Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ubur-ubur Lembur

Rate this book
Hal kedua yang gue nggak sempat kasih tahu Iman: jadi orang yang dikenal publik harus tahan dengan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan asumsi yang salah. Gue kurusan dikit, dikomentarin orang yang baru ketemu, ‘Bang Radit, kurusan, deh. Buat film baru, ya?’ Gue geleng, ‘Enggak.’ Gue bilang, ‘Emang lagi diet aja.’ Dia malah balas bilang, ‘Ah, bohong! Paling abis putus cinta, kan?’

Giliran gue potong rambut botak, ada orang yang ketemu gue di mall nanya, ‘Wah botak sekarang? Lagi shooting Tuyul dan Mbak Yul Reborn, ya, Bang?’ Kalau udah gitu gue cuma terkekeh sambil jawab, ‘Enggak, lagi cosplay jadi kacang Sukro, nih.’

*****

Ubur-ubur Lembur adalah buku komedi Raditya Dika. Bercerita tentang pengalamannya belajar hidup dari apa yang dia cintai, sambil menemukan hal remeh untuk ditertawakan di sepanjang perjalanan.

Seluruh bab di dalamnya diangkat dari kisah nyata.

240 pages, Paperback

First published February 1, 2018

115 people are currently reading
1639 people want to read

About the author

Raditya Dika

18 books1,954 followers
Raditya Dika is an Indonesian comedy writer. His first book was a collection of his humorous blog entries, entitled Kambingjantan: Catatan Harian Pelajar Bodoh (Malegoat: Diary of a Stupid Student).

His second book chronicles his unbeliavebly jinxed love life, entitled Cinta Brontosaurus (Brontosaurus Love). Published a year following the success of his previous work. His latest books, bearing the title Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (Radikus Makankakus: Not Your Ordinary Animal) & Babi Ngesot (Sliding Pig) follows the tone of his previous works.

All of his books targets the stupidity and self-depreciating ridiculousness of a boy trying to get to adulthood, along with the absurdity of everyday life.

