Jump to ratings and reviews
Rate this book

Notes From England

Rate this book
Cerita tentang menggapai mimpi untuk studi di tanah Inggris Raya oleh dua anak kampung dari kaki Gunung Sumbing, Magelang dan desa terpencil di Halmahera terangkum manis dalam buku ini. Anda akan dibawa dalam 20 cerita berbeda tentang perjuangan melawan keterbatasan, usaha keras tanpa batas untuk mengejar impian, hingga berbagai pernak-pernik perjalanan dua anak manusia selama hidup dan belajar di negeri Ratu Elizabeth.

Tidak hanya itu, buku ini membedah kisah sukses orang-orang besar yang bisa dijadikan pelajaran untuk belajar meretas cita-cita pembaca. Dari kisah seorang hafizhah 30 Juz Al-Qur’an yang juga sebagai seorang kandidat Doktor bidang kimia, hingga para atlet dan selebriti kesohor tingkat dunia.

Dengan latar Inggris, semua kisah dalam buku ini diceritakan dalam fragmen tulisan yang ringan, mengalir, penuh makna, dan tentu saja akan menggerakkan pembaca untuk terus bertahan dalam kesabaran meraih mimpinya. Seperti quote berikut yang tertulis manis di buku ini:

"Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi, serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika anda belum memilikinya, renungkanlah kembali semangatmu!"

244 pages, Paperback

Published December 1, 2017

7 people are currently reading
59 people want to read

About the author

Ario Muhammad

7 books88 followers
A writer and a postdoc research associate at Civil Eng. Department, University of Bristol, UK.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
34 (56%)
4 stars
16 (26%)
3 stars
8 (13%)
2 stars
1 (1%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 22 of 22 reviews
Profile Image for Ario Muhammad.
Author 7 books88 followers
December 31, 2017
(Review NFE) - SEBUAH USAHA UNTUK MENGENTASKAN KEMISKINAN MOTIVASI

"Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–Notes From England (NFE), hal. 36

“Karena siapa pun kita, setiap manusia punya peluang yang sama. Yang membedakan adalah seberapa keras usaha yang kita ikhtiarkan untuk merealisasikan mimpi yang diinginkan.”

–NFE, hal. 25

“Untungnya kehidupan itu nggak kayak Teh Gelxs dan Alx-Alx, kalau hologramnya digosok yang selalu keluar: “Coba lagi, coba lagi, coba terus… ya, terus, terus… eup! Mantap!”

–Qi-eF-Si (Quote From Sharmay)

~Quote macam apa ini? Kayak lagi markirin kendaraan.~

Bismillah.
Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan angka. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada manusia paling sempurna yang tiada duanya, yang telah menyelamatkan dunia dari kebodohan menuju kemajuan dan ketinggian akal pikiran, yang disebut Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK: Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Ketika menulis (ceritanya sih) review Notes From England (NFE), ponsel saya bernyanyi lagu Sami Yusuf yang berjudul Worry Ends. Dan lagi di luar sedang hujan air.

Ya iyalah, hujan air, masa hujan kenangan?! -_\

Begini, saya itu suka basket, dan saya suka meloncat-loncat. Karena itu saya punya kebiasaan meloncat-loncat kalo baca buku.

“Kayak pocong, dong?!”

Maksudnya, jika saya membaca buku, maka hal pertama yang saya lakukan adalah

…. loncat kayak pocong.

Nggak.

Serius, saya nggak begitu!

Ritual saya dalam membaca itu melihat sampul depan-belakang, kata pengantar sekilas, kemudian membaca daftar isi, lalu meloncat ke halaman yang menarik menurut saya, meloncat lagi dan lagi sampai saya dikira pocong.

~Dikeroyok pocong~

Tunggu, memangnya pocong bisa ngeroyok? @_@

Nah, begitupun saat saya membaca Notes From England. Halaman yang pertama kali saya buka adalah halaman 159: tulisan Pak Ario tentang kisah seorang hafizah 30 juz Al-Qur’an yang kandidat Doktor di bidang kimia.
Alasan saya membaca itu pertama kali karena ketika pandangan saya tertumbuk pada kata “hafizah” ingatan saya berlarian pada fagmen-fragmen masa lalu :’)
Ada rasa sedih, nyeri, sakit pinggang, sakit otot, minum Oskad*n SP

disorakin pembaca

Lupakan. Ini bukan waktunya curhat, May!
“Bukan ambisi yang membawa dirimu pada kesuksesan, melainkan kesungguhanmu meraih kesuksesan itu dengan keikhlasan.”
Quote Puspita Praptiningsih ini menjadi prolog kisah Mbak Zeni Rahmawati, seorang hafizah yang berkuliah di Universitay of Aberdeen, dan quote itu sukses menampol hati saya. Plak!

Dalam buku NFE, dikisahkan perjuangan Mbak Zeni menghafal Al-Qur’an ketika menghadapi berbagai macam distraksi.

Gaes, distraksi saya nggak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Jika saya tergoda hanya dengan hal remeh-temeh, seperti: membaca cerpen melankolis, komik online, novel, menulis status, menonton anime Boruto, tidur, makan, mandi sibuk chating WA, Fesbukan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, maka tantangan terberat beliau menghafal Al-Qur’an itu adalah

…. mau tau? Penasaran? Selengkapnya di Notes From England, halaman 167. Hehehe.

~pembaca banting hape~

Selain itu dceritakan juga tiga alasan terbesar Mbak Zeni menghafal Qur’an, salah satunya yang membuat saya terkesan dan saya merasa mesti menuliskannya…

…. penasaran?

pembaca mulai emosi

Selengkapnya di bawah ini:

“… Aku ingin membuat mata dunia sadar bahwa seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa belajar ilmu sains seperti latar belakang yang kumiliki. Seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa menuntut ilmu umum hingga ke jenjang doktoral, seperti para ulama terdahulu yang bisa menggabungkan pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu sains yang mereka miliki.”

–Hal. 163
Setelah membaca kisah beliau, saya merenung. Barangkali, ada yang salah dengan saya. Benar. Ada yang mesti saya perbaiki.

Beruntungnya, Pak Ario merentangkan solusi bagi yang sulit fokus dan gagal terus-menerus, seperti saya yang kesulitan menghadapi distraksi ketika ingin merealisasikan sesuatu.

Pembaca: “Jadi ini teh mau review atau curhat sih?

Sharmay: Mau jualan Aqua, gaes. :’)

Ya. Hampir lupa, saya belum memperkenalkan buku Notes From England. Beberapa contoh review buku yang saya baca, biasanya dalam mereview itu mesti diberikan penjelasan. Ini teh buku tentang apa, siapa pengarangnya, berapa halaman, dan lain-lain.

Baik saya akan mencoba menuliskannya.

Judul Buku: Notes From England (NFE)

(Sudah tahulah ya, dari tadi saya sebut)

Penulis: Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Cetakan 1, 2017

Kota: Jakarta

Jumlah Halaman: 236 hlm.

Pembaca: “memangnya Sharmay lagi mereview? Katanya lagi jualan Aqua?”

