"Apakah setiap perempuan ditakdirkan untuk menghadapi dua pilihan seperti ini?"
Ini kalimat Tasya yang bikin saya sebal dan jadi makin nggak simpati dengan karakter tokoh utama dalam novel ini, haha. Kurang piknik emang si Tasya, gaulnya kurang jauh. Nggak tahu apa... begitu banyak lajang yang boro-boro ditaksir (bahkan dilamar) dua cowok, satu aja berpuluh tahun nunggu nggak nongol-nongol. Lha, ini sih saya curcol, wkwk.
Di sisi lain, kesebalan saya ini adalah salah satu keberhasilan penulis, membuat pembaca terlibat secara emosional. Meskipun ya, akan lebih empatik bila kalimatnya "Mengapa aku harus menghadapi dua pilihan seperti ini?"
Oke, belum apa-apa saya sudah sebal dengan Tasya :D.
Jadi, ini novel pertama Achi TM yang saya baca. Sebelumnya "hanya" membaca cerpen-cerpen Achi yang dimuat di antologi bersama. Saya mengenal Achi sejak dia aktif di FLP--mungkin lebih dari 10 tahun lalu. Achi yang pembelajar dan telaten. Saat ini selain sebagai penulis novel, Achi juga seorang penulis skenario. Tak heran, buku ini sangat terasa filmis.
Ceritanya sendiri bertutur tentang kegalauan Tasya, yang akan dilamar oleh Zakki, cinta monyetnya. Namun, Tasya tak yakin dengan kemampuan finansial Zakki. Sebab, Tasya menghadapi masalah utang-utang ibunya, apalagi kemudian ibunya meninggal. Sementara itu, atasan Tasya di kantor, Arya, naksir padanya dan mengajukan lamaran juga. Arya yang ganteng, mapan, dan tentu, lebih menjanjikan dibanding Zakki. Dalam kebimbangan tersebut, Tasya dihadapkan pada misteri surat-surat yang ditinggalkan ibunya. Surat menyurat antara ibunya dan pria misterius. Lantas, siapakah yang akhirnya dipilih Tasya?
***
Gaya penceritaan penulis lumayan mengasyikkan. Surat-surat antara ibunya dengan lelaki bernama Danang, menjadi benang merah cerita, yang diletakkan penulis di tiap akhir bab. Penokohannya bagus. Saya suka dengan karakter Zakki yang santai dan asyik. Sebaliknya, seperti saya sebut di awal, saya tidak simpatik dengan tokoh Tasya dan ibunya, Rani. Menurut saya keduanya egois. Tapi ya... manusiawi sih, cukup banyak perempuan yang pragmatis ketika dihadapkan pada soal materi.
Oh ya, penulis juga dengan cukup cantik menyampaikan pesan islami mengenai adab berhubungan dengan lawan jenis dan tidak berpacaran.
Ada beberapa logika yang bolong sih dalam cerita, terutama jelang ending. Tapi secara keseluruhan, novel ini asyik dinikmati.