Currently he's working as director and editor-in-chief Bukune Publishing House.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
430 (36%)
4 stars
483 (41%)
3 stars
213 (18%)
2 stars
34 (2%)
1 star
17 (1%)
Displaying 1 - 30 of 206 reviews
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
February 17, 2018
"Instagram juga membuktikan bahwa sebagian masyarakat Indonesia itu munafik. Ini karena kebanyakan orang Indonesia punya dua akun Instagram. Akun yang pertama untuk pencitraan, untuk memperlihatkan betapa kerennya hidup dia. Akun yang kedua untuk jadi diri dia yang sebenarnya. Isinya gosipin orang, atau menggunakan akun itu untuk ngatain orang yang dia nggak suka."
Seperti buku-buku Raditya Dika yang sebelumnya, Ubur-Ubur Lembur juga adalah kumpulan cerita pendek yang berisi kisah pengalaman hidup penulisnya. Mengawali buku ini, Raditya Dika menulis bahwa salah satu hal yang memotivasinya untuk menulis adalah karena ia merasa apa yang ditulisnya merupakan sesuatu yang penting—yang harus dibaca oleh orang banyak. Melalui 14 cerita pendek yang ada dalam buku ini, Raditya Dika membagikan berbagai macam kegelisahan yang pernah dilaluinya dan apa yang ia dapatkan melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Dalam review ini, aku akan membagikan beberapa cerita yang paling berkesan untukku :)
"Bikin, mah, bikin aja. Nggak usah takut apa kata orang. Jelek bisa jadi bagus. Kalau nggak pernah bikin apa-apa, nggak ada yang bisa dibagusin."
Cerita pertama yang aku rasa sangat relatable adalah kisah yang diberi judul Curhatan Soal Instagram Zaman Now. Raditya Dika menyatakan bahwa Instagram sudah bukan lagi hanya sekadar media sosial untuk sharing, melainkan untuk pamer. Memamerkan kegiatan mereka saat sedang makan di tempat yang mahal, memamerkan destinasi liburan, dan lain sebagainya. Media sosial tersebut juga menjadi sarana untuk mengomentari kehidupan orang lain. Terlepas dari itu semua, Raditya Dika tetap menggunakan Instagram. Aku rasa semuanya bergantung kepada pengguna media sosial itu sendiri. Instagram maupun media sosial yang lain bisa digunakan untuk memberikan pengaruh yang negatif; tetapi sebenarnya jika dipikir-pikir, hal yang sama dapat digunakan untuk memberikan dampak yang sebaliknya.
"Jadi orang yang dikenal publik harus tahan dengan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan asumsi yang salah. Gue kurusan dikit, dikomentarin orang yang baru ketemu, 'Bang Radit, kurusan, deh. Buat film baru, ya?' Gue geleng, 'Enggak.' Gue bilang, 'Emang lagi diet aja.' Dia malah balas bilang, 'Ah, bohong. Paling abis putus cinta, kan?'"
Percakapan Dengan Seorang Anak yang Ingin Jadi Artis juga adalah salah satu cerita yang menarik bagiku. Melalui kisah ini, Raditya Dika merenungkan tentang obsesi orang Indonesia terhadap artis. Pengalaman yang ia ceritakan adalah pertemuannya dengan seorang anak SMP yang bertanya padanya bagaimana caranya menjadi seorang artis. Anak tersebut punya bayangan bahwa menjadi seorang artis sama dengan memiliki kehidupan yang 'enak'. Saat itu, Raditya Dika tidak sempat membagikan hal-hal negatif yang datang bersamaan dengan popularitas. Media lebih banyak menyorot kehidupan artis yang nyaman dan terkesan menyenangkan—tanpa mengungkap hal-hal yang tersembunyi di balik itu semua. Raditya Dika pun juga menceritakan perjalanannya menuju popularitas yang ia lalui sedikit demi sedikit—sehingga ia tidak pernah merasa dirinya adalah seorang artis. Dan meskipun dengan segala popularitas yang dimilikinya saat ini, ia memilih untuk tidak banyak berubah dan tetap menjadi dirinya sendiri apa adanya.
"Intinya ini: semua hal yang kita tonton adalah bentuk lebih bahagia dari dunia nyata. Termasuk menjadi seorang artis."
"Jangan-jangan, kita, orang Indonesia, emang senang saja ngelihat orang lain susah. Berita yang paling cepat trending adalah tentang perceraian, berita tentang artis anu lagi kena masalah. Artis anu lagi kena tipu, pasti langsung ramai diberitakan di mana-mana, dan kita menikmati melihat kehidupan orang lain lebih memprihatinkan dari kita."
Isu yang dibahas Raditya Dika dalam ceritanya dengan judul Korban Tak Sampai juga membuatku berpikir. Salah satu pembahasannya adalah tentang orang-orang yang suka jadi hakim sendiri; terutama terhadap apa yang mereka melihat di media. Selain itu aku merasa ada kebenaran dari pernyataan Raditya Dika yang aku kutip di atas, bahwa berita yang paling cepat marak di masyarakat adalah berita yang negatif. Menurutku, hal tersebut semakin diperparah dengan fakta bahwa menyebarkan berita buruk zaman sekarang sangatlah mudah untuk dilakukan—tinggal copy paste dan kirimkan pada orang atau group yang kita mau. Belakangan ini aku berusaha untuk tidak terlalu mudah mengomentari atau menghakimi berita-berita yang beredar, tetapi pada kenyataannya hal tersebut sangat susah untuk dilakukan. Yang aku selalu berusaha lakukan adalah mengingatkan diriku sendiri bahwa melalui berita, aku hanya tahu sebagian dari fakta yang ada—bukan seluruhnya. Dengan demikian, setidaknya kecenderunganku untuk main hakim sendiri jadi lebih berkurang.
"Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti. Gue nggak mau jadi ubur-ubur lembur; gue mau punya tulang belakang. Gue mau bisa berjalan di antara kedua kaki. Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita."
Masih ada banyak cerita-cerita yang lain dalam buku ini; dan mungkin cerita yang berkesan bagi setiap pembaca akan berbeda-beda. Seperti buku-buku Raditya Dika sebelumnya, ada juga beberapa kisah tentang pengalaman patah hati. Tetapi untukku, tiga cerita di atas mengangkat isu atau tema yang lebih meninggalkan bekas dalam pikiranku. Selama aku sakit beberapa waktu yang lalu, Ubur-Ubur Lembur berhasil menjadi hiburan yang menyenangkan saat aku terbaring di tempat tidur. Penulisannya tetap ringan dan mudah dibaca; tidak butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Walaupun menurutku sudah tidak banyak bagian yang membuatku tertawa sampai terbahak seperti buku-buku awal Raditya Dika, aku suka dengan tema / isu relevan yang dibahas dalam buku ini. Looking forward to his future works!

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2018/0...
Profile Image for MAILA.
481 reviews120 followers
February 1, 2018
''Nay, cinta itu kayak permen karet.'' gue menirukan gaya seseorang yang sedang mengunyah permen karet. ''semakin lo nikmatin, rasanya akan semakin hambar.''

Naya berkata, ''sampai akhirnya harus dibuang?''

Gue nggak menjawab pertanyaan Naya, dan malah berkata, ''jalan aja, yuk.''

***

AKHIRNYA SETELAH HAMPIR 3 TAHUN MENUNGGU!

Selamat untuk buku barunya bang!

mixed feeling banget pas nunggu dan pas baca buku ini. pas udah selesai, rasanya super lega tapi juga nagih.

kenal Radit pas gue kelas 2 SMP. gue masih remaja labil gak jelas, gak punya identitas, ikut berbagai macam circle tanpa tahu siapa diri gue yang sebenarnya.

gue sebenernya udah baca bukunya Radit pas kelas 1, 4 buku pertamanya dari Kambing jantan, radikus makan kakus, cinta brontosaurus sama babi ngesot. tapi menurut gue 4 buku pertamanya itu aneh, gak jelas.

gue baru benar-benar jatuh cinta sama radit pas Marmut merah jambu terbit. gue baru benar-benar tau ''gue mau jadi sosok dan orang yang kayak gimana'' pas gue selesai baca itu.