Sharmay: T_T gigit tembok

Jadi, gaes, seperti judulnya, buku ini berisi cerita-cerita yang berlatarkan Inggris tentang dua anak dari kaki Gunung Sumbing, Magelang (Mbak Fissilmi atau Mbak Mimi), dan desa terpencil di Halmahera (Pak Ario) ketik menggapai mimpi untuk studi di negeri Ratu Elizabeth.

Kenal Ratu Elizabeth kan?

Apa? Nggak kenal?!

Sama! Ratu Elizabeth belum pernah kenalan sama saya, sih.

~Halloooow… tibalik meureun! Siapa kamu, Sharmay?!~

Hehehe…

Selain kisah perjuang Pak Ario dan Mbak Mimi meraih cita-cita, diceritakan juga pernak-pernik perjalanan mereka selama hidup di Inggris. Juga kisah para atlet, pengusaha dan salah satu Hallyu Star (sebutan entertainer asal Korea Selatan yang mendunia), seperti G-Dragon.
Tahu G-Dragon kan?

Itu loh BIGBANG….

salah satu teori terbentuknya semesta.

~dilempar ke got~

Omong-omong soal G-Dragon, saya nggak mengenalnya.

Tetapi saya pernah mendengar namanya dari teman saya yang tentu saja penggemar Oppa G-Dragon.
Pada halaman 172, Pak Ario membeberkan beberapa fakta tentang lelaki yang bernama asli Kwon Ji-Young itu. Bagaimana usahanya yang begitu keras sehingga ia menjadi salah satu komposer musik terbaik di Korea Selatan dan bagi para fans-nya, ia adalah bintang yang sangat tinggi, sehingga sulit digapai. Hanya dapat dikagumi, dan tak bisa dimiliki.

~Penggemar G-Dragon sedih.~

“Proses menjadi top peformers adalah proses lama yang memakan waktu bertahun-tahun. Butuh kesabaran untuk bertahan dalam ketidaknyamanan, kesabaran untuk belajar dan memulai hal baru, juga kesabaran untuk bertahan dalam kesabaran.”

–NFE, hal. 180

Kita tinggalkan fans K-Pop, biarkan mereka larut dalam kesedihan. Hahaha tawa jahat

Saya teringat dulu pernah membaca di sebuah blog, tentang aforisma. “Aforisma itu suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau sebuah kebenaran yang sudah diterima umum.”

–Wikipedia

Jujur saya kesulitan memanggil kenangan soal ini, yang saya ingat bahwa si penulis di blog itu meragukan khasiat aforisma, kata-kata bijak, atau semacam kara-kata motivasi. Saat itu saya hampir termakan perkataannya dan menjadikannya kredo, bukan karedok.

Namun, perkataan Mbak Mimi membuat saya tersadar kembali, jangan menyepelekan kata motivasi, aforisma, ungkapan bijak, atau hal semacamnya. Sebab:

“Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36

Ya. Kata-kata motivasi memang cuma kata-kata, tapi bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ia akan menjadi peluru yang merobek keputusasaan dan ketakutan, ia menjadi pentunjuk bagi yang kehilangan harapan, ia menjadi angin segar bagi mereka yang tercekik kekecewaan.

Mengapa tidak?

Dengan sepenggal kata saja kita bisa tersakiti, tentu dengan sepenggal kata pula kita bisa termotivasi. Tsaah

Maka dari itu, gaes, saya berpesan, hati-hati ketika membaca Notes From England. Sebab ada banyak motivasi yang bisa menghentakkanmu dari khayalan, membuatmu kehilangan keputusasaan, membuatmu mendapatkan lagi tujuan, bahkan bisa melecutmu untuk lebih berlari menggapai impian.
Baiklah, sepertinya, ini sudah di penghujung. Saya tidak akan berpanjang-panjang lagi.
Ada banyak kutipan favorit saya, namun saya tidak bisa menuliskan semuanya disini. Gempor atuh jempol saya!

“Merelisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya renungkan kembali semangatmu!”

–Tidak ada halaman, sampul belakang.

“Teruslah mencoba, sebab kita tidak pernah tahu percobaan ke berapa yang merupakan jalan kita.”

–Hal. 52

“Faktanya jalan menemukan pasangan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Menurut penglihatan jomblo–

Padahal, kutipan sebenarnya:

“Faktanya jalan menemukan pekerjaan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Hal. 141

O ya, ada hal yang hampir saya lupa untuk disampaikan. Ketika saya sedang mencari review di internet yang barangkali bisa jadikan referensi. Dan saya menemukan ini:
“Paduan teks dan gambar dalam buku akan memudahkan pembaca menerima gagasan buku tersebut karena ada tipe pembaca yang visual dan audio sehingga sebuah buku wajib mengembangkan gagasan tersebut dalam konsep buku yang menarik. Misalnya ditambah CD dan iluatrasi.” Atau misalnya NFE berbonus tiket ke Bristol—eh, peace, Pak Ario, Mbak Mimi. Saya hanya bercanda. Hehehe. ^_^

Sebagai penutup, saya teringat sebuah kutipan yang menarik:
“Dibalik teks yang Anda baca, ada pengalaman amat kaya seorang penulis yang tercecer tak bisa ditampilkan oleh teks.”

–Hernowo

Tentu saja.

#Sharmay–Italy[1], 31 Desember 2017

***

Catatan:

Banyak hal yang tadinya ingin saya tulis, namun ini sudah cukup panjang dan gagal saya ceritakan karena saya ngantuk. Hehehe.

[1] Indonesia wilayah Tasikmalaya

Ditulis oleh Sharmay Humay Astamanggala
Profile Image for Sharmay Astamanggala.
1 review1 follower
April 2, 2018
SEBUAH USAHA UNTUK MENGENTASKAN KEMISKINAN MOTIVASI

"Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–Notes From England (NFE), hal. 36

“Karena siapa pun kita, setiap manusia punya peluang yang sama. Yang membedakan adalah seberapa keras usaha yang kita ikhtiarkan untuk merealisasikan mimpi yang diinginkan.”

–NFE, hal. 25

“Untungnya kehidupan itu nggak kayak Teh Gelxs dan Alx-Alx, kalau hologramnya digosok yang selalu keluar: “Coba lagi, coba lagi, coba terus… ya, terus, terus… eup! Mantap!”

–Qi-eF-Si (Quote From Sharmay)

~Quote macam apa ini? Kayak lagi markirin kendaraan.~

Bismillah.
Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan angka. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada manusia paling sempurna yang tiada duanya, yang telah menyelamatkan dunia dari kebodohan menuju kemajuan dan ketinggian akal pikiran, yang disebut Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK: Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Ketika menulis (ceritanya sih) review Notes From England (NFE), ponsel saya bernyanyi lagu Sami Yusuf yang berjudul Worry Ends. Dan lagi di luar sedang hujan air.

Ya iyalah, hujan air, masa hujan kenangan?! -_\

Begini, saya itu suka basket, dan saya suka meloncat-loncat. Karena itu saya punya kebiasaan meloncat-loncat kalo baca buku.

“Kayak pocong, dong?!”

Maksudnya, jika saya membaca buku, maka hal pertama yang saya lakukan adalah

…. loncat kayak pocong.

Nggak.

Serius, saya nggak begitu!

