What do you think?


Aku Ini Binatang Jalang
Aku Ini Binatang Jalang adalah kumpulan puisi terlengkap karya penyair terbesar Indonesia Chairil Anwar. Selama ini puisi-puisinya tersebar dalam beberapa buku seperti Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus. Sebagian lagi ada dalam Tiga Menguak Takdir dan Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Selain keseluruhan sajak asli, dalam koleksi ini juga dimuat untuk pertama kalinya surat-surat Chairil—yang menggambarkan “keadaan jiwa”-nya—kepada karibnya H.B. Jassin. Dalam hidupnya yang singkat, Chairil Anwar telah menghasilkan puisi-puisi yang akan terus hidup seribu tahun lagi.
160 pages, Paperback
First published January 1, 1986
About the author
Chairil Anwar
27 books301 followersChairil Anwar was one of the famed figures of the “1945 Generation,” that group of luminaries who brought heat and light to Indonesian literature in the formative years of the new nation.
Through his poetry, Chairil Anwar succeeded in infusing Indonesian verse with a new spirit and bringing a new enthusiasm to Indonesia’s cultural arena. He also provided friends and acquaintances with never-ending tales to tell of his personal eccentricities, including his hobby of stealing books from the shops, his tendency to plagiarize from foreign poets, his many lovers, his numerous ailments, and his bohemian lifestyle.
Born on July 22, 1922 in Medan, North Sumatera, Chairil attended the Hollands Inlandsche School (HIS), a Dutch elementary school for “natives.” He then continued his education at the Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, a Dutch junior high school, but he dropped out before graduating. At the age of nineteen, after the divorce of his parents, Chairil moved with his mother to Jakarta where he came in contact with the literary world. Despite his unfinished education, Chairil had an active command of English, Dutch and German, and he filled his hours by reading an international selection of authors, including Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff and Edgar du Perron. These writers became his references, directly influencing his own poetry and later helping him shift the gaze of Indonesian literature to fall upon Europe.
This westward turn was one of the major differences between Chairil’s “1945 Generation” peers and the previous cohort of Indonesian writers, the “New Authors Generation” of the 1930s, who were more oriented toward traditional verse forms. Chairil’s poetry was not only topically fresh, it struggled with individual and existential issues, in contrast to the writers of the “New Authors Generation” who were more concerned with giving voice to nationalist enthusiasm.
Chairil began to gain recognition as a poet with the publication of “Nisan” (“Gravestone”) in 1942. At that time, he was only twenty years old. He had apparently been shocked by the death of his grandmother, which awakened him to the fact that death could at any moment tear one away from life. Most of the poems he wrote after this point referred, at least implicitly, to this awareness of death. All of his poems—the originals, the adaptations and those suspected of being plagiarisms—have been collected in three books: Deru Campur Debu (“Roar Mixed with Dust,” 1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (“Sharp Pebbles The Seized and the Severed,” 1949); and Tiga Menguak Takdir (“Three Tear Open Fate,” 1950, a collection of poems with Asrul Sani and Rivai Apin).
Chairil’s poetic vitality was never in balance with his physical condition, which grew weaker as a result of his chaotic lifestyle. Before he could turn twenty-seven, he had already contracted a number of illnesses. On April 28, 1949, Chairil Anwar passed away at the CBZ Hospital (now R.S. Ciptomangunkusomo) in Jakarta. And indeed, he was buried at Karet Cemetery the next day. In memory of the words he left behind, April 28th is now celebrated as Literature Day in Indonesia.
Through his poetry, Chairil Anwar succeeded in infusing Indonesian verse with a new spirit and bringing a new enthusiasm to Indonesia’s cultural arena. He also provided friends and acquaintances with never-ending tales to tell of his personal eccentricities, including his hobby of stealing books from the shops, his tendency to plagiarize from foreign poets, his many lovers, his numerous ailments, and his bohemian lifestyle.
Born on July 22, 1922 in Medan, North Sumatera, Chairil attended the Hollands Inlandsche School (HIS), a Dutch elementary school for “natives.” He then continued his education at the Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, a Dutch junior high school, but he dropped out before graduating. At the age of nineteen, after the divorce of his parents, Chairil moved with his mother to Jakarta where he came in contact with the literary world. Despite his unfinished education, Chairil had an active command of English, Dutch and German, and he filled his hours by reading an international selection of authors, including Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff and Edgar du Perron. These writers became his references, directly influencing his own poetry and later helping him shift the gaze of Indonesian literature to fall upon Europe.
This westward turn was one of the major differences between Chairil’s “1945 Generation” peers and the previous cohort of Indonesian writers, the “New Authors Generation” of the 1930s, who were more oriented toward traditional verse forms. Chairil’s poetry was not only topically fresh, it struggled with individual and existential issues, in contrast to the writers of the “New Authors Generation” who were more concerned with giving voice to nationalist enthusiasm.
Chairil began to gain recognition as a poet with the publication of “Nisan” (“Gravestone”) in 1942. At that time, he was only twenty years old. He had apparently been shocked by the death of his grandmother, which awakened him to the fact that death could at any moment tear one away from life. Most of the poems he wrote after this point referred, at least implicitly, to this awareness of death. All of his poems—the originals, the adaptations and those suspected of being plagiarisms—have been collected in three books: Deru Campur Debu (“Roar Mixed with Dust,” 1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (“Sharp Pebbles The Seized and the Severed,” 1949); and Tiga Menguak Takdir (“Three Tear Open Fate,” 1950, a collection of poems with Asrul Sani and Rivai Apin).
Chairil’s poetic vitality was never in balance with his physical condition, which grew weaker as a result of his chaotic lifestyle. Before he could turn twenty-seven, he had already contracted a number of illnesses. On April 28, 1949, Chairil Anwar passed away at the CBZ Hospital (now R.S. Ciptomangunkusomo) in Jakarta. And indeed, he was buried at Karet Cemetery the next day. In memory of the words he left behind, April 28th is now celebrated as Literature Day in Indonesia.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 306 reviews
August 1, 2007
ini buku literatur sastra Indonesia terbaik kalau hendak menulis puisi. membacanya saya jadi teringat dialog Nini (nama panggilan Chairil) dengan Gajah (nama panggilan Chairil untuk Hapsah, istrinya), begini:
"Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.
"Ah, kalau umurmu panjang, kamu bakal masuk penjara," jawab istrinya.
"Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga," demikian kata Chairil.
dan sesungguhnya saya ingin seperti dia. mati muda. namun dikenang sepanjang masa karena tulisan-tulisannya yang sebagian besar terangkum di sini. kalimat monumental seperti 'aku ini binatang jalang' atau 'aku mau hidup seribu tahun lagi' yang pada suatu hari ditegaskan oleh Jose Riza Manua dengan pernyataan, "Chairil membangun monumen dengan tulisannya."
"Gajah, kalau umurku panjang, aku akan jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan," katanya.
"Ah, kalau umurmu panjang, kamu bakal masuk penjara," jawab istrinya.
"Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga," demikian kata Chairil.
dan sesungguhnya saya ingin seperti dia. mati muda. namun dikenang sepanjang masa karena tulisan-tulisannya yang sebagian besar terangkum di sini. kalimat monumental seperti 'aku ini binatang jalang' atau 'aku mau hidup seribu tahun lagi' yang pada suatu hari ditegaskan oleh Jose Riza Manua dengan pernyataan, "Chairil membangun monumen dengan tulisannya."
January 21, 2013
Bertahun berlalu sudah
Sejak usai bangku sekolah
Tinggal terbayang kau itu binatang jalang
Terbuang meradang menyair-bangkang
Kini mata kanakku telah terberai
Nyatalah kau seorang perajin piawai
Kekatamu menendang membuai
Padamu sejuta tabikku terjuntai
Sejak usai bangku sekolah
Tinggal terbayang kau itu binatang jalang
Terbuang meradang menyair-bangkang
Kini mata kanakku telah terberai
Nyatalah kau seorang perajin piawai
Kekatamu menendang membuai
Padamu sejuta tabikku terjuntai
January 7, 2013
Saya boleh kata Chairil Anwar adalah salah seorang penyajak yang saya kagumi disamping beberapa penyair-penulis lain seperti Pak Samad, Faisal Tehrani, dan juga W.S. Rendra. Tetapi Chairil lebih menyengat berbanding Pak Samad dan F.Tehrani yang lebih suka berlembut dan mengajuk, malah puisi-puisi Chairil tajam dan keras, sepersis sebuah pedang yang menusuk jantung kita sebagai pembaca.
