Shenaya mulai percaya, bahwa bukan hanya anak perempuan yang suka menulis. Sebab gadis itu menemukan surat-surat tersebut di lokernya yang tak pernah dikunci. Ia pikir, semuanya adalah surat salah kirim dari seorang siswi, sampai akhirnya Shenaya temukan kode jelas tentang siapa yang menuliskan semuanya.
Namun permasalahannya adalah, Shenaya sudah lebih dulu menyukai Dipo jauh sebelum surat-suratnya datang. Dan permasalahannya lagi adalah, Argado datang entah atas perintah siapa. Hati Shenaya semakin bimbang.
Nanti, setelah puluhan surat datang, setelah Argado semakin dekat, dan setelah Dipo tetap tidak berkutik, Shenaya akhirnya tahu, ke mana hatinya harus jatuh.
__ Surat puitis muncul lagi di loker sekolah Shenaya dan dia percaya surat-surat itu sekadar salah kirim. Setelah diyakinkan si pengirim melalui balasan surat, Shenaya sadar seseorang diam-diam memperhatikannya. Siapa?
Ada Dipo, gebetan diam-diamnya Shenaya. Ada Darwin, pacar sahabat Shenaya. Ada Radhi, teman sekelas Shenaya. Terakhir, Adipati Dolken, entah siapa, yang muncul tiba-tiba. Cuma mereka kemungkinannya. Atau ada yang terlewat?
Shenaya bukan hanya berurusan dengan surat dan pengirimnya. Masalah datang dari berbagai pihak, termasuk dari diri sendiri. Shenaya harus mengikuti kata hati, percaya siapa, atau gimana?
Kenyataan itu terasa lebih berat dari yang Shenaya duga. Sedangkan, Shenaya seperti ada di antara banyak jalan. Sekarang, jalan mana yang harus Shenaya ambil? __
Impresi pertamaku untuk buku ini, bisa dibilang, sangat positif. Aku tertarik pada banyak hal. Mulai dari cover, judul, blurb, ide cerita, dan bab pembukaannya. Bahkan, bahasanya pun enak diikuti
Shenaya dengan sifat "rajinnya" alih-alih terang-terangan deketin si gebetan, Shenaya lebih memilih rajin-dan-tidak-pernah-absen nonton gebetan itu latihan atau tanding futsal. Udah. Nonton aja xD
Dipo, di mata Shenaya, kalem dan keren. TBH, aku menunggu-nunggu kekerenan Dipo. Secara nggak sadar penulisnya membuat Dipo ditunggu pergerakannya.
Adipati Dolken yang nama aslinya silakan temukan langsung di buku. Beda dengan Dipo, Adipati Dolken lebih lincah, inisiatif, dan jahil.
Aku pribadi malah suka sama Radhi yang baik mau ditebengin terus dan kepoan.
Cerita ini lebih banyak mengambil setting sekolah, tempat latihan futsal, dan rumah. Andai ada suatu tempat tertentu yang lebih unik dan khas, aku yakin kisah Shenaya akan lebih menarik.
Gaya tulisannya ringan, sederhana, dan cukup enak dibaca. Cocok untuk genre bukunya, teenlit. Aku dibawa menebak-nebak identitas si pengirim surat, kelanjutan Shenaya dengan si gebetan, atau justru kemungkinan Shenaya berpindah hati.
Alur maju, ibarat membangun tembok perlahan. Konflik dan plot diberikan dari yang sederhana dulu sampai pelan-pelan naik dan makin rumit.
Aku minta lebih. eh bener loh, bukan basa-basi. Ada adegan yang menurutku hilang. Nggak ngurangin inti ceritanya sih, tapi menurutku beberapa bagian penting diperlihatkan (bukan hanya diceritakan). Makanya, aku butuh lebih.
