia dua belas tahun, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan pemberani. Matara hobi membaca cerita, karena dengan membaca cerita dia bisa pergi kemana saja, seperti ke luar angkasa. Dia juga bisa bertemu dengan siapa saja, seperti bertemu ibu peri, pangeran matahari dan putri-putri perkasa yang bisa mengubah dunia.
- Mar : nenek dari Matara yang suka bercerita serta suka mengulang cerita yang sama hingga berkali-kali.
- Mama : ibu dari Matara yang sangat peduli dengan urusan sekolah, sering datang ke sekolah untuk marah pada guru dan kepala sekolah karena hal yang dinilai tidak sesuai. Mama sering dinilai aneh namun Mama tidak peduli dengan penilaian orang. Mama berprofesi sebagai seorang penulis cerita yang hidup dalam dunianya sendiri dan tidak memperbolehkan Matara membaca cerita-cerita yang ditulisnya.
- Papa : ayah dari Matara yang tidak menganggap sekolah itu penting, sekolah hanya sekadar hal yang harus dilalui dan pengisi waktu. Papa juga berprofesi sebagai seorang penulis cerita, namun berbeda dari Mama, Papa menulis cerita di koran.
- Reinar & Immanuel : sopir dari mobil Innova yang disewa Mama selama di Belu, keduanya ramah, mudah akrab dan antusias dalam menjelaskan.
- Ibu Tania : ibu dengan dua anak yang ditemui Matara dan Mama di Pasar Baru, sangat peduli dengan Mama dan Matara hingga menyarankan untuk melakukan upacara membuang sial.
- Tania : teman Matara selama di Belu, seorang gadis sepantaran dengan Matara, selalu riang dan menjadi teman yang menyenangkan.
- Paman Tania : kakak dari ibu Tania, orang yang mengerti tentang upacara adat dan bersedia membantu Mama dan Matara melakukan upacara membuang sial.
- Kakek : seorang kakek penunggu daerah Belu, mempunyai kebiasaan mengunyah sirih dan dipercaya memimpin upacara adat, kakek juga bisa melihat masa depan, tentang nasib baik dan nasib buruk seseorang.
- Atok : anak laki-laki dari suku Melus yang bermata bening dengan bola mata hitam yang tajam. Atok punya karakter peduli, tanggung jawab dan berani. Atok menemani Matara selama petualangan bertemu Mama.
- Mama Atok : ibu Atok, perempuan dari suku Melus yang penuh kasih sayang dan keibuan, merawat Matara seperti anak sendiri selama di kampung Melus.
- Orang-orang Bunag : sekumpulan orang yang ingin menghancurkan suku Melus dengan berbagai cara. Orang Bunag berbadan kekar, berkulit legam dan rambut bergelombang.
- Suku Melus : sekumpulan orang yang badannya lebih pendek dan lebih kekar dari orang Bunag, rahangnya juga lebih tajam dan matanya lebih lebar. Suku Melus digambarkan sebagai suku terasing yang tidak tahu Jakarta bahkan tidak tahu Indonesia itu apa, tapi memiliki kepandaian bahasa yang luar biasa, mereka hanya butuh satu kali saja mendengar sebuah bahasa lalu kemudian bisa lancar berbicara dalam sebuah bahasa itu. Laki-laki memakai kain tenun tak terlalu lebar yang disilangkan di bahu, sementara yang perempuan memakai serupa kutang pada bagian atas dan tenun sebagai kain bawahan. Mereka bersembunyi dari para pemburunya untuk menjaga pusaka dan mempertahankan diri dari kepunahan.
- Ema Nain : laki-laki yang sudah tampak tua dengan kulit muka berkerut dan tubuh yang tak lagi kencang. Ema Nain berumur seratus tahun lebih. Matanya jernih, tajam, menyiratkan wibawa, dan membuat orang takluk dengan sukarela. Ema Nain adalah pemimpin suku Melus yang setiap hari berdoa untuk keselamatan suku Melus dan kampung Melus. Ema Nain disebut sebagai penjaga jiwa suku Melus.
- Maun Iso : laki-laki muda yang bersuara keras dan tegas. Orang yang memimpin upacara di kampung Melus. Maun Iso adalah Meo suku melus. Maun Iso juga disebut sebagai penjaga raga suku Melus.

