Jump to ratings and reviews
Rate this book

Iblis Tidak Pernah Mati

Rate this book
Kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati pertama kali terbit pada 1999. Isinya ditulis dari 1994 sampai 1999. Kronologi penulisan cerita-cerita dalam buku ini melalui momen historis kerusuhan massal Mei 1998 seputar lengsernya Suharto, rangkaian peristiwa yang menjadi penanda peralihan zaman.

Seno Gumira Ajidarma meyakini bahwa, sebenarnya iblis itu ada pada diri manusia. Meski Tuhan tidak menciptakan Iblis, manusia akan selalu menghidupkannya. Seno Gumira Ajidarma melihat itu dari realitas kehidupan manusia. Di dunia manusia, orang menyobek kandungan ibu yang sedang hamil untuk mengambil bayi dan membunuhnya itu biasa. Tapi dalam cerita tentang Iblis, itu tidak pernah ada. Apakah manusia lebih kejam dari Iblis? Entahlah! Atau barangkali Tuhan memang tak pernah menciptakan Iblis di dunia lain dan Iblis itu ada di dalam diri manusia itu sendiri ?

219 pages, Paperback

First published May 1, 1999

Loading...
Loading...

About the author

Seno Gumira Ajidarma

102 books850 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
121 (26%)
4 stars
165 (36%)
3 stars
135 (30%)
2 stars
23 (5%)
1 star
6 (1%)
Displaying 1 - 30 of 50 reviews
Profile Image for Faiz • فائز.
402 reviews2 followers
March 25, 2026
Kumcer (kumpulan cerpen) yang memuatkan hal-hal seputar politik Indonesia, khusunya pada zaman Orba (Orde Baru). Cerpen-cerpen di dalam buku ini bahkan, dicerakinkan kepada “sebelum-ketika-sesudah-selamanya” (rujuk daftar isi)—barangkali sebagai gambaran kepada tempoh masa rejim (pemerintahan) yang zalim ini.

Rata-rata cerpen, menurut saya, terlalu tebal dengan simbolisme yang tidak bersifat sejagat, hingga menyukarkan pembaca yang tidak lahir daripada kebudayaan tersebut untuk memahaminya.

Misalnya, cerpen “Tujuan: Negeri Senja” yang memerihalkan suatu tempat yang dikunjungi orang, namun tiada yang pernah kembali tatkala sudah menjejakkan kaki ke sana. Adakah “Negeri Senja” ini merujuk kepada Pulau Buru? Iaitu tempat pengasingan tapol (tahanan) pada rejim Orba? Jika ia benar, mengapa perincian kepada “Negeri Senja” ini seakan-akan muluk belaka? Bertentangan ia dengan hakikat Pulau Buru.

Begitulah—seperti yang saya nyatakan pada bahagian awal ulasan buku ini—sebagai pembaca yang tidak lahir daripada kebudayaan ini (merujuk kepada Indonesia Orba), agak sukar untuk mencerna cerpen yang begitu tebal simbolisme-nya, bertambah-tambah pula ia tidak bersifat sejagat, yakni hanya kelompok tertentu sahaja yang memahaminya.

Penulis seolah-olah merasakan cerpen yang diolahnya mampu digarap semua pembaca, tanpa perlu berkeringat memikirkan makna di sebaliknya. Kendatipun perkara ini benar, namun ia masih perlu jua dilihat pada beberapa konteks yang khusus. Saya tidak berniat untuk memerihalkan perkara ini dengan panjang lebar dalam ruangan yang terhad ini.

Walau bagaimanapun, masih ada jua beberapa cerpen yang baik bagi saya seperti “Clara” dan ”Kisah Seorang Penyadap Telefon”, namun selebihnya terlalu sukar untuk dicerna. Agak kecewa sebenarnya kerana buku ini beberapa kali melintasi feed Instagram saya, dan ia turut disarankan oleh beberapa orang, maka harapan saya agak tinggi menggunung mengharapkan ianya sebuah buku yang baik. Nah... rupa-rupanya, biasa-biasa sahaja.

