“Buku ini diharapkan mampu menumbuhkan kepekaan, kepedulian, dan kesadaran untuk mewujudkan lingkungan hidup kota yang bersih, asri, hijau, aman, nyaman, dan indah.”
Pencarianku tahun ini untuk graphic novel juga kulakukan di iPusnas, kemudian bertemulah aku dengan Toko Merah (2014). Aku kira ceritanya akan full fiksi, tapi di pertengahan menjelang ending ternyata jatuhnya seperti buku ajar. Peralihan ceritanya terasa kurang smooth, membuatku langsung membatin, "Kok tiba-tiba bahas ini?"
Kalau buku ini memang dimaksudkan sebagai karya yang edukatif, aku rasa pengemasannya akan lebih baik dalam wujud fiksi saja. Tanpa mengurangi esensi, cerita fiksi juga tetap bisa menginformasikan sesuatu yang penting untuk pembaca. Belum lagi testimoni di sampul belakangnya yang diisi oleh Joko Widodo, aku tidak bisa menemukan relevansi cerita dan sosoknya. Selebihnya, ilustrasinya bagus—satu-satunya hal yang aku suka dari buku ini.
I dunno whether this story was written when Toko Merah already planned to change the function or not, but, yeah, currently it’s a cafe. So it’s such a true story and I thought it was a hisfic! Or did the writer predict the future?
Ilustrasinya menarik banget! Ceritanya cocok buat anak-anak. Ada funfact juga tentang cagar budaya. Sayangnya, isi cerita ga ada sangkut pautnya dgn fun fact tersebut. Mungkin kalo pembahasannya ada sedikit mengenai cagar budaya bakal lebih “masuk”.
Pertama kali baca buku ini tuh kirain toko merah ini cuma dongeng belaka.... Ternyata yah, pas iseng ngetik di mbah gugel, malah dapat info klo toko merah itu beneran ada donk
Lokasinya ada di kota tua dan toko merah ini sering banget gw lewatin pas mau pulang nunggu buswayy 😆😆😆
Pantes yah buku ini dapat catatan dr pak @jokowi, yah karena si toko merah ini masuk dalam cagar budaya ... 👏👏👏
Cuma sayang, kisah toko merah dibuku ini malah ga selengkap apa yang gw dapet dimbah gugel...
Ada semacam ruang kosong dan ending yang dipaksain....