tahun berlalu, bukunya radit muncul kembali pas gue kelas 2 SMA dan Koala Kumal, yang terakhir kemarin muncul pas gue di tahun pertama kerja.

semua bukunya, entah kenapa selalu terbit di momen yang pas. di suatu masa dimana gue butuh seorang ''teman.''

begitu juga dengan Ubur Ubur Lembur ini.

njir, gue masih nangis ini ya Allah T_T

***

isi buku ini tidak semuanya baru. ada beberapa yang pernah radit bawakan di stand up yang beberapa waktu lalu ia unggah ke akun youtube-nya. tapi membacanya tetap menarik, lo bisa mendengar suara radit dan bagaimana ia berekspresi ketika membaca cerita2 tersebut. jadinya lo malah ketawa tapi juga merasa salut. ''gila, radit jago banget bikin tulisan yang kayak gini''

ini yang selalu bikin gue merasa nagih baca bukunya radit. tulisan dia rapi, cakep, dan ''hidup''

di beberapa cerita sempat ada karikatur2 lucu gitu ya khas buku2nya radit lah. gue pikir bakal ada 1 chapter yang isinya karikatur/komik2 lucu gitu juga untungnya enggak. jujur aja gue kurang suka sih konten komik gitu di bukunya Radit. soalnya lebih sering gak lucu mana sampai berlembar2 mending buat cerita yang lain hh

konten ubur-ubur lembur beragam. ada beberapa yang flashback ada juga beberapa kisah temannya radit yang ia coba bagi dengan sudut pandang yang berbeda.

tapi kalau lo mengikuti tulisan radit dari buku pertama, lo pasti akan setuju sama gue kalau Radit itu sudah bertumbuh. Radit sudah tumbuh dewasa tapi Radit tidak berubah.

dia masih tetap orang yang sama, yang pernah LDR sama pacarnya di Australia-Indo, yang pernah dikira bencong pas coba nelpon gebetannya tengah malem, yang pernah pacaran sama Sherina.

Dengan banyaknya tahun yang sudah terlewat sejak buku pertamanya terbit dan dengan banyaknya medium karya yang ia buat baik di layar lebar atau video online (youtube), Radit tetap masih menjadi seorang yang sama, sosok laki-laki yang dengan jujur tanpa malu menyuarakan, membagi dan bercerita tentang kegelisahan dan keresahan hatinya.

MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNN

tulung ini w malah makin kejer hhh T^T

***

di buku Koala Kumal seinget gue banyak yang ngasih review buruk ya. katanya tulisannya berubah, trus kebanyakan bahas hal serius dan gak ada yang lucu. di buku ini Radit tuh semacam ngasih penjelasan kalau dia gak berubah. dia tidak pernah berubah, hanya sedang bertumbuh saja. dan memang di Koala Kumal, keresahan yang ia rasakan ya memang ''membahas'' hal yang serius, makanya tulisannya mungkin berisi sedikit hal yang membuatmu tertawa.

Nah kalau di buku ini, karena gue orang yang pertama review jadi tidak tau gimana nanti kesan orang2, tapi asli bab penutup buku ini keren banget. bikin mewek, membuat w pengen ''bergerak.''

Radit aja terus tumbuh dan bikin prestasi, masa gue cuma mau ''baca dan melihat'' dia doang sih?

gue harus buat prestasi dan ikut tumbuh juga dong!

Haaaahh,

intinya setelah gue membaca buku ini, gue akan semakin rajin berdoa pada tuhan semoga bang Radit diberi usia yang panjang. biar terus menulis, terus berbagi keresahan. gue penasaran keresahan macam apa yang nanti bakal dia bagi pas sudah menikah dan punya anak hehehehe

Terima kasih sudah menyelesaikan dan menuliskan buku ini bang!
Terima kasih karena sudah berbagi.
Terima kasih karena sudah berani.
Terima kasih karena sudah terus menulis.

Terima kasih karena telah memberikan gue keberanian.
Terima kasih karena terus memberikan gue harapan.
Terima kasih karena sudah menemani ketika gue merasa kebingungan.
Terima kasih, karena tanpa sadar, sosok ''Maila'' atau ''gue'' ini, sedikit banyak memiliki karakter yang terbentuk dari buku-buku lo. Tenang aja, karakter yang baik-baik kok xD

Gue gak malu bilang ke orang-orang kalau lo penulis favorit gue. Selalu. Akan w ucapkan dengan bangga!

Terima kasih karena sudah menuliskan buku ini bang. Ditunggu buku selanjutnya. Ditunggu cerita yang lainnya.

***

''Lo berapa kali patah hati?''

''berkali-kali' ''dan gue memakai bekas luka gue dengan bangga''

''bekas luka?''