Ritual saya dalam membaca itu melihat sampul depan-belakang, kata pengantar sekilas, kemudian membaca daftar isi, lalu meloncat ke halaman yang menarik menurut saya, meloncat lagi dan lagi sampai saya dikira pocong.

~Dikeroyok pocong~

Tunggu, memangnya pocong bisa ngeroyok? @_@

Nah, begitupun saat saya membaca Notes From England. Halaman yang pertama kali saya buka adalah halaman 159: tulisan Pak Ario tentang kisah seorang hafizah 30 juz Al-Qur’an yang kandidat Doktor di bidang kimia.
Alasan saya membaca itu pertama kali karena ketika pandangan saya tertumbuk pada kata “hafizah” ingatan saya berlarian pada fagmen-fragmen masa lalu :’)
Ada rasa sedih, nyeri, sakit pinggang, sakit otot, minum Oskad*n SP

*disorakin pembaca*

Lupakan. Ini bukan waktunya curhat, May!
“Bukan ambisi yang membawa dirimu pada kesuksesan, melainkan kesungguhanmu meraih kesuksesan itu dengan keikhlasan.”
Quote Puspita Praptiningsih ini menjadi prolog kisah Mbak Zeni Rahmawati, seorang hafizah yang berkuliah di Universitay of Aberdeen, dan quote itu sukses menampol hati saya. Plak!

Dalam buku NFE, dikisahkan perjuangan Mbak Zeni menghafal Al-Qur’an ketika menghadapi berbagai macam distraksi.

Gaes, distraksi saya nggak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Jika saya tergoda hanya dengan hal remeh-temeh, seperti: membaca cerpen melankolis, komik online, novel, menulis status, menonton anime Boruto, tidur, makan, mandi sibuk chating WA, Fesbukan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, maka tantangan terberat beliau menghafal Al-Qur’an itu adalah

…. mau tau? Penasaran? Selengkapnya di Notes From England, halaman 167. Hehehe.

~pembaca banting hape~

Selain itu dceritakan juga tiga alasan terbesar Mbak Zeni menghafal Qur’an, salah satunya yang membuat saya terkesan dan saya merasa mesti menuliskannya…

…. penasaran?

pembaca mulai emosi

Selengkapnya di bawah ini:

“… Aku ingin membuat mata dunia sadar bahwa seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa belajar ilmu sains seperti latar belakang yang kumiliki. Seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa menuntut ilmu umum hingga ke jenjang doktoral, seperti para ulama terdahulu yang bisa menggabungkan pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an dengan ilmu-ilmu sains yang mereka miliki.”

–Hal. 163
Setelah membaca kisah beliau, saya merenung. Barangkali, ada yang salah dengan saya. Benar. Ada yang mesti saya perbaiki.

Beruntungnya, Pak Ario merentangkan solusi bagi yang sulit fokus dan gagal terus-menerus, seperti saya yang kesulitan menghadapi distraksi ketika ingin merealisasikan sesuatu.

Pembaca: “Jadi ini teh mau review atau curhat sih?

Sharmay: Mau jualan Aqua, gaes. :’)

Ya. Hampir lupa, saya belum memperkenalkan buku Notes From England. Beberapa contoh review buku yang saya baca, biasanya dalam mereview itu mesti diberikan penjelasan. Ini teh buku tentang apa, siapa pengarangnya, berapa halaman, dan lain-lain.

Baik saya akan mencoba menuliskannya.

Judul Buku: Notes From England (NFE)

Penulis: Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Cetakan 1, 2017

Kota: Jakarta

Jumlah Halaman: 236 hlm.

Pembaca: “memangnya Sharmay lagi mereview? Katanya lagi jualan Aqua?”

Sharmay: T_T gigit tembok

Jadi, gaes, seperti judulnya, buku ini berisi cerita-cerita yang berlatarkan Inggris tentang dua anak dari kaki Gunung Sumbing, Magelang (Mbak Fissilmi atau Mbak Mimi), dan desa terpencil di Halmahera (Pak Ario) ketik menggapai mimpi untuk studi di negeri Ratu Elizabeth.

Kenal Ratu Elizabeth kan?

Apa? Nggak kenal?!

Sama! Ratu Elizabeth belum pernah kenalan sama saya, sih.

~Halloooow… tibalik meureun! Siapa kamu, Sharmay?!~

Hehehe…

Selain kisah perjuang Pak Ario dan Mbak Mimi meraih cita-cita, diceritakan juga pernak-pernik perjalanan mereka selama hidup di Inggris. Juga kisah para atlet, pengusaha dan salah satu Hallyu Star (sebutan entertainer asal Korea Selatan yang mendunia), seperti G-Dragon.
Tahu G-Dragon kan?

Itu loh BIGBANG….

salah satu teori terbentuknya semesta.

~dilempar ke got~

Omong-omong soal G-Dragon, saya nggak mengenalnya.

Tetapi saya pernah mendengar namanya dari teman saya yang tentu saja penggemar Oppa G-Dragon.
Pada halaman 172, Pak Ario membeberkan beberapa fakta tentang lelaki yang bernama asli Kwon Ji-Young itu. Bagaimana usahanya yang begitu keras sehingga ia menjadi salah satu komposer musik terbaik di Korea Selatan dan bagi para fans-nya, ia adalah bintang yang sangat tinggi, sehingga sulit digapai. Hanya dapat dikagumi, dan tak bisa dimiliki.

~Penggemar G-Dragon sedih.~

“Proses menjadi top peformers adalah proses lama yang memakan waktu bertahun-tahun. Butuh kesabaran untuk bertahan dalam ketidaknyamanan, kesabaran untuk belajar dan memulai hal baru, juga kesabaran untuk bertahan dalam kesabaran.”

–NFE, hal. 180

Kita tinggalkan fans K-Pop, biarkan mereka larut dalam kesedihan. Hahaha tawa jahat

Saya teringat dulu pernah membaca di sebuah blog, tentang aforisma. “Aforisma itu suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau sebuah kebenaran yang sudah diterima umum.”

–Wikipedia

Jujur saya kesulitan memanggil kenangan soal ini, yang saya ingat bahwa si penulis di blog itu meragukan khasiat aforisma, kata-kata bijak, atau semacam kata-kata motivasi. Saat itu saya hampir termakan perkataannya dan menjadikannya kredo, bukan karedok.

Namun, perkataan Mbak Mimi membuat saya tersadar kembali, jangan menyepelekan kata motivasi, aforisma, ungkapan bijak, atau hal semacamnya. Sebab:

“Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36

Ya. Kata-kata motivasi memang cuma kata-kata, tapi bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ia akan menjadi peluru yang merobek keputusasaan dan ketakutan, ia menjadi pentunjuk bagi yang kehilangan harapan, ia menjadi angin segar bagi mereka yang tercekik kekecewaan.

Mengapa tidak?

Dengan sepenggal kata saja kita bisa tersakiti, tentu dengan sepenggal kata pula kita bisa termotivasi. Tsaah

Maka dari itu, gaes, saya berpesan, hati-hati ketika membaca Notes From England. Sebab ada banyak motivasi yang bisa menghentakkanmu dari khayalan, membuatmu kehilangan keputusasaan, membuatmu mendapatkan lagi tujuan, bahkan bisa melecutmu untuk lebih berlari menggapai impian.
Baiklah, sepertinya, ini sudah di penghujung. Saya tidak akan berpanjang-panjang lagi.
Ada banyak kutipan favorit saya, namun saya tidak bisa menuliskan semuanya disini. Gempor atuh jempol saya!

“Merelisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya renungkan kembali semangatmu!”

–Tidak ada halaman, sampul belakang.

“Teruslah mencoba, sebab kita tidak pernah tahu percobaan ke berapa yang merupakan jalan kita.”

–Hal. 52

“Faktanya jalan menemukan pasangan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Menurut penglihatan jomblo–

Padahal, kutipan sebenarnya:

“Faktanya jalan menemukan pekerjaan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Hal. 141

O ya, ada hal yang hampir saya lupa untuk disampaikan. Ketika saya sedang mencari review di internet yang barangkali bisa jadikan referensi. Dan saya menemukan ini:

“Paduan teks dan gambar dalam buku akan memudahkan pembaca menerima gagasan buku tersebut karena ada tipe pembaca yang visual dan audio sehingga sebuah buku wajib mengembangkan gagasan tersebut dalam konsep buku yang menarik. Misalnya ditambah CD dan iluatrasi.” Atau misalnya NFE berbonus tiket ke Bristol—eh, peace, Pak Ario, Mbak Mimi. Saya hanya bercanda. Hehehe. ^_^
(Alhamdulillah ada lomba review NFE dan hadiahnya souvenir dari Eropa. Semoga saya beruntung. Amiin. Hehehe :D )

Sebagai penutup, saya teringat sebuah kutipan yang menarik:
“Dibalik teks yang Anda baca, ada pengalaman amat kaya seorang penulis yang tercecer tak bisa ditampilkan oleh teks.”

–Hernowo

Tentu saja.

#Sharmay–Italy[1], 31 Desember 2017 (sedikit diedit 3 Maret 2018)

***

Catatan:

Banyak hal yang tadinya ingin saya tulis, namun ini sudah cukup panjang dan gagal saya ceritakan karena saya ngantuk. Hehehe.

[1] Indonesia wilayah Tasikmalaya
3 reviews
April 24, 2018
Judul Buku : Notes from England, Chase Your Dreams and Make Them Happens.
Penulis : Fissilmi Hamida
Ario Muhammad
ISBN : 978-602-04-5096-4
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun terbit : 2017
Tebal : viii + 236 halaman

“One’s best success comes after their greatest disappointments.” (Henry Ward Beecher).

Inilah buku yang mencatat kisah jatuh bangunnya dua anak dusun dalam menggapai mimpi untuk menuntut ilmu di negeri orang. Yang satu, Fissilmi Hamida atau Mimi, berasal dari kaki Gunung Sumbing, Magelang, sedangkan satunya Ario Muhammad dari pedalaman Halmahera. Keduanya tak cuma berbagi cerita tentang perjalanan studi mereka, melainkan juga cara mengatasi berbagai rintangan dan menyusun strategi untuk menggapai kesuksesan.

Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama dan kedua berisi tulisan-tulisan Mimi dan Ario. Masing-masing mengisahkan riwayat pendidikannya, disusul kegagalan berulang untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri, dan akhirnya berhasil menembus University of Bristol, Inggris. Mimi menjalani studi S2, adapun Ario bersama sang istri melanjutkan studi S3nya. Kisah berlanjut dengan suka duka sebagai mahasiswa pascasarjana dan postdoctoral, yang keseluruhannya memerlukan kombinasi dari kecerdasan, kegigihan, ketekunan, dan kerja keras.

Quote Mimi di awal tulisannya sudah terasa menohok, “Benar. Semua berawal dari mimpi. Namun, mimpi yang tidak diperjuangkan hanya akan berakhir menjadi seonggok khayalan. Seonggok imaginasi yang tak akan pernah terjadi.” (hal. 3)

Penuturan Mimi tentang pahit manis perjalanan sekolahnya berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Bukan hanya saat memperjuangkan beasiswa S2 sampai berhasil menamatkan kuliah di University of Bristol, melainkan sejak lulus SLTA dan berusaha menamatkan studi S1 di jurusan Bahasa Inggris yang sebenarnya tak dikehendakinya. Kegigihannya sungguh patut diteladani oleh para pencari ilmu di mana saja.

Cerita Ario tak kalah menarik. Simak misalnya kisah awalnya tentang usaha menaklukkan bahasa Inggris dan nilai TOEFL. Tiga tahun jungkir balik belajar TOEFL, dia belum berhasil juga menembus angka 500, salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa S2 di National Taiwan University of Sciense and Technology (hal. 23). Namun, mengingat bahwa pada akhirnya dia sukses melanjutkan pendidikan tingginya sampai jenjang postdoctoral di University of Bristol menjadi bukti bahwa beragam rintangan itu takluk di tangannya. Quotenya, “Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi, serta kesabaran dalam waktu yang lama...” (hal. 16) nyatanya bukan nasehat kosong belaka.

Adapun bab ketiga hanya berisi tulisan Ario, berisi paparan teori dan tips-tips praktis untuk mewujudkan mimpi. Diawali dari bimbingan dalam merencanakan hidup, cara mencintai pekerjaan, cara membangkitkan motivasi, dan lain-lain. Uraiannya runtut dan mudah dipahami, dilengkapi pula dengan contoh-contoh nyata.

Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah judul “Jangan Ikuti Passion Anda.” (hal. 134), sedangkan yang biasa saya dengar selama ini adalah sebaliknya, ikutilah passion Anda. Ario tidak asal bunyi, dia menyodorkan teori dan riset dari para psikolog yang mendukung hal ini. Amat menarik! Bagaimana penjelasannya, Anda perlu membacanya sendiri.

Bab keempat berisi narasi Mimi tentang pelajaran-pelajaran hidup yang berhasil diserapnya selama tinggal di negeri Ratu Elizabeth. Banyak sekali hal yang menarik, dan Mimi menuliskannya dengan begitu hidup dan menyentuh. Kisah polisi muslim penebar salam, wanita bertato dan kedua putrinya, penjaja Big Issue di depan Gereja St. Marks,... semuanya memikat hati dan sarat hikmah.

Patut dicatat, buku ini ditulis oleh dua orang, tetapi secara solo. Maka tampak benar bedanya antara tulisan Mimi dengan tulisan Ario. Mimi memindahkan kisahnya dari status-statusnya di laman Facebook. Berbentuk narasi yang ringan dan menggugah rasa. Ini jenis tulisan yang bisa dibaca dengan santai. Adapun tulisan Ario bahasannya lebih serius dengan sentuhan logika yang lebih kuat dan seringkali disertai teori-teori pendukung. Maka membacanya harus dilakukan dengan serius pula supaya apa yang dipaparkan bisa dicerna dengan baik.

Buku ini bagus dan patut dibaca, terutama oleh para pembelajar yang ingin sungguh-sungguh menata dan meningkatkan kualitas hidupnya. Kisah-kisah yang dituturkan memotivasi, menyemangati. Tips dan petunjuk yang diberikan praktis dan mengena. Tak mengherankan, sebab uraiannya didasarkan pada pengalaman-pengalaman nyata.