Beberapa sajak yang menggugah rasa. Masjid. Doa. Aku. Krawang-Bekasi. Sia-sia. Persetujuan dengan Bung Karno. Kepada Kawan. Yang Terampas dan Yang Putus. Sajak-sajaknya bertenaga, bernafas segar, serta penuh memikat. Sukar sekali untuk kita katakan tidak kepada sajak-sajaknya, meskipun ada sesetengah aksara yang dilakarkan serasa terlalu mendalam untuk dihadam.
Chairil mungkin sudah mati, 6 tahun sesudah menulis puisi "Aku" (ketika menulis, dia baru berumur 20 tahun) tetapi seperti sajaknya, dia akan terus hidup dalam ingatan kita. Dia akan terus dikenang sebagai seorang pembaharu, seorang haiwan jalang untuk seni kesusasteraan. Chairil membentak pada Ajal,
"dan aku akan lebih tidak peduli.
Aku mau hidup seribu tahun lagi."
Beberapa sajak yang menggugah rasa. Masjid. Doa. Aku. Krawang-Bekasi. Sia-sia. Persetujuan dengan Bung Karno. Kepada Kawan. Yang Terampas dan Yang Putus. Sajak-sajaknya bertenaga, bernafas segar, serta penuh memikat. Sukar sekali untuk kita katakan tidak kepada sajak-sajaknya, meskipun ada sesetengah aksara yang dilakarkan serasa terlalu mendalam untuk dihadam.
Chairil mungkin sudah mati, 6 tahun sesudah menulis puisi "Aku" (ketika menulis, dia baru berumur 20 tahun) tetapi seperti sajaknya, dia akan terus hidup dalam ingatan kita. Dia akan terus dikenang sebagai seorang pembaharu, seorang haiwan jalang untuk seni kesusasteraan. Chairil membentak pada Ajal,
"dan aku akan lebih tidak peduli.
Aku mau hidup seribu tahun lagi."
December 26, 2015
Honestly, I dont know how to review poems. Especially from a legend.
In need to re-read.
In need to re-read.
July 27, 2022
Perkenalan pertamaku dengan Chairil Anwar adalah ketika aku duduk di bangku SD. Puisi “Aku” seolah jadi favorit para guru. Sering masuk buku, di kelas rutin dibahas, di pentas sering dibacakan. Penuh semangat dan gairah memang.
Namun, setelah membaca kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang, aku malah jadi bertanya-tanya. Kenapa “Aku”, lagi dan lagi? Padahal, Chairil punya puisi lain yang sama bagusnya, termasuk puisi-puisi romantis yang (kelewat) manis. Salah satunya ialah “Taman”.
Kemarin, dalam perayaan 100 Tahun Chairil Anwar: Sebuah Puisi Konser di Jakarta, @gradiskretek sempat membacakannya. Katanya, puisi ini cocok dimuat di undangan pernikahan. Bayangkan, klepek-klepek kita dibuatnya.
Aku baru tahu, di balik tulisan Chairil yang penuh semangat menggelora, ia nggak malu-malu menunjukkan kerentanannya karena dikoyak-koyak cinta. Bahkan, aku baru tahu, kisah cinta Charil nyatanya nggak mulus-mulus amat.
Pernah ngerasain cinta tak terbalas, cinta terlambat, ragu apakah orang yang disukainya juga mencintainya balik, bahkan cintanya sempat kandas beberapa kali karena terhalang restu orangtua kekasihnya. 💔❤️🩹
Entahlah, kalau puisi-puisi itu ditulis pada masa kini tapi bukan Chairil yang meramunya, mungkin akan terkesan menye-menye. Namun, karena kita sudah familiar dengan sosoknya, rasa dan energinya jadi beda.
Membaca buku ini adalah pengalaman magis buatku. Aku jadi bisa mengenal sosoknya lebih jauh.
Hal menyenangkan lain ketika tenggelam dalam buku ini, sajak-sajaknya disusun berurutan sehingga memudahkan pembaca menelusuri perjalanan hidupnya, termasuk kisah cintanya. Chairil pun rupanya senang menggunakan bahasa idiom dan simbol dari kebudayaan Melayu. Bahkan, disebutkan pula dirinya punya “bahasa rahasia”, bahasa yang hanya dimengerti olehnya. Menarik untuk diulik!
Ingin rasanya membaca buku puisi ini berkali-kali, menghidupinya seribu tahun lagi. Dan di hari spesial Beliau, izinkan kusampaikan …
Bung, selamat ulang tahun. 🥀
Namun, setelah membaca kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang, aku malah jadi bertanya-tanya. Kenapa “Aku”, lagi dan lagi? Padahal, Chairil punya puisi lain yang sama bagusnya, termasuk puisi-puisi romantis yang (kelewat) manis. Salah satunya ialah “Taman”.
Kemarin, dalam perayaan 100 Tahun Chairil Anwar: Sebuah Puisi Konser di Jakarta, @gradiskretek sempat membacakannya. Katanya, puisi ini cocok dimuat di undangan pernikahan. Bayangkan, klepek-klepek kita dibuatnya.
Aku baru tahu, di balik tulisan Chairil yang penuh semangat menggelora, ia nggak malu-malu menunjukkan kerentanannya karena dikoyak-koyak cinta. Bahkan, aku baru tahu, kisah cinta Charil nyatanya nggak mulus-mulus amat.
Pernah ngerasain cinta tak terbalas, cinta terlambat, ragu apakah orang yang disukainya juga mencintainya balik, bahkan cintanya sempat kandas beberapa kali karena terhalang restu orangtua kekasihnya. 💔❤️🩹
Entahlah, kalau puisi-puisi itu ditulis pada masa kini tapi bukan Chairil yang meramunya, mungkin akan terkesan menye-menye. Namun, karena kita sudah familiar dengan sosoknya, rasa dan energinya jadi beda.
Membaca buku ini adalah pengalaman magis buatku. Aku jadi bisa mengenal sosoknya lebih jauh.
Hal menyenangkan lain ketika tenggelam dalam buku ini, sajak-sajaknya disusun berurutan sehingga memudahkan pembaca menelusuri perjalanan hidupnya, termasuk kisah cintanya. Chairil pun rupanya senang menggunakan bahasa idiom dan simbol dari kebudayaan Melayu. Bahkan, disebutkan pula dirinya punya “bahasa rahasia”, bahasa yang hanya dimengerti olehnya. Menarik untuk diulik!
Ingin rasanya membaca buku puisi ini berkali-kali, menghidupinya seribu tahun lagi. Dan di hari spesial Beliau, izinkan kusampaikan …
Bung, selamat ulang tahun. 🥀
January 1, 2009
Seperti nasihat Umar Bin Khattab r.a. di zaman Sahabat, "Ajarilah anak-anakmu sastra, agar anak penakut jadi pemberani". Mengagumkan, Chairil sangat ahli dalam memilih dan mengatur ritme setiap kata. Dirangkai jadi tema yang mengalir deras, mengayun, bergelombang dan gempita. Dan dia memang akan terus hidup, seperti karyanya "Aku ingin hidup seribut tahun lagi".
September 24, 2011
Saya berikan bintang lima bukan hanya karena kualitas karya-karya Cahiril Anwar semata, tapi karena kelengkapan buku ini memuat semua karya, juga membandingkan sejumlah sajak yang mirip tapi judulnya berbeda. Chairil Anwar tak hanya meninggalkan puisi, tapi juga sikap. Dalam buku ini semua bisa kita dapatkan lengkap. Edisi baru dilengkapi pengantar luar biasa dari Nirwan Dewanto.
December 29, 2015
Chairil Anwar was an Indonesian poet and member of the "1945 generation" of writers. He is estimated to have written 96 works, including 70 individual poems.
After publishing his first poem in 1942, Anwar continued to write. However, his poems were at times censored by the Japanese, then occupying Indonesia. Living rebelliously, Anwar wrote extensively, often about death. He died in Jakarta of an unknown illness.
His work dealt with various themes, including death, individualism, and existentialism, and were often multi-interpretable. Drawing influence from foreign poets, Anwar used everyday language and new syntax to write his poetry, which has been noted as aiding the development of the Indonesian language. His poems were often constructed irregularly, but with individual patterns.
