Ketika arti arsitektur yang hadir di depan khalayak luas seakan tereduksi hanya tinggal menjadi urusan gaya atau langgam saja, apa yang lalu menjadi urusan arsitek? Ketika yang semu dan yang (berusaha) sejati bertumpuk bersama dalam satu ruang kota, dimana sebuah praktek arsitek mampu menempatkan dirinya? Arsitek hidup di suatu relativitas ruang angan dan kenyataan. Apa tanggapannya teradap zaman yang menggeliat tak menentu ini?
Buku ini merupakan penggalan pendek perjalanan sebuah praktek arsitek yang sedang berusaha menyelami itu semua. Sebuah praktek yang masih menyimpan banyak ketidakmengertian dan sejumput kegentaran menghadapi gerak zaman ini. Buku ini bebas dibaca sebagai jurnal pribadi, meski tetap berharap bisa mengambil bagian yang lebih jauh dalam telaah arsitektur di negeri ini.
1968 born in Yogyakarta, Indonesia 1986 studied architecture at UGM (Gadjah Mada University), Yogyakarta, Indonesia 1994 worked at PAI, Jakarta, Indonesia 1998 worked at DP Architects, Singapore 2000 founded his own architecture firm 2002 won IAI (Indonesian Institute of Architects) Award for Urban Houses 2002 won IAI Young Architect Award 2004 featured in Tempo (Indonesian magazine) 2005 featured in a+u (Japan architecture and urban planning magazine) 2009 together with the students of UPH (Pelita Harapan University), won 2nd place in International Design Competition: Envisioning Jakarta, organized by International Architecture Biennale Rotterdam (IABR), with their proposal Let's Catch The Water!: Jakarta-Sponge City
di awal pemunculannya, buku ini menarik banyak mahasiswa arsitektur untuk melihat [belum tentu membeli]. telihat dari banyaknya yang hadir dalam acara peluncuran buku ini di togamas. bagaimana seorang arsitek yogya [ugm] bisa menampilkan karya-karya yang minimalis begini? untuk diketahui, arsitektur 'gaya yogya' biasanya memang penuh rincian. di sekujur bangunan dijarah dan dirajah. sedangkan karya-karya mamo yang ditampilkan buku ini nyaris dingin, minimalis, esensialis. hanya menampilkan secara visual apa yang perlu.
sikap seperti itu juga dinampakkan dalam disain bukunya. semua karya dia ditampilkan sebagai foto dan gambar monokrom [warna sepia tua dan putih saja]. sebagai konsekuensinya, arsitektur dia menjadi semacam komposisi ruang atau komposisi volume thok! orang mengatakan itu sebagai reduksi, tapi orang lain justru menyanjungnya sebagai 'sampai kepada esensi'.
buku ini dapat diperlakukan sebagai dokumen bagi tampilnya arsitektur yang esensialis, atau minimalis. suatu gejala yang -kebetulan?- melanda banyak majalah dan buku-buku import di tahun 2000-an. juga kira-kira bersamaan dengan munculnya software 'sketchup' yang pada masa kini dikuasai hampir semua mahasiswa arsitektur [mudah, praktis, gratis dan cocok untuk 'sketching' alias menjelajah desain].
seperti dinyatakan oleh arsitek/penulisnya, buku ini memang semacam dokumen personal. ditulis untuk mendokumentasikan gagasan maupun perwujudannya yang juga makin personal. rasanya, peran yang dibawakan oleh arsitek pada masa kini makin mendekati peran seniman: membawakan nilai-nilai personal arsitek/senimannya katimbang nilai-nilai publik.
Adi adalah salah seorang arsitek yang saya kagumi. Daya survivenya dengan mendirikan biro sendiri, dan kekonsistenannya dalam menjalankan konsep green architecture. Karyanya kini telah mempunyai ciri khas dengan adanya pola yang sederhana, mnamun monumental dan bermakna dalam. Setiap ruang ciptaannya memiliki makna perenungan tersendiri dan menjadi sentral atas fungsi ruang tersebut. Buku ini semacam portofolio Adi, juga buah-buah pemikirannya tidak hanya dalam goresan gambar, namun juga huruf dan kata.
Salah satu buku yang menjadi daftar buku yang saya cari di tahun 2016, akhirnya berhasil saya dapatkan setahun setelahnya di salah satu toko buku loakan di jakarta dengan harga yang sangat jauh lebih murah dari harga barunya sekarang (150k). Merasa sangat beruntung bisa membaca (dan juga merenungi) karya salah satu Arsitek Indonesia yang terbilang dari semenjak saya selesai membaca buku ini telah masuk daftar Tokoh-tokoh idola saya, Mas Mamo sapaan akrabnya menuangkan pikiran-pikirannya ke dalam teks dengan gambar-gambar pendukung, berbeda dengan kebanyakan buku-buku arsitektur lainnya yang penuh dengan ilustrasi gambar yang mencolok, di buku Relativitas ini gambar di sajikan dengan hitam dan putih sebagai usaha menghindari tampilan gemerlap bertabur imaji, karena menurutnya ruang tidak bisa di rasakan hanya melalui foto-foto saja tetapi seharusnya dialami secara langsung.
