Dalam Tasawuf, spiritualitas Islam, hubungan antara hamba dan Tuhan hanya bisa terjalin melalui cinta, mahabbah. Hamba adalah sang pecinta, Tuhan adalah sang kekasih. Hamba terpisah dari Tuhan karena nafsu, yang berlapis-lapis banyaknya, dan cinta bagaikan tungku api yang membakar nafsu sang pecinta. Perjalanan menuju sang kekasih begitu panjang dan menyakitkan, tetapi itulah yang harus dilalui setiap pecinta yang meniti Jalan Mahabbah.
Kisah tentang perjalanan pecinta meniti Jalan Mahabbah kerap diabadikan dalam karya sastra oleh para pujangga Sufi di setiap masa. Yang termasyhur di antara semuanya adalah Layla Majnun karya Nizami (abad ke-12) dan Yusuf Zulaikha karya Jami (abad ke-15). Keduanya berkisah tentang seorang pecinta yang terpesona pada keindahan Tuhan yang mewujud dalam diri kekasihnya, mengalami siksa kerinduan tak terkira hingga kehilangan dirinya dan mengantarkannya pada penyatuan mistis tak terkatakan sebagai puncak pengalaman spiritual. Kisah mereka yang penuh liku dilukiskan dalam metafora-metafora yang luar biasa kaya dan indah, menginspirasi banyak pujangga, seniman, dan pejalan spiritual dari berbagai agama berabad-abad lamanya.
Kisah dalam Mahabbah: Kisah Cinta Layla Majnun & Yusuf Zulaikha sebenarnya bukan sekadar drama cinta klasik. Dalam tradisi tasawuf, dua cerita yang ditulis oleh Nizami Ganjavi dan Jami sering dibaca sebagai metafora perjalanan jiwa manusia menuju Tuhan. Cinta yang terlihat “romantis” di permukaan sebenarnya adalah bahasa simbolik untuk menjelaskan pengalaman spiritual.
Jika dua kisah ini dibaca berdampingan, ada pesan tasawuf yang cukup dalam: Layla–Majnun → jalan cinta yang menghancurkan ego. Yusuf–Zulaikha → jalan cinta yang memurnikan nafsu.
Keduanya menunjukkan bahwa dalam sufisme, cinta bukan tujuan romantis, tapi jalan menuju Tuhan. Tokoh-tokohnya menderita bukan karena nasib tragis, melainkan karena jiwa mereka sedang ditempa.
Dengan kata lain, dalam pandangan para sufi: Manusia jatuh cinta kepada manusia… hanya untuk akhirnya menemukan Tuhan di baliknya.