"ME"
If my time has come
No one could persuade me
Not even you
I don't need that sniveling!
I'm but a wild animal
Exiled even from his own group
Even if bullets pierce my skin
I will still enrage and attack
Wounds and poison I'll take running
Running
Until the pain leaves
And I will care even less
I want to live a thousand more years
After publishing his first poem in 1942, Anwar continued to write. However, his poems were at times censored by the Japanese, then occupying Indonesia. Living rebelliously, Anwar wrote extensively, often about death. He died in Jakarta of an unknown illness.
His work dealt with various themes, including death, individualism, and existentialism, and were often multi-interpretable. Drawing influence from foreign poets, Anwar used everyday language and new syntax to write his poetry, which has been noted as aiding the development of the Indonesian language. His poems were often constructed irregularly, but with individual patterns.
"ME"
If my time has come
No one could persuade me
Not even you
I don't need that sniveling!
I'm but a wild animal
Exiled even from his own group
Even if bullets pierce my skin
I will still enrage and attack
Wounds and poison I'll take running
Running
Until the pain leaves
And I will care even less
I want to live a thousand more years
August 4, 2015
Disebalik kisah hidup Chairil Anwar yang singkat dan berliku, puisinya ternyata sangat menusuk dan mendalam. Ada yang kelam dan ada yang membara. Tidak hairanlah kenapa puisinya diterjemah dalam pelbagai bahasa. Lagenda.
September 9, 2022
Puisi2 mengenai cinta, perjuangan, persahabatan dan hidup. Dengan gaya khas Chairil Anwar sebagai penyair terbesar Indonesia dan pelopor angkatan 45. Ini salah satu karya terbesar beliau. Dan bisa jadi salah satu karya sastra terbaik Negeri ini.
May 5, 2025
Chairil Anwar ditanggapi oleh kebanyakan sebagai pelopor kepada Angkatan 45 dalam ranah kesusasteraan Indonesia. Puisi—atau lebih tepatnya, sajak—Chairil memberi dampak kepada generasi seterusnya yang juga merupakan nama-nama besar seperti W.S Rendra, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono. Bentuk-bentuk sajak Chairil melabrak tradisi kerana tidak terikat dengan aturan konvensional—lebih bebas. Walau bagaimanapun, ada juga yang berpendapat bahawa beliau bukanlah penggugah tradisi, sebaliknya memperluaskan, seperti yang didapati pada kata pembuka buku ini.
Dalam sekalian banyaknya pendapat berhubung sajak-sajak Chairil, satu perkara yang disepakati ialah Chairil, melalui sajak-sajaknya menonjolkan "semangat hidup dan sikap kepahlawanan" (h. 122). Andai disoroti latar belakang Indonesia pada era nasionalisme bergelora, sajak Chairil sangat menempati keadaan masyarakat pada ketika itu.
Dalam kumpulan sajak ini, ada juga beberapa sajak yang sama, namun berbeza pada beberapa kalimat kerana wujudnya beberapa versi sajak seperti sajak berjudul "Sia-Sia" (h. 11).
"Mampus kau dikoyak-dikoyak sepi", ialah antara bait sajak Chairil yang paling masyhur.
Memetik lagi sebahagian sajak lain berjudul "Aku" (h. 17):
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Dalam sekalian banyaknya pendapat berhubung sajak-sajak Chairil, satu perkara yang disepakati ialah Chairil, melalui sajak-sajaknya menonjolkan "semangat hidup dan sikap kepahlawanan" (h. 122). Andai disoroti latar belakang Indonesia pada era nasionalisme bergelora, sajak Chairil sangat menempati keadaan masyarakat pada ketika itu.
Dalam kumpulan sajak ini, ada juga beberapa sajak yang sama, namun berbeza pada beberapa kalimat kerana wujudnya beberapa versi sajak seperti sajak berjudul "Sia-Sia" (h. 11).
"Mampus kau dikoyak-dikoyak sepi", ialah antara bait sajak Chairil yang paling masyhur.
Memetik lagi sebahagian sajak lain berjudul "Aku" (h. 17):
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
October 21, 2022
Hidup hanya menunda kekalahan.
July 30, 2020
Melalui pengantar buku ini, saya sadar, ini saatnya membunuh Chairil Anwar. Tak usah lagi diusik oleh kisah cintanya yang selalu gagal, hidupnya yang bohemian, sakit-sakitan, dan akhirnya mati muda. Saya melihat puisinya hanya sebagai puisi, tidak mau memiskinkan pemaknaannya pada penciptanya.
Dan benar saja, sajaknya dapat lebih meresap ke benak saya, meraung-raung, merongrong, sampai menggelegar, hingga pada akhirnya menciut, menyusup, dan hilang. Hilang seperti akhirnya penerimaan Chairil yang tak bisa hidup seribu tahun lagi, dan mengakui hidup hanyalah menunda kekalahan (mengutip Sapardi Djoko Damono). Mau tak mau, Chairil mati digantikan pembaca-pembacanya yang kembali menghidupi hidup selayaknya Chairil, melebarkan maknanya, menyentuh ke relung lain pengalaman universal manusia.
Pada buku ini saya sadar, puisi (sastra yang paling susah saya cerna) sangat mirip lukisan. Tiap goresan katanya bermakna, pekat, bertekstur, mencoba menangkap penikmatnya. Saya sadar, bahasa terlalu sempit untuk menggambarkan berjuta perasaan manusia. Di situ jeniusnya Chairil, menimang bahasa Indonesia yang masih bayi, mengajarkannya berbicara dengan makna, melatih indranya merasa, hingga menunjukkannya arti patah hati dan kematian. Saya juga baru menyadari ketaatan Chairil pada rima yang ternyata ditanam di sebagian besar sajaknya. Gebrakan Chairil antara yang tradisional dan modern memantik pergulatan tersendiri tentang status kebesaran Chairil. Beruntung pergulatan dia menangkan, rupanya benar binatang jalang ini tetap "meradang menerjang" dari nisannya.
Meskipun beberapa sajak Chairil tak berumur panjang, macam "Betina"-nya Affandi, tapi sajak-sajak lainnya telah diadopsi sebagai idiom umum yang penuh vitalitas dan ambisi. Sajak Chairil ada yang memang tetap tinggal di masa lalu, namun ada yang seakan masih jauh di masa depan. Chairil sendiri telah mati, telah dibunuh, tapi bahasa Indonesia yang dulu didulang sedari bayi olehnya, telah jadi dewasa, malahan sudah beranak, jadi ibu lidah kita, yang masih menggemakan puisinya sampai seribu tahun lagi.
Dan benar saja, sajaknya dapat lebih meresap ke benak saya, meraung-raung, merongrong, sampai menggelegar, hingga pada akhirnya menciut, menyusup, dan hilang. Hilang seperti akhirnya penerimaan Chairil yang tak bisa hidup seribu tahun lagi, dan mengakui hidup hanyalah menunda kekalahan (mengutip Sapardi Djoko Damono). Mau tak mau, Chairil mati digantikan pembaca-pembacanya yang kembali menghidupi hidup selayaknya Chairil, melebarkan maknanya, menyentuh ke relung lain pengalaman universal manusia.
Pada buku ini saya sadar, puisi (sastra yang paling susah saya cerna) sangat mirip lukisan. Tiap goresan katanya bermakna, pekat, bertekstur, mencoba menangkap penikmatnya. Saya sadar, bahasa terlalu sempit untuk menggambarkan berjuta perasaan manusia. Di situ jeniusnya Chairil, menimang bahasa Indonesia yang masih bayi, mengajarkannya berbicara dengan makna, melatih indranya merasa, hingga menunjukkannya arti patah hati dan kematian. Saya juga baru menyadari ketaatan Chairil pada rima yang ternyata ditanam di sebagian besar sajaknya. Gebrakan Chairil antara yang tradisional dan modern memantik pergulatan tersendiri tentang status kebesaran Chairil. Beruntung pergulatan dia menangkan, rupanya benar binatang jalang ini tetap "meradang menerjang" dari nisannya.