''iya. kayak lo abis jatoh atau ketusuk piso, pasti ada bekas luka, kan? gue pakai semua bekas luka patah hati gue dengan bangga. sebagai pengingat bahwa gue pernah melalui semua dan masih hidup. keren, nggak?''

keren dit.
lo keren banget.
tai lo dit, kapan sih u bikin buku jelek??!!!! capek woy kejer mlulu tiap selesai baca buku u T_T
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
February 15, 2018
Jujur saja, saya membeli Ubur-Ubur Lembur karena merasa sebagai "kewajiban". Buku pertama Raditya Dika, KambingJantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh adalah buku yang menginspirasi saya menulis di blog. Setelah itu saya membeli buku kedua, ketiga dan seterusnya. Sampai di buku Manusia Setengah Salmon saya merasa bukunya biasa saja. Ga ada yg berubah. Ga istimewa. Tapi saya tetap setia membeli bukunya, mungkin semata-mata ingin melengkapi koleksi saja.

jadi ketika Ubur-Ubur Lembur terbit, saya nggak begitu pengen segera beli bukunya. Hanya saja pas buka Google Play, ada voucher diskon 50%, akhirnya saya beli juga Ubur-Ubur Lembur versi digitalnya. Langsung saya baca tanpa ekspektasi apa-apa, dan suprisingly... saya terhibur, tersentil, dan akhirnya menyematkan bintang empat.

Template-nya masih sama. Masih tentang keseharian Raditya. Tapi ada rasa 'kedewasaan' di buku ini. Bab yang paling berkesan tentu saja bab Ubur-Ubur Lembur dimana Raditya merangkum semua isi buku ini sebagai perjalanan yang mendewasakan dirinya. Secara khusus Raditya ingin memperlihatkan begini lho kehidupan seorang penulis.

Ada satu pelajaran yang saya ambil dari buku ini (masih dalam bab Ubur-Ubur Lembur), yaitu tentang cara pandang terhadap karir. Seperti yang dituliskan Raditya, umumnya kita melihat karir sebagai garis vertikal ke atas. Kenapa nggak mencoba melihatnya sebagai garis horisontal? Berangkat dari penulis blog, penulis buku, penulis skenario, pemain film, youtouber, dan seterusnya yang dilakukan Raditya hanya memindahkan karirnya sebagai pencerita ke "samping", pencerita dalam berbagai format. Well...ini membuat saya kembali berpikir bahwa mengejar karir itu tidak selalu ke atas. Bisa saja dengan memperluas lingkaran karir saat ini. Yang penting seperti kata Bapaknya Raditya, "Just do what you do best, and money will come by itself."
Profile Image for Reyhan Ismail.
Author 3 books10 followers
February 4, 2018
Setiap bab mengandung pesan dan kesan yang berbeda. Bab 'Pada Sebuah Kebun Binatang' adalah bab tentang patah hati, bab 'Mata Ketemu Mata' adalah bab paling lucu (menurut saya), bab 'Dibawah Mendung Yang Sama adalah bab tentang persahabatan masa kecil, bab Tempat Shooting Horor adalah bab tentang sebuah ketakutan dan beberapa bab diantaranya juga menyinggung tentang kondisi dunia hiburan dan bagaimana masyarakat memandang artis saat ini. Seperti buku-buku sebelumnya Radit menutup buku ini dengan menjawab apa makna dari judul Ubur-Ubur Lembur.

Makin kesini gaya penulisan Radit semakin rapi. Ia mulai bertumbuh dengan persepsi yang semakin dewasa. Saya justru lebih suka karyanya yang satu ini, jujur, apa adanya namun tetap puitis dengan ceritanya yang biasa-biasa saja. Tidak ada alur cerita yang terlalu memaksakan pembacanya untuk tertawa, semuanya hanya mengalir begitu saja.

Bisa dibilang buku ini mungkin akan menjadi buku terakhir Radit sebelum melapas masa lajang.
Sebagai pembaca saya sudah merasa puas :)
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
February 21, 2018
"Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti."

Bukunya Raditya Dika yang paling dalem sekaligus paling dewasa. Bakal dibaca ulang kapan-kapan.
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
March 5, 2018
Saya paling suka tulisan tentang Kathu. Persahabatan antara Radit dengan kathu begitu ajaib. Seperti fiksi tapi nyata. Mereka bertemu saat hujan. Kathu terkunci di luar rumahnya, kemudian Radit mengajak Kathu berteduh. Mereka mulai berteman saat itu. Mulai banyak kegiatan bersama. Sampai pada suatu hari Kathu mesti pulang ke India. Kathu dan Radit pun akhirnya sibuk dengan kehidupan masing-masing.

20 tahun kemudian, mereka bertemu lagi di Indonesia. Kathu sengaja pergi ke Indonesia untuk bertemu dengan kawan kecilnya, Radit. Bisa kita lihat Kathu dan Radit di RVlog.

Dari cerita ini, saya jadi tahu sisi lain dari Radit. Ternyata dia seorang kawan yang baik. Hubungan Kathu dan Radit itu hubungan antara manusia. Mereka berbeda ras dan bahasa sejak kecil, tapi mereka bisa bersatu. Perbedaan bukanlah jurang, tapi jembatan yang mempersatukan mereka. Lalu hal lain yang mampu mempersatukan adalah ketulusan dan kejujuran. Mungkin, tidak ada lem lebih kuat daripada dua hal itu dalam relationship.