Adapun kekurangan buku ini, bagi saya pribadi, adalah penempatan tulisan yang berselang-seling antara kedua penulis, khususnya pada bab pertama dan kedua. Apalagi petunjuk penulis berupa inisial nama Mimi (FH) dan Ario (AM) ditempatkan di akhir, bukan di awal, setiap tulisan.

Pengelompokan tulisan berdasarkan tema--bukan berdasarkan penulis--ini mengganggu kesinambungan kisah masing-masing penulis. Membacanya jadi tersendat-sendat karena pembaca harus membaca sambil memutar ulang memori tentang kisah masing-masing penulis dari tulisan mereka sebelumnya. Rasanya seperti membaca dua cerita bersambung secara bergantian. Agak ruwet, kendati keduanya sama-sama bagus.

Petunjuk penulis berupa inisial nama FH dan AM yang ditaruh di akhir tulisan menimbulkan gangguan lain. Setiap kali mulai membaca judul baru, saya terpaksa meraba-raba apakah yang sedang saya baca kali ini kisah Mimi ataukah Ario, dan baru ketahuan setelah beberapa saat membaca. Ini agak mengganggu kenyamanan. Saya kira, pembaca akan lebih terbantu bila ada identitas penulis di awal setiap tulisan.

Terlepas dari kekurangan kecil tersebut, buku ini mampu memberi stimulan dan motivasi kepada pembaca untuk berjuang mewujudkan mimpi. Bukan sekadar membakar semangat, tetapi juga menunjukkan caranya. Tak cuma bicara teori berbusa-busa, melainkan lengkap dengan juklak dan juknisnya, berikut contoh figur nyata yang telah sukses menjalankannya. Sungguh, Anda tidak akan rugi membeli buku ini. Lalu bacalah, lakukanlah, dan lihatlah sendiri buktinya.
1 review
April 29, 2018
Judul Buku : Notes from England, Chase Your Dreams and Make Them Happens.
Penulis : Fissilmi Hamida & Ario Muhammad
ISBN : 978-602-04-5096-4
Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tahun terbit : 2017
Tebal : viii + 236 halaman

Cerita tentang menggapai mimpi untuk studi di tanah Inggris Raya oleh dua anak kampung dari kaki Gunung Sumbing, Magelang dan desa terpencil di Halmahera. Perjuangan melawan keterbatasan, usaha keras tanpa batas untuk mengejar mimpi, hingga berbagai pernak-pernik perjalanan dua anak manusia selama hidup dan belajar di negeri Ratu Elizabeth. Buku ini juga membedah kisah sukses orang-orang besar yang bisa dijadikan pelajaran untuk meretas cita-cita. Mulai kisah seorang hafizah 30 juz Al Qur’an yang kandidat doktor bidang kimia, hingga para atlet dan selebriti kesohor tingkat dunia.

“Benar, semua berawal dari mimpi. Namun mimpi yang tidak diperjuangkan hanya akan berakhir menjadi seonggok khayalan. Seonggok imajinasi yang tak akan pernah terjadi” ( Hal.3 )

Setiap orang pasti punya mimpi, yang membedakan adalah semangat dan usaha dalam menggapai mimpinya.

Inspiring Book!! Saya menyukai semua tokoh yang ada di dalam buku ini, kedua penulis menceritakan kisah perjalanannya yang tak mudah dalam menggapai mimpinya, kegagalan dan cibiran tak mampu mereka hindari namun menjadi pelecut untuk terus mencoba sampai kegagalan itu bosan menghampiri.

“Jadi, jangan pernah membiarkan kegagalan yang anda alami menghentikan ikhtiar anda. Karena sesungguhnya, kesuksesan itu letaknya justru sangat dekat dengan kegagalan yang menimpa. Percayalah, Allah tidak akan menutup mata atas usaha yang kamu lakukan” ( hal. 51 )

Banyak pesan moral yang disampaikan oleh kedua penulis dengan gayanya masing-masing yang membawa diri serasa mengalami peristiwa itu. Bahasa yang ringan mudah di pahami dengan alur yang menarik sehingga tidak membosankan untuk di baca. Latar belakang tempat serta foto yang di tampilkan semakin bisa berimajinasi membayangkan peristiwa yang di alami penulis.

Buku ini terstruktur terdiri dari 4 Bab, di mulai dari bermimpi, halangan dan rintangan yang akan di hadapi, bagaimana cara mewujudkan mimpi dan kisah hikmah yang di alami dalam menggapai mimpi.

Yang paling saya sukai di halaman 113 “Sengsara yang membawa perubahan” banyak orang menghindari sengsara namun di buku ini memotivasi untuk sebuah perencanaan yang matang walau di mulai dengan ketidaknyamanan.

Dan di halaman 134 “Jangan Ikuti Passion Anda” yang saya tahu kita melakukan sesuatu itu sesuai passion justru di buku ini sebaliknya, tentu dengan alasan yang logis dan terbukti. Kesuksesan itu di ciptakan dari kerja keras tanpa henti dan kesabaran yang tak berbatas bukan karena passion.

Menunggu buku karya penulis selanjutnya ^_^

Buku keren, cocok buat siapa saja terutama yang melupakan mimpinya karena berpikir tak akan terjadi dan yang lagi nyaman dengan kenyamanannya dan yang terjebak dengan rutinitas bersembunyi di balik keterbatasan waktu dalam menggapai mimpinya. ^_^

1 review
April 27, 2018
Inspiring book! Mungkin inilah ungkapan yang paling tepat untuk buku karya Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida ini. Membaca lembar demi lembarnya, membuat semangat untuk belajar dan menjadi lebih baik serta lebih berguna seperti bara api yang disiram bensin. Wuss! Nyala apinya langsung besar, lidahnya meliuk-liuk seperti ingin menyambar apa pun yang ada di sekitarnya.

Buku ini berisi tentang perjuangan kedua penulis dalam mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri dan juga perjalanan hidup mereka selama belajar di bumi Ratu Elizabeth. Ada duka, ada senyum, juga tawa bahagia. Semua dikemas dalam rangkaian cerita yang mengalir. Melenakan bagi yang membacanya. Seperti membaca buku fiksi, padahal ini nyata. Masya Allah.

Untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri, ternyata perlu perjuangan yang sangat berat. Juga pengorbanan.  Dalam mengajukan proposal beasiswa, dilakukan oleh penulis sampai berkali-kali. Tes seleksi yang sangat ketat dan berat, sampai harus meninggalkan putri tercinta yang masih balita, juga perlakuan para pengambil keputusan yang juga menguji mental, benar-benar suatu perjuangan. Maka, hanya mereka yang kuat dan tegar sajalah yang akan lolos. Dan, kedua penulis inilah buktinya.

Setelah lulus seleksi, bukan berarti jalan menjadi semulus jalan tol. Sekali lagi, dan lagi, perjuangan dan pengorbanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dari kehidupan para penerima beasiswa ini. Hidup dan belajar di negeri orang, tanpa keluarga dan sanak saudara, tentu bukan hal yang mudah. Tekanan dan tuntutan akademik, persaingan antar mahasiswa, yang notabene mahasiswa di sana lebih kritis dan cerdas, membuat mental bisa down sewaktu-waktu.