Meskipun beberapa sajak Chairil tak berumur panjang, macam "Betina"-nya Affandi, tapi sajak-sajak lainnya telah diadopsi sebagai idiom umum yang penuh vitalitas dan ambisi. Sajak Chairil ada yang memang tetap tinggal di masa lalu, namun ada yang seakan masih jauh di masa depan. Chairil sendiri telah mati, telah dibunuh, tapi bahasa Indonesia yang dulu didulang sedari bayi olehnya, telah jadi dewasa, malahan sudah beranak, jadi ibu lidah kita, yang masih menggemakan puisinya sampai seribu tahun lagi.
December 25, 2022
Nggak salah ketika orang bilang Chairil Anwar adalah genre puisinya sendiri
November 16, 2019
Kayaknya, ini adalah buku wajibnya anak Sastra Indonesia. Bisa dibilang, kalau belum baca buku ini belum afdal, belum resmi, belum secara harfiah dapat disebut anak sastra. Bahkan tiap baitnya sudah menjadi semacam template sebagai representasi anak sastra.
Nggak munafik, saya mulai membaca karya-karya Chairil ketika di materi puisi muncul, dan terpampang nyata di soal-soal Bahasa Indonesia. Sayangnya, seperti kata Goenawan Moehamad, anak-anak Indonesia tidak membaca sastra, apalagi mempelajarinya. Sejak dulu kita hanya disuruh menghafal isi puisi dan nama pengarangnya, mungkin juga tahun dan tanggal terbit jika gurunya kelewat teliti. Kami nggak pernah melalui proses memahami dan mengerti. Ah, terlalu berat, buat anak SMA saja masih terlalu berat apalagi anak SMP. Keterlaluan! Mungkin begitu tanggapan masyarakat.
Setelah saya belajar apa itu angkatan-angkatan dalam sastra kita, saya mulai menyadari kalau sekarang ini tidak ada lagi (atau belum ada) penyair-penyair muda dengan kata-kata yang berbahaya. Seperti mata pisau. Terakhir, kita punya Wiji Thukul yang malah hilang ditelan kekuasaan rezim. Nggak ada anak muda yang mengangkat pena mereka sebagai senjata, atau memang saya belum menjumpai. Dalam Aku Ini Binatang Jalang, Chairil memang menunjukkan taringnya, memamerkan betapa berbahayanya ia bagi dunia. Dan ia, sebagaimana yang ia tulis, puisi-puisinya masih hidup hingga sekarang bahkan mungkin seribu tahun lagi.
Saya berusaha untuk berpikir positif, penyair-penyair muda itu bukannya nihil. Mereka hanya sedang dibentuk, dan kelak akan muncul kembali ke permukaan. Iya, kan, Chairil?
Nggak munafik, saya mulai membaca karya-karya Chairil ketika di materi puisi muncul, dan terpampang nyata di soal-soal Bahasa Indonesia. Sayangnya, seperti kata Goenawan Moehamad, anak-anak Indonesia tidak membaca sastra, apalagi mempelajarinya. Sejak dulu kita hanya disuruh menghafal isi puisi dan nama pengarangnya, mungkin juga tahun dan tanggal terbit jika gurunya kelewat teliti. Kami nggak pernah melalui proses memahami dan mengerti. Ah, terlalu berat, buat anak SMA saja masih terlalu berat apalagi anak SMP. Keterlaluan! Mungkin begitu tanggapan masyarakat.
Setelah saya belajar apa itu angkatan-angkatan dalam sastra kita, saya mulai menyadari kalau sekarang ini tidak ada lagi (atau belum ada) penyair-penyair muda dengan kata-kata yang berbahaya. Seperti mata pisau. Terakhir, kita punya Wiji Thukul yang malah hilang ditelan kekuasaan rezim. Nggak ada anak muda yang mengangkat pena mereka sebagai senjata, atau memang saya belum menjumpai. Dalam Aku Ini Binatang Jalang, Chairil memang menunjukkan taringnya, memamerkan betapa berbahayanya ia bagi dunia. Dan ia, sebagaimana yang ia tulis, puisi-puisinya masih hidup hingga sekarang bahkan mungkin seribu tahun lagi.
Saya berusaha untuk berpikir positif, penyair-penyair muda itu bukannya nihil. Mereka hanya sedang dibentuk, dan kelak akan muncul kembali ke permukaan. Iya, kan, Chairil?
August 16, 2012
Akhirnya yah, saya baca juga kumpulan sajaknya Chairil Anwar. Sudah mendengar dan membaca beberapa puisi karya penyair Angkatan '45 ini sejak zaman SMP dan SMA, tapi baru hari ini saya membaca satu buku kumpulan puisinya.
Saran saya buat yang mau baca buku ini, baca dulu esei yang ditulis Sapardi Djoko Damono yang ditulis pada bagian akhir buku. Esei itu memberikan lebih banyak tinjauan pada kita akan isi puisi-puisi yang Chairil Anwar tulis.
Saya pribadi tidak terlalu sering baca puisi, jadi jujur saya kurang paham genre sastra yang satu ini. Ada puisi-puisi yang saya kurang mengerti memang, banyak juga yang dapat saya pahami maknanya. Ada banyak kalimat yang dapat menjadi kutipan tersendiri.
Saya rasa kutipan semacam "Aku mau hidup seribu tahun lagi", "hidup hanya menunda kekalahan", "Sekali berarti sudah itu mati", "kerja belum selesai, belum apa-apa" sudah cukup familiar di kalangan masyarakat, khususnya yang pernah belajar puisi di kelas bahasa Indonesia dulu. Ada satu lagi kutipan yang jadi favorit saya, yakni "nasib adalah kesunyian masing-masing" yang datang dari puisi "Pemberian Tahu".
Buku yang sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta sastra. Bagi yang pernah membaca puisi-puisi Chairil Anwar di bangku sekolah, membaca buku ini dapat membangkitkan kenangan tersendiri akan masa-masa sekolah dulu.
Saran saya buat yang mau baca buku ini, baca dulu esei yang ditulis Sapardi Djoko Damono yang ditulis pada bagian akhir buku. Esei itu memberikan lebih banyak tinjauan pada kita akan isi puisi-puisi yang Chairil Anwar tulis.
Saya pribadi tidak terlalu sering baca puisi, jadi jujur saya kurang paham genre sastra yang satu ini. Ada puisi-puisi yang saya kurang mengerti memang, banyak juga yang dapat saya pahami maknanya. Ada banyak kalimat yang dapat menjadi kutipan tersendiri.
Saya rasa kutipan semacam "Aku mau hidup seribu tahun lagi", "hidup hanya menunda kekalahan", "Sekali berarti sudah itu mati", "kerja belum selesai, belum apa-apa" sudah cukup familiar di kalangan masyarakat, khususnya yang pernah belajar puisi di kelas bahasa Indonesia dulu. Ada satu lagi kutipan yang jadi favorit saya, yakni "nasib adalah kesunyian masing-masing" yang datang dari puisi "Pemberian Tahu".
Buku yang sangat saya rekomendasikan bagi para pecinta sastra. Bagi yang pernah membaca puisi-puisi Chairil Anwar di bangku sekolah, membaca buku ini dapat membangkitkan kenangan tersendiri akan masa-masa sekolah dulu.
June 22, 2009
Pernah jadi buku baca bareng di GRI.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:
http://www.goodreads.com/topic/show/1...
Chairil Anwar. Apa lagi yang bisa dikatakan tentang penyair legendaris nan hebat ini?
Karya-karyanya selamanya akan abadi sepanjang masa, sepanjang sejarah, tak lekang digerus waktu.
Sosok pionir penting dalam gaya berbahasa di bentangan sejarah perpuisian di negeri ini.
Nama besarnya akan terus diingat, terus dicatat.
Nasib adalah kesunyian masing-masing.
Hidup hanya menunda kekalahan.
Sekali berarti
sudah itu mati.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:
http://www.goodreads.com/topic/show/1...
Chairil Anwar. Apa lagi yang bisa dikatakan tentang penyair legendaris nan hebat ini?
Karya-karyanya selamanya akan abadi sepanjang masa, sepanjang sejarah, tak lekang digerus waktu.
Sosok pionir penting dalam gaya berbahasa di bentangan sejarah perpuisian di negeri ini.
Nama besarnya akan terus diingat, terus dicatat.
Nasib adalah kesunyian masing-masing.
Hidup hanya menunda kekalahan.
Sekali berarti
sudah itu mati.
