Salah satu wabah yang paling cepat menular adalah kecemasan dan ketakutan.
-------------------
Yati Gendut mulai mencium bau kutukan di beranda rumah. Ia menjelaskannya kepada Marjiin, suaminya. Baunya mengandung sedikit amis ikan mati yang sudah berumur tiga hari, karat besi dan aroma cacing gelang yang kepanasan. Porsi terbanyak adalah aroma kenangan dicampur mawar. Marjiin tak peduli. Ia memilih tidur lagi. Yati Gendut sampai harus menyeretnya turun dari atas ranjang agar mencium sendiri bau kutukan itu. "Aku belum pakai celana!" teriak Marjiin.
Mereka tak pernah menduga kalau bau kutukan itu akan membentangkan seluruh kisah tersembunyi di Samaran. Aroma kenangan dicampur mawar itulah yang juga akan menentukan nasib seluruh penghuni Samaran.
Kisah sebuah kampung yang isinya orang-orang absurd, yang banyak sebenernya terjadi dalam realita, yakni: opo jare tonggo elek yo ojo dilakoni. Kemasan absurd ini diam-diam sempat menyampaikan makna ludruk, nilai bahwa "Tuhan telah mati" dengan pemaknaan yang dalam dan realita yang menyedihkan tapi karena dikemas absurd jadi gak sedih deh huhu. Tetapi ya gitu, ada beberapa part membosankan dan berasa panjang padahal ini novel tipis, khususnya di awal part 2. Dan ending yang tergesa-gesa dan membuat saya yang noob ini jadi kebingungan apa yang sedang terjadi, jelaskan padaku Mas Dadang~
Butuh waktu hampir 3 bulan untuk menyelesaikan buku ini. Waktu yang cukup lama untuk novel dengan 200 halaman. Salah satu sebabnya adaah alur yang sngat lambat. Kedua, cerita yang berkembng kemana-mana. Sampai akhir cerita, saya pun masih bingung apa tema besar yang menaunginya.
3/5 Awalnya saya membacanya dengan agak bosan, mungkin karena kurang memiliki motivasi, tapi begitu saya yakinkan diri saya bahwa novel ini dapat selesai dalam waktu sekali duduk, saya pun menyelesaikannya.
Singkat kata, saya menyukainya. Terutama saat ceritanya memasuki babak kedatangan para pemain Ludruk dan cerita mulai bercabang, saya menyukainya. Absurditas yang dihadirkan Dadang dalam novel ini sungguh luar biasa, seolah menulis apa yang diinginkan penulis, memberikan apa yang para tokoh-tokoh dalam novel ini pantas mereka dapatkan.
Meski demikian, ada beberapa hal yang membuat saya memberikan 3 bintang alih-alih 4 atau 5 untuk novel ini. Saya paham bahwa penulis hendak membangun mitologi-mitologi dalam ceritanya, namun mitologi-mitologi yang dibangun pada akhirnya seakan-akan tidak berguna dan diselesaikan dengan malas. Banyak potensi yang dapat dieksplor dari cerita ini, tapi penulis membuang build-up yang sudah ada.
Dalam beberapa bagian pun, terutama dari dialog pemain ludruk, ada dialog-dialog yang kok kesannya menceramahi. Saya memang akhirnya paham pesan yang ingin dibawa, tapi bukankah ini novel? Jika cerita dari awal hingga akhir bertaburan absurditas, kenapa repot-repot berceramah soal gender dan ideologi? Biarkan saja gagasan-gagagasan tersebut mengalir dengan subtil, tidak perlu terlalu eksplisit untuk novel seperti ini.
Tapi ya lagi-lagi, itu hanya pendapat subyektif saya.
"Tidak diragukan lagi," jawab Yati Gendut, "Orang-orang yang tidak suka berkerumun dan malas berbicara dengan banyak orang adalah orang yang selalu merasa benar sendiri dan cenderung suka meremehkan orang lain." (hlm. 40) • Awalnya saya menebak tokoh utamanya Marjiin dan istrinya Yati Gendut yang dikisahkan pertama kali, tapi ternyata tak semudah itu menebak di novel ini, Bambang. Novel yang beralur campuran ini berhasil membuatku berkonsentrasi penuh. Tidak membosankan dengan tokoh yang unik. Sepanjang membaca novel yang menurutku penuh dengan konflik yang kompleks tapi masih diselingi humor ini cukup membuatku bertanya apakah desa Samaran yang belum mengenal uang sebagai alat pembayaran yang sah ini beneran ada atau hanya fiksi belaka.