Dan, barangkali juga kerana saya telah terlebih dahulu membaca beberapa karya sastera yang lebih monumental (berbekas) dalam memerihalkan pergolakan politik Indonesia, terutamanya daripada pengarang-pengarang sastera yang masyhur semisal Pak Pram, Ahmad Tohari, Ayu Utami, Leila Chudori (terkemudian). Maka, tatkala membaca kumcer seperti dalam Iblis Tidak Pernah Mati ini, tiada boleh tidak, pastilah perbandingan akan dibuat. Natijahnya, kumcer sebegini hanya bersifat eceran-pinggiran sahaja menurut saya.
Profile Image for Anggraeni Purfita Sari.
84 reviews9 followers
May 28, 2012
seperti biasanya karya seno, alur cerita cerpen2 di buku ini sangat kuat. saya terkesan dengan cerpen2 yang menceritakan tentang peristiwa kerusuhan tahun 1998 di Jakarta. benar2 cara bercerita dengan sudut pandang yang 'beda', seolah2 saya ikut ada di situ dan sedang membidikkan kamera untuk mengabadikan peristiwa2 yang terjadi. gaya bertutur seperti ini semakin menguatkan sosok seno yang mampu membuat pembacanya seperti sedang melihat sebuah foto dengan cara yang tidak biasa. :D
Profile Image for Evan Kanigara.
66 reviews19 followers
November 4, 2019
Cerpen SGA dalam kumcer "Iblis Tidak Pernah Mati" banyak yang membekas di hati saya. SGA berhasil menghadirkan imajinasi momen historis dari persitiwa reformasi 1998. Saya bisa membayangkan kelesuan yang dirasakan oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Mereka menunggu sang rezim kapan mati, kapan tumbang.

Sulit untuk menentukan mana yang menjadi favorit. Namun, saya begitu menyukai "Paman Gober", "Clara", "Kisah Seorang Penyadap Telepon", "Anak-anak Langit", dan "Tujuan: Negeri Senja". Terutama "Clara", saya bisa merasakan betul emosi yang ingin dibangun. Saya tak akan pernah lupa.

*pesan pembuka dalam kumcer ini mengingatkan saya pada "Menyusu Celeng" karya Sindhunata. Begini bunyinya, "Harus ada seseorang yang melawan iblis, meskipun iblis tidak pernah mati."

Profile Image for Adriansyah.
3 reviews2 followers
July 18, 2007
Seno Gumira really knows how to convey a mood, especially -in this book- the mood for solitude. This collection was published around the 'reformation' euphoria, hence its 'chapters' reflects the change in a subtle way: sebelum (before), ketika (while), setelah (after) and selamanya (forever).

One piece of work not to be missed: "Clara". His prose is powerful and haunting, enabling you to picture grimly what had happened on May 1998-riot. The images keep haunting me for time to come, and I shudder on what absurdity our society had committed.

Profile Image for Mimi Hitam.
54 reviews4 followers
February 5, 2010
Saya membaca buku ini pada tahun 2001, 3 tahun setelah Tragedi Mei 98 dan turunnya Soeharto sebagai Presiden Indonesia.

Baru-baru ini saya membacanya lagi.
Dan efeknya masih sama.

Saya masih menangis marah membaca cerita pendek : "Jakarta, Suatu Ketika", "Clara", "Eksodus" dan "Anak-Anak Langit".

Membaca cerita itu bagaikan mengulang mimpi buruk hilangnya kemanusiaan dan bobroknya kekuasaan, Membuat saya sangat sangat ketakutan - mengingat di luar sana - ada sebuah kekuatan besar yang mampu membuat manusia tidak manusia.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
February 4, 2017
"Aku pergi sebentar, tunggulah di sini, aku segera kembali setelah iblis itu mati."