Melalui buku ini saya dapat mrasakan bagaimana Mamo sebagai seorang Arsitek, selalu melihat sesuatu dari segala macam sudut pandang, bangunan sebagai objek yang dia rancang tidak dianggap hanya sebagai suatu individu yang berdiri sendiri melainkan unsur-unsur pembentuk ruang yang lebih luas dimana keberadaannya akan selalu mempengaruhi ekosistem-ekosistem yang ada di sekitarnya baik dalam jangka waktu sekarang maupun yang akan datang. Hal ini mungkin terdengar sepele tetapi untuk konsisten mempraktekkannya tidak semudah teorinya. Mamo melalui buku ini memperlihatkan bagaimana seharusnya seorang Arsitek bisa bersikap terhadap masalah-masalah yang terjadi. Kritik-kritik terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial, regulasi-regulasi otoritas, bahkan terhadap TOR sayembara yang dianggapnya tidak tepat, dituangkan kedalam rancangan-rancangannya.
Walaupun terasa terlalu cepat untuk mengatakan ini di usia yang masih belum ada apa-apanya, tetapi di dalam buku ini saya melihat "Jalan Arsitek" saya terpapar di lembaran kertas kata demi kata, kalimat demi kalimat sampai menjadi paragraf. Terimakasih Mas Mamo.
Mamo menceritakan arsitektur dalam sudut pandangnya, bagaimana ia memilih arsitektur menjadi jalan kebaikannya dengan sangat gigih mempertahankan prinsip "green arsitektur" dalam setiap karyanya, "memberikan kembali" ruang hijau serapan yang "dipinjam" dalam tapak. Hal ini sangat terlihat jelas dari terpatrinya konsep tersebut dalam setiap tulisannya. Mamo juga bercerita tentang mirisnya rumah urban yang "konsumtif" secara luasan melalui berbagai studi kasus beberapa paparan fenomena dari proyeknya sendiri maupun kompetisi.
Recommended untuk para pegiat arsitektur Buku ini memberikan gambaran tentang betapa sedikitnya arsitek yang mau bergiat ditingkat urban dan menengah kebawah. Ungkapan-ungkapan Mamo (Adi Purnomo) open-end, sehingga dapat menjadi suatu bahan kontemplasi kearah mana arsitektur yang kita pegang.
Buku Ini adalah bulu arsitektur plus esai-esai penulisnya, ia menampilkan banyak kritik mengenai tampilan perkotaan, khususnya Jakarta. misalnya "Perkampungan real estate modern" yang dari segi arsitekturnya menampakan kecanggungan antara kehendak berbaur dengan kampung belakangnya tetapi juga memisahkan diri serta fenomena bertumbuh-kembangnya perkampungan liar yang ia sebut sebagai "organik" sebagai akibat kegagalan pemda menyediakan hunian bagi warganya.
Selain dilengkapi foto-foto yang unik, saya tertarik mengenai penekanan-nya pada void [ruang kosong:], karemna sejak membaca buku Yi Fu Tuan, saya selalu berpandangan bahwa tugas arsitek adalah meng-konversi ruang menjadi tempat, namun ternyata kita juga harus memahami bahwa ruang juga bisa berfungsi sebagai tempat dan harus dijaga kelestarian-nya.
buku yang membuat berpikir kembali.. "seberapa cukup adalah cukup?" ungkapan mendasar namun dalam,membuatku sadar bahwa dunia arsitektur pada dasarnya adalah sebuah pilihan.
arsitek di ruang angan dan kenyataan.. adi purnomo menawarkan sebuah teori dan prinsip yg dipegangnya tentang bagaimana berkiprah di luar arus besar dunia arsitektur.
pemikiran dan pertanyaan yang di ungkapkan dalam buku ini membuat kita jadi ikut bertanya.
buku ini membuka pintu pemahaman saya terhadap pemahaman arsitektur yang sebatas "wadaq" nya saja, akan tetapi arsitektur menjadi sebuah jalan untuk menggali makna, filosofi dan kehidupan.
rating 5 bintang itu lebih karena alasan historis, dan impact dari buku ini pada hidup saya, bukan murni isi buku itu sendiri :D
walopun Mamo bukan arsitek idolaku, tapi buku yang dia tulis ini cukup menginspirasi. Buku ini banyak membahas fenomena dan realita dalam dunia arsitektur, terutama dari sudut pandang Mamo yang memang punya ideologi sendiri dalam dunianya. relativitas: seberapa cukup adalah cukup???
Perjalanan karya seorang Adi Purnomo — akrab disapa Mas Mamo, disajikan dengan ringan dan jujur. Terbuka dari permasalahan yang ada dan solusinya, hal biasa tersebut dalam review karya arsitektur memiliki sedikit nilai lebih dalam buku ini. Ada—sedikit, kegelisahan ...