Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dongeng Panjang Literasi Indonesia

Rate this book
Meski langkah awal untuk membangun masyarakat yang literat, dengan menjadikan membaca dan menulis sebagai kebutuhan. Akan tetapi, jika literasi kemudian ditafsirkan semata perkara membaca dan menulis tanpa dilengkapi dengan kompetensi mengelola, menganalisa, mengemas kembali dan membagikan informasi, maka individu akan tergusur dari jamannya.

Demikianlah sebuah pertanyaan penting yang diajukan oleh penulis mengenai ruang lingkup dan definisi literasi.
Melalui esei-eseinya yang sederhana, penulis memberikan sebuah cara pandang yang lebih luas mengenai literasi dan kegiatan yang berhubungan dengan literasi, bahwa literasi buka perkara baca tulis belaka.

Jadi kegiatan literasi seperti apakah yang akan kita kembangkan? Apakah melulu perkara keberaksaraan, atau mempersiapkan individu-individu agar memiliki kompetensi literasi yang lebih universal dan kontiniutas?

117 pages, Paperback

Published January 27, 2018

4 people are currently reading
39 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (22%)
4 stars
26 (49%)
3 stars
12 (22%)
2 stars
2 (3%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
February 22, 2023
Apakah literasi sekadar aktivitas baca-tulis? Atau, semboyan salam bahkan slogan yang menggandeng kata literasi? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Menurut Yona Primadesi di dalam tulisannya, Bukan Sekadar Baca Tulis, literasi dalam beberapa hasil riset terpublikasi memang merujuk pada keberaksaraan. Namun, hal itu perlu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dongeng Panjang Literasi Indonesia (DPLI) adalah sehimpun esai naratif tentang pengalaman penulis, Yona Primadesi, selama bergiat di dunia literasi dan mendidik sang anak, Abinaya Ghina Jamela yang juga seorang penulis.

Membaca DPLI serasa membaca curhatan sekaligus wejangan ibu kepada anak untuk terus tumbuh dan belajar sepanjang hayat. Banyak kalimat bijak yang saya temukan di dalamnya. Misal, perkara literasi informasi yang relevan dengan kebutuhan manusia zaman kiwari. Di era ini, setiap individu dituntut untuk mampu memfilter informasi-informasi sesuai dengan kebutuhannya. Bahkan informasi yang sesuai kebutuhan pun harus disaring lagi perkara keakuratan dan kredibilitasnya. Kemudian mengolah informasi tersebut menjadi komoditi baru. Paling tidak untuk konsumsi pribadi.

Jika individu memiliki kompetensi tersebut, maka niscaya ia tidak akan tersesat dalam perang informasi akhir-akhir ini. Kemampuan itulah yang kemudian dikenal dengan istilah literasi informasi atau literasi masa kini. (hal. 5)


Di tulisan berjudul "Anak Saya Suka Baca dan Itu Bikin Was-Was", Penulis bercerita soal keresahan hatinya manakala melihat Naya yang suka meragukan banyak hal sejak doyan membaca. Di bagian ini, Penulis juga mempertanyakan perihal kredo: membaca itu baik dan bermanfaat bahkan bisa mencerdaskan bangsa.

Bagi Bunda Yona, membaca sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal individu. Adapun selama ini, berbagai kegiatan seputar aktivitas membaca lebih melihat membaca dan persoalannya dari faktor eksternal semata. Hal-hal selain itu, seperti apa yang dibaca, motif membaca, tingkat intelegensi, gender, sosial budaya, atau pun aktivasi dalam proses membaca seringkali diabaikan.

Jadi, apakah membaca itu memang bermanfaat dan membuat cerdas? Di tulisan "Anak Saya Suka Baca dan Itu Bikin Was-was", Penulis mengingatkan, kalau pun kita bersikukuh mendukung pernyataan tersebut, mestinya kita juga getol mengkaji, manfaat seperti apa yang didatangkan dari aktivitas membaca? Apa indikator kebermanfaatannya? Jangan-jangan nih kita terlalu sibuk mendorong orang lain untuk membaca, sehingga tidak memiliki waktu untuk menikmati aktivitas membaca hingga jadi bingung ketika ditanya, apa manfaat membaca?

Literasi bukan perkara mudah. Perlu partisipasi aktif semua pihak dan bersifat kontinuitas. (hal.55)

Literasi menyangkut banyak aspek. Satu aspeknya yakni baca-tulis, yang kemudian mesti dikembangkan menjadi baca, kaji, hitung, nalar, kritis, tulis, komunikatif. (hal. 56)


Dalam buku DPLI, Penulis juga memberikan bekal awal literasi bagi anak, yaitu adanya literasi diri. Literasi ini berupa aktivitas mengolah raga, rasa, dan intelektualitas anak dengan memperhatikan faktor-faktor yang berangkat dari dunia anak. Contohnya, dunia anak adalah bermain, anak-anak senang bercerita, anak-anak merupakan pembelajar aktif, anak-anak gemar berkompetisi, hingga anak-anak sangat ingin mandiri. Pegiat literasi harus aktif mengampanyekan literasi diri ini.