December 17, 2009
DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Ga tau knp klo tau puisi ini gw jd ingat wkt ke semeru.
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
Ga tau knp klo tau puisi ini gw jd ingat wkt ke semeru.
Currently Reading
September 15, 2009Aku suka yang judulnya Tak Sepadan.
Kalo soal bukunya, ga tau kenapa,jadi ngebayang2in gmn perasaan penulis waktu nulis puisi2nya. soalnya kan itu pas lagi zaman perang. Berasa menerawang jauh ke Indonesia dimasa lalu.
Kalo soal bukunya, ga tau kenapa,jadi ngebayang2in gmn perasaan penulis waktu nulis puisi2nya. soalnya kan itu pas lagi zaman perang. Berasa menerawang jauh ke Indonesia dimasa lalu.
September 3, 2012
Kumpulan karya CA edisi hard cover ini di urutkan bedasarkan tahun pembuatan 1942-1949, yang berisi sajak, perbandingan sajak yang mengandung kontroversi baris, serta kumpulan surat yang dikirimkan CA kepada HB Jasin. Cocok buat Koleksi.
May 22, 2016
Pilihan saya. Dua puisi ini; Tak Sepadan dan Sia-sia, saya kira pasti ianya terkenal di kalangan gadis-gadis. Sisi romantis (flamboyant?) Ch. Anwar.
Di Mesjid dan Doa - beautifully written. #ulangbaca
Di Mesjid dan Doa - beautifully written. #ulangbaca
August 30, 2025
Chairil Anwar is often called the voice of a generation, and after reading this collection, I understand why. His poetry is raw, unflinching, and deeply human—filled with rebellion, longing, and an unshakable desire to affirm life even in the face of death.
This book captures the essence of Indonesia’s literary awakening during the mid-20th century. Anwar’s verses are not polished in the traditional sense, but they carry an urgency that makes them unforgettable. Reading him feels like listening to a heartbeat that refuses to be silenced. His words echo both the pain and the passion of a young nation struggling for identity and freedom.
One of the most striking aspects of this collection is how Anwar portrays himself—untamed, restless, almost feral, as the title suggests: “Aku Ini Binatang Jalang.
This book captures the essence of Indonesia’s literary awakening during the mid-20th century. Anwar’s verses are not polished in the traditional sense, but they carry an urgency that makes them unforgettable. Reading him feels like listening to a heartbeat that refuses to be silenced. His words echo both the pain and the passion of a young nation struggling for identity and freedom.
One of the most striking aspects of this collection is how Anwar portrays himself—untamed, restless, almost feral, as the title suggests: “Aku Ini Binatang Jalang.
August 24, 2024
Sebagai pribadi dengan kehidupannya yang bohemian, gambaran Charil Anwar sebagai "binatang jalang" tidak akan pernah berubah, meski ia sudah lama mati meninggalkan bait-bait puisinya yang senantiasa abadi.
TAK SEPADAN
Aku kira: Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Februari 1943
TAK SEPADAN
Aku kira: Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahgia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
Februari 1943
May 8, 2018
Tentu saja buku ini bagus. Upaya yang hebat untuk mengabadikan puisi Chairil Anwar. Saya pikir sebaiknya buku ini dimiliki dan dikoleksi bersama buku - buku puisi lainnya.
October 7, 2021
3.5 bintang.
March 24, 2022
⭐: 4/5
well, not bad lah ya. sajak-sajaknya bagus walau bahasanya agak susah dipahami.
well, not bad lah ya. sajak-sajaknya bagus walau bahasanya agak susah dipahami.
January 11, 2024
Special mention buat aku, aku berada kembali, selama bulan menyinari dadanya, taman, perhitungan & kenangan!!
September 12, 2026
cuma suka sama beberapa puisi aja, sisanya ya udah aja gitu.
August 26, 2026
Menyadari kembali bahwa Chairil lahir pada 1922, mulai dikenal luas sejak Nisan pada 1942 ketika usianya baru sekitar dua puluh tahun, dan meninggal pada 28 April 1949 sebelum sempat berusia 27 tahun. Dalam rentang hidup dan kepenyairan yang sesingkat itu, ia meninggalkan jejak yang kemudian dianggap mengubah arah puisi Indonesia modern.
Dua puluh tahun. Dua puluh enam tahun.
Aku sampai berkali-kali berhenti membaca hanya untuk memikirkan itu. Betapa singkat hidup seseorang, dan betapa panjang gema yang ditinggalkannya.
Membaca Chairil secara kronologis berarti menyaksikan perkembangan seorang manusia.
Ada Chairil yang marah.
Ada Chairil yang mencintai.
Ada Chairil yang ingin merdeka.
Ada Chairil yang berkelahi dengan Tuhan.
Ada Chairil yang takut mati.
Ada Chairil yang justru menantang kematian.
Ada Chairil yang mabuk oleh cinta.
Ada Chairil yang ingin pergi.
Ada Chairil yang ingin tinggal.
Dan ada Chairil yang tampaknya tidak pernah benar-benar puas dengan dirinya sendiri.
Ada semacam urat yang berjalan di bawah semua puisi: keinginan untuk hidup dengan seluruh kekuatan, sekaligus kesadaran bahwa hidup itu sendiri selalu menuju kehilangan.
Itulah mungkin mengapa kata-kata seperti mati, hidup, merdeka, tubuh, darah, luka, malam, api, bayang, Tuhan, dan hilang terus kembali dalam bentuk yang berbeda-beda.
Aku suka sekali gagasan bahwa Chairil adalah pemberontak. Ia bahkan bisa memberontak kepada Tuhan. Bukankah pada tingkat tertentu kita semua adalah pemberontak terhadap Tuhan, hanya berbeda bidang dan intensitas?. Kita semua pernah mempertanyakan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita. Bedanya, Chairil menjadikan pertanyaan itu bahasa.
Dalam Merdeka, misalnya, aku merasakan keinginan untuk bebas bukan hanya dari orang lain, tetapi juga dari diri sendiri yang lama. Ada sesuatu yang ingin mati supaya sesuatu yang lain dapat lahir. Mungkin menjadi merdeka juga berarti berani membunuh identitas lama yang selama ini kita kira adalah diri kita. Pada banyak fase kehidupan ketika seseorang merasa “hancur”, padahal sebenarnya yang hancur adalah bentuk dirinya yang sudah tidak sanggup lagi menampung dirinya sendiri.
Bagaimana kematian dalam puisi Chairil tidak selalu berarti kematian biologis. Kadang yang harus mati adalah versi diri yang lama. Di Dendam, ada keris, darah, tubuh, dan dorongan menghancurkan. Tetapi kalau dibaca secara psikologis, ada juga manusia yang sedang berusaha melepaskan sesuatu dari dirinya.
Lagu Siul: sesuatu yang kita cintai memang bisa membakar kita. Ini mungkin salah satu pembacaan yang paling kusukai. Metafora laron dan api bisa sangat mudah dibaca sebagai:
mendekati cahaya → terbakar → mati.
Tetapi aku justru merasa ada kemungkinan pembacaan lain. Bagaimana kalau api itu bukan semata-mata kehancuran?Bagaimana kalau sesuatu yang benar-benar bercahaya memang harus membakar sebagian dari diri lama kita?
Bukan supaya kita menjadi sesuatu yang kita cintai. Tetapi supaya setelah terbakar, kita memiliki kemungkinan untuk bercahaya dengan cahaya kita sendiri.
Aku tidak mau meromantisasi penderitaan, juga tidak semua luka membuat manusia lebih baik. Tetapi ada pengalaman tertentu yang memang membuat kita sadar bahwa diri lama kita sudah tidak cukup.
Kemudian ada Malam. Pendek sekali. Tetapi setelah mengetahui rujukan Thermopylae, tiba-tiba puisinya seperti memiliki seluruh medan perang di belakangnya. Thermopylae membawa gambaran tentang orang-orang yang berjaga menghadapi musuh yang jauh lebih besar. Maka malam belum selesai, tetapi mereka sudah selesai, dan siang bahkan belum datang ketika mereka sudah hilang.
Aku membacanya sebagai puisi tentang kematian dan ajal yang mendekat, tetapi bukan puisi religius secara langsung. Ada sesuatu yang lebih eksistensial: manusia berjaga menghadapi sesuatu yang tidak diketahuinya, sementara waktu terus bergerak.