"Jadi dikau akan pergi memburu iblis, sayang?"

"Ya, aku harus membunuhnya, setelah itu aku baru bisa pacaran dengan tenang. Apakah kamu akan menunggu aku sayang?"
Profile Image for Dewie.
9 reviews
July 28, 2007
"Ijinkan aku pergi"
"sampai kapan?"
"sampai aku berhasil membunuh iblis itu"
....
....
....

Dan dia tetap menunggu kekasihnya kembali, meskipun dia tahu bahwa iblis tak akan pernah mati.

.........................
.........................
"mengapa dia menjadi batu?"
"karena ia bodoh"
"mengapa?"
"karena ia menunggu kekasihnya yang pergi untuk membunuh iblis"
Profile Image for eti.
230 reviews108 followers
May 18, 2012
seperti halnya tulisan SGA yang lain, beberapa cerpen di sini begitu mengalir, dengan bahasa yang mudah dimengerti. ada beberapa cerpen yang settingnya tentang kerusuhan 1998, dia mengangkat kekelaman seputar peristiwa itu.

saya begitu terhanyut membaca cerpen "Clara". betapa perasaan saya menjadi campur aduk, sedih, marah, terluka sekaligus terhina, tapi tak bisa apa-apa :(
Profile Image for Diena Koesnendar.
3 reviews
August 22, 2007
it takes me quite a lont time to finish this book. Because it consists of several short story, i kinda bit lazy to read short stories
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
335 reviews5 followers
November 27, 2017
Barangkali, karya Seno Gumira Ajidarma yang paling kelam dan mencekam adalah ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ ini. Melihat halaman sampulnya, saya sudah diliputi perasaan tidak enak. Gambar seseorang yang dirupakan memiliki dua tanduk dikepalanya diatas batu dengan gerakan seperti sedang menunggu ditambah kartun karya Asnar Zacky dan paduan warna senja memberikan seolah tidak ada lagi harapan yang terang benderang. Itu 10 tahun yang lalu, saat saya pertama mendapatkan buku ini dalam sebuah book fair di kawasan Braga, Bandung.

10 tahun kemudian, imaji itu tidak berubah. Kesan kengerian sepanjang pembacaan cerpen-cerpen yang kebanyakan lahir pasca reformasi tidak juga lekas hilang. Kelima belas cerpen yang dibagi dalam 4 bagian yaitu Sebelum, Ketika, Sesudah, dan Selamanya menghadirkan satu imaji utuh atas keadaan sebuah negeri.

Kalau saya boleh memilih, cerita pendek “Clara” adalah satu dari sekian cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen ini. Saya masih tidak lupa kesan selama pembacaan pertama yang menimbulkan beragam perasaan: marah, haru, dan segenap perasaan lain yang tidak mampu diucapkan. Cerpen ini memotret satu sisi tragedi kemanusiaan yang melanda negeri ini selama masa reformasi.

Cerpen ini sendiri dipulikasikan pertama kali ketika dibacakan oleh Adi Kurdi dan Ratna Riantiarno dalam acara Baca dan Pembahasan Cerpen Seno Gumira Ajidarma, sebuah syukuran penerimaan SEA Write Award oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Galeri Cipta TIM, 10 Juli 1998. Kemudian, dimuat harian Republika edisi 26 Juli 1998, sebagai “Clara atawa Wanita yang Diperkosa”. “Clara” kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai ‘Clara’ oleh Michael H. Bodden; dibacakan oleh Bruce Kochis dan Christina Alfar di University of Washington – Bothell, Seattle Babb di University of Victoria. Victoria BC (1999, 2.5); Selanjutnya dimuat juga dalam jurnal Indonesia No.68 (Cornell University), Oktober 1999.

