What do you think?
Rate this book


59 pages, Paperback
First published October 1, 1945
"Hanya dua orang yang sebenarnya ketika itu punya konsep yang sungguh berarti (untuk Indonesia): Sjahrir dan Tan Malaka."h. 47
"Aku cinta negeri ini dan orang-orangnya... Terutama barangkali karena mereka selalu kukenal sebagai penderita, sebagai orang yang kalah. Jadi biasa saja, simpati kepada underdog, orang-orang yang ditindas."h. 81
1. Sjahrir adalah sosok yang sosialis-humanis, sebab mengutamakan pendidikan dan kebebasan rakyat. Berbeda dengan Soekarno yang berapi-api, Sjahrir memiliki pribadi yang tenang dan lincah. Termasuk golongan muda yang mendesak dwitunggal untuk segera melakukan proklamasi. Perdana menteri pertama Indonesia, yang lebih memilih untuk melakukan jalur diplomasi daripada cara-cara kekerasan.
2. Konflik yang terjadi pasca kemerdekaan juga cukup menarik untuk disorot: diplomasi Sjahrir kurang disukai oleh golongan Tan Malaka dan sempat terjadi penculikan; PRRI dan penahanan Sjahrir.
Perjuangan Kita
1. Kondisi kebanyakan pemuda saat itu hanya memiliki kemampuan untuk menerima perintah dan tidak pernah dididik untuk memimpin. Tidak adanya pendidikan politik, terisolasi dari jaringan informasi dunia luar, dan hanya berhadapan dengan propaganda-agitasi Jepang. Kecintaan terhadap tanah air (nasionalisme) dengan merendahkan bangsa-bangsa asing terus menjadi pegangan dan ditakutkan akan memunculkan bibit-bibit fasisme.
2. Revolusi yang terjadi keluar merupakan revolusi nasional, tetapi di dalam adalah revolusi sosial-kerakyatan. Kerap kali apa yang dinamakan kemenangan kebangsaan adalah kosong untuk rakyat banyak. Negara Indonesia hanyalah alat untuk mencapai revolusi apa yang diperjuangkan.
"...revolusi kita harus dipimpin oleh golongan demokratis yang revolusioner dan bukan oleh golongan nasionalistis yang pernah membudak kepada fasis lain.."h. 110
3. Selama masih ada kapitalisme-imperalisme, perjuangan tidak akan dapat memuaskan sepenuhnya, yang akan didapatkan ketika masih berada di bawah pengaruh negara kapitalis, hanya kemerdekaan nama saja.
4. Belanda memanfaatkan sisa-sisa feodalisme di Indonesia. (?)
5. Semangat kebangsaan harus didampingi dengan semangat kerakyatan, sebab yang akan memenangkan revolusi ini pada akhirnya adalah rakyat banyak, kaum buruh, kaum tani bersama-sama dengan kaum terpelajar, kaum muda.