Dan Chairil tidak memilih kata “mati”.
Ia memilih “tenggelam” dan “hilang.”
Kematian menjadi bukan sekadar berhentinya tubuh, tetapi lenyapnya seseorang dari dunia sebelum dunia selesai berputar.
⸻
Lalu aku mulai belajar membaca bentuk, bukan cuma isi. Ini mungkin pelajaran terbesar yang kudapat dari membaca buku ini. Selama ini aku cenderung membaca puisi seperti membaca prosa: mencari “cerita” dan “makna”.
Chairil mengajariku untuk memperhatikan bentuk.
Kenapa kata ini?
Kenapa bukan sinonimnya?
Kenapa barisnya dipotong di sini?
Kenapa satu kata berdiri sendiri?
Kenapa ada pengulangan?
Kenapa sebuah metafora dipertahankan sampai akhir?
Kenapa judulnya justru Malam, bukan Kematian?
Kenapa Situasi, bukan Perempuan?
Kenapa “hilang”, bukan “mati”?
Aku mulai mengerti bahwa dalam puisi, diksi bukan hiasan. Diksi adalah struktur pikiran.
Satu kata bisa mengubah temperatur seluruh puisi.
Dan semakin kubaca, semakin terasa bahwa Chairil sangat sadar terhadap bunyi dan gerak kata. Bahasa Indonesia di tangannya tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan sesuatu. Bahasa menjadi sesuatu yang bergerak, berkelahi, menghindar, menusuk, terbakar, dan bernapas.
⸻
Di Dengan Mirat, aku terhenti pada gagasan tentang “bayangan”. Mereka masih berdekapan. Tetapi pertanyaannya justru: apakah mereka masih berdekapan, atau sudah mengikuti bayangan itu?. Aku membacanya sebagai bayangan perpisahan. Dan yang membuatnya menyakitkan adalah kemungkinan bahwa perpisahan dapat hadir sebelum orang-orang benar-benar berpisah.
Tubuh masih dekat. Tetapi sesuatu yang lain sudah pergi lebih dahulu. Mungkin itu salah satu hal paling menyedihkan dalam hubungan manusia: kita bisa kehilangan seseorang ketika orang itu masih berada di depan kita.
⸻
Lalu Situasi. Ini salah satu yang membuatku sadar bahwa Chairil ternyata tidak selalu berusaha “memiliki” perempuan melalui puisinya. Ia justru menggambarkan perempuan sebagai sesuatu yang bergerak.
Mengelak. Berlayar. Kembali. Berpisah. Mencari laut lain.
Menatap bintang.
Dan akhirnya hanya garis kabur yang bisa dituliskan.
Aku suka sekali gagasan itu. Seseorang tidak pernah sepenuhnya dapat kita miliki melalui bahasa. Kita bisa mencintai seseorang, mengingatnya, menggambarkannya, menuliskan tentangnya, tetapi yang tertangkap oleh bahasa mungkin hanya bayangan dari manusia itu.
Mungkin itu juga sebabnya judulnya Situasi. Bukan “Perempuan”. Yang ditulis bukan siapa dia.
Yang ditulis adalah situasi ketika kita mencoba memahami seseorang yang terus bergerak keluar dari definisi.
⸻
Kemudian ada Isa, yang membuatku kembali memikirkan hubungan Chairil dengan Tuhan dan agama. Yang menarik adalah bagaimana ia menggunakan tubuh, darah, luka, dan keselamatan untuk membuat gagasan spiritual menjadi sangat fisik.
Aku sempat membacanya seperti ini Isa berdarah karena kesalahan umatnya, sementara umat justru memperoleh pembebasan. Di sini penderitaan dan keselamatan menjadi dua hal yang sangat dekat. Tubuh yang terluka menjadi medium pembebasan. Dosa, keselamatan, iman menjadi darah yang mengalir dari tubuh. Aku tidak tahu apakah itu satu-satunya tafsir yang benar. Justru aku suka karena tidak ada satu tafsir yang terasa cukup.
⸻
Kemudian Sorga membuatku tertawa sedikit. Dia bicara tentang surga, bidari, Masjumi, Muhammadiyah, lalu tiba-tiba bertanya apakah di sana benar ada bidadari dengan suara seperti Nina dan kerling seperti Jati.
Aku suka sekali keberanian intelektualnya. Ia mengambil sesuatu yang biasanya diterima sebagai gambaran religius, lalu memasukkannya ke dalam pengalaman manusia yang sangat konkret. Seolah-olah ia berkata: Aku tidak bisa membayangkan surga hanya dari kata orang. Aku akan mengukurnya dengan apa yang pernah kulihat, kudengar, dan kucintai.
Ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya. Ini soal bagaimana manusia membentuk konsep tentang sesuatu yang belum pernah dialaminya melalui pengalaman yang sudah dimilikinya.
⸻
Dan ternyata Chairil juga sangat banyak membaca. Ini bagian yang membuatku semakin kagum setelah membaca latar belakangnya. Dia tidak menyelesaikan pendidikan formalnya sampai tingkat tinggi. Ia membaca. Banyak. Dan serius. Ada Rilke, Marsman, du Perron, Slauerhoff, Nietzsche, Gide, Steinbeck, dan banyak lagi yang ia terjemahkan atau pelajari. Bahkan Hapsah pernah menceritakan bahwa Chairil hampir selalu membaca ketika berada di rumah.
⸻
Dan kemudian ada H.B. Jassin. Setelah membaca surat-surat Chairil kepada Jassin, aku sempat berpikir: “Ini mah bestie intelektual.” 😂
Tentu kita harus hati-hati karena yang sampai kepada kita adalah dokumentasi yang tersimpan, bukan keseluruhan percakapan Chairil dengan semua temannya. Tetapi hubungan Chairil–Jassin terasa sangat penting karena Jassin bukan hanya teman, melainkan juga pembaca, editor, kritikus, dan dokumentator karya Chairil.
Bahkan beberapa surat Chairil kepada Jassin memang kemudian dihimpun dalam koleksi-koleksi dokumenter tentang Chairil. Kalau Chairil hidup sekarang, aku bisa membayangkan dia mengirim draft puisi jam dua pagi:
Chairil 2026:
“Sin, baca ini deh.”
send poem.pdf
“Menurut lu bait 3 kepanjangan gak?”
Jassin:
“Gue rasa bukan kepanjangan. Tapi—”
Chairil:
“NAH KAN GUE BILANG BAGUS.”
⸻
Dan betapa menariknya: dia hidup di zaman yang sangat berat. Aku punya ketertarikan khusus pada T.S. Eliot, jadi aku beberapa kali merasa seperti menemukan percakapan lintas generasi ketika membaca Chairil.
Eliot lahir 1888, Chairil 1922. Tetapi The Waste Land terbit pada 1922, dan Eliot menulis dari dunia modernisme yang sedang mengalami perang, keterasingan, krisis kebudayaan, dan keretakan spiritual.
Chairil kemudian tumbuh dan menulis dalam Indonesia yang juga sedang mengalami perang, pendudukan, revolusi, perubahan politik, dan pencarian identitas. Zaman yg tidak memberi manusia pengalaman yang sederhana. Dan mungkin itu sebabnya karya mereka terasa begitu dalam.
Eliot melakukannya dengan modernisme yang penuh fragmen, mitologi, kutipan, dan sejarah. Chairil melakukannya dengan bahasa Indonesia yang lebih pendek, tajam, tubuh yang berdarah, cinta yang gagal, Tuhan yang dipertanyakan, dan kematian yang selalu berdiri di ujung kalimat.
⸻
Chairil mengajariku bahwa membaca puisi adalah membaca diri sendiri. Aku menemukan diriku sendiri dalam kegelisahan tentang Tuhan. Dalam keinginan untuk merdeka. Dalam ketakutan kehilangan. Dalam kebutuhan untuk terus bergerak. Dalam perasaan bahwa hidup akan selalu sedikit sulit dan sedikit menyusahkan, sehingga mungkin yang bisa kita lakukan bukan menunggu hidup menjadi mudah, tetapi tetap berjalan, tetap healing, tetap bepergian, tetap mencintai, tetap tertawa di tengah kekacauan.
