Jump to ratings and reviews
Rate this book

Metaskandal

Rate this book
Kerana kota ini tidak berwajah, di manakah Kuala Lumpur? Mereka percaya ia berada di dalam ruang lapang cermin di sebuah bilik sempit. Tetapi ada yang nampak kelibatnya dari balkoni sesekali pada waktu senja dan malam. Ada yang mengaku memasukinya setelah tersesat ke tingkat 13 sebuah apartmen, tersesat ke stesen elarti Masjid Jamek, tersesat ke bawah katil. Ada yang menemuinya dalam cerpen yang dimuntahkan oleh penulis yang menelan cerpen-cerpen lamanya. Ada pula yang senyap-senyap mencarinya dalam kebisingan kata-kata yang mendiami deretan buku di Pustaka Maya, librari yang terbina di atas bayang-bayang banduan bekas penjara–

“Syyy…! Silencio, por favor,” tegas seorang pustakawan buta.

Pakai topeng gas segera! Dan capai Sten gun masing-masing! Kerana penduduk kota setinggan akan merampas kembali kota ini dari kelangkang Datuk Bandar berkepala buaya. Tetapi kalaupun dapat dilihat, bukankah ia berada di pinggir mimpi paling jauh? Atau… kota ini hanya boleh dilihat menerusi mata seorang ibu yang hilang?

METASKANDAL menghimpunkan cerita-cerita yang menyentuh manusia yang bertengkar dengan ruang, dan apa-apa di balik ruang – transendental, teks, takdir, teknologi, tuhan, etsetera etsetera. Hingar tengkar mereka menjadi kresendo yang semakin bingit dalam sunyi.

242 pages, Paperback

First published January 9, 2018

7 people are currently reading
35 people want to read

About the author

Azrin Fauzi

6 books45 followers
Azrin Fauzi (b. 1992) is a Penang-born writer and curator based in Kuala Lumpur, Malaysia. He is the author of three short story collections: Urban (2015), Metaskandal (2018), Amok-Imago (2022); and an essay collection: Otopsi, dengan Degupan "&" (2025). His short stories and essays have been published in Mekong Review, Samovar, ArtsEquator, and other Malaysian anthologies, journals, literary magazines, and newspapers. Azrin was a recipient of the Selangor Literary Prize in 2017, 2018, 2019, and 2021 for his short stories and essay. He received the Penang State Literary Prize in 2023 for Amok-Imago, for “an exploration of a new style that floats reality in the space between existence and nothingness”; and in 2025 for his microfictions. He was selected to represent Malaysia in the 2019 MASTERA Writing Programme: Essay in Bandung, Indonesia, organised by the Southeast Asia Literary Council (MASTERA). In 2024, he was also selected to represent Malaysia in the International Writers Dialogue at Liangzhu Forum in Hangzhou, China. Other than writing, he loves watching slow cinema.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (25%)
4 stars
20 (50%)
3 stars
8 (20%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Iman Danial Hakim.
Author 9 books384 followers
March 23, 2018
Di dalam wawancara, Azrin kata jika sastera adalah seni rupa, dia mahu memalitkan imej-imej kuat ke atas kanvas, menghasilkan visual. Dan jika sastera adalah seni bina, struktur adalah bentuk/form dan cerita adalah ruang/space.

Saya lebih menggemari Metaskandal berbanding Urban. Pembaca dapat melihat kematangan gaya penulisan Azrin antara kedua-dua kumpulan cerpen tersebut. Di Metaskandal, stail penceritaan kesegaran imej, pemilhan kata dan perbahasan falsafahnya lebih hebat.

Saya harap Azrin akan terus menulis lantas membuka pintu-pintu baru dalam rumah sastera.
Profile Image for hans.
1,161 reviews152 followers
May 15, 2018
Sangat di luar expectation. Saya mula baca cerpen pertama dan rasa puzzled. Jadi saya tukar dan baca cerpen-cerpen di bahagian KAOS dahulu yang satu-satunya kemudian buat saya jatuh cinta.