“Clara” diterjemahkan ke bahasa Jepang sebagai ‘Kurara, rape sareta joseino monogatari’ oleh Mikihiro Moriyama; dimuat dalam berkas Seno Gumira Ajidarma, Indonesia, Senryaku to shiteno bungaku-journalism no genkai wo koete (Indonesia, sastra sebagai siasat, melewati batasnya jurnalisme) untuk Takeshi Kaiko Lecture Series No.8 (Japan Foundation).

Clara juga dibacakan untuk publik oleh Hirshi Tomioka dan Kaoru Tomihama di Tokya (1999,2.20), Osaka (1999,2.25) dan Hiroshima (1999,2.27); direkam ulang sebagai paket video Indonesia, Seijino Kisetsuni Bungaku (Indonesia, Sastra dalam Musim Politik) oleh Dewan Promosi Informasi Pendidikan Tinggi untuk proyek Eisetsushin eo riyoshita Daigaku Kokaikouza Moderujigyo (proyek modek kuliah universitas terbuka lewat satelit) tahun 2000. Bersama cerita Jakarta, 14 Februari 2039, diformat ulang menjadi naskah drama Jakarta 2039.

Terakhir, “Clara” juga hadir dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami? (Galang Press, 2001).

Saya kagum dengan imajinasi SGA yang mampu menampilkan sosok Semar di Bundaran HI. Bukan hanya satu tapi ada sembilan Semar. Sungguh membuat saya kagum karena mungkin saja pada lain waktu yang muncul disana bukan hanya Semar tetapi juga Rahwana.

Sebagai pelengkap, ada dua esai yang turut disertakan usai cerita penutup. Esai pertama berjudul “Paman Gober, Suatu Ketika: Cerpen-Cerpen Eksoforik Seno Gumira Ajidarma” oleh Kris Budiman. Esai ini membahas lima belas cerpen yang ada dalam buku. Intinya, dengan mempertimbangkan dominan atau tidaknya referensi dalam teks kita bisa membedakan antara cerpen-cerpen yang referensial dan yang non-referensial, yang eksoforik dan endoforik.

Esai kedua adalah semacam surat yang dikirim dari Alina atau pula SGA kepada Agus Noor dengan judul “Imajinasi Yang Tak Pernah Mati: Surat dari Alina”. Agak membingungkan memang karena judulnya adalah surat dari Alina. Namun, pada akhir tulisan didapati tanda SGA pada ujung kanan bawah sebagai identitas penulis surat. Silakan pembaca yang budiman menafsirkan sendiri perihal ini. Yang jelas, antara ketiganya kelak punya hubungan sendiri-sendiri.

Kalau Budi Darma bilang bahwa ‘Iblis Tidak Pernah Mati’ sebagai sesuatu yang mengerikan dan mengharukan kiranya pembaca dapat menilai sendiri keabsahannya. Dalam konteks ini, sastra telah bicara sebagai suatu metafor atas sebuah fenomena. Pun, ketika ia menjelma sebagai ruang kesadaran bahwa kita masih punya nilai-nilai kemanusiaan dalam merayakan kehidupan ini.
Profile Image for Rizkana.
252 reviews30 followers
February 28, 2025
"Apa lagikah yang masih bisa tersisa dari sepotong kehidupan yang begitu singkat, tak terbaca, dan tak tersimpan dalam ingatan siapa pun dalam keluasan semesta?"


Pertama kali diterbitkan 26 tahun lalu, 1999 tepatnya, sungguh mati, saya ketar-ketir khawatir jika sekumpulan cerpen di dalam buku ini tetap relate dengan situasi saat ini.