Dengan alur yang tidak bisa ditebak akhirnya, novel ini sederhana tapi mendebarkan. Dan aku paling suka bagian ludruk yang datang ke desa Samaran. Ketika para pemain ludruk berusaha untuk membuat tertawa penonton, sementara penduduk desa Samaran yang menonton tidak ada satupun yang senyum atau tertawa. Sedih gak sih, kalau ada yang ngelawak tapi ndak ada satupun penonton yang tertawa. Sebenarnya keinginan tertawa itu sudah ada di benak tiap penduduk Samaran yang menonton, tapi mereka menahannya karena berpikir pantaskah seseorang yang kesusahan ditertawakan. Mereka bahkan tidak tahu peran yang dimainkan dalam ludruk itu bersifat menghibur.
An underdog Indonesian novel. Rasa mistik, surealis, psudo-historical, banal dalam 1 novel. Sedikit terasa jejak Ahmad Tohari dan Eka Kurniawan dalam narasi yang timelinenya agak ngejelimet, tapi perlahan membuka satu persatu tirai cerita di balik karakter-karakternya.
Mungkin karena jeda cerita dari satu karakter dan karakter lainnya terlalu sempit dan juga alur maju mundurnya tidak dibatasi, harus sedikit kerja keras dan konsentrasi untuk memvisualkan halaman demi halamannya.
Namun, karena memang judul novel ini adalah nama desa tempat seluruh karakter hidup dan 'hidup', mungkin pengarang memang bermaksud untuk 'menyatukan' keseluruhan ceritanya menjadi deskripsi dari Samaran itu sendiri.
Cerita yang menarik, tapi dibuat pusing di bab tentang sejarah pembentukan daerah Samaran ini. Ada alur di mana garis keturunan tokoh-tokohnya berasal dari Majapahit. Singkatnya Mas Dadang memberikan kisah antara Majapahit, agama, budaya, dan sejarah. Karena saya tidak begitu tertarik dengan cerita kerajaan membuat saya hanya mengikuti alurnya saja. Saya suka bagaimana tokoh-tokoh perempuannya hidup dalam stigma budaya patriarki. Terus menyinggung bahwa perempuan menjadi kelas kedua, persaingan antara sesama perempuan. Menarik untuk dibaca~
Buku ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat di sebuah kampung bernama Samaran yang masih benar-benar primitif bahkan mereka pun masih melakukan sistem barter bukan jual beli menggunakan uang, mereka hidup dari ketersediaan alam di sekitar mereka. Semua tokohnya benar-benar absurd dan alurnya juga berbelit-belit. Namun nyatanya aku tetap bisa menikmati cerita di buku ini. Ada bagian juga di mana aku merasa tengah membaca cerita seperti aku menonton film kolosal gitu. Serandom itu emang ceritanya 😅
Samaran adalah nama desa yang letaknya sungguh sulit untuk dideskripsikan karena sangat terisolir. Di dalam novel ini, kita akan dibawa menelusuri sebab-akibat dari segala kejadian yang terdapat pada tokoh-tokoh yang ada di sana. Sebut saja Marjiin, Yati Gendut, Aba Gabah, Mat Ali, dll yang memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Selain itu, ada juga kisah tentang raja-raja zaman dahulu, Majapahit, yang ternyata masih berhubungan dengan asal-usul Desa Samaran.
A good novel but I give it 2 stars for its desperately ugly cover, 🤮 Surely I will buy a new edition if it is republished with a "normal" cover design and just throw this edition to the nearest trash can. A book is not only about a content consists of text but also about its cover designed to be seen by human, yes, human.
Novel yang enak dibaca. Novel yang menurut saya bergenre komedi ini bacaannya sangat ringan. Novel ini menceritakan tentang asal usul sebuah desa yang dinamakan Samaran, dari mulai dibangun oleh para leluhur hingga punahnya semua penduduk samaran karena ulah penduduknya sendiri.
Kisah tentang sebuah kampung bernama samaran.... Cerita nya unik, plot twist nya ok hanya gaya bahasa yang digunakan serasa tidak efektif, saya mengulang kalimat untuk memahami maksud penulis! 200halaman jadi terasa lama sekali tapi setengah buku terakhir saya habiskan sekali duduk.... Karena seru
Gak tahu harus bilang apa. Endingnya gak jelas. Ya mungkin emang karakteristik novel semacam ini sih, dibilang historical ya gak seberapa, penulis terkesan buru-buru di endingnya Maaf ya.
Dadang Ari Murtono mengingatkan kembali pembaca pada budaya orang Indonesia, lewat sebuah desa yang bernama Samaran. Novel ini berkisah tentang asal usul desa Samaran, dan kehidupan orang-orang di dalamnya.
Tentang seorang pembenci, perselingkuhan, intrik kuasa,mitos, dan lain sebagainya. Semua terwakili lewat karakter Yati Gendut, Mat Ali, Kepala Kampung, Aba Gabah, dll.