Saya juga suka tulisan Ubur-Ubur Lembur. Saya jadi tahu bagaimana perjuangan Radit menjadi seorang penulis. Tidaklah mudah. Banyak yang dikorbankan. Banyak juga keberanian yang diperlukan. Ya, meski banyak orang yang bilang tulisan Radit begitu-begitu doang. Garing. Ia sering diledekin komedian lainnya. Tapi ya tulisan Radit menang di bagian tulus dan jujur. Ternyata tulus dan jujur bisa jadi senjata ampuh juga dalam menulis, bukan hanya soal hubungan.

Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
April 17, 2018
Dari semua buku Bang Raditya Dika yang sudah saya baca, Ubur-ubur Lembur ini favorit saya.


Karena kisah-kisahnya lebih dalam mengena. Hanya sedikit soal cinta di sini; lebih banyak soal renungan kehidupan yang mana I can relate to so much. Makanya saya suka. Merasa tertampar.

Entah berapa kali gue berpikir ingin kembali ke masa kecil dulu. Ketika kecil, tanggung jawab kita terbatas. Pulang sekolah yang dipikirkan hanya main game apa lagi sore ini. Semua terlihat berwarna dan bahagia: kartun minggu pagi, tertawa bareng teman, naik sepeda sampai senja tiba. Semua menjadi nggak seru lagi ketika dewasa. Problem hidup datang, seperti yang dialami Kathu. Ditinggalkan orang tua. Dikecewakan orang yang kita sayang. (hal. 92-93)


Semakin gue ngelihat Kathu, semakin gue sadar ada begitu banyak hal yang berubah tapi juga ada yang sama. Kathu sekarang lebih getir dalam melihat hidup. Mungkin karena orang dewasa adalah koleksi trauma-trauma masa lalunya. Kathu yang dulu optimis bermain sama gue, sekarang lebih santai, lebih realistis melihat berbagai persoalan. Kami bukan anak-anak lagi sekarang. Kami sudah dewasa.
Jangan-jangan ini inti dari menjadi orang dewasa: untuk lupa rasanya senang dengan sepenuh tenaga. Kalau dulu ketika kita jatuh cinta sama orang, kita bisa sepenuh jiwa raga berkorban untuk orang itu. Sekarang kalau jatuh cinta, penuh dengan kehati-hatian: apakah orangnya benaran baik? Apa motivasi dia ngedeketin kita? Apakah hubungan ini akan berakhir dengan perih seperti yang dulu-dulu? (hal. 98-99)


... berpikir gue nggak bisa begini terus. Menjadi karyawan memang hidup aman. Makan dari gaji, bekerja mengikuti perintah atasan, dan sekali-sekali, diledekin sama orang semacam ini. Tapi, gue juga berpikir kalau gue kerja lima kali lebih keras, gaji yang gue dapat nggak lima kali lebih banyak.
Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti.
Gue nggak mau jadi ubur-ubur lembur; gue mau punya tulang belakang. Gue mau bisa berjalan di antara kedua kaki. Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita. (hal. 225-226)


Sangat nge-jleb sampai rasanya mau nangis. :"""")

Saya juga suka sekali bab Percakapan dengan Seorang Artis dan Percakapan dengan Seorang Anak yang Ingin Menjadi Artis. Di situ dikupas sisi lain kehidupan glamor seleb, yang sesungguhnya tidak glamor--malah memprihatinkan. Bagus sekali Bang Raditya Dika menulisnya dalam buku ini sehingga pembacanya--terutama para kids zaman now--jadi terbuka matanya bahwa apa yang terlihat kadang hanyalah kepalsuan.

Dan satu hal favorit saya lagi di buku ini: bab gajenya cuma satu, Curhatan Soal Instagram Zaman Now. Di buku-buku Bang Raditya Dika sebelumnya, ada 2 sampai 3 bab yang "nggak jelas", yang isinya ngata-ngatain cewek lah, atau apalah... bukan berisi tulisan panjang hasil perenungan dia tentang kejadian-kejadian yang dialaminya. Saya paling males membaca bab-bab gaje semacam itu. Di buku ini cuma satu, membuat nilai plus bukunya naik karena muatan bukunya menjadi lebih dalam, tajam, dan merasa nggak rugi beli buku.

Suka sekali, dan setelah ini saya merasa harus memikirkan ulang tentang kehidupan saya sebagai karyawan. Ingin rasanya suatu hari nanti seperti Bang Raditya Dika: makan dari hal yang dicintai, terlibat dalam berbagai industri kreatif, dan tidak harus menjalani kehidupan kantoran. Berusaha mensyukuri dan mencintai hidup dengan sepenuh jiwa.

