Ummat islam saat ini memerlukan persatuan dan kesatuan, hal itu untuk menghadapi tantangan bersama yang mengancam eksistensi, akidah, dan identitas keislaman mereka. Persatuan itu tidak mungkin terwujud tanpa kembali dan Rasul-Nya, kemudian berpegang dengan persamaan diantara mereka.
Di antara kelompok-kelompok muslim di dunia adalah kelompok Wahabiyah di Saudi Arabia dan Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia. Musuh-musuh Islam telah berusaha untuk membenturkan dan menghancurkan keduanya, namun Allah menyelamatkan mereka dari musibah ini. Bagaimana hal itu terjadi dan apa sebabnya? Baca saja buku ini dengan santai.
Ali Mustafa Yaqub, lahir di Batang Jawa Tengah, 1952. Obsesinya untuk terus belajar di sekolah umum terpaksa kandas, karena setelah tamat SMP ia harus mengikuti arahan orangtuanya, mencari kaweruh di Pesantren. Maka dengan diantar ayahnya, pada tahun 1966 ia mulai mondhok untuk menerima piwulang di Pondok Seblak Jombang sampai tingkat Tsanawyah 1969. Kemudia ia nyantri lagi di Pesantren Tebuireng ...Jombang yang lokasinya hanya beberapa ratus meter saja dari Pondok Seblak. Di samping belajar formal sampai Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari, di Pesantren ini ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai sepuh, antara lain al-Marhum KH. Idris Kamali, al-Marhum KH. Adlan Ali, al-Marhum KH. Shobari dan al-Musnid KH. Syansuri Badawi. Di Pesantren ini ia mengajar Bahasa Arab, sampai awal 1976.
Tahun 1976 ia mencari ilmu lagi di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia, sampai tamat dengan mendapatkan ijazah license, 1980. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan lagi di Universitas King Saud, Jurusan Tafsir dan Hadis, sampai tamat dengan memperoleh ijazah Master, 1985. Tahun itu juga ia pulang ke tanah air dan kini mengajar di Institut Ilmu al-Quran (IIQ), Institut Studi Ilmu al-Quran (ISIQ/PTIQ), Pengajian Tinggi Islam Masjid Istiqlal, Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan IAIN Syarif Hidayatullah, Tahun 1989, bersama keluarganya ia mendirikan Pesantren “Darus-Salam” di desa kelahirannya.
Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh yang aktif menulis ini, kini juga menjadi Sekjen Pimpinan Pusat Ittihadul Muaballighin, Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat, Ketua STIDA al-Hamidiyah Jakarta, dan sejak Ramadhan 1415 H/Februari 1995 ia diamanati untuk menjadi Pengasuh/Pelaksana Harian Pesantren al-Hamidiyah Depok, setelah pendirinya KH. Achmad Sjaichu wafat 4 Januari 1995. Terakhir ia didaulat oleh kawan-kawannya untuk menjadi Ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi).
Posisi / jabatan terakhir Prof DR Ali Mustafa Yaqub : * Pengasuh Ma'had (Pondok Pesantren) Darussunnah Ciputat * Imam Besar Masjid Istiqlal ke-4 (2005-2015) * Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI * dll ----- Pada hari Kamis 28 April 2016, 20 Rajab 1437 H, telah meninggal dunia dengan tenang, syaikhuna Prof DR Ali Mustafa Yaqub pada saat perjalanan ke RS Hermina Ciputat sekitar pukul 6 pagi.
Jenazah dishalatkan di masjid ma'had Darussunnah ba'da shalat Zhuhur, dan dimakamkan di halaman belakang di ma'had Darussunnah Ciputat.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'aa menerima semua amal ibadahnya, diampuni semua dosanya, dijauhkan dari azab kubur dan azab Neraka, serta mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya masuk surga tanpa hisab di Firdaus.
Wahabi (Salafi) termasuk istilah populer di kalangan ummat Islam dan sering disebut di mimbar ceramah maupun media, bahkan nama Wahabi ini sering dibenturkan dengan Nahdhatul Ulama (NU), sehingga terkesan Wahabi dan NU selalu bermusuhan, banyak perbedaannya dan sulit untuk berdamai dan bersatu.
Syaikh Ali Mustafa Yaqub rahimahullah dalam buku ini membahas mengenai Wahabi, membandingkannya (persamaan & perbedaaan) dengan NU, dan mencoba mencari titik temu antara Wahabi dan NU.
Dari awal buku ini sudah sangat menarik karena : 1. Ditulis oleh orang yang sudah banyak belajar dan tinggal di negeri Wahabi (Arab Saudi). Syaikh Ali menyelesaikan S1 dan S2 di Arab Saudi, total waktu tinggal di Arab Saudi sekitar 9 tahun. Banyak belajar dengan ulama Wahabi, termasuk Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.