Semoga, di buku selanjutnya, tulisan Kansa bisa lebih bagus lagi. Perbanyak showing dan diinget lagi konsistensi karakter tokoh-tokohnya ya.
tolong unggah kover buku ini, ya. Sayang kalau dibiarkan blank hehe. Soalnya saya mau ngomongin kovernya, nih. Nggak cuma tentang saya-suka-apa-nggak, tapi ada hal yang menurut saya patut diapresiasi pembaca lain pula. Biar bisa pada lihat dan tahu juga kovernya seperti apa.
Kadang saya tidak peduli dengan latar belakang penulisnya, seperti berapa umurnya, asalkan tulisannya baik. Namun kadang saya juga suka ingin tahu, dan saya mendapati penulis ini masih 18 tahun dan bersekolah di SMK jurusan DKV. Sehingga, kover buku ini pun, adalah karyanya.
Ada sesuatu di kover buku ini sehingga saya tergoda untuk mengantarnya ke kasir. Desainnya sederhana, hanya menggunakan dua warna, font judulnya pun diketik (bukan tulis tangan) dan bergaya modern lettering yang biasanya mirip-mirip. Namun penempatan tiap katanya seimbang dan estetis, merah gelapnya cantik, dan judulnya menggoda. Fixed bawa pulang!
Jadi, ya, good job for the cover!
Membaca ceritanya, saya kembali dikejutkan. Naskahnya rapi banget! Hampiiir nggak ada typo kecuali kurang koma. Jalinan kata-katanya juga baku yang nggak kaku, cocok buat yang seleranya mirip saya--the crisp and clean novel. Ini juga tipe novel yang dari blurb kelihatan seperti kisah cinta segitiga biasa, tapi sebetulnya ada sesuatu yang lebih dalam dari itu (seperti Persona-nya Fakhrisina Amalia). Nggak tanggung-tanggung, yang dibawa adalah unsur psikologi. Buat saya ini menarik karena konflik tidak hanya berhenti sampai menemukan siapa yang menulis surat itu, tapi juga alasannya dan apakah si penerima surat--Shenaya--akan menerima cinta si pengirim surat. Whew 😥
Hal yang menarik lainnya adalah betapa penulis berusaha menunjukkan sisi realistis dari sebuah hubungan saling naksir yang tampaknya harmless. Ini terutama bisa dilihat pada tokoh Shenaya. Ketika pujaan hatinya juga menyukainya, dia tidak semerta-merta menerimanya karena memang ada satu dan lain hal yang menghalangi. Tidak tipikal.
Untuk teknik dialog, sepertinya sudah keren karena enak sekali membaca percakapannya. Namun untuk transisi dari hari ke hari, saya masih kesulitan. Satu, mungkin karena penulis lebih suka menggabungkannya dan hanya memberikan info 'keesokan harinya' atau 'setelah itu' tanpa adanya pembatas (yang tiga tanda bintang itu (***), apa ya namanya?) padahal topiknya sudah beda. Jadi ceritanya seolah tak putus-putus dan berpotensi membuat lelah. Dua, kadang penulis baru memberikan penjelasan waktunya setelah dialog sebagai dialogue tag. Jadi saya baca dialognya dulu, lalu baru tahu itu terjadinya kapan.
Saya juga merasa dibuat mutar-mutar sama gejolak hatinya Shenaya yang selalu mempertanyakan surat-surat, Dipo, dan Argado yang di situ-situ saja. Ini makin membingungkan ketika menjelang akhir. Ada yang terkesan tak konsisten, misalnya di halaman sekian Shenaya sudah diberitahu Argado tentang kondisi Dipo, tapi di halaman berikutnya yang agak jauh Darwin bilang Shenaya belum tahu sesuatu tentang Dipo. Dan banyak juga ya, adegan bolos sekolahnya, terutama Argado 😕
Side story yang disisipkan di sini sebetulnya lumayan, tapi maaf, rasanya hanya seperti ditambah agar ada cerita sampingan karena tidak begitu memengaruhi nasib tokohnya. Munculnya juga seperti tiba-tiba. Namun bagusnya pembaca jadi bisa melihat kehidupan tokoh lain selain tiga tokoh utama--Shenaya, Dipo, dan Argado.