PS: Bang Radit, Anda bisa bergeser media sebagai "pencerita"... entah itu film, YouTube, stand up comedy, apa pun. Tapi, tak ada yang mengalahkan feel cerita Anda sebagai pencerita sebenarnya melalui tulisan di buku. Di situlah Anda bisa berekspresi dengan paling baik, paling mengena. :') Ditunggu buku selanjutnya!
Profile Image for Nining Sriningsih.
361 reviews38 followers
July 14, 2019
*beli di Google Playstore
waktu ultah Gagas Media, jadi cuma bayar 16rb, lumayan..
:D

untung baca'y di rumah, kl di tempat umum pasti disangka gila karena ketawa sendiri..
XD

terharu pas di bagian perpisahan dengan Katu..
ketawa ngakak di bagian Instagram, iya banget emank gitu..
:p
Profile Image for Haris Firmansyah.
Author 12 books35 followers
February 14, 2018
Buku Raditya Dika paling nggak lucu, tapi saya malah suka banget. Saya berharap Dika tetap menulis buku, selain bikin film dan konten YouTube. Walau nggak bikin ketawa banget kayak Kambing Jantan atau Babi Ngesot, tulisannya di Ubur-Ubur Lembur tetap enak dibaca dan menghibur. Lagipula label buku ini bukan komedi, tapi kumpulan cerita. Nggak ada kewajiban bikin ketawa juga. Yang terpenting, setiap bab dalam buku ini terasa penting sebab memang Dika ingin menyampaikan apa yang menurutnya orang lain perlu tahu.

Bagi saya yang sudah pernah nonton Stand Up Comedy dia, ada beberapa jokes yang sudah pernah dipakai di materinya. Satu bab yang membahas Instagram malah seperti materi SUC yang dibukukan, jadi saya lewatkan saja.

Overall, keren.
Profile Image for Iyas Utomo.
567 reviews10 followers
May 20, 2018
[Rating: 3.5]

Udah lama gak baca buku karya Radit, tapi ya mirip buku-buku dia sebelumnya, masih aja gokil dan bikin ngakak di bagian-bagian yang gak disangka-sangka. Yakin, doi memang spesialis di bidang ini.

Tapi, mungkin di buku ini lebih dewasa ya, ada pesan yang memang pantes disampein orang seusia dia kepada orang-orang yang lebih muda. Tentang arti hidup kita, tujuan hidup kita, dan masa iya lu mau jadi diri lu yang gitu-gitu aja.

Klise memang, tapi tiap ada yang bilang hal ini, otomatis diri akan berpikir, "Oh iyaya, apa iya gw mau kayak gini terus? Sampe kapan gw jadi ubur2 terus? trus kapan gw bisa jalan di atas kaki gw sendiri dan punya tulang belakang yang akhirnya bisa nyangga tubuh gw?"
Profile Image for Dion Sagirang.
Author 5 books56 followers
August 8, 2018
Terakhir kali baca buku Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon, pas zaman-zaman kuliah, dan sampai saat ini masih berbekas. Lalu saya melewatkan Koala Kumal, karena seperti makanan, kadang saya melewatkan beberapa menu hanya untuk steik yang lezat. Tetapi akan tiba kita berada pada mood ingin melahap semua makanan yang ada di atas meja, maka saya memilih bacaan-bacaan ringan namun berbobot seperti Ubur-ubur Lembur. Saya suka. Raditya Dika semakin matang, entah sebagai pencerita yang diklaimnya, atau sebagai seorang penulis. Dia sudah semakin piawai. Tetapi, entah kenapa saya lebih suka Manusia Setengah Salmon, dengan segala filosofi yang dibawanya. Yang ini juga sangat bagus buat remaja dalam masa peralihan menuju dewasa. Namun buat saya ini bukan sesuatu yang baru.
Profile Image for Rain.
106 reviews18 followers
February 10, 2018
Salah satu yang paling membekas dari buku ini: "Hidup dari hal yang disukai"
Profile Image for Ayah & ibu.
53 reviews1 follower
February 27, 2018
selalu enjoy dengan karya karya raditya dika, bahasa bahasanya enak dibaca, mudah dimengerti dan ga pake bahasa planet kekinian, tapi mampu menyentuh hati, mampu bikin "oh..." , bab paling di suka yaitu ; di bawah mendung yang sama.

terus nulis nulis ya penulis favoritku
Profile Image for Stevi Lin.
49 reviews
March 30, 2018
Ternyata banyak dapat insight baru abis baca buku ini :)
(selain bikin cekakak cekikik gak jelas).
Recommended banget buat dibaca pas lagi stress/santai.
Untung Mas Dika putuskan untuk tetap tulis buku ini ya.. jadi bisa dinikmati oleh semua orang.


===============agak spoiler====================
Kutipan dari bab 'Penyesalan itu Nikmat'
"Lu pernah nyesel nggak, sih?"
"Nyesel apa?" tanya gue balik.
"Jadi Penulis. Lo gak dapat uang pensiun. Lo nggak tahu sampai kapan Lo bisa nulis, bikin film.
Kayak gak ada kepastian gitu."

Kutipan dari bab 'Ubur-ubur Lembur'
"Gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti
seekor ubur-ubur lembur. Lemah, lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam,
tapi gak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti."
"Gue gak mau jadi ubur-ubur lembur; gue mau punya tulang belakang. Gue mau bisa berjalan
di antara kedua kaki. Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan
mencintai hidup kita."