Berisi 16 cerpen yang dibagi ke dalam empat lini waktu, sebelum, ketika, sesudah, dan selamanya--merujuk pada peristiwa reformasi yang memuncak pada 1998 lalu, buku ini bukan sekadar produk fiksi, melainkan juga dokumentasi sejarah yang menawarkan sudut pandang lebih dekat ke para pembaca. Kita bisa saja membaca runtutan peristiwa reformasi itu melalui buku-buku sejarah atau potongan berita di koran, tetapi mungkin akan terasa dingin dan berjarak. Lewat pendekatan sastra, pembaca diberi kesempatan untuk 'melihat' peristiwa itu melalui sudut pandang lebih dekat--kadang orang per orang, seperti di cerpen Clara, dan dengannya, pembaca akan turut terlibat merasakan segala macam ledakan emosi. Jauh lebih berbekas.

Mana yang saya suka? Di bagian Sebelum, saya menyukai analogi Paman Gober dan kondisi kekuasaan Orde Baru saat itu dalam "Kematian Paman Gober." Saya juga menikmati suasana mencekam yang timbul di "Taksi Blues."

"Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang semestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di dunia."


Di bagian Ketika, saya takut dan ingin menghindari membacanya, tetapi "Clara" benar-benar berbekas.

"Dunia sebatas mata, dunia seluas pikiran."


Di bagian Sesudah, semuanya memancarkan kesan melankolis, sendu, dan sedih. Sejujurnya, semua cerpen di bagian ini 'sulit' dibaca, tetapi "Anak-Anak Langit" yang paling menampar. "Eksodus" agak mengingatkan saya pada situasi #kaburajadulu yang sedang ramai diperbincangkan.

"...Mereka memang berusaha menghindarinya, berusaha lepas lari tak ingin tahu tak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskinan yang begitu kelam, tapi begitu nyata tampil hadir di depan mereka mengulurkan tangan dengan wajah mengiba-iba diiringi wajah lain..."


Di bagian Selamanya, entah mengapa "Karnaval" yang juga satu-satunya cerita di dalam bagian ini agak membosankan. Mungkin analoginya pun seperti hidup yang sepanjang perjalanannya menawarkan berbagai tontonan, keabsurdan, sekilas tampak menyilaukan, tetapi jika ditelisik lebih dekat, terasa menyedihkan--jadi agak depresif yaa :''))

"Kenapa yang lulus sekolah tidak dapat pekerjaan, Ayah?"


Jadi, baca atau tidak baca? Sebelum sampai pada pertanyaan itu, ketahuilah, judul buku sebenarnya sudah menjadi beberan, "Iblis Tidak Pernah Mati." Tidak ada ending dalam buku ini. Terdengar sia-sia, tetapi memang begitulah adanya. Depresif lagi kan jadinya, setidaknya itu yang saya rasakan. Jadiiii, buat saya, sih, tetap bacalah.

"...yang akan terus-menerus berada di sana karena harus selalu ada peran itu di dunia ini karena betapa ajaib jika di dunia tidak ada pengemis, tidak ada kemiskinan, tidak ada penderitaan, tidak ada kegetiran, atau apa pun yang membuat kebahagiaan menjadi istimewa."

12 reviews
June 22, 2022
"...mereka memang berusaha menghindarinya berusaha lepas lari tak ingin tahutak ingin mengerti tak sudi menatap kemiskinan yang begitu kelam, tapi begitu nyata hadir di depan mereka..." hal. 164

Dunia mengawang-awang yang biasa kita temukan dalam tulisan Seno juga kita temukan dalam buku ini, khusunya pada halaman-halaman terakhirnya. Pembagian cerita berdasarkan kategori waktu sebelum, ketika, dan sesudah reformasi menjadikan cerita saling terhubung sekalipun tidak secara langsung seperti cerita panjang dalam novel. Ditambah dengan kategori "selamanya" yang menutup buku secara lengkap, iblis tidak pernah mati menjadi paripurna dengan kesuraman, kehampaan, dan kebahagiaan palsu karnaval yang tidak pernah usai.
Profile Image for Rewina Pratiwi.
64 reviews1 follower
June 16, 2020
Tidak ada satu cerita pendek pun dalam buku ini yang usianya tidak sepantaran denganku. Jika tidak lebih tua 2-3 tahun, ya lebih muda. Pada akhirnya, membaca Iblik Tidak Pernah Mati seperri meminjam ingatan Seno Gumira Adjidarma mengenai banyak hal yang terjadi saat aku bahkan belum bisa mengenali berita-berria di koran, radio, maupun TV.