Di samping itu, Penulis mengajak para pembaca agar memperkenalkan dan membiasakan anak-anak untuk membaca sastra. Membaca sastra tidak hanya mengenai kesenangan, akan tetapi membangun ketajaman berpikir, serta membangun empati terhadap lingkungan. (hal. 65)

Sebetulnya banyak sekali kutipan menarik dari buku ini yang telah saya pindahkan dalam sebuah catatan terpisah. Beberapa di antaranya telah saya sematkan dalam ulasan ini.

Akhir kalam, membaca kumpulan esai Bunda Yona di buku ini membuat saya langsung terngiang dengan celotehan Naya di buku Mengapa Aku Harus Membaca?. DPLI dan MAHM adalah dua buku yang saling bersahutan seperti dialog pemikiran antara anak dan ibu. Kalau kamu pegiat literasi atau para (calon) ibu yang ingin anaknya punya kebiasaan baik membaca, masukanlah buku ini dalam daftar 'teman duduk'mu.


Salam literasi untuk Bunda Yona dan Naya ^^
Profile Image for Wahyu Novian.
333 reviews44 followers
January 7, 2020
Setelah melewati fase geregetan ingin mengedit kata-kata yang salah berkali-kali (aktifitas vs aktivitas) dan beberapa kalimat yang diulang-ulang serta kurang efektif (beberapa bahkan menggantung), saya setuju sekali dengan inti sari buku ini. Literasi memang tidak sekadar baca tulis hitung (Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memberikan pidato yang senada). Pemahaman akan yang dibaca, yang ditulis, dan yang dihitung lah yang seharusnya diutamakan. Dan iya, negeri kita sudah lama menggalakkan budaya gemar membaca. Mungkin memang harus lebih dipelajari, kenapa sampai sekarang kampanyenya masih saja tentang hal yang sama dan belum maju ke tingkat selanjutnya.

Yona Primadesi menuliskan opini-opini yang sangat menarik untuk didiskusikan dan dikerjakan bersama. Literasi anaknya, Abinaya Ghina Jamela, yang menurut saya di atas rata-rata bisa menjadi salah satu contoh membangun keluarga yang literat (Naya keren sekali sudah menerbitkan banyak karyanya). Tetap saja, buku ini lebih baik lagi jika bisa disunting dengan lebih teliti dan hati-hati di edisi selanjutnya.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,972 followers
May 13, 2019
"Atau jangan-jangan kita terlalu sibuk mendorong orang lain untuk membaca, sehingga tidak memiliki waktu untuk menikmati aktivitas membaca hingga jadi bingung ketika ditanya, apa manfaat membaca?"


Yona Primadesi menyampaikan gagasan-gagasannya terkait literasi dalam beberapa esai. Baginya, literasi tak sekedar memberangus buta huruf. Literasi juga bukanlah ajang keren-kerenan semata yang bertabur euforia tanpa ada realisasi nyata. Literasi hendaknya bukan cuma ajang kampanye.

Yona mengkritisi dan juga memberikan masukan terhadap gerakan literasi yang selama ini sudah dilakukan di negeri ini. Bagi Yona, gerakan literasi bersifat inklusif. Bukan eksklusif seperti yang banyak orang pikir. Ada andil dan perang lingkungan dalam membentuk individu yang literet.

Semakin ke dalam, Yona semakin banyak membahas mengenai literasi pada anak. Bagaimana tidak, Yona juga memiliki sebuah ruang yang diberi nama Rumah Kreatif Naya. Di situlah ia melakukan observasi terhadap anak-anak dan keluarga terkait literasi. Dan hasil observasinya dituangkan dalam esai-esai yang terhimpun di buku ini.

Tulisan-tulisan Yona memantik diskusi lebih mendalam tentang literasi, utamanya literasi anak. Konten di dalamnya bagus, bahkan membuat kita berpikir lagi tentang kegiatan literasi yang sudah kita lakukan (setidaknya di sekitar lingkungan kita). Namun, yang cukup mengganggu adalah kesalahan ketik dan aksara yang tidak sesuai. Beberapa istilah dalam bahasa asing tidak dicetak secara miring. Bahkan ada beberapa tanda baca yang terlewat.

Terlepas dari itu, Dongeng Panjang Literasi Indonesia boleh sekali menjadi bacaan untuk semua orang. Agar mereka semua tahu, literasi itu tidak sekadar baca-tulis-hitung. Bahwa kewajiban untuk mengedukasi tidak hanya ada di tangan pemerintah dan instansi pendidikan.