2. Ditulis orang yang memiliki latar belakang NU. Sehingga wajar jika beliau membandingkannya dengan NU, serta mencoba mencari titik temunya.
3. Penulis adalah ulama hadits. Di negeri kita jarang ada ulama hadits, di antaranya yang terkenal adalah syaikh Ali Mustafa Yaqub. Ulama hadits sangat dihormati oleh kelompok Wahabi, sehingga poin penulis adalah ulama hadits merupakan poin penting yang sangat menarik.
4. Sebelum buku ini dicetak, draftnya sudah dibaca oleh Syaikh DR Ibrahim bin Sulaiman al-Nughaimishi yang merupakan Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, Indonesia, dengan menyertakan komentar bahwa buku ini sudah bagus, tidak ada catatan kecuali kesalahan cetak (bahasa) saja.
Berikut ini adalah pemaparan isi buku Titik Temu Wahabi-NU berdasarkan apa yang saya pahami setelah membacanya:
Istilah Wahabi Pengertian Wahabi adalah paham keagamaan yang dibawa oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di Jazirah Arab pada Abad 12 H. Pemahaman ini menggabungkan antara metode Salaf dalam bidang Aqidah, dan madzhab Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah dalam bidang Fiqh.
Istilah Wahabi dicetuskan oleh para Orientalis zaman dulu untuk gerakan tersebut, baik sebagai bentuk identifikasi maupun bentuk penghinaan.
Wahabi digunakan pada buku ini karena istilah ini yang terlanjur populer di masyarakat, untuk mempermudah kaum Muslimin memahami maksudnya.
Pengertian NU NU adalah paham keagamaan yang dibawa oleh Imam Muhammad Hasyim Asy'ari rahimahullah di Jazirah Arab pada tahun 1926 M. Pemahaman ini menggabungkan antara madzhab Imam Abu Hasan Al-Asy'ari rahimahullah dalam bidang Aqidah, dan madzhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i rahimahullah dalam bidang Fiqh.
Penyebab kerenggangan antara Wahabi dan NU Terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu mengambil informasi dari sumber yang tidak terpercaya dan membuat analogi/vonis yang keliru. Sedangkan faktor eksternal adalah peran musuh Islam yang terdiri dari Zionis dan sekutunya dalam memecah belah persatuan ummat Islam.
Pada bagian ini tambah menarik karena ada pembahasan mengenai dialog antara syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah dengan beberapa delegasi dari NU yang diterima oleh beliau. Hasilnya adalah NU bukan ahlu syirik (tidak menyembah kuburan, hanya ziarah dan mendoakan tanpa menyembah) dan bukan pula ahlu bid'ah (doa qunut shalat Shubuh ada dalilnya).
Wahabi dalam anggapan penulis adalah paham yang tidak mengkafir-kafirkan 4 madzhab maupun orang/kelompok lainnya. Selama 9 tahun penulis belajar di negeri Wahabi, beliau tidak pernah menemukan ulama yang mengkafirkan madzhab, bahkan justru ulama Wahabi membahas fiqh madzhab Hambali. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa jika ada orang dari kelompok Wahabi/Salafi yang suka mengkafir-kafirkan madzhab, maupun orang/kelompok lain yang bukan kafir, maka pada hakekatnya mereka bukanlah orang yang menjalankan ajaran paham Wahabi/Salafi, hanya mengaku-ngaku saja.
Titik Temu Wahabi - NU Pada bagian selanjutnya Titik Temu Wahabi – NU, penulis menyebutkan beberapa contoh persamaan sebanyak 31 contoh, mayoritas merupakan ushul dan sebagian lagi merupakan furu.
Sebagai orang yang juga belajar dan bergaul dengan para ulama, kiai dan masyarakat NU maupun Wahabi, saya menyimpulkan 31 contoh persamaan yang disebut syaikh Ali Mustafa Yaqub mayoritas sangat tepat, namun ada beberapa hal yang masih debatable, baik bagi kalangan Wahabi maupun Nu. Yaitu pada contoh : (6) Melaksanakan shalat Jum'at dengan dua kali adzan, (7) bolehnya menyampaikan pahala untuk mayyit, dan hal itu bermanfaat bagi mayyit, (17) boleh bertawassul dengan nama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dalam berdoa, (18) Talqin kepada mayyit setelah dikubur adalah boleh, dan (24) Bershalawat boleh menggunakan sayyidina, 5 poin contoh ini masih debatable di kalangan Wahabi. Sedangkan pada contoh: (13) menolak perayaan tahunan (haul) memperingati wafatnya orang shalih. Hasyim Asy'ari termasuk yang menolak hal ini. Poin contoh ini masih debatable di kalangan NU.