Latar : Novel Mata di Tanah Melus memiliki latar tempat di ujung Timur Indonesia, tepatnya di daerah Belu, Nusa Tenggara Timur.

Alur dan Plot : Alur cerita Mata di Tanah Melus adalah alur maju. Pada awal cerita, diceritakan tentang masa kecil Matara bersama neneknya, Mar, kemudian kehidupan sekolah Matara hingga adanya konflik keluarga. Ketika musim liburan sekolah, Matara diajak berlibur berdua dengan Mamanya ke tempat liburan yang tidak biasa, mengalami kejadian-kejadian yang janggal selama liburan hingga Matara tersesat dan terpisah dari Mama, Matara berada di perkampungan Melus dan tertawan oleh suku Melus. Dalam usahanya bertemu dan berkumpul lagi dengan Mama, Matara harus melewati banyak rintangan karena setiap orang yang masuk ke perkampungan Melus dianggap sebagai ancaman, orang itu hanya punya dua pilihan, mati atau tak akan bisa keluar lagi, namun suku Melus tak pernah jahat pada perempuan dan anak-anak. Meski demikian, Matara tetap berusaha ingin keluar dari perkampungan itu dan ingin bertemu Mama, Matara dibantu oleh teman barunya, Atok. Pembaca disuguhi petualangan-petualangan menakjubkan Matara dan Atok dalam usahanya melarikan diri dari perkampungan Melus yang penuh dengan halang rintang, mereka harus beradu dengan ratu kupu-kupu, dewa buaya dan lain-lain.

Ritme dan Sudut Pandang : Mata di Tanah Melus memiliki ritme yang lambat di awal cerita kemudian cenderung cepat dan semakin menegangkan ketika memasuki perjalanan berlibur dan petualangan bertemu Mama. Penulis menggunakan sudut pandang atau POV orang pertama tokoh utama.

Gaya Bahasa : Gaya penulisan novel ini sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti yang berasal dari buah pikiran anak-anak. Okky Madasari menggambarkan pikiran anak-anak tentang orang tua, tentang rasa ingin tahu yang tinggi dan petualangan yang penuh teka-teki dan imajinasi. Okky Madasari juga berhasil menyelipkan kritik untuk pendidikan di sekolah negeri yang cenderung konservatif, seperti guru yang menghukum ketika siswa tidak bisa menghafal pelajaran, cerita dari guru agama yang menakutkan tentang siksa kubur dan neraka hingga banyaknya PR yang menyita waktu bermain siswa. Okky Madasari melalui Novel Mata di Tanah Melus mengajak pembaca untuk lebih mengenal wilayah Indonesia Timur, berkeliling Belu, Nusa Tenggara Timur yang terkenal dengan Fulan Fehan-nya, sebuah sabana yang luas dan indah di lembah kaki Gunung Lakaan, serta situs bersejarah yang ada disana yaitu Benteng Ranu Hitu.