"Literasi menyangkut banyak aspek. Satu aspeknya yakni baca-tulis, yang kemudian mesti dikembangkan menjadi baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis-komunikatif."
Profile Image for Puty.
Author 5 books1,406 followers
March 18, 2021
Buku ini merupakan kumpulan esai soal literasi di Indonesia yang ditulis oleh ibunya Abinaya Ghina Jamela. Ini penting disebutkan karena sebagian esai di buku ini merujuk kepada Naya sebagai 'contoh kasus', misalnya soal bagaimana orang tua berperan penting dalam membesarkan anak yang suka membaca dan kritis terhadap bacaannya, juga bertanggung jawab untuk mengkurasi bacaan anak tanpa mengekang.

Ada setidaknya 2 esai yang menurut saya tidak begitu relevan dengan literasi dan terkesan mengglorifikasi masa lalu tanpa smart phone dan media sosial. Sisanya menurut saya oke banget sebagai pengantar kenapa topik literasi ini punya urgensi untuk diperjuangkan di Indonesia. Bukunya juga terbilang tipis dan setiap esai tidak terlalu panjang, jadi tidak terasa overwhelming.

Oh iya, satu lagi yang saya sayangkan adalah banyaknya typo. Biasanya saya nggak rewel tapi karena ini perkara menyebut 'aktivitas' menjadi 'aktifitas' yang berulang-ulang, rasanya agak ganggu.

Recommended!
Profile Image for Syifa Andini.
18 reviews
September 12, 2022
Pertanyaan tentang, "kapan sih masalah literasi Indonesia itu selesai?", kerap menghantui saya, sampai akhirnya menemukan buku ini.

Buku yang ditulis oleh Mbak Yona Primadesi ini membuat saya sebagai orang yang tertarik dengan isu pendidikan literasi tertampar. Kalimatnya kurang lebih seperti ini,

"Saking serunya mengampanyekan kegiatan membaca, terkadang kita lupa menikmati aktivitas membaca itu sendiri" DEG!

Buku ini bikin saya sadar kalo yang namanya literasi merupakan proses pembelajaran seumur hidup. Selain itu, literasi itu bukan cuma perkara baca-tulis-hitung (calistung) aja, tapi juga baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis.

Meskipun memiliki halaman yang tidak banyak, tapi saya membutuhkan waktu yang cukup lama dalam membaca buku ini. Hal ini disebabkan karena hampir setiap bab yang ada di buku ini membuat saya merefleksikan kembali pengalaman saya di masa lampau.

Kalo ditanya, ingin merekomendasikan buku ini ke siapa? Jawabanny, semua orang hehe. Kenapa? Karena pendidikan literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, keluarga dan juga lingkungan punya peran besar dalam pendidikan, khususnya kalau dalam konteks buku ini dalam menumbuhkan minat baca anak dan kemajuan literasi bangsa.
Profile Image for Wawan.
69 reviews6 followers
February 11, 2018
Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.
Profile Image for Stebby Julionatan.
Author 16 books55 followers
February 4, 2018
Tak salah memang ungakapn yang mengatakan jika anak yang pintar lahir dari ibu yang cerdas. Abinaya Ghina Jamela, yang buku puisinya, Resep Membuat Jagat Raya, masuk dalam 10 besar nominasi buku puisi KLA 2017... adalah putri dari Yona Primadesi, dosen sekaligus penulis buku kumpulan esai Dongeng Panjang Literasi Indonesia.

Nah lewat bukunya ini, Yona mengajak kita kembali merenungkan masalah pendidikan literasi pada anak-anak, generasi emas Indonesia. Pentingkah? Benarkah literasi hanya persoalan buku dan kebiasaan membaca? Apa yang salah dengan budaya oral bangsa kita? Dan... bagaimanakah seharusnya peran pemerintah, khususnya perpustakaan daerah untuk meningkatkan semangat literasi masyarakat?

Saya rasa, buku ini sangat cocok untuk ibu-ibu yang ingin anaknya cerdas seperti Naya. Ingin anaknya suka membaca. Bagaimana membangun ketertarikan, bukan hanya kepada buku, tapi juga materi yang ada dalam buku tersebut. Yona, memaparkan contoh-contoh dan caranya di halaman 82.
Profile Image for Monica Fitriani.
10 reviews
July 20, 2022
"Literasi bukan hanya perkara baca tulis hitung, tapi menyangkut berbagau aspek yang mesti dikembangkan menjadi baca, kaji, hitung, nalar, kritis, tulis, dan komunikatif"

Seperti judul, buku ini berisi kumpulan esai terkait literasi Indonesia. Menyadarkan tentang pentingnya sebagai orang tua untuk bisa menghidupkan budaya literasi ngga cuma memberikan akses untuk membaca, tapi juga memahami anak lebih jauh dengan mengajak banyak diskusi dan aktivitas bersama. Sehingga minat, motivasi, serta kebiasaan anak bisa bisa terbentuk dan akhirnya memunculkan cerdas dalam membaca.