Namun pada bagian “Perbedaan dan Karakter”, syaikh Ali Mustafa Yaqub menjelaskan dalam tubuh Wahabi sendiri terjadi perbedaan pendapat, begitu juga dalam tubuh NU. Sehingga 6 poin yang debatable dari 31 poin titik temu Wahabi – NU adalah wajar, karena masih lebih banyak persamaannya dan yang dibahas memang aspek persamaannya, terutama dalam hal ushul.
Sedangkan perbedaan Wahabi – NU menurut syaikh Ali hanya terjadi dalam hal furu saja dan perbedaan pendapat tersebut sudah terjadi sebelum munculnya Wahabi dan NU. Syaikh Ali menyebut 4 contoh: 1. Perbedaan dalam memahami makna ayat mutasyabihat. Wahabi memilih metode Salaf dalam memahami ayat mutasyabihat tanpa tasybih, ta'wil, tahrif, ta'thil, dan takyif. Sedangkan NU memilih metode Khalaf, yaitu mentakwil ayat-ayat mutasyabihat
2. Meniatkan ziarah ke makam Nabi sejak awal. Imam Ibnu Taimiyyah melarangnya, sedangkan Imam Hasyim Asy'ari menyanggah pendapat tersebut. Bahkan dengan menyebut merupakan kebid'ahan Ibnu Taimiyah. Imam Hasyim Asy'ari juga membid'ahkan ulama lain? Namun Syaikh Ali menjelaskan redaksi bid'ah yang diucapkan hanyalah secara bahasa saja dan bukan untuk vonis membid'ahkan.
3. Doa Qunut. Wahabi hanya doa qunut nazilah, sedangkan NU doa qunut nazilah dan doa qunut Shubuh.
4. Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam . Wahabi tidak merayakan maulid, sedangkan NU merayakannya.
Keempat tersebut hanya contoh perbedaan, dan memang sengaja tidak dibahas banyak supaya tidak memperbesar dan memperuncing perbedaan pendapat. Semua contoh perbedaan tersebut terjadi dalam hal furu saja, sehingga wajar terjadi perbedaan pendapat, silakan memilih pendapat yang ingin diikuti dan dijalankan.
Pada bagian selanjutnya Syaikh Ali Mustafa Yaqub membahas mengenai Persatuan Ummat Islam. Beliau menekankan supaya ummat Islam bersatu, dan carilah titik temu (persamaannya) sebanyak-banyak, dan jangan memperbesar perbedaan pendapat, siapa yang menghendaki silakan mengamalkannya tanpa berdosa, dan yang tidak menghendaki silakan meninggalkannya tanpa berdosa.
Terakhir beliau juga membahas tentang sikap sebagian orang/kelompok yang hobi membid'ahkan amalan orang lain, seperti berpendapat adzan jum'at 2 kali adalah bid'ah, shalat tarawih 23 raka'at adalah bid'ah, membaca Al-Qur'an dan menghadiahi pahalanya untuk mayyit adalah bid'ah, orang NU yang gemar melakukannya adalah ahlu bi'dah, dan lain-lain: “Tidak ragu lagi bahwa hal ini menunjukkan ketidaktahuannya tentang Islam. Ia tidak mengetahui apa itu bid'ah. Seolah-olah bid'ah adalah apa yang ia tidak mengetahui dalilnya, atau semua amalan yang ia tidak melakukannya, atau setiap pendapat yang berbeda pendapat dengannya. Tidak mengherankan jika jumlah bid'ah dalam kamusnya banyak sekali. Apabila ia mengakui dirinya sebagai Salafi atau Wahabi, maka sebenarnya ia telah melenceng jauh dari ajaran Salafiyah atau Wahabiyah.” Pendapat yang bagus, dan tentu hal ini juga berlaku untuk siapa saja, kelompok manapun Wahabi, NU, maupun yang lain tidak boleh sembarangan membid'ah-bid'ahkan amalan orang lain.
Kesimpulannya, Wahabi dan NU memang berbeda, tapi banyak kesamaan yang ada pada keduanya sehingga dapat menjadi titik temu untuk senantiasa bersatu dan saling membantu dalam kebaikan, tidak saling menjatuhkan dan membid'ahkan/menyesatkan. Perbedaan khilafiyah dalam masalah furu adalah keniscayaan, jangan memperuncing perbedaan namun tonjolkanlah persamaan untuk kesatuan ummat Islam. Kedua belah pihak harus kompak untuk bersatu, jika satu saja dari kedua kelompok ini ada yang enggan bersatu dan selalu memperuncing perbedaan dan membuat resah ummat, maka persatuan ummat sulit tercapai. Semoga kedua belah pihak termasuk kelompok yang dapat mewujudkan persatuan ummat Islam. Aamiin.