Namun demikian, di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Itu pula yang dirasakan oleh kedua penulis buku ini. Di saat keadaan sudah begitu kritis, Allah kirimkan teman ataupun dosen sebagai penolong. Walaupun kadang, hanya dengan mendengarkan keluhan, itu sudah sangat melegakan.

Kemudahan lainnya, sikap ramah dan peduli baik dari saudara seiman maupun dari penduduk setempat. Kalau selama ini kita beranggapan bahwa penduduk Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya, ternyata penduduk Inggris banyak yang memiliki sifat terpuji itu. Selain ramah, mereka pun peduli dengan orang-orang di sekitarnya yang terlihat perlu bantuan. Mereka pun sangat suka bersedekah.

Hal lain yang bisa mengurangi kepenatan dan tekanan akademik adalah memandang dan menikmati keindahan alam negeri Ratu Elizabeth yang tak kalah dengan keindahan bumi pertiwi.

Selain kisah-kisah penulis selama menempuh pendidikan di Inggris, buku ini juga berisi tentang bagaimana menjaga motivasi belajar agar tetap terjaga. Ditambah lagi dengan kisah perjuangan orang-orang sukses seperti G-Dragon dan Zeni Rahmawati. Siapakah mereka? Yuk, baca bukunya. Agar kita bisa merasakan dan mendapatkan semangat mereka dalam meraih cita-cita.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
June 17, 2021
Notes From England by Ario Muhammad & Fissilmi Hamida (2017) [16-50]

[Spoiler rate: 20%]

Nama Ario sudah lama terdengar gaungnya. Beliau adalah anak daerah (dari Halmahera) yang berhasil menempuh pendidikan hingga ke Inggris Raya sana.

Kisah anak muda Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa ke LN bukan barang baru. Sebelum ini, udah beberapa buku sejenis yang aku baca. Ya maklum, punya impian yang sama walau tahu batas diri. Jadilah, membaca pengalaman jatuh bangun dan "berdarah-darah"nya mereka aja aku udah seneng. Bukan seneng saat mereka terjatuh, tapi seneng bisa merengkuh hikmah dan semangat perjuangan mereka.

Buku ini ditulis duet sama Ario dan istrinya -Fissilmi, yang ternyata juga berjuang dari bawah mendapatkan beasiswa. Berbagai macam penolakan sudah mereka hadapi. Nah, kalau baca yang kayak gini terasa lebih relate. Kalau baca kisah orang yang jenius sejak lahir dan jalan hidupnya kayak mulus banget gitu serasa kurang seru juga hehehe.

Terbagi dalam 3 bab besar menurutku. Pertama, kisah perburuan beasiswa. Kedua, saat menjalani pendidikan di rantau dan yang ketiga kisah-kisah inspiratif orang-orang lain.

Aku suka buku ini walaupun ada bagian-bagian yang aku ngerasa kurang pas. Kayak, dari bab awal pembaca ujug-ujug diajak "berdialog" dan seolah-olah kami semua mengenal pasangan ini.

Iya sih dijelasin flashback kisahnya mereka, tapi sebagai pasangan, sebagai orang tua, aku yang awalnya blank jadi kayak kehilangan arah -alagh hwhw.

Trus, di masing-masing sub bab (awalnya) nggak jelas ini yang nulis Ario atau Fissilmi. Cuma belakangan kalau yang satu nyebut Magelang oh oke, artinya sang istri yang nulis. Atau kalau nyebut Halmahera, itu berarti gantian sang suami.

Berberapa segmen sangat teoritis dan agak membosankan. Cuma kalau teoritisnya sudah dikaitkan dengan contoh nyata (misalnya Bill Gates -walau, yeah agak gak relevan dibaca sekarang pasca Gates bercerai), baru deh aku ber-oooh panjang.

Aku merasa, tema-tema besar yang mau diangkat agak berantakan. Walaupun harus diakui semangat keduanya ini turut menular. Tinggal, menular dan menetapnya seberapa lama ke pembaca ya balik-balik ke orang yang baca yekan.

Skor 7,8/10
1 review
April 29, 2018
Buku ini seakan menjadi peta yang pas untuk keinginan dan impian saya selama ini dan memberi makna hidup bermakna dari hal yang menurut beberapa kaum mainstream pada umumnya. Pada umumnya di negeri kami ini kaum tersebut berpendapat, kuliah luar di luar negeri merupakan hal yang mustahil, terlalu jauh dalam menuntut ilmu padahal di negeri sendiri ada tempat buat studi, terlalu tinggi/besar mimpimu, mimpi disiang bolong, ngapain kesana nanti kamu bisa rusak karena pergaulannya, dan masih banyak lagi cemoohan yang bersifat destruktif padahal mereka sendiri pun belum terlalu tahu atau bahkan seakan gak mau tahu sedikit lebih dalam tentang study abroad atau bahkan mereka acuh tak acuh mengenai hal ini namun begitu semangatnya berkomentar. Dari buku ini saya berharap mereka yang bercita-cita keluar negeri untuk kuliah akan semakin menggenggam mimpi dan asanya serta kaum nyi nyir bisa mengerti dan belajar sedikit seputar mengenai study abroad yang tak melulu kelam dan negatif semua. Buku ini juga menjelaskan secara padat namun ringkas seputar teori teori ilmiah untuk membangkitkan motivasi dan menjaganya, meraih mimpi, membentuk career capital/skill, dan yang tak kalah menarik adalah membangun mental model ala hafidzah yang dimana saya juga ingin juga menjadi hafidzah dan scientist. Dihalaman-halaman terakhir menjelang detik-detik habisnya lembaran buku yang kubaca tersebut yakni bab terakhir juga tak kalah menyisihkan kisah dan pelajaran hidup yang amat berharga yang jujur ketika saya membacanya saya terisak dan terharu. Dari sini juga menjelaskan bahwa kaum minoritas disana sebenarnya juga bisa saling bersatu padu, orang Inggris yang begitu dermawan dan hangat bahkan pada orang asing, orang yang terkesan kecil dalam strata sosial namun memberikan pelajaran hidup yang amat tinggi dan bermakna, mereka yang berbeda yang berkebutuhan khusus pun tak boleh kita pandang remeh apalagi dicemooh malah sebaliknya kita mesti memberikan perhatian khusus pada mereka. Terimakasih atas usaha dan perjuangannya dalam menyusun buku ini yang amat berharga dan bermakna serta meginspirasi😊
1 review
March 31, 2018
“Benar. Semua berawal dari mimpi. Namun, mimpi yang tidak diperjuangkan hanya akan berakhr menjadi seonggok khayalan. Seonggok imaginasi yang tak akan pernah terjadi.”

Kalimat di atas adalah kutipan pembuka di buku berjudul Noted From England: Chose Your Dream and Make Them Happen karya dua penulis inspiratif, Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida Buku ini menceritakan tentang mimpi-mimpi mereka dan jatuh bangun yang dialami dalam memperjuangkannya hingga akhirnya bisa terwujud.