Seno Gumira Adjidarma dalam banyak cerita pendeknya di buku ini berkata jujur seperti menggambarkan apa yang benar-benar terjadi. Ia menyuguhkan realita sosiopolitik melalui narasi satir. Ia menggambarkan ketimpangan, ketidakadilan, kekerasan, kemanusiaan, hingga kesialan ke dalam satu buku kumpulan cerita yang layak dibaca oleh siapa saja--sejauh di atas 18 tahun saya rasa--dalam konteks waktu kapan saja.
Profile Image for Eko Setyo Wacono.
83 reviews8 followers
June 17, 2019
sebuah kumpulan cerita pendek oleh SGA tentang salah satu gejolak politik yang menentukan di negeri ini, tragedi Mei 98. dituturkan dengan gaya bahasa khas SGA yang mudah dicerna pembaca seolah SGA menceritak kisah-kisah itu di hadapan pembacanya langsung, cerita-cerita di buku ini mengajak pembaca melihat peristiwa bersejarah itu dari berbagai macam perspektif. menarik sebagai hiburan, juga menggelitik kesadaran bahwa pernah ada hari-hari dimana rasa kemanusiaan menjadi sesuatu yang dipertanyakan. worth reading.
Profile Image for Dias Setiawan.
3 reviews
September 17, 2020
Buku ini rasanya bagai membaca artikel dengan bahasa yang tidak pernah saya dengar. Membaca sambil menerka maksud Si Sukab, merasa sedih, kecewa, marah. Apa yang sebetulnya coba kamu sampaikan Sukab. Setidaknya Ia sudah kasih penjelasan di awal, kalau tulisan ini sekitaran masa Reformasi. Jadi sedikit banyak paham maksudnya. Tentang mereka yang hilang, diperkosa, dijarah, ditolak hidupnya. Sampai akhir cerita, saya jadi paham kemarahnmu pada si 32 tahun itu.
2 reviews
September 30, 2020
Tak ada yang lebih menarik ketika Sukab mengarang dan melempar kritik sekaligus. Walau rasanya ringan membaca buku ini, kasus yang coba diangkat dalam kumpulan ceritanya bukan sembarangan. Pemerkosaan, pembantaian, kekuasaan, penjarahan, cinta dan keluarga, semua masuk dan menjadi komponen cerita yang menarik. Kelebihan buku ini, lebih kepada kumpulan cerita yang tidak membosankan. Karena selalu ada hal baru tiap kali satu cerita selesai.
Profile Image for Ratna Emmanuella.
91 reviews
August 8, 2026
Kumpulan cerpen yang ditulis Seno Gumira Ajidarma di tahun 90an yang masih relevan untuk dibaca di tahun 2026. Bahkan di tahun 2026.

Dari cerpen pertama kita tahu siapa yang dimaksud Paman Gober kala itu. Ironinya, 2026 masih ada Paman Gober yang memiliki posisi yang sama dengan Paman Gober era dimana cerpen itu ditulis.

Kumpulan cerpen ini menyiratkan bagaimana perlawanan akan selalu ada sepanjang masa. Hidup perjuangan.
Profile Image for Saad Fajrul.
120 reviews2 followers
April 27, 2018
Sudah lama banget rasanya buku ini masuk antrian. Sampai akhirnya datanglah aku ke sebuah pameran di Yogyakarta. Berhubung tidak ada buku lain yang cukup menawan hati, maka ku beli lah buku ini. Cerita - ceritanya menarik banget buat dibaca. Apalagi kalau dibaca sambil dijelajahi peristiwa yang ada