Selamat untuk Kansa Airlangga atas debutnya yang manis, meski atmosfer ceritanya agak bittersweet 😁 Menantikan karya lainnya yang semoga terus berkembang jadi lebih baik. BTW, tolong ya tambahkan kovernya, hehe. Saya bukan pustakawan sini jadi nggak bisa ngapa-ngapain, cuma minta tolong 😑
Rasanya campur aduk. Dari awal meyakinkan banget, nih. Ada adik kelas suka sama kakel, ngikutin kegiatannya, sampai futsal juga ditungguin. Kupikir ya, bakal jadi cerita menyakitkan karena kakelnya ini nggak peka2. Ternyata, nggak. Duh, gimana ya, elemen2 di buku ini kayak soal "isilah bagian yang rumpang". Agak aneh karena banyak hal nggak terjelaskan. Terlebih, karakter2nya nggak jelas penokohannya.
Ngomongin soal karakter, waktu kenal sama Shenaya udah ada warning, nih. Kok kayaknya lempeng banget ini cewek, kok nggak gerak cepet ya, kok dialognya macam dia sendiri yang gerakin ya (jadi lawan bicaranya macam nggak ada rasa). Ternyata bener. Nggak cuma Shenaya aja, hampir semua. Dan aku kesal sama kepribadian Argado sebenernya. Yeah, kalo bahas soal remaja emang rumit dan nggak bisa disepelein begitu aja, tapi aduh kesel deh, bawaannya. Di satu bab yakin banget sama pendiriannya, di 3 bab selanjutnya ragu lagi. Idk, kesannya makin ke sini makin kelihatan kayak penulis sengaja bikin perasaannya Dado berubah-ubah biar memperpanjang tulisan aja.
Banyak kesalahan teknis dan nggak jarang penulis entah lupa atau sengaja nggak mencantumkan subjek dalam kalimat. Jadinya yg baca bingung. Mana pakai sp orang ketiga serba tahu pula—sp yang rawan banget pindah2 kepala. Pusing.
Masih banyak yang kurang perbaikan dan penjelasan. Ide soal Dipo itu bagus, sih, aku akui, tapi eksekusinya agak kurang. Dan mangkel banget waktu Dipo malah nyalahin Dado karena suka sama cewek. Ck, gimana, sih. Terus entah ini sengaja apa enggak, kenapa sedikit2 karakter di sini nyangkut pautkan sama depresi, ya? I mean, mental health emang penting diperhatikan, tp nggak dijadikan semacam "ancaman" dengan bilang, "Nanti kalau dia depresi gimana?" kayak nggak pada tempatnya banget.
Kesan pertama ke tulisan penulis nggak cukup bagus, tp nggak memungkiri bakalan baca karya2nya yg lain.