Seperti buku Borges yang disebut dalam cerpen Metaskandal, sebetulnya penulis juga buat saya lemas dalam labirin kata-kata. Saya salut dengan idea dan imaginasi penulis. Penulis sangat bijak ekplorasi ruang naratif dengan mood dan karakter-karakter (yang sesetengahnya saya rasa macam tengah mogok dan tunjuk perasaan) yang realistik dan sureal. Olahan isi dan susunan setiap satunya seragam, buat saya makin mahu tahu apa seterusnya. Isi ceritanya kadang ada tanda soal, tapi tetap juga saya rasa puas membaca. Jangan haraplah nak jumpa pintu atau tingkap dalam ruang cerita di tempat yang sepatutnya-- ada misteri yang tak sepatutnya diambil tahu.

Saya suka cerpen Menunggu Beckett. Saya belum pernah baca Waiting for Godot tapi cerpen Menunggu Beckett buat saya rasa nak cari buku Beckett dan baca. Cerpen Maya dan Sebuah Kota di Bawah Katil sangat intriguing. Ada seribu perasaan waktu baca Ibu & Kota-- dan siaran tergendala pada saat yang genting? /rasa nak marah/ Dan ending cerpen Rfingk! Rfingk! Rfingk! sangat sedap-- "Sunyi yang menyerupai bunyi kematian. Oh, apa lagi yang akan engkau lakukan untuk tidak menamatkan naratif diri ini dengan noktah?"

Enigma yang menyeronokkan!
Profile Image for Arif Zulkifli.
Author 27 books184 followers
February 2, 2018
Aku tahu aku akan lawat-baca cerpen-cerpen di OUTRO paling kurang seribu kali.

Tahniah Azrin!
Profile Image for farahxreads.
717 reviews261 followers
July 31, 2018
"Bukanlah satu jenaka jika wajah anda tertanggal pada pagi 1 April,"

Di atas ini adalah ayat pertama di dalam cerpen pertama dan aku tahu aku tak akan kecewa. Pembacaan yang sangat mengenyangkan imaginasi dan penuh advencer. Penulisan yang sangat kemas. Penulis pandai bermain dengan kata-kata dan membuatkan segala apa yang ada di dalam buku ini kelihatan hidup dan real - manusia dan benda sekaligus. Sepanjang baca buku ini, bila aku tengok barang-barang aku, aku jadi terpikir apalah yang sedang bermain di dalam pemikiran barang-barang aku ini - ini, efek Metaskandal pada aku.

Aku suka hampir kesemua cerpen dalam buku ini tapi cerpen cerpen yang aku sangat suka ialah Fantasmagoria (Di Dalam Apartmen), Maya dan Sebuah Kota di Bawah Katil, Rfingk! Rfingk! Rfingk! (cerpen ini sangat bising), Nokturno, dan Serigala, Revolver dan Gadis Berambut Oren.

Tahniah, Azrin Fauzi!

Rating sebenar: 4.7 dari 5 bintang.

Profile Image for Adibah Atiqa (persephtiyareads).
197 reviews203 followers
June 15, 2022
overall, 4.7 ⭐️

tetapi kalau ikut rating setiap satu cerpen, semuanya 4.1 ⭐️

kenapa naikkan rating? Sebab buku ini beri impak untuk aku sebagai pembaca, banyak buat sedar sesuatu yang selama ni aku tak berapa ambil kisah. Untuk seseorang yang suka membaca sesuatu yang lebih panjang macam novel, aku tak berapa suka cerpen sejujurnya sebab terlalu pendek yang membuatkan aku tak nampak apa point yang cuba disampaikan.

Tetapi, tidak untuk Metaskandal. Aku tak pasti sama ada cara penulisannya atau aku sendiri sebagai pembaca yang dah banyak conclude insight aku sendiri selama ni yang membuatkan buku ini bermakna untuk aku.
Profile Image for Amir Hamzah.
5 reviews4 followers
March 27, 2019
Metaskandal: The Madness of KL (Yang Lain), Personified.

I never looked at mirrors the same way again after reading this book.

Azrin Fauzi's Metaskandal was one of my best reads of 2018, and a pivotal book in my literary journey. I got interested in Beckett, Borges, Cortazar, Bachelard, and a bevy of other influences and topics because of this. If one is looking for a collection of short stories to function as a gateway to more serious or avant garde fiction, this is the way to go.

The Kind of Stories in Here.