Esai-esai yang disajikan termasuk pendek. Sehingga sekali duduk bisa menghabiskan beberapa esai sekaligus. Sayangnya banyak typo yg cukup banyak mengganggu.
Profile Image for Siti Maisyaroh.
5 reviews
April 21, 2021
Kumpulan esai ini cukup menarik untuk belajar apa sebenarnya literasi, bagaimana orang tua berperan penting dalam menanamkan budaya literasi pada anak, menyikapi anak yang suka dan kritis terhadap bacaannya sekaligus bertanggung jawab untuk mengkurasi bacaan anak tanpa mengekang.

Ada cukup banyak pembahasan yang menurut saya di ulang-ulang pada beberapa essai. Dan ada beberapa essai di akhir buku yang menurut saya kurang relevan dengan literasi dan cenderung memaksakan. Dan... cukup banyak typo! Sayang sekaliii~ sampai terasa mengganggu soalnya 😭 overall, essai lainnya menarik, terutama essai-essai yang menyangkut topik urgensi literasi yang patut diperjuangkan di Indonesia.
Profile Image for Aldi Rahman .
1 review4 followers
February 21, 2018
Buku berjudul “Dongeng Panjang Literasi Indonesia: Sehimpun Esai” menggambarkan hal-hal yang kita abaikan sebab adanya suatu benchmark dicipta oleh kebanyakan orang. Patokan untuk paksa lahirnya budaya membaca, tingkatkan minat baca, gerakan literasi, tapi lupa bahwa definisi literasi bukanlah sesempit itu. Literasi dapat dimaknai sebagai sebuah proses pembelajaran yang berlangsung seumur hidup. Buku yang akan membuka pemahaman mengenai literasi.
Profile Image for M Mushthafa.
145 reviews17 followers
June 5, 2018
Buku ini memuat banyak gagasan yang mengilhamkan untuk pengembangan literasi di Indonesia. Sudut pandangnya yang kritis dan juga berbasis pengalaman di lapangan membuat buku ini memiliki kekuatan argumentasi yang baik untuk diangkat sebagai rekomendasi kebijakan bagi pengembangan literasi.
Profile Image for Liana Maharani.
8 reviews
January 8, 2022
Menambah sudut pandang baru tentang literasi, khususnya literasi anak. Setelah ini jadi (ingin) banyak berbenah dimulai dari diri sendiri dahulu, sebelum dipraktikkan langsung ke anak. Semoga bisa. Terima kasih Mbak Yona Primadesi sudah menuliskannya!
Profile Image for Mawaddah Bella.
3 reviews
December 30, 2022
Menarik!
Membuka sisi lain dari gerakan literasi yang sedang digaungkan beberapa tahun ini. Penulis menggambarkan berdasarkan sudut pandangnya akademisi dan juga sebagai orang tua.

Hanya saja, ada cukup banyak kesalahan ejaan dalam penulisan yang mengganggu hehe
Profile Image for Nermi Silaban.
1 review8 followers
January 13, 2018
Sebuah referensi yang kaya pengalaman mengenai literasi anak, bahwa literasi tidak hanya perkara membaca dan menulis
Profile Image for Irma Rizqia.
1 review
October 22, 2019
Buku yang sarat makna dan memiliki pandangan yang komperhensif tentang pengertian literasi. Dengan bahasa yang santai tapi dalam.
4 reviews
January 16, 2020
Buku ini sangat baik dijadikan bahan baca untuk seluruh orangtua bagaimana cara menempatkan posisi anak dengan baik dan benar serta mampu membimbing orangtua untuk menarik minat anak dalam literasi
Profile Image for Andreas Porwanto.
379 reviews65 followers
October 22, 2021
This book may be small, but it surely packs a punch. Would’ve given this book a 5-star rating if it wasn’t for the fact that there were a lot of typos.
224 reviews1 follower
December 3, 2021
Terima kasih saya ucapkan kepada Kak Yona karena telah menuliskan buku ini, buku yang kaya akan informasi mengenai dunia literasi.
Profile Image for Pipa.
235 reviews3 followers
Read
July 20, 2022
Tulisan yg bagus untuk teman refleksi sebagai orangtua, pustakawan, kutu buku dalam merumuskan kembali makna literasi.

Namun sayang, banyak ditemukan kesalahan ketik di buku ini.
Profile Image for Lalu Fatah.
Author 12 books35 followers
December 27, 2024
Isinya menarik. Tinggal penyuntingannya yang harus lebih cermat lagi. Ada banyak hal penting saya dapatkan dari buku kecil ini.
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.