Buku Notes From England ini terdiri dari empat bab yang masing-masing ditulis dengan gaya bahasa yang menarik dan cerita yang mengalir. Bab pertama judulnya Everything Start from Dream, terdiri dari enam sub-bab. Intinya adalah tentang perjuangan Kak Ario dan Kak Mimi dalam menggapai mimpi melanjutkan pendidikan ke tanah Eropa, tepatnya di University of Bristol, Inggris. Bagian ini adalah bagian yang paling saya suka, karena secara tidak langsung buku ini memberikan motivasi untuk kembali memeperjuangkan mimpi-mimpi saya. Seperti ada kekuatan yang menggerakkan agar saya terus menjaga bara mimpi saya tetap menyala.

Bab kedua berjudul Kerikil Tajam di Tengah Perjalanan, terdiri dari empat sub-bab. Isinya mengenai kesulitan-kesulitan dan rintangan yang mereka alami selama menuntut ilmu, mulai dari masalah keluarga hingga masalah kuliah. Bagian kedua ini secara tidak langsung membuat kita sadar bahwa setiap mimpi dan pilihan yang kita buat pasti ada konsekuensinya masing-masing. Hanya saja, cara kita menjalaninya yang berbeda.

Bab ketiga berjudul How to Make Your Dream Come True, tentang bagaimana merencanakan hidup agar mimpi-mimpi bisa menjadi nyata. Ini adalah bagian tentang merencanakan mimpi agar menjadi kenyataan. Yang dtulis dengan sangat detail sekali juga dengan beberap tips-tipsnya.
Dan yang terakhir berjudul Semangkuk Pelajaran Sepanjang Perjalanan. Berisi kisah-kisah yang menyentuh hati yang dialami penulis selama berada di Bristol. Isinya adalah kisah nyata yang mereka alami, yang bisa dipetik pelajaran dan hikmahnya.
3 reviews1 follower
April 21, 2018
Ternyata saya salah!!

Ya, bayangan saya tentang kuliah di luar negeri ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Betul memang, suasana di luar negeri sangat berbeda dengan di Indonesia, apalagi dengan latar belakang bangunan-bangunan kuno khas Eropa dan alam yang indah.

Namun, saya melalaikan satu hal, yaitu tentang bagaimana kerasnya perjuangan para mahasiswa perantau mulai dari persiapan mencari dan mendapatkan beasiswa, hingga kehidupan selama menjalani studi di luar negeri. Pandangan orang awam kebanyakan akan berpikir hal-hal yang enak saja seperti berlibur dan jalan-jalan, namun kenyataannya kehidupan penuh tekanan dan perjuangan mengisi hari-hari mereka.

Keberhasilan yang diraih tidak hanya terjadi begitu saja, tapi dilalui dengan puluhan kegagalan yang diiringi dengan kesabaran, kegigihan dan ketekunan. Dalam buku ini diceritakan bagaimana perjuangan kedua penulis mendapatkan beasiswa yang diidam-idamkan, bahkan hingga titik dimana putus asa hampir menjadi pilihan. Hingga kehidupan mahasiswa di luar negeri diceritakan panjang lebar beserta dengan pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dari setiap peristiwanya.

Tak hanya itu, buku ini juga berisi kisah-kisah inspirasi dari tokoh-tokoh dunia bagaimana perjuangan mereka menggapai kesuksesannya masing-masing.

Namun, inti dari semua perjuangan yang dikisahkan adalah seperti dalam kutipan dalam buku ini :

"Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya, renungkan kembali semangatmu!"
Profile Image for Fiqhi Fauzi.
10 reviews81 followers
September 8, 2019
Salam Sada Roha. Semoga selalu bahagia.
Saya beberapa pernah membaca buku tentang scholarship, kisah para pejuang mimpi yang akhirnya mampu menggapai mimpi mereka. Buku ini juga sama, cerita tentang menggapai mimpi untuk study di tanah Inggris Raya oleh dua anak kampung dari kaki Gunung Sumbing, Magelang, yaitu kak Fissilmi Hamida dan desa terpencil di Halmaher, yaitu Bang Ario.

Tapi yg saya suka dr buku ini, kisah perjuangan yg mereka tuliskan itu lebih gamblang dan jelas, yg belum pernah saya jumpai di buku lain yg sejenis. Dari pengalaman mereka bisa memberikan informasi yg bermanfaat buat kita2 para pejuang mimpi. Harapannya sih seharusnya lebih detail lagi ceritanya. Hehe

Banyak ilmu dr buku ini, tentang psikologi, manajemen diri, dll yg berdasarkan data dan fakta lalu dikaitkan dengan kisah mereka.
Buku ini membedah kisah sukses org2 besar yg bisa dijadikan pelajaran dan motivasi, mulai dr kisah seorang Hafizah 30 juz alquran lulusan ITS yg kandidat Doktor bidang kimia di University of Aberdeen, hingga para atlet dan selebriti kesohor dunia.

Banyak lagi sebenernya yang ingin saya tuliskan, tapi sudahlah biar kamu penasaran. Hehe

Semoga kita juga memiliki semangat seperti mereka ya. Allahuma sholi 'ala Muhammad.

"Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yg tinggi serta kesabaran dalam waktu yg lama. Jika belum memilikinya, renungkan kembali semangatmu!"
Profile Image for Fiqhi Fauzi.
Author 1 book
September 14, 2019
Salam Sada Roha. Semoga selalu bahagia.
Saya beberapa pernah membaca buku tentang scholarship, kisah para pejuang mimpi yang akhirnya mampu menggapai mimpi mereka. Buku ini juga sama, cerita tentang menggapai mimpi untuk study di tanah Inggris Raya oleh dua anak kampung dari kaki Gunung Sumbing, Magelang, yaitu kak Fissilmi Hamida dan desa terpencil di Halmaher, yaitu Bang Ario.

Tapi yg saya suka dr buku ini, kisah perjuangan yg mereka tuliskan itu lebih gamblang dan jelas, yg belum pernah saya jumpai di buku lain yg sejenis. Dari pengalaman mereka bisa memberikan informasi yg bermanfaat buat kita2 para pejuang mimpi. Harapannya sih seharusnya lebih detail lagi ceritanya. Hehe

Banyak ilmu dr buku ini, tentang psikologi, manajemen diri, dll yg berdasarkan data dan fakta lalu dikaitkan dengan kisah mereka.
Buku ini membedah kisah sukses org2 besar yg bisa dijadikan pelajaran dan motivasi, mulai dr kisah seorang Hafizah 30 juz alquran lulusan ITS yg kandidat Doktor bidang kimia di University of Aberdeen, hingga para atlet dan selebriti kesohor dunia.