The author has assembled a trio of motifs to denote the short stories: ‘Outro’, ‘Solo’ and, ‘Kaos’. ‘Outro’ deals with stories that carry the motif of the interior lives (or space) of characters. Here, we explore more introspective works that talk about the role of things in our lives, the power of sound, and the horror of mirrors. ‘Solo’ carries a piece of micro fiction which, I’ve been alerted by the author himself, functions as a bridge between ‘Outro’ and ‘Kaos’. ‘Kaos’ engages us with stories that take place on the exterior aspect. Here, we can find authors looking for inspiration through observation which lead to the inevitable spilling over of information, a homage to a poem which transcends into a musing of the role of cinema and actors, and a kaleidoscope of the average life of 21st-century man; just to name a few.

The book explores and experiments with different kinds of storytelling, so as a reader, we are spoiled with a selection of unique stories. Each one of the stories remain fresh, even after repeated readings (for me, at least) and some still continue to reward me with new findings each time I pick it up. Every aspect of this book feels like the author had complete control over it, down to the typesetting (<- even this plays a role in some stories).

The stories are set in KL (Yang Lain), though many of the specificities of locale are left ambiguous. This, I think, is a commendation on the author’s part in ensuring its timeless quality (thought I may speak too soon). Azrin still gives us sceneries and scenarios which are familiar to the tropes of a dark city: murder, corruption, horror, femme fatales, loneliness, absurdity, and vices. There’s even a little sci-fi, if you’d like! All of these provide a familiar intertextual weave between the short stories (as mentioned in the interview at the very end of the book), culminating in a very smooth flow when reading, whether it’s read in a single sitting or multiple sittings.

The Personal Value of This Book.

As mentioned earlier, this book turned me on to a bevy of new influences and topics, as well as being a pivotal book in my literary journey. I got to sit down with the author himself and discuss the book (geez, how cool was that!), and my current crowning achievement, I got to lead a discussion on this book which was mostly attended by authors! (Look Mom, I made it!)

But personal narcissisms aside, reading ‘Metaskandal’ improved me as a reader. I had been a casual reader before this book, and now I’d like to think that I’m a serious reader after reading it. Ever since, I’ve been on a deep dive into the wonderful world of literature, asking better questions, looking for better reads, and the best thing I got out of this, I wanted to understand literature better, to be more analytical whenever I read.

This book is very profound because it was the first to make me feel bodoh, but in a good way. It made me humble of how little I understood about a field which I had previously thought I was an expert on, and it has certainly shifted and shaped the way I think about good literature these days.

I eagerly await Azrin’s next work and will continue to appreciate his current work, hopefully into the far future. I’ve got money on it that it will become a modern classic in Malaysian literature.

Give it a shot and see if you agree with me.
Profile Image for Hilmi Loma.
32 reviews9 followers
May 28, 2018
Huh...

Yes, itu yang terlahir saat saya habiskan bacaan. Kisah kisah di dalam ibaratnya saya melihat satu fashion show di New York Fashion Week dimana pereka fashion saling berlawan ego dengan pereka fashion yang lain, menunjukkan siapa yang lebih avant garde dan haute couture. Ini bukan suatu yang salah ya? Ini sesuatu yang bagus. Kisah kisah di dalam, kita boleh menilai busana busana mana yang melekat pada citarasa kita. Ada yang terlondeh, ada yang singkat, ada yang terus bogel dengan hanya chandelier tiara menutupi wajah sang model. See? Interesting bukan?

Penulis yang semestinya tinggi lampai handsome dan berkaca mata itu ada menyatakan yang beliau bereksperimentasi dengan air cerita. Sebabtu ada kalanya kita akan HUH? Dan ada kalanya kita akan DAMN SON. Membaca cerita cerita beliau juga meningatkan saya kepada game Bayonetta di pelantar ps3. Lepas satu level yang sukar, kita akan berhadapan lagi dengan level yang sukar, berhenti tarik nafas lawan dengan boss dan kembali istighfar sambil melaungkan kalimah keramat SIAL PUNYA BOS! Ya, begitulah emosi saya yang saling berperang sambil mengesat air mata I’m such a loser why lah aku tak paham cerita ni?! APA DOSA AKU TUHAN?!

Seperti kata sang penulis yang handsome, karya yang akan mencari pembacanya dan itu logik dengan cerita cerita di dalam buku ini. Sekali lagi saya tegaskan, ini bukan suatu kejian atau ketidakpuashati-an, tetapi saat anda memegang buku ini, gear up your mode to HARD MODE if you ever a gamers atau jika anda seorang penggemar filem, up kan level anda seperti Martin Scorsese atau secara lokal maybe Redz... oh wait. Maaf. Tidak sedefensive itu.