Keunggulan:
Ilustrasi bagian cover yang cantik dan eye catchy serta judulnya yang menarik membuat orang penasaran. Mata, Apa atau siapakah itu Mata? Petualangan Mata ini menjadi angin segar serta warna baru untuk cerita atau dongeng asli Indonesia. Tokoh yang relatable dengan kehidupan masa sekarang serta petualangan yang tidak kalah mendebarkan dengan cerita atau dongeng yang berasal dari luar negeri. Terdapat ilustrasi sehingga membuat pembaca tidak mudah bosan, ilustrasi yang ditampilkan tidak terlalu banyak sehingga pembaca tetap fokus dengan cerita.
Bagi orang dewasa yang penat dalam menjalani rutinitas, serta jenuh akan bacaan yang berat, Mata di Tanah Melus bisa dijadikan pilihan bacaan yang tepat untuk sekedar menghabiskan waktu bersantai atau sekaligus bernostalgia masa kecil.
Novel Mata di Tanah Melus juga memperkenalkan tentang cerita sejarah dan mistis masyarakat adat dan isu lingkungan yang ada di Indonesia, terutama di wilayah terluar Indonesia. Banyak manusia yang dengan sengaja merusak lingkungan serta membunuh hewan disekitar demi mendapat keuntungan pribadi. Novel ini juga memberikan pesan moral tentang pentingnya menjaga lingkungan dan menjaga keseimbangan alam.

Kelemahan :
Mungkin bagi beberapa pembaca yang jarang membaca genre fantasy, membaca novel ini akan terasa aneh karena petualangan Matara terasa tidak nyata dan seperti mimpi. Kemudian ada satu kata yang salah dalam penulisannya, yang seharusnya "Dia" tertulis "Di" (Halaman 128). Tentang ilustrasi yang ditampilkan, akan lebih menarik bagi pembaca jika diberikan sentuhan warna.

Kutipan favorit :
"Seperti yang aku pernah bilang, orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana. Anehnya, mereka selalu pura-pura tahu segalanya." – Okky Madasari, halaman 34 –
Profile Image for tïmmyrèvuo.
204 reviews2 followers
September 2, 2023
It will become my favorite story, a children's book that genuinely depicts a child's wild yet naive imagination.

The book tells the story of Mata, a 12-year-old girl who dreams of having the experience of meeting the sun-eating giants as told by her grandmother. One day, her mother takes her on a vacation to Belu Regency in East Nusa Tenggara, Indonesia. At first, Mata questioned her mother's decision to take her on vacation to the middle of nowhere, which had very little explanation of what was unique and the tourism area, armed with the spirit to find out amazing things, to be inspired to find a region and name it after her like what happened with Vasco da Gama, Mata began to show her enthusiasm for exploring the Belu region.

This exciting story started when she dreamed several times about the cow her car hit on the first day they arrived until she finally decided to hold a ceremony at Hol Hara Ranu Hitu. <"Pulanglah" was the answer they got after the ceremony that made Mata's mom decide to take Mata in the pouring rain. That's when Mata's journey began...

Well, the beginning of the book is quite boring, but it is necessary to tell the background of the story to make it coherent and this is realized by the beautifully written plot that is all connected without any flaws at all. In addition, the portrayal of Mata's eager, inquisitive but sometimes naive and skeptical character really depicts a child of her age. I really enjoyed Mata's journey. Compared to the third book that I read first, this first series is actually full of fantasy and adventure elements that are very attached to making this book 100x more interesting.

I honestly didn't stop reading since page 55 because this is where the journey full of twists and turns that find Mata with Atok who is originally from the Melus tribe begins. It is with Atok that Mata learns about the people of Bunag, to the fear of going back to her mother, which in fact is not easy to go through. Mata and Atok must travel to the Land of Butterflies, meeting the butterfly queen and even the Crocodile God, Bei Nai. Until the miracle happens that brings sea water to the land under Mount Lakaan, which is indeed proven by research to have been an ocean. Everything is surprising, fun, and very engaging.

Honestly, until the end, I waited that this was all just a fantasy and Mata would wake up from the dream. However, this is the strength of this book: every narration is made real. I can't wait to read the second and fourth series and prepare myself to read this story for the second - or third time.

Finally, this is my favorite quote in the book:

Mama adalah sumber segala cerita bagi banyak orang. Tapi, tidak untuk anaknya sendiri. Ia menciptakan dunia bagi banyak orang, tapi ia tak pernah hidup dalam dunia yang sama denganku - Mata, when people always said she was lucky to have a writer mom

Ia membenci segala hal yang disukai semua orang, ia menginginkan setiap hal yang tak diinginkan orang - Mata, when she saw her mother, who was always persistent with her choices.

Orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan - pertanyaan sederhana. Anehnya, mereka selalu berpura - pura tahu segalanya - Mata, when her simple question was not answered by her mother
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
November 18, 2019
3.4☆

saya baru mulai belajar baca buku anak lokal, jadi harap maklum kalau penilaian saya masih kurang bagus. masih beradaptasi.

dan karena masih beradaptasi, pikiran saya ketika baca buku ini masih berupa pikiran orang dewasa yang gemar menerka-nerka mana yang kebenaran mana yang logis, mana yang khayalan mana yang fantasi. meski pada akhirnya, tetap saja, saya ngga peduli soal itu. toh ini bacaan anak. mengikuti petualangan Mata tanpa banyak menerka saja sudah seru. ada pesan-pesan moral tentang kelestarian alam yang disampaikan dengan penuh ketegangan, yang membuat saya ngga bisa berhenti baca untuk mencari tahu kelanjutan cerita di halaman berikutnya. yang bikin saya kurang nyaman hanya cara penyampaian mbak Okky yang menurut saya kayak POV 3 berkata ganti "aku", sebab entah kenapa ada sesuatu dari cara penyampaian itu yang terasa terlalu dewasa untuk jadi isi pikiran seorang anak umur dua belas tahun. saya jadi ngerasa kadang kayak denger Mata yang bicara, kadang kayak denger orang dewasa yang menceritakan kisah Mata. saya penasaran apa ini bakal saya temukan juga di buku kedua serial petualangan anak ini. setelah maraton baca empat novel dewasanya, saya ngerti gaya bercerita mbak Okky memang sering berubah-ubah.

saya harap buku ini ada di perpustakaan seluruh sekolah dasar dan menengah pertama (bahkan juga menengah atas) di Indonesia. supaya anak-anak kita ngga cuma baca serial petualangan Barat, tapi juga bisa menikmati serial petualangan Indonesia seperti kisah Mata ini.
Profile Image for Nura.
1,058 reviews30 followers
February 22, 2020
Saya baca dan suka beberapa novel yang ditulis mba Okky, dan ketika dia menulis buku anak, saya pun penasaran dibuatnya. Apalagi cerita ini didasarkan pada legenda dari tanah yang belum pernah saya jamah. Ceritanya sendiri punya premis yang cukup menarik, tapi sayangnya semua terkesan terburu-buru. Melompat dari satu cerita ke cerita lain. Saya nggak merasakan perkembangan karakter seperti pada novel mba Okky yang lainnya. Yah, mungkin beliau merasakan bahwa menulis cerita anak tak lebih mudah daripada menulis cerita orang dewasa. Banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya selama membaca. Dan ternyata itu dirasakan oleh kak Lia yang juga baca bareng buku ini buat siaran kami. Misalnya si sopir sewaan yang menabrak sapi. Kenapa dia menghilang begitu saja, padahal dia berutang Budi pada mamanya Mata yang membayarkan denda karena telah menabrak sapi orang. Di bagian akhir, kemunculan tanah Lakaan dan Laka Lorak pun terasa dijejalkan, tanpa penyelesaian.

#courtesy of iPusnas
#klubsiaranjuni
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
March 28, 2018
Pertama kali mendengar Okky Madasari menuliskan cerita untuk anak, aku penasaran ingin tahu apakah dia bisa menulis seluwes cerita-ceritanya untuk pembaca dewasa. Maka ketika buku ini kutemukan di Gramedia, tanpa berpikir dua kali aku beli dan dibaca. Di luar ekspektasi, menurutku buku ini mengandung inkonsistensi. Jika memang ditujukan bagi pembaca anak-anak, bahasa dan pilihan kata yang dipergunakan cenderung berat dengan beberapa "big words" yang barangkali baru bisa dipahami oleh para pembaca remaja. Jika buku anak biasanya berisi gambar-gambar kreatif, sayangnya ilustrasi di dalam buku tidak menarik. Jika biasanya buku anak mengandung pesan moral positif, sayangnya aku gagal menemukan pesan moral itu di sini.
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
July 23, 2021
Ketika membaca ini, aku mencoba berpikir bagaimana aku merespon keseruan petualangan Mata dengan dua sudut pandang: aku saat masih kecil dan aku saat sudah dewasa.