Jadi novel ini nyeritain tentang Shenaya yang selalu dikirimin surat yang isinya prosa-prosa tapi isinya dalem di lokernya. Masalahnya, si penulis surat ini nggak ngasih jejak atau inisial nama yang buat Shenaya penasaran. Tapi, cewek ini lagi suka sama kakak kelasnya yang namanya Dipo sampai-sampai si Shenaya selalu nungguin Dipo latihan futsal tanpa absen. Terus dateng tuh cowok lagi namanya Argado yang katanya Adipati Dolken. Nah Shenaya kan jadi nebak-nebak siapa yang nulis suratnya di antara dua cowok itu. . Sebenernya saya udah pernah baca cerita ini di wattpad dan karna saya udah baca otomatis saya udah tau siapa pengirim suratnya. Jadi ya pas mereka semua nebak-nebak saya nggak kebawa arus nebak yang lain kecuali kalo penulisnya ngeganti si pengirim surat tapi nyatanya nggak. Terus, juga di blurbnya udah dikasih tau sih ya siapa pengirimnya tapi secara nggak langsung atau langsung (?) nggak tau deh hehe. Saya juga heran kenapa dikasih tau karna menurut saya buat pembaca yang baru baca cerita ini, itu lumayan seru loh buat nebak-nebak dan kebawa arus nebak sana sini, walaupun nggak buat saya. . Ada banyak perubahan dari versi wattpad ke novelnya. Yang jelas saya lebih suka yang versi novel, karna lebih menarik aja gitu dan page turner buat halaman awal dan pertengahan. Karena menjelang ending itu bener-bener ya kayak annoying abis dan mulai ngebosenin. Cuma berputar di situ-situ aja. Maksudnya kayak si dia udah mantep ama perasaannya, eh tiba-tiba ragu dan yang satu lagi bingung mau milih yang mana. Sumpah plin-plan banget tokoh-tokohnya yaampun geregetan sendiri saya. . Terus adegan tokoh-tokohnya hilang itu banyak bener. Kayak tiba-tiba si tokoh utama hilang, terus dicariin. Eh sebaliknya, yang onoh hilang terus dicariin lagi. Saya rolling eyes aja dah tuh sepanjang itu. Maksudnya apa coba. . Sayangnya, karakter tokoh-tokohnya kurang kuat dan banyak plot holenya. Kayak permainan truth or darenya nggak dijelasin gitu padahal kan itu yang ngebuat si penulis surat selalu kirim surat ke Shenaya. Padahal saya kira bakalan dijelasin. Yaudah lah ya salah saya juga yang ngarep-ngarep. Plot hole lainnya itu yang waktu Alana bilang kalo Dipo nembak Shenaya di depan temen-temennya tapi perasaan saya nggak ada adegan kayak gitu deh malah si Dipo nembaknya ya begitu, saya nggak mau spoiler. . Terus juga ada beberapa pernyataan yang mengecoh biar kita nebak siapa penulisnya atau yang punya penyakit tapi jatohnya maksa karna nggak dijelasin lagi dan malah beralih ke yang lain dan ada yang bikin saya bingung kayak banyak pernyataan-pernyataan yang jatohnya ngegantung karna nggak dijelasin. . Pertama, di awal-awal kan Argado katanya nggak kayak Argado yang biasanya, kenapa nggak dijelasin dia berubahnya kayak gimana? Jadi power ranger gitu? . Kedua, yang permainan truth or dare itu. . Ketiga, maksud Argado ngedeketin Dipo sama Shenaya itu apa. . Keempat, kondisi si itu diakhir-akhir gimana, dan gimana dia bisa nerima itu semua. . Alhasil, sampai saya selesai baca bukunya pertanyaan-pertanyaan di atas belum juga kejawab sayang banget sih padahal dan endingnya ya gitu. . Terakhir ada beberapa typo kayak gini, kan ada kakak perempuannya Dipo nih manggil dia tapi abis itu di kalimat selanjutnya disebutin kalo Dipo itu kakaknya cewek itu nah loh yang bener yang mana. Bingung? sama saya juga. . Tapi buat novel debut, saya cukup menikmati novel ini karna premisnya unik dan prosa-prosanya itu bagus-bagus. Jadi saya kasih 3 bintang karna 0.5 bintang buat penulis yang udah nge-desain covernya.
Novel ini bercerita tentang Shenaya—siswa kelas 1 SMA, yang mendapat surat cinta, di tengah dia yang suka sama anak futsal sekolahnya. Surat tersebut terus berdatangan hingga ia jadi dekat dengan salah satu pemain futsal lainnya. Cerita semakin rumit, ketika si pengirim surat mengaku dan cowok yang dekat dengannya jadi semakin dekat. Bimbang dan keputusan itu harus dibuat.
Menarik.