Enter at your own risk! I’m DEAD INSIDE!
Profile Image for Karim Mohd.
Author 21 books31 followers
March 5, 2018
Aku boleh baca seribu kali RFINGK! RFINGK! RFINGK! dan tak sekalipun berasa puas dengannya. Ya, pertarungan ruang dan bunyi sangat kuat dalam cerpen ni. Dan juga cerita-cerita lainnya.

Roberto Bolano pernah kata, kalau dia nak pergi rompak bank, dia akan ajak penyair bersamanya kerana mereka orang yang berani. Tetapi barangkali setelah membaca Metaskandal, Azrin bakal dipelawa merompak bank bersama Roberto Bolano pula. Azrin lebih berani dari mana-mana penyair yang wujud ketika ini. Dia bukan saja bereksperimentasi dengan bentuk, malah teknik penceritaan. Sebagai pencerita, ya, Azrin memegang peran pencerita dengan sangat baik.

Seperti Roslan Jomel yang mencipta negeri dongengan Malaywood, atau Latiff Mohidin yang mencipta 'sebuah bas biru' sebagai objek/ruang eksklusif, Azrin juga mencipta ruang seumpama itu; Kuala Lumpur yang lain, Pustaka Maya.

Mungkin ini sebuah reviu impresionis yang dikaburi emosi dan kekaguman terhadap penulis tetapi inilah pendapat aku setelah membacanya.
Profile Image for Sahidzan Salleh.
Author 14 books76 followers
Read
June 11, 2018
Mantap. Seronok. Dan ada style. Bukowski kata, style tu yang penting.
Profile Image for Hikaoru.
953 reviews25 followers
August 16, 2018
Dang, people really like this book. My friend bought it at PBAKL. It was recommended by the seller. We've been eyeing Roman publishing for a while now 'cause the cover is superb.

However, this took forever to finish and I'd check my progress after every story. That's how tedious I find it. Perhaps I just don't understand art. *shrugs*

P/S: I like the prose, very pretty
Profile Image for H0ney_ruby .
38 reviews2 followers
August 21, 2018
"Pandanglah ke masa depan, bergeraklah ke masa lalu. " antara petikan daripada cerpen yang bertajuk Sonia. Walaupun aku ini sebagai pembaca, cerita Sonia itu boleh buat aku terpukau dalam pada masa yang sama menyeramkan.
Aku mulakan pembacaan daripada bahagian Kaos dan jujur aku katakan cerpen-cerpen pada bahagian ini kebanyakannya menarik. Selain Sonia; Serigala, Revolver dan Gadis Berambut Oren juga menjadi kegemaran aku. Secara purata buku Metaskandal ini aku beri 4.8/5. Sangat puas. Kenyang dengan imaginasi. Syabas diucapkan kepada Azrin Fauzi.
Profile Image for Fahmi Khir.
71 reviews3 followers
August 14, 2018
Cerita-cerita yang membuka ruang dan mengisi bunyi. Di celahan, bukaan, bedilan dan geseran. Untuk tidak menjadi gagal, hilang kan sempadan pada wilayah imaginasi (peribadi) ketika membaca.

Terima lah takdir diri, yang akan selalu resah menjarah ruang walau seinci atau secakerawala.

Dan penerimaan ruang paling utama ialah yang tumbuh dari celah kuku sendiri.
Profile Image for singa is reading.
69 reviews1 follower
March 22, 2022
ya.aku adalah salah satu warga masyarakat yang tidak dan tak akan menghargai naskhah ini.

kenapa?

sebab aku terlalu buta untuk karya yang celik seni ini.terlalu tinggi untuk aku yang bodoh ini.terlalu deep untuk aku yang mainstream ini.dan ofcos,aku bukan budak seni yang belajar seni,tahu seni,minat seni dan apa2 lagi berkaitan dengan seni sebab tu aku rasa buku ni bosan sebab aku tak faham banyak perkara kecuali sedikit.jadi aku takboleh relate.

nasihat aku,kalau kamu jenis yang deep,sasterawan hakiki,pencinta seni abstrak,pedagogi yang maha dahsyat etsetera etsetera.buku ni adalah untuk kau.selain itu,bazir duit sahaja.

mungkin betul kata penulis.karya yang memilih pembaca,bukan pembaca memilih karya.

sememangnya ini adalah 'art berat'
Profile Image for Ira Nadhirah.
603 reviews
May 1, 2019
I like his writing since Urban. Cuma kali ini agak kompleks. Dan aku sedang dalam status hilang punca.
Profile Image for Nur Dini.
93 reviews11 followers
June 14, 2024
Wow! Saya memang kagum!