Kalau aku yang masih kecil, aku pasti sangaaaat suka dengan cerita ini! Ada banyak makhluk seperti Ratu Kupu-kupu dan Manusia Buaya 👀

Kalau aku yang saat ini, tentu aku berusaha melogikakan semuanya (yang sebenarnya buat apa). Tapi buku petualangan semi fantasi ini benar-benar menggambarkan Indonesia dengan suku-suku tak terjamah, kepercayaan pada makhluk-makhluk ajaib, dan keegoisan orang-orang kota.

Aku suka Atok, meski dia bikin panik karena dikit-dikit bilang: kita akan mati. 😆
Profile Image for Nurul Khomariyah.
15 reviews1 follower
April 11, 2020
Cerita anak-anak sungguh membawa saya berpetualang dan ikut deg-degan. Dulu cerita untuk anak-anak yang pernah saya baca begitu monoton dan kurang punya alur, isi, dan nilai yang menarik.

Akan melanjutkan buku berikutnya!!!
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
November 4, 2022
Siapa tak kenal Okky Madasari, seorang penulis perempuan, dengan banyak novel yang bermuatan kritik sosial, seperti Entrok, 86, Maryam dll.

Namun di buku terbitan tahun 2018 ini, Okky menulis tentang dunia petualangan/fantasi anak-anak, lewat tokoh Matara, yang berusia 12 tahun.

Matara yang papa dan mamanya adalah penulis, suatu saat, ketika liburan sekolah, diajak mamanyq untuk mengunjungi sebuah tempat yang terpikir pun tidak bagi seorang anak yang tumbuh besar di Jakarta. Yakni mengunjungi Belu, Atambua, sebuah tempat di NTT, yang berbatasan dengan Timor Timur.

Berawal dari kejadian menabrak sapi yang melintas di jalanan, sehingga sang Mama harus memberi ganti rugi yang cukup besar pada sang empunya, lalu Mata setiap malam bermimpi tentang sapi-sapi yang mengeroyoknya.

Lantas atas saran penduduk setempat, mereka harus mengadakan semacam upacara minta ijin, di suatu tempat di ketinggian bukit, bernama Hol Hara Ranu Hitu.

Sebuah perjalanan sulit yang berakhir dengan 'perintah' dari orang pintar, bahwa Mata dan Mamanya harus balik ke rumah mereka.

Mama yang berang, karena sudah menghabiskan banyak uang, lalu pulang cepat, turun bersama Mata, singgah di sebuah gubug karena kabut pekat dan hujan deras, tanpa sadar tertidur karena kelelahan, sementara penduduk setempat yang mengawani mereka, tak juga tampak.

Pagi harinya, Mata bangun dan mendapati pemandangan indah. Di hadapannya ada padang rumput, seperti di Pegunungan Alpen.

Mata yang takjub, tanpa sadar meninggalkan mamanya, bertemu sapi-sapi seperti dalam mimpinya, lalu ditangkap oleh sekumpulan orang-orang asing, yang kemudian Mata tahu, adalah bagian dari orang-orang Melus, yang tinggal di antara 'padang kaktus'

Lalu dimulailah petualangan demi petualangan, bersama Atok, salah seorang anak Melus. Dari mulai mengelilingi Melus, lalu tersesat di Kerajaan Kupu-Kupu dan bertemu Dewa Buaya dan 'pasukannya'

Lantas, bagaimana keseruan perjalanan mereka, apakah Atok bisa/boleh kembali ke Melus dan apakah Mata bisa bertemu mamanya kembali?