Aku salut sama penulis "Boys Do Write Love Letters" ini , masih sekolah sudah menerbitkan buku. Tidak hanya itu, cover buku ini, penulis sendiri yang mendesain. Keren! 👍 Iya, Afifah jatuh cinta pada pandangan pertama sama covernya. Simpel dan elegan. 😍😍
Ide cerita bagus. Konflik yang dibuat umum tapi ada yang membuatnya tidak umum yaitu sedikit menyentuh kasus psikologis seseorang. Setelah pengakuan dari pengirim surat, sesuatu jadi semakin rumit karena kelainan psikologis seseorang.
Ending kisah yang membuat Afifah terkejut. "Oh ini toh yang mau disampaikan oleh penulis!" Afifah mengerti apa yang ingin disampaikan oleh penulis, namun masih kurang greget penyampaian konfliknya. Jadi, menurut Afifah pribadi, cerita terkesan buru-buru. Lebih banyak menceritakan kebimbangan dan ke-labil-an perasaan.
Bahasa yang digunakan adalah ragam bahasa santai sehingga mudah dipahami. Tidak kaku. Cocok dibaca remaja khususnya seusia Shenaya.
Recomended buat yang sedang kasmaran, khususnya yang sedang mencari referensi menulis surat cinta. Asal jangan copas, yak!
Penasaran sama si pengirim surat itu yang bikin Afifah greget sama cerita ini. Yuk baca dan rasakan penasarannya! Ikuti kisah Shenaya memilih labuhan hatinya! . 3,5/5⭐
Well, pertama kalinya baca kisah Shenaya, Argado dan Dipo. Suer, ini kisah ada lucunya, ada galaunya, ada sedihnya, ada happynya. Pas banget komposisinya . . Kisah tentang surat-surat yang mampir di loker Shenaya, tanpa Shenaya tau itu dari siapa. Walaupun perlahan namun pasti, akhirnya Shenaya tau itu dari siapa. Terlebih pengirim surat ini juga sahabat Shenaya, meminta Shenaya untuk menjauhi seorang cowok . . Alana benci sama ini cowok, tanpa mau tau kebenaran yang sebenarnya. Dia adalah Argado. Dipo pun sama melarang Shenaya dekat dengan Dado. Heran deh, 'Adipati Dolken' kok dijauhin sih. Seiring berjalannya waktu, Shenaya akhirnya tau siapa pengirim surat misterius untuknya. Dan dia juga baru tau tentang sebuah penyakit psikologis. Princess juga baru tau kok . . Kehangatan keluarga Shenaya, persahabatannya dengan Alana, kisah masa lalu Alana dan Argado yang ternyata saling berkaitan, kemudian hubungan Shenaya dengan Dipo dan Dado. Lalu hubungan Darwin dan Alana, bikin belajar satu hal. Setidaknya janganlah menilai orang dari masa lalunya. Biarkan saja masa lalunya yang buruk ditinggal jauh, masa depan masih bersih dan menanti . . So, buat kamu yang lagi nyari novel paket komplit, jangan lupa baca novel ini yaaa.
Secara tema, aku cukup menyukainya. Tapi alur ceritanya mulai bertambah complicated ketika Shenaya mengetahui Dipo memiliki penyakit erotomania. Perjalanan Shenaya semakin runyam tentunya, Dipo mulai mendekati sementara Argado yang sudah menyatakan perasaannya. Di lain masalah pribadi Shenaya, ada juga masalah Alana (sahabat Shenaya) pada Argado, menyebabkan Alana selalu menyuruhnya menjauhi Argado.
Sayangnya, alurnya menjadi lambat ketika babak penyelesaian permasalahan tersebut. Seperti kurang bumbu romansa dan emosi yang bercampur di dalamnya. Tapi aku suka dengan endingnya, karakter Shenaya dengan mantab menempatkan hatinya pada salah satu cowok itu.
Tapi aku juga suka dengan karakter Alana (sahabat Shenaya) yang berani berlapang dada untuk berkomunikasi kembali dengan Argado tentunya. Sangat gentleman sosok Alana, meskipun dia sudah sangat membenci Argado rentang waktu cukup lama.