Disebalik banyak penggunaan ruang dalam cerpen-cerpen nya, saya cukup suka apabila Azrin Fauzi mengkiritik patrearki, korupsi, ketamakan, dan keganasan dalam Metaskandal. Penulisan Azrin Fauzi dalam Metaskandal ini sepertinya mahu pembacanya membuat intepretasi sendiri dan kerap kali dia menaikkan lagi rasa ingin tahu saya.

Memandangkan dia banyak mengunakan konsep ruang, ada masa saya juga rasa seperti dalam filem arahan Christopher Nolan terutamanya filem Inception dan Tenet.

Saya sejujurnya bukan penulis resensi yang terbaik tapi kalau anda sukakan filem- filem Christopher Nolan atau konsep ‘absurdism’, anda harus baca Metaskandal!
Profile Image for Ariza.
98 reviews27 followers
Read
November 17, 2021
Bahagian outro cerpen buat aku diserap masuk dalam dunia lain. Kena lebih berjaga-jaga jugak masa duduk sorang-sorang dalam satu-satu ruang. Ada beberapa cerpen yang watak utamanya seperti hanyut dalam fantasi surreal bila duduk bersendirian. Dengan efek benda bukan hidup yang ada perasaan dan berkata-kata. Aku risaulah berjangkit. Boleh jadi satu pengalaman yang menyeronokkan dan mengerikan bila mula imaginasi macam-macam ni. Personal favorite cerpen pertama dan juga dunia Maya.

Cerpen Kata David kepada David buat aku teringat cerita It's me It's me, sebab baru 2 hari lepas tengok. Cerpen ni seakan-akan filem pendek yang tergantung. Habis cerita dan kau selak halaman seterusnya tapi kau ditipu sebab diberi kesedaran cerita memang dah habis. Kau kena redha dan meneka-neka sendiri. Satu kepuasan juga.

Ada juga beberapa cerpen yang ada unsur infiniti. Aku tak tahu nak gambarkan macam mana. Seperti kau terjebak dalam cerita yang tak berkesudahan. Seakan pengulangan tapi bukan, cerita masih bersambung tapi seakan kau tersedut masuk dalam dunia yang bikin kau pusing, dan kena cari jalan keluar. The evil cycle? Entahla.

Akhir bab wawancara, penulis ada sebutkan kumpulan cerpen buku ni cuba untuk berkonsepkan mirip album kugiran dalam bentuk cerpen. Makes sense in a way. Seperti satu-satu album lagu, ada sesetengah lagu yang kita layan dan nikmati saja. Ada masa kita tenggelam dalam lirik lagunya. Suka hati kitalah sebagai pendengar nak nikmati cara apa. Lebih suka hati lah penyanyi nak buat lagu macam mana.

Solo yang pendek dan nampak macam bersahaja. Seperti intermission, tapi berjaya buat aku tergamam dan terkedu macam tu je.

Personal favorite untuk Kaos ialah cerpen pertama.

Dan cara sambungan bacaan aku untuk buku ni, kemungkinan besar akan pergi cari A Moment of Innocence untuk ditonton atau keluar jalan-jalan ke KL yang lain.
Profile Image for Ema.
1,118 reviews
November 20, 2019
Sebelum aku baca buku azrin, aku baca wan azriq. Nampak tak betapa peningnya aku.

Profile Image for Aliff Awan.
Author 6 books19 followers
March 16, 2020
Mengulang baca. Suka kekemasan yang Azrin bina dalam cerpen-cerpennya. Nek Som dan kucingnya? Comel dan seksi dan kemas. Lif dan jual ibu? Entah apa perasaan yang boleh digambarkan.

Ia menarik. Azrin penting.
Profile Image for Athirah Salleh.
85 reviews10 followers
January 23, 2021
Kompilasi cerpen pendek selalunya ‘hit and miss’ bagi aku. Ada yang enjoyable ada yang kurang. Mungkin sebab aku yang kurang memahami. Tapi masih karya yang baik.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.