Pencarianku tahun ini untuk graphic novel juga kulakukan di iPusnas, kemudian bertemulah aku dengan Toko Merah (2014). Aku kira ceritanya akan full fiksi, tapi di pertengahan menjelang ending ternyata jatuhnya seperti buku ajar. Peralihan ceritanya terasa kurang smooth, membuatku langsung membatin, "Kok tiba-tiba bahas ini?"
Kalau buku ini memang dimaksudkan sebagai karya yang edukatif, aku rasa pengemasannya akan lebih baik dalam wujud fiksi saja. Tanpa mengurangi esensi, cerita fiksi juga tetap bisa menginformasikan sesuatu yang penting untuk pembaca. Belum lagi testimoni di sampul belakangnya yang diisi oleh Joko Widodo, aku tidak bisa menemukan relevansi cerita dan sosoknya. Selebihnya, ilustrasinya bagus—satu-satunya hal yang aku suka dari buku ini.