An Anonymous reviewer wrote:
Membaca buku ini, membuat saya menganalogikan penulis sebagai seorang jagal sekaligus ahli forensik. Dengan lihainya, dia menyudutkan makhluk liar bernama Syiah, mengikatnya, lalu membawanya ke dalam ruang kelas. Di dalam kelas, dia menerangkan asal muasal makhluk tersebut, menunjukkan bagian-bagiannya, membedahnya, menerangkan jalur-jalur peredaran darahnya, dan menunjukkan jenis sebenarnya dari hewan tersebut. Kesimpulannya pun membuat banyak orang terhenyak.
Tinjauan Historis
Penulis memulai membedah Syiah dengan menilik sejarah munculnya ajaran ini. Dengan argumen historis, penulis membuktikan kesalahan propaganda Syiah Now bahwa Syiah lahir dari dari rahim Islam yang awal. Syiah, menurut penulis, terbagi 3, yaitu:
- Syiah Terminologis, yang ini tidak ada hubungan apa-apa dengan Syiah Now . Setiap orang yang nge-fans dengan sesuatu, bisa disebut "syiah". Contohnya, kata penulis, Nusron Wahid bisa disebut "syiah Ahok" karena dia nge-fans berat dengan Ahok. Dari definisi ini, semua Ahlus sunnah adalah syiah Ali.
- Syiah Politis, yaitu semua yang berdiri di kubu Ali khususnya ketika terlibat perselisihan dengan Muawiyah. Lagi-lagi kelompok ini tidak ada hubungannya dengan Syiah Now karena Syiah Politis tidak mempermasalahkan legitimasi khalifah sebelumnya, bahkan mereka mengakui keutamaannya. Jadi klaim Syiah Now bahwa sahabat-sahabat Ali (seperti Ammar bin Yasir, Abu Musa al-Asy'ari, Abdullah bin Abbas, dll radhiyallahu anhum ajma'in) adalah Syiah Now, adalah sesat historis.
- Syiah Idelogis, yaitu syiah dengan makna tersendiri yang mencakup akidah, worldview, mindset dan kerangka-pikir yang kemudian membentuk perilaku, carapenerimaan informasi, dan penafsiran terhadap fakta dan peristiwa. Syiah jenis ini merupakan fenomena sempalan yang muncul dua ratus tahun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jenis ini pulalah yang disebut Rafidhah oleh Imam Malik, Imam Syafi'i, dan para imam lainnya.
Dari penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani tentang tasyayyu', dapat pula ditarik 3 macam syiah yakni:
- Syiah tafdil, mencintai Ali namun tidak mencela para Sahabat.
- Syiah Rafidi, tidak sekedar mengistimewakan Ali, namun melebihkannya di atas Abu Bakar dan Umar (ingat, ini ciri Rafidi standar!).
- Syiah Rafidi Ekstrim, adalah Syiah Rafidi yang mencerca Abu Bakar dan Umar, mempercayai imam yang ghaib akan muncul kembali (raj'ah) sebagai ratu adil.
Proses Iranisasi
Kelompok Syiah Rafidi yang sebelumnya lebih banyak menyembunyikan diri, kemudian memperkuat eksistensinya ketika dinasti Safawiyyah menguasai Iran di awal abad 16. Dimulailah proses konversi paksa penduduk Sunni menjadi Syiah di wilayah Iran dengan ancaman dan kekerasan. Perlakuan kejam ini didukung oleh ulama Syiah seperti Al-Karaki yang menulis buku propaganda yang menganjurkan kutukan terhadap Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.
Proses Iranisasi Islam (baca: Syiahisasi) ini makin mendapat tempat dengan bermunculannya mitos yang mengaitkan Iran dan ahlul bait. Kisah Husein yang dinikahkan dengan Syahrbanu, putri raja Persia terakhir pun didramatisasi sehingga muncullah wajah Syiah sebagai agama Iran.
Perbandingan Ajaran
Selanjutnya, penulis mengurai pokok-pokok penting dari ajaran agama baru ini. Dari aspek akidah diuraikan tentang bada', wasiat, nash penunjukan Ali, posisi sahabat Nabi, kegaiban imam, reinkarnasi, imam mahdi, dan posisi non Syiah. Data dari berbagai hasil penelitian menyangkut hal-hal tersebut menunjukkan bahwa dasar-dasar kepercayaan Syiah tersebut adalah sesuatu yang asing dalam Islam. Hal ini mengingat semua aspek ajaran Syiah berporos pada imamah (imamologi).
Konsepsi imamah inilah pula yang membentuk tafsir agama Syiah terhadap Alqur'an. Hampir tidak ada aspek dari Alqur'an yang tidak dikaitkan dengan imamah.
Begitu pula dalam bidang hadits, Syiah membentuk dunianya sendiri dengan menjadikan imam-imam mereka setara dengan Nabi saw. Hadits, bagi Syiah, tidak harus dari Nabi, tapi cukup dari imam-imam mereka. Jika dipersentasekan, jumlah hadits dalam agama Syiah yang dikaitkan dengan Nabi saw hanya berkisar 5,8% hingga 14,6% di seluruh kitab-kitab hadist Syiah.
Praktek-praktek agama Syiah yang berbeda dengan umat Islam seperti: taqiyyah, membenci Abu Bakar dan Umar, laknat kepada keduanya, serta kawin mut'ah, diuraikan dengan merujuk sumber-sumber baku Syiah. Praktek-praktek ini tentu saja berusaha dibantah kalangan Syiah, khususnya di Indonesia, namun hal ini dipandang bagian dari taqiyyah (politik bermuka dua orang Syiah).
Syiah di Indonesia
Bagian terakhir buku ini membantah klaim penganut Syiah di Indonesia bahwa Syiah masuk sejak lama. Penulis membantah dengan baik argumen-argumen tersebut, dan diperkuat dengan kesimpulan Prof. Azyumardi Azra bahwa Syiah justru masuk pasca revolusi Iran di tahun 70-an.
Syiah: Agama Baru!
Di bagian penutup, penulis menguraikan kesimpulannya kedalam beberapa poin:
1. Syiah adalah agama baru, hasil dari "Iranisasi" Islam.
2. Syiah adalah imamolog.
3. Ciri pembeda Syiah dengan umat Islam adalah pelecehan dan pengkafiran mereka terhadap Sahabat Nabi saw. Inilah sebabnya pertanyaan, "apakah Syiah itu kafir?", tidak perlu lagi. "Mereka auto-kafir", kata penulis dalam diskusi lalu di Universitas Negeri Makassar.
Semoga bermanfaat.