"Hidup sebagai penulis itu enak nggak , sih?"
"Iya, enak. Tapi nggak selamanya enak juga, sih. Pasti ada alasan kenapa penulis dikatakan
sebagai profesi yang paling banyak kemungkinan bunuh dirinya di dunia."
"Namun, menjadi penulis berarti kamu punya kebebasan penuh terhadap hidupmu."
Profile Image for Erick Paramata.
21 reviews8 followers
February 10, 2018
'Lo berapa kali patah hati?'
'Berkali-kali... Dan gue memakai bekas luka gue dengan bangga.'
'Bekas luka?'
'Iya, kayak lo abis jatoh atau ketusuk piso, pasti ada bekas luka, kan? Gue pakai semua bekas luka patah hati gue dengan bangga. Sebagai pengingat bahwa gue pernah melalui itu semuda dan masih hidup. Keren, nggak?'

-BAB: Pada Sebuah Kebun Binatang, Hal.22-

---------------------------------------
2 buku terakhir jeda terbitnya bisa lebih dari 2 tahun. Buku ini sudah terdengar dari pertengahan tahun lalu. Lama menunggu akhirnya terbit juga.

Sekali lagi soal Komedi Pakai Hati ala Raditya Dika, kita akan dibawa ke pengalaman-pengalaman lucunya namun berharga, sehingga kita juga bisa belajar dari cerita ini.

Ceritanya terdengar fresh untuk yang sering ngikutin Raditya Dika di twiiter, Youtube, Instagram. Karena banyak cerita yang berlatar tahun 2016. Membaca buku ini mengingatkan ketika awal membaca kambing jantan dan buku-buku radit lainnya, sangat khas. :)
101 reviews6 followers
February 6, 2018
Finally, Dik
.
.
.
Setelah koala kumal tahun 2015 awal, dan 3 tahun kemudian lo baru memunculkan karya baru, well banyak sih melalui media lain hanya saja gue lebih suka membaca karya lo dik, dibanding menonton entah kenapa pesan-pesannya lebih nangkep sih ke gue.

Anyway gue memberi 3 bintang untuk lo karena terima kasih lo gajadi nerbitin buku tahun 2020 seperti yang lo blang di twitter waktu itu. Dan sama seperti koala kumal komedi yang masih fresh tapi tetep gue rasain hikmahnya, gue gaberani kasih nilai 4/5 karena ini buku gak semembekas gue baca koala kumal, emang bab-nya lebih banyak dari koala kumal hanya saja gue ngerasa lebih nyesss di koala kumal dibanding ini, but perhaps gue bakal baca ulang buku ini untuk lebih ngedapetin sensaninya!
Profile Image for Audy D.
16 reviews6 followers
February 12, 2018
Dengan umur yg terus berjalan gua ngerasa di setiap buku yg bang radit terbitin ada sebuah kedewasaan dalam bersikap, baik itu dari cara nyampein apa yang ada di dalam buku ini, sudut pandang yg di pertajam dengan perspektif yg tetap gaya bang radit banget. Walaupun buku ini di genre komedi gak semua bab yg bikin gua sampe tertawa ngakak, cuma senyum senyum doang.

Terima kasih banget buat bang radit yg sudah berbagi sudut pandang dalam hal pekerjaan, karena gua lagi ngalamin dimana ada sebuah titik jenuh dimana gua gak menikmati kerjaan yg gua jalanin skrg.
Profile Image for Medirtle.
4 reviews1 follower
February 5, 2018
Gue termasuk salah satu pengagum RadityaDika dgn sgala kekreatifannyadan bagaimana dia mengerti pangsa pasar yg dia targetkan melalui buku2nya dan film2nya, perihal
karyanya, terusterang spertinya gue bukan kelompok orang yg ditargetkan Radit :) , makanya suka ga nyambung..hehe..Ketuaan kayaknya gue. Tapi di buku ini, message yg disampaikan menurut gue nyampe ke segala kalangan dan sgala umur. Di buku kali ini, gue bisa melihat dengan jelas pesan2 khidupan yg mau dsampaikan Radit melalui pengalaman2nya. Bab fav gw : ubur2 lembur, yg memotivasi gue kala umur gw udah menginjak range mid 30.
Profile Image for Hartanto Kuswara.
1 review20 followers
February 9, 2018
bukunya lumayan menghibur, dengan ciri khas radit yang lama. Namun kontennya sendiri mengalami penurunan. Ceritanya serasa terlalu diburu - buru sehingga terdapat banyak pertanyaan yang membekas di benak pembaca.

Unsur humor masih ada, namun sepertinya sudah tidak selucu yang dahulu. Overall, buku ini bukan yang terbaik, tapi intisari dar kisah tersebut bisa kita implementasi dalam hidup sehari hari.
Profile Image for Arul Dagul.
Author 1 book2 followers
February 4, 2018
Habis dalam sehari, Bagus. Lucu. Paling suka sama bab terakhir: Ubur-Ubur Lembur: YOK BERJUANG YOK!
Profile Image for Vicky Royibha.
1 review
February 4, 2018
Goodjob radit, finally setelah kurang lebih 3 tahun absen terbitin buku, Ubur-ubur lembur hadir sebagai penyegar dan setiap bab punya cerita berbeda untuk dimaknai.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,094 reviews17 followers
January 26, 2024
Buku Raditya Dika kali ini bercerita tentang asmara, pertemanan, pilihan hidup (karier), dan pengalamannya sebagai orang yang bekerja di dunia hiburan (entertainment). Yang menjadi perhatian saya adalah dua ceritanya yang berjudul Ubur-Ubur Lembur dan Percakapan dengan Seorang Artis.