Buku setebal 187 halaman ini, keseruannya bahkan bisa dinikmati oleh pembaca dewasa seperti saya.
Saya lalu membayangkan sebuah film yang diadaptasi dari buku ini. Tentu tak mudah, tapi hasilnya pasti akan keren, dengan setting keindahan padang rumput di NTT sana.

Kalaupun ada sedikit kekurangan (menurut pembaca sok tahu seperti saya), ada dua hal. Yang pertama adalah bab 1, Mar dan Gerhana, yang kalau dihilangkan pun, tak ada pengaruhnya bagi keseluruhan cerita.

Sementara yang kedua adalah ilustrasi yang terlalu sederhana. Padahal ilustrasi yang keren akan semakin mendukung keseruan buku.

Nice book. Bacaan yang menghibur. Semoga saja, saya tak bermimpi bertemu sapi-sapi seperti Mala. Atau kalaupun harus mimpi sapi, ya olahannya saja, semacam sup buntut, iga atau empal seperti bikinan Ibu dengan bawang goreng berbumbu melimpah 😋😋
Namanya juga berharap, boleh kan?
Profile Image for xav ౨ৎ⋆˚.⋆ .
24 reviews20 followers
June 4, 2021
As you guys know (If you look on my profile), I'm from Indonesia, which means I should be able to read Indonesia books decently right? Wrong! I'm really bad at my first language, and after living two years of my life outside Indonesia, reading, talking, writing, listening, and practically BREATHING the english language, umm... I guess I'm.. quite bad at the Indonesian language.. Cringe! I always get a better score at school for english rather than Bahasa (That's what the Indonesian language is called), even though it's my first language. So I struggle reading and writing Bahasa.

Because of that, I thought my brain wouldn't be able to comprehend anything inside of this book and I would end up dropping it onto a table, the book collecting dust, while I came back to my english reading. But I was dreadfully wrong. I read this series out of order. I first read the third book; 'Mata dan Manusia Laut', and was shocked.
Sure, I was tempted to pull out my thick, essential, bilingual, Indonesia-English dictionary to help me at a few points, but I thoroughly enjoyed the book, ending up begging my mom to find number one and two for me to read. And she delivered.

Mata di Tanah Melus is the first book in the Mata series. It's about this little girl, called Matara, usually called Mata (But I love calling her Matara), who explores one of the most isolated places in Indonesia. There was stories about dead cows, ghosts, Gods, and other things. Matara's mother was a writer, and she asked Matara to accompany her to Tanah Melus, as she wanted to write about the place and take a short vacation there. Matara's mother was excited, but Matara, on the other hand, wasn't. She wanted to go some place else, a place that was famous, and filled with tourists, like Bali, or Lombok. But her mother, chose an isolated place, with no malls in sight, terrible phone reception, and stinky farm animals roaming the streets. After spending one disastrous day at Tanah Melus, Matara concluded that she was going to have the worst ever vacation in the history of vacations. But things started to change. Drastically. After getting lost in a fog, and being kidnapped by mysterious tribal men, she finds a thought-to-be-extinct tribe, living and breathing in a secret village that was covered with fog. A lot of plot twists followed, and in the end, Matara had the most exciting vacation ever.

This was a beautiful book consisting of Geography, Culture, and Fantasy, rolled into one. I loved it, but I feel like it was too fast-paced, and the ending wasn't good, and.. I guess I just didn't like it as much as book three and two.

So in conclusion, I reccommend this for 10 year olds and above, who like geography and fantasy books, and aren't afraid of cows (The depiction of evil cows that haunted Matara's dreams were quite disturbing). I'll be rating and reviewing book two and three of this series next, so, for Indonesian readers, don't forget to follow me for any updates! Bye!
Displaying 1 - 30 of 244 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.