Banyak lagi sebenernya yang ingin saya tuliskan, tapi sudahlah biar kamu penasaran. Hehe

Semoga kita juga memiliki semangat seperti mereka ya. Allahuma sholi 'ala Muhammad. "Merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yg tinggi serta kesabaran dalam waktu yg lama. Jika belum memilikinya, renungkan kembali semangatmu!"
1 review
April 29, 2018
[Hanya Sekadar Mimpi]
Tidak dipungkiri mimpi menjadi hal yang menjadi perbincangan dimana-mana. Bermimpi menjadi anugrah yang dimiliki setiap manusia, dengan itu pekerjaan yang kita lakukan lebih bermakna. Orientasi mimpi sekarang telah banyak bergeser. Generasi sekarang banyak bermimpi besar tapi maunya instan.
Agar mimpi kita lebih menggelora, kita perlu tahu bagaimana para peraih mimpi berproses meraih mimpi mereka. Jatuh bangun penuh makna. Hingga tersadarkan bahwa menggapai mimpi memang penuh luka lagi menganga. Semua itu tersedia dengan ringkas dalam buku berjudul “Notes From England” (NFE) karya Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida.
NFE mengandung banyak cerita dari benua Eropa yang penuh makna. Cerita oleh dua orang anak desa dari Indonesia. Fissilmi Hamida (Mimi) berasal dari kaki Gunung Sumbing, Magelang, Jawa Tengah dan Ario dari pelosok Utara Halmahera.
NFE memberi pandangan baru bahwa mimpi tak hanya sekadar mimpi. Mimpi mereka bukan angan-angan belaka. Pada pemimpi pasti tau bahwa kebaikan itu harus diusahakan, bukan menunggu bersantai di kasur dalam waktu yang panjang.
Sedikit melihat ke dalam, ada satu kisah menarik. Kisah berjudul “Belajar Fokus dari Seorang Penghafal Al-Qur’an”. Sang penulis-Ario Muhammad-mengambil nilai dari sudut pandang yang berbeda. Sensitivitas penghafal Al-Qur’an menjadi kelebihan tersendiri. Melakukan hal yang tidak sesuai dari tujuan utama, langsung terasa akibatnya. Zeni Rahmawati namanya. Mahasiswa alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini sekarang sedang berusaha menggondol gelar PhD di negeri Ratu Elizabeth.
Ada tiga poin penting yang menjadi fokusannya. Memvisualisasikan detail rencana yang akan kita lakukan selama seharian penuh. Selanjutnya, meningkatkan sensitivitas sehingga distraksi semakin sedikit. Terakhir, mencoba menarasikan setiap kejadian. Menulis dan bercerita terkait ide-ide dapat memudahkan kita membangun mental model agar mampu menjaga fokus kita.
Subhanallah! Itu salah satu hikmah dalam buku NFE. Buku serupa ini sangat layak sebagai penggugah semangat para pemimpi di negeri ini. Sangat layak disebarkan ke pelosok negeri yang jauh dari hiruk pikuk kota besar, agar semakin banyak yang tahu bahwa anak Indonesia berhak bermimpi besar. Dan tidak kalah pentingnya, setiap manusia berhak mewujudkan mimpi mereka.
Niat mas Ario dan Mbak Mimi untuk ikut membangun akhlak bangsa dalam bentuk tulisan wajib kita dukung. Agar mimpi tak hanya sekadar mimpi, tapi mimpi dapat dicapai seperti kisah mereka dalam Notes From England ini.
Profile Image for Siti Nur.
11 reviews
February 5, 2018
Dilihat dari label yang tertera di cover, buku ini dikategorikan sebagai self improvement book. Tapi, bagi saya pribadi, mungkin buku ini lebih terasa sebagai self motivation book. Saya sedang membutuhkan suntikan motivasi tambahan, dan buku ini kurang lebih bisa memenuhi tujuan awal saya membacanya.

Buku ini ditulis oleh dua penulis, yang saya rasa saling melengkapi cerita satu sama lain. Saya sangat menyukai bagaimana pembahasan tiap judul di buku diawali dengan perkenalan tokoh nyata yang bisa mewakili topik dari cerita.

1 review
April 13, 2018
Review 

Jadi buku ini sangat bagus karena sama seperti quotes di buku ini “ merealisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi, serta kesabaran dalam waktu yang lama. 

Jadi bagi yang mempunyai mimpi yang sangat ingin di capai, bacalah buku ini karena buku ini sangat bagus di baca dan di jadikan sebagai motivasi untuk mendapatkan mimpi itu dengan penuh kesabaran❤️

NOTES FROM ENGLAND BOOK CAN MAKE A PERSON REACH HIS DREAM WITH GREAT PATIENCE AND STEADFAST CONSISTENCY.
Profile Image for SURYA PUSPITASARI.
6 reviews
January 22, 2019
I love this book. It inspires me to do more and better. Reading this book, I feel that I'm not an abnormal person, because I never really feel very bad anxiety like what I feel recently. I am being more grateful with what I have and stop comparing my self to anybody. And also, we can achieve everything that we want to be as long as we strive hard on that, focus and believe in Allah. It's all depends on our intention and hard work.
Profile Image for Fildzah Cy.
14 reviews1 follower
May 5, 2020
Through Note From England, I dare to dream about studying in England- at the first time, I did never think about it since it's too good to be true. But, right now, I believe that everyone, who have sincerity to endeavour for their goals, deserves for everything.

Anyway, ada tips dan trick jawab pertanyaan di wawacara LPDP juga dan itu keren banget. Boleh di coba jawabnya begitu nanti kalau berkesempatan ikut LPDP
1 review
March 30, 2018
pada intinya bagus isinya... jadi stumulan untuk anak2 indonesia yg ingin berjuang meraih mimpi wlwpun dgn keterbatasan materi.... utk kronologi bukunya masih sedikit muter2... pas baca jadi hrs buka halaman sblmnya....
Profile Image for Siti Rahayu.
12 reviews
October 27, 2019
Penjelasannya dan kisah dalam buku ini sangat bagus untuk orang-orang yang ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, juga dapat menambah wawasan kita tentang bagaimana sebenarnya karakteristik orang-orang di UK yang mungkin kita tidak tahu. Good to Read.
9 reviews
March 24, 2020
Keren parah :"
tulisan motivasi yang mengandung banyak nilai-nilai Islam
Semoga Allah sehatkan,lancarkan dan mudahkan segala urusan mas Ario dan mba Fissilmi
semoga terus menebar hikmah dan makna dimanapun mas dna mba berada
Profile Image for Husni Magz.
213 reviews1 follower
Read
June 25, 2019
Inspiratif. yang ingin mendapatkan beasiswa di luar negeri wajib membawa buku ini
1 review
April 1, 2018
Buku ini menjadi salah satu buku motivasi saya yang masuk kategori BLBL (baca lagi baca lagi), karena jadi suntikan semangat banget ketika dalam masa-masa suram. Penyajian setiap ceritanya detail, walaupun sedikit random pas awal baca karena penyusunan konten dari authornya bergantian jadi imajinasinya seperti kepotong-potong, but so far so good.
Dan yang paling penting buku ini berhasil membuka sudut pandang baru saya tentang negeri Ratu Elizabeth. Part yang menjadi favorit saya adalah kisah mbak Zeni, seorang hafidzah yang sedang memperjuangkan study doktoral di University of Aberdeen. Kisah ini benar-benar menjadi tamparan keras untuk saya pribadi, dan selalu terngiang-ngiang kalau lagi males-malesan 😭
Intinya ekspektasi saya terhadap buku ini tercapai, cuma kurang tebel dan ada beberapa part yang sudah pernah saya baca di sosmed mbak Fisilmi. Pengen baca lebih banyak pengalaman-pengalaman study di England, semoga ada NFE 2 😂😂
Displaying 1 - 22 of 22 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.