Ubur-Ubur Lembur menceritakan tentang pengalaman Radit yang setelah lulus kuliah, ia berprofesi sebagai pegawai kantoran dan bekerja secara shift. Di lingkungan kerjanya itu, ia bertemu dengan senior yang suka mengerjainya, salah satunya ketika ia disuruh membelikan payung padahal saat itu sedang tidak hujan. Merasa direndahkan, ia pun masuk ke dalam toilet kantor untuk merenungi pilihan hidupnya. Lantas, ketika buku pertamanya yang berjudul 'Kambing Jantan' mulai dicetak dan dijual di toko buku, ia yakin tentang pilihan kariernya sebagai penulis. Lalu, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai kantoran.

Meskipun ia berasal dari keluarga menengah ke atas, pilihannya untuk menjadi penulis dilalui dengan proses. Ia merasa jika karier itu biasa arahnya vertikal (kenaikan pangkat), ia membuatnya jadi horizontal. Jadi, karena pada dasarnya ia adalah pencerita, maka karier lainnya yang ia coba selain menjadi penulis buku adalah menjadi penulis skenario film dan serial TV, sutradara, serta aktor. Sehingga, pekerjaannya saat ini adalah hobi yang dibayar.

Selain itu pada judul Percakapan dengan Seorang Artis, ia menceritakan tentang obrolannya dengan Prilly Latuconsina. Mereka berdialog tentang kehidupan artis yang sebenarnya. Prilly pun menjelaskan ia suka curiga jika ada seseorang yang tiba-tiba dekat dengannya karena ia merasa orang tersebut mendekatinya hanya untuk mendapatkan kepopuleran atau pansos (panjat sosial). Meskipun begitu, Prilly merasa apa yang didapatnya hari ini adalah berkat para penggemarnya yang selalu memberikan dukungan. Jadi, ketika ada salah satu penggemarnya yang ingin berfoto atau rela menunggunya di tempat shooting, ia dengan senang hati menerima ajakan tersebut. Di sisi lain, para artis yang lingkungannya diliputi dengan keramaian penggemar dan sorot kamera, ternyata merasakan juga kesepian. Itulah yang terkadang dirasakan Prilly, begitu juga Radit (karena buku ini ditulis sebelum ia menikah).
Profile Image for Sophia Mega.
Author 4 books136 followers
April 2, 2018
Beberapa orang mungkin menganggap buku-buku dari Raditya Dika cenderung 'receh'. Kalau dilihat dari segi komedi, memang buku ini sangat ringan. Tapi kalau dilihat ke dalam, buku ini bagus banget.

Menceritakan perjalanan Raditya Dika dari nol sampai bisa kita lihat hari ini, orang yang suka nulis, dan terus konsisten baik buku, youtube, film dan stand up comedynya. Dalam perjalanan karir yang semakin cemerlang, dia masih jadi orang pada umumnya: masih bisa direpotin teman karena urusan sepele, yakni diminta temannya ke rumah mantan temennya untuk minta gak jadi putus, Raditya Dika punya teman dekat dan pertemuan-pertemuan lucu dengan penggemarnya.

Yang saya suka: dia sesekali berpikir bahwa mungkin lebih enak tidak dikenal sama sekali, tapi di lain hal dia menyeimbangkannya dengan: tetep ada enaknya kok dikenal.
Profile Image for Diza Permatasari.
67 reviews1 follower
February 23, 2018
Akhirnya setelah sekian lama keluar juga buku dari Raditya Dika :)
Ini adalah buku favorit kedua gw dari Raditya Dika setelah kambing jantan.

Lebih ngena dan suka sama buku yang ini, lebih down to earth sih menurut gw.. Atau mungkin karena gw ngerasa ini nyambung sama kehidupan gw kali ya.

Oh gw tau, ga melulu soal cinta2an, ada sih yaa tapi ga banyak dan itu bukan tema utama dari buku kali ini.
Humor? Well, ga bikin ngakak banget kaya kambing jantan tapi cukup buat bikin gw ngikik sendiri.
Yang pasti lebih ke arah sharing (?) dan gw suka gaya ceritanya yang maju mundur cantik. Maksudnya kadang ada flashback atau cerita dimulai dengan reminisce sesuatu dari masa lalu dan relatable.

I really enjoyed this book. Thank you :)

Profile Image for Faizah Finur F.
102 reviews26 followers
July 17, 2018
Compared to Raditya Dika's other books, this one is waaay wiser. Idk but I feel it. It might have been influenced by him getting older and gains richer experiences, or he simply got better in his writing skill. It still contains his usual jokes and unique -if not weird- events happened in his life, he got a way of delivering emotions to words. Thankfully telling us something about some values in life lol.
Displaying 1 - 30 of 206 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.