Aku suka sama ide ceritanya, jujur. Dan di awal-awal, buku ini menjanjikan ekspektasi yang waaaah banget. Bayangin aja cowo nulis surat untuk cewe? Shenaya yang kebingungan tuh udah dapet banget loh karakternya dan masuk ke alur cerita. Gaya menulisnya straight to the point, tapi aku merasa beberapa adegan nggak disambung dengan baik. Jadi kayak kliping koran, nempel-nempelnya keliatan.
Tapi... makin ke tengah dan ke akhir aku beneran bingung sama alur buku yang sebenarnya. Aku suka plot twist, tapi di buku ini gak dieksekusi dengan baik. Alurnya jadi makin berantakan, konfliknya muter di Dado-Naya yang tau-tau jadian. Dado yang labil, Dipo yang punya penyakit, Naya yang ga punya pendirian. Maaf banget bahkan sampe tulisan "The End" pun reaksiku cuma satu. Hah? Itu doang. Aku belum 100% mencerna isi bukunya tau-tau diselesaikan gitu aja.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sejujurnya awalnya udah sreg sama ceritanya, aku mikirnya, wah seru ini secret admirer sama kakel, tapi kok semakin ke belakang jadi makin membingungkan ya ceritanya. Aku nggak tau apakah hanya aku yang merasakan ini, tapi aku beneran bingung sama jalan ceritanya, khususnya semenjak Argado muncul, dan makin bingung waktu tau Dipo ada penyakit. Aku nggak bisa mereview banyak, yang jelas aku bingung:) Ceritanya jadi kemana-mana, sifat tokoh-tokohnya plin plan dan nyebelin, terus ada beberapa typo yang sampe bikin bingung ceritanya. Di halaman 230an bahkan aku hampir memutuskan DNF karena bener-bener nggak bisa mengikuti lagi ceritanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita yang ringan, tapi nggak terlalu ringan juga di saat yg sama. Untuk perkembangan karakter dan konflik aku masih ngerasa janggal. Dibuat ada, terus langsung hilang perlahan gt aja. Jujur saja gk ninggalin kesan yg kuat di aku.
Banyak juga penjelasan yg terlalu bertele-tele. Konsistensi karakter juga masih goyah krn tdk ada pendalaman karakter.
Untuk cover bukunya, aku cukup suka. Simple dan penggunaan fontnya juga cocok. Cerita tentang 'secret admirer' sudah lama skl tdk aku baca, jadi ide cerita ini cukup menyegarkan buatku.
Gue bisa tebak apa akhirnya, mungkin pembaca lainnya juga gitu. Tapi alur ceritanya seolah-olah menyuruh aku ragu dengan akhir cerita yg udah aku yakini. I don't know how to say it... :3
Kinda my fav book pas sma!ringan banget buat dibaca, asik sih pas sma baca ini walaupun isinya yaa klise tentang romance anak sekolah ceunah gituuu:)))
Secara garis besar buku ini menceritakan perasaan labil remaja yang menghadapi cinta pertama mereka. Tokoh utama, Shenaya, diberikan dua pilihan yang menurutku dua duanya bukan hal yang baik. Masa SMA yang seharusnya dinikmati Shenaya untuk belajar dan bersenang-senang malah dipenuhi drama Dipo-Dado bersaudara. Ada beberapa momen yang bikin aku geram sama kelakuan mereka. Contohnya, saat Shenaya menoleransi sikap kasar dan doyan kabur milik Dado. Ataupun saat Shenaya ngga bisa tegas tentang perasaannya ke Dipo. Ada juga hal-hal yang ngga dijelaskan, seperti alasan Dado suka menghilang. Gaya kepenulisan di sini lebih menekankan pada perasaan tiap tokohnya. Hal yang aku nikmati cuma prosa-prosa Dipo, pertemanan Shenaya-Alana, dan gombalan Dado di awal, selebihnya ngga terlalu berkesan buatku.
Saran untuk Shenaya: daripada sama cowo-cowo ngga jelas mending belajar persiapan SNBT nay! 😡