⸻
Dan sekarang, setelah menutup buku ini, aku justru merasa baru mulai. Aku ingin membaca biografinya. Ingin membaca surat-suratnya dengan Jassin. Ingin melihat buku-buku yang ia baca. Ingin membaca Rilke, Eliot, dan penyair-penyair yang pernah ia baca lalu membandingkan bagaimana mereka hidup kembali di dalam bahasa Chairil.
Aku juga ingin membaca ulang puisi-puisi ini ketika umurku sudah berbeda, ketika pengalaman cintaku sudah berbeda, ketika cara pandangku terhadap Tuhan sudah berubah, ketika aku sudah kehilangan lebih banyak orang, ketika mungkin aku sudah tidak lagi menjadi orang yang sama.
Chairil masih hidup karena setiap generasi masih menemukan sebagian dirinya sendiri di dalam kata-kata yang ditinggalkannya. 26 tahun hidup. Beberapa tahun menulis.
Dan entah berapa generasi untuk selesai membacanya.
Aku tutup buku ini dengan rasa takjub yang agak menyebalkan:
jir. ternyata manusia bisa hidup sesingkat itu dan tetap meninggalkan sesuatu yang selama ini belum selesai.
Dua puluh tahun. Dua puluh enam tahun.
Aku sampai berkali-kali berhenti membaca hanya untuk memikirkan itu. Betapa singkat hidup seseorang, dan betapa panjang gema yang ditinggalkannya.
Membaca Chairil secara kronologis berarti menyaksikan perkembangan seorang manusia.
Ada Chairil yang marah.
Ada Chairil yang mencintai.
Ada Chairil yang ingin merdeka.
Ada Chairil yang berkelahi dengan Tuhan.
Ada Chairil yang takut mati.
Ada Chairil yang justru menantang kematian.
Ada Chairil yang mabuk oleh cinta.
Ada Chairil yang ingin pergi.
Ada Chairil yang ingin tinggal.
Dan ada Chairil yang tampaknya tidak pernah benar-benar puas dengan dirinya sendiri.
Ada semacam urat yang berjalan di bawah semua puisi: keinginan untuk hidup dengan seluruh kekuatan, sekaligus kesadaran bahwa hidup itu sendiri selalu menuju kehilangan.
Itulah mungkin mengapa kata-kata seperti mati, hidup, merdeka, tubuh, darah, luka, malam, api, bayang, Tuhan, dan hilang terus kembali dalam bentuk yang berbeda-beda.
Aku suka sekali gagasan bahwa Chairil adalah pemberontak. Ia bahkan bisa memberontak kepada Tuhan. Bukankah pada tingkat tertentu kita semua adalah pemberontak terhadap Tuhan, hanya berbeda bidang dan intensitas?. Kita semua pernah mempertanyakan sesuatu yang lebih besar daripada diri kita. Bedanya, Chairil menjadikan pertanyaan itu bahasa.
Dalam Merdeka, misalnya, aku merasakan keinginan untuk bebas bukan hanya dari orang lain, tetapi juga dari diri sendiri yang lama. Ada sesuatu yang ingin mati supaya sesuatu yang lain dapat lahir. Mungkin menjadi merdeka juga berarti berani membunuh identitas lama yang selama ini kita kira adalah diri kita. Pada banyak fase kehidupan ketika seseorang merasa “hancur”, padahal sebenarnya yang hancur adalah bentuk dirinya yang sudah tidak sanggup lagi menampung dirinya sendiri.
Bagaimana kematian dalam puisi Chairil tidak selalu berarti kematian biologis. Kadang yang harus mati adalah versi diri yang lama. Di Dendam, ada keris, darah, tubuh, dan dorongan menghancurkan. Tetapi kalau dibaca secara psikologis, ada juga manusia yang sedang berusaha melepaskan sesuatu dari dirinya.
Lagu Siul: sesuatu yang kita cintai memang bisa membakar kita. Ini mungkin salah satu pembacaan yang paling kusukai. Metafora laron dan api bisa sangat mudah dibaca sebagai:
mendekati cahaya → terbakar → mati.
Tetapi aku justru merasa ada kemungkinan pembacaan lain. Bagaimana kalau api itu bukan semata-mata kehancuran?Bagaimana kalau sesuatu yang benar-benar bercahaya memang harus membakar sebagian dari diri lama kita?
Bukan supaya kita menjadi sesuatu yang kita cintai. Tetapi supaya setelah terbakar, kita memiliki kemungkinan untuk bercahaya dengan cahaya kita sendiri.
Aku tidak mau meromantisasi penderitaan, juga tidak semua luka membuat manusia lebih baik. Tetapi ada pengalaman tertentu yang memang membuat kita sadar bahwa diri lama kita sudah tidak cukup.
Kemudian ada Malam. Pendek sekali. Tetapi setelah mengetahui rujukan Thermopylae, tiba-tiba puisinya seperti memiliki seluruh medan perang di belakangnya. Thermopylae membawa gambaran tentang orang-orang yang berjaga menghadapi musuh yang jauh lebih besar. Maka malam belum selesai, tetapi mereka sudah selesai, dan siang bahkan belum datang ketika mereka sudah hilang.
Aku membacanya sebagai puisi tentang kematian dan ajal yang mendekat, tetapi bukan puisi religius secara langsung. Ada sesuatu yang lebih eksistensial: manusia berjaga menghadapi sesuatu yang tidak diketahuinya, sementara waktu terus bergerak.
Dan Chairil tidak memilih kata “mati”.
Ia memilih “tenggelam” dan “hilang.”
Kematian menjadi bukan sekadar berhentinya tubuh, tetapi lenyapnya seseorang dari dunia sebelum dunia selesai berputar.
⸻
Lalu aku mulai belajar membaca bentuk, bukan cuma isi. Ini mungkin pelajaran terbesar yang kudapat dari membaca buku ini. Selama ini aku cenderung membaca puisi seperti membaca prosa: mencari “cerita” dan “makna”.
Chairil mengajariku untuk memperhatikan bentuk.
Kenapa kata ini?
Kenapa bukan sinonimnya?
Kenapa barisnya dipotong di sini?
Kenapa satu kata berdiri sendiri?
Kenapa ada pengulangan?
Kenapa sebuah metafora dipertahankan sampai akhir?
Kenapa judulnya justru Malam, bukan Kematian?
Kenapa Situasi, bukan Perempuan?
Kenapa “hilang”, bukan “mati”?
Aku mulai mengerti bahwa dalam puisi, diksi bukan hiasan. Diksi adalah struktur pikiran.
Satu kata bisa mengubah temperatur seluruh puisi.
Dan semakin kubaca, semakin terasa bahwa Chairil sangat sadar terhadap bunyi dan gerak kata. Bahasa Indonesia di tangannya tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan sesuatu. Bahasa menjadi sesuatu yang bergerak, berkelahi, menghindar, menusuk, terbakar, dan bernapas.
⸻
Di Dengan Mirat, aku terhenti pada gagasan tentang “bayangan”. Mereka masih berdekapan. Tetapi pertanyaannya justru: apakah mereka masih berdekapan, atau sudah mengikuti bayangan itu?. Aku membacanya sebagai bayangan perpisahan. Dan yang membuatnya menyakitkan adalah kemungkinan bahwa perpisahan dapat hadir sebelum orang-orang benar-benar berpisah.
Tubuh masih dekat. Tetapi sesuatu yang lain sudah pergi lebih dahulu. Mungkin itu salah satu hal paling menyedihkan dalam hubungan manusia: kita bisa kehilangan seseorang ketika orang itu masih berada di depan kita.
⸻
Lalu Situasi. Ini salah satu yang membuatku sadar bahwa Chairil ternyata tidak selalu berusaha “memiliki” perempuan melalui puisinya. Ia justru menggambarkan perempuan sebagai sesuatu yang bergerak.
Mengelak. Berlayar. Kembali. Berpisah. Mencari laut lain.
Menatap bintang.
Dan akhirnya hanya garis kabur yang bisa dituliskan.
Aku suka sekali gagasan itu. Seseorang tidak pernah sepenuhnya dapat kita miliki melalui bahasa. Kita bisa mencintai seseorang, mengingatnya, menggambarkannya, menuliskan tentangnya, tetapi yang tertangkap oleh bahasa mungkin hanya bayangan dari manusia itu.
Mungkin itu juga sebabnya judulnya Situasi. Bukan “Perempuan”. Yang ditulis bukan siapa dia.
Yang ditulis adalah situasi ketika kita mencoba memahami seseorang yang terus bergerak keluar dari definisi.
⸻
Kemudian ada Isa, yang membuatku kembali memikirkan hubungan Chairil dengan Tuhan dan agama. Yang menarik adalah bagaimana ia menggunakan tubuh, darah, luka, dan keselamatan untuk membuat gagasan spiritual menjadi sangat fisik.
Aku sempat membacanya seperti ini Isa berdarah karena kesalahan umatnya, sementara umat justru memperoleh pembebasan. Di sini penderitaan dan keselamatan menjadi dua hal yang sangat dekat. Tubuh yang terluka menjadi medium pembebasan. Dosa, keselamatan, iman menjadi darah yang mengalir dari tubuh. Aku tidak tahu apakah itu satu-satunya tafsir yang benar. Justru aku suka karena tidak ada satu tafsir yang terasa cukup.
⸻
Kemudian Sorga membuatku tertawa sedikit. Dia bicara tentang surga, bidari, Masjumi, Muhammadiyah, lalu tiba-tiba bertanya apakah di sana benar ada bidadari dengan suara seperti Nina dan kerling seperti Jati.
Aku suka sekali keberanian intelektualnya. Ia mengambil sesuatu yang biasanya diterima sebagai gambaran religius, lalu memasukkannya ke dalam pengalaman manusia yang sangat konkret. Seolah-olah ia berkata: Aku tidak bisa membayangkan surga hanya dari kata orang. Aku akan mengukurnya dengan apa yang pernah kulihat, kudengar, dan kucintai.
Ini bukan sekadar soal percaya atau tidak percaya. Ini soal bagaimana manusia membentuk konsep tentang sesuatu yang belum pernah dialaminya melalui pengalaman yang sudah dimilikinya.
⸻
Dan ternyata Chairil juga sangat banyak membaca. Ini bagian yang membuatku semakin kagum setelah membaca latar belakangnya. Dia tidak menyelesaikan pendidikan formalnya sampai tingkat tinggi. Ia membaca. Banyak. Dan serius. Ada Rilke, Marsman, du Perron, Slauerhoff, Nietzsche, Gide, Steinbeck, dan banyak lagi yang ia terjemahkan atau pelajari. Bahkan Hapsah pernah menceritakan bahwa Chairil hampir selalu membaca ketika berada di rumah.
⸻
Dan kemudian ada H.B. Jassin. Setelah membaca surat-surat Chairil kepada Jassin, aku sempat berpikir: “Ini mah bestie intelektual.” 😂
Tentu kita harus hati-hati karena yang sampai kepada kita adalah dokumentasi yang tersimpan, bukan keseluruhan percakapan Chairil dengan semua temannya. Tetapi hubungan Chairil–Jassin terasa sangat penting karena Jassin bukan hanya teman, melainkan juga pembaca, editor, kritikus, dan dokumentator karya Chairil.
Bahkan beberapa surat Chairil kepada Jassin memang kemudian dihimpun dalam koleksi-koleksi dokumenter tentang Chairil. Kalau Chairil hidup sekarang, aku bisa membayangkan dia mengirim draft puisi jam dua pagi:
Chairil 2026:
“Sin, baca ini deh.”
send poem.pdf
“Menurut lu bait 3 kepanjangan gak?”
Jassin:
“Gue rasa bukan kepanjangan. Tapi—”
Chairil:
“NAH KAN GUE BILANG BAGUS.”
⸻
Dan betapa menariknya: dia hidup di zaman yang sangat berat. Aku punya ketertarikan khusus pada T.S. Eliot, jadi aku beberapa kali merasa seperti menemukan percakapan lintas generasi ketika membaca Chairil.
Eliot lahir 1888, Chairil 1922. Tetapi The Waste Land terbit pada 1922, dan Eliot menulis dari dunia modernisme yang sedang mengalami perang, keterasingan, krisis kebudayaan, dan keretakan spiritual.
Chairil kemudian tumbuh dan menulis dalam Indonesia yang juga sedang mengalami perang, pendudukan, revolusi, perubahan politik, dan pencarian identitas. Zaman yg tidak memberi manusia pengalaman yang sederhana. Dan mungkin itu sebabnya karya mereka terasa begitu dalam.
Eliot melakukannya dengan modernisme yang penuh fragmen, mitologi, kutipan, dan sejarah. Chairil melakukannya dengan bahasa Indonesia yang lebih pendek, tajam, tubuh yang berdarah, cinta yang gagal, Tuhan yang dipertanyakan, dan kematian yang selalu berdiri di ujung kalimat.
⸻
Chairil mengajariku bahwa membaca puisi adalah membaca diri sendiri. Aku menemukan diriku sendiri dalam kegelisahan tentang Tuhan. Dalam keinginan untuk merdeka. Dalam ketakutan kehilangan. Dalam kebutuhan untuk terus bergerak. Dalam perasaan bahwa hidup akan selalu sedikit sulit dan sedikit menyusahkan, sehingga mungkin yang bisa kita lakukan bukan menunggu hidup menjadi mudah, tetapi tetap berjalan, tetap healing, tetap bepergian, tetap mencintai, tetap tertawa di tengah kekacauan.
⸻
Dan sekarang, setelah menutup buku ini, aku justru merasa baru mulai. Aku ingin membaca biografinya. Ingin membaca surat-suratnya dengan Jassin. Ingin melihat buku-buku yang ia baca. Ingin membaca Rilke, Eliot, dan penyair-penyair yang pernah ia baca lalu membandingkan bagaimana mereka hidup kembali di dalam bahasa Chairil.
Aku juga ingin membaca ulang puisi-puisi ini ketika umurku sudah berbeda, ketika pengalaman cintaku sudah berbeda, ketika cara pandangku terhadap Tuhan sudah berubah, ketika aku sudah kehilangan lebih banyak orang, ketika mungkin aku sudah tidak lagi menjadi orang yang sama.
Chairil masih hidup karena setiap generasi masih menemukan sebagian dirinya sendiri di dalam kata-kata yang ditinggalkannya. 26 tahun hidup. Beberapa tahun menulis.
Dan entah berapa generasi untuk selesai membacanya.
Aku tutup buku ini dengan rasa takjub yang agak menyebalkan:
jir. ternyata manusia bisa hidup sesingkat itu dan tetap meninggalkan sesuatu yang selama ini belum selesai.
March 25, 2024
Chairil Anwar mati muda di usia 26 tahun, namun karyanya akan tetap abadi.
Beberapa sajak dalam buku ini cukup sulit untuk dipahami, namun sajak-sajak yang terkenal seperti Aku hingga Krawang-Bekasi dijelaskan oleh baik di akhir buku ini oleh Pak Sapardi.
Buku ini merupakan kumpulan sajak terlengkap yang ditulis oleh Chairil Anwar, selain sajak terdapat juga korespondensi antara dirinya dengan HB Jassin.
Sebagai penutup, Chairil Anwar, selain Rendra merupakan penyair yang saat ini pernah saya cicipi karyanya. Bagi saya, karya Rendra lebih dapat dicerna dibanding Anwar, tapi rasa-rasanya perlu untuk mencari tahu penyair lain di Indonesia selain daripada kedua orang itu. Ya mungkin saja pak Sapardi bisa jadi tujuan saya selanjutnya!
Beberapa sajak dalam buku ini cukup sulit untuk dipahami, namun sajak-sajak yang terkenal seperti Aku hingga Krawang-Bekasi dijelaskan oleh baik di akhir buku ini oleh Pak Sapardi.
Buku ini merupakan kumpulan sajak terlengkap yang ditulis oleh Chairil Anwar, selain sajak terdapat juga korespondensi antara dirinya dengan HB Jassin.
Sebagai penutup, Chairil Anwar, selain Rendra merupakan penyair yang saat ini pernah saya cicipi karyanya. Bagi saya, karya Rendra lebih dapat dicerna dibanding Anwar, tapi rasa-rasanya perlu untuk mencari tahu penyair lain di Indonesia selain daripada kedua orang itu. Ya mungkin saja pak Sapardi bisa jadi tujuan saya selanjutnya!
Displaying 1 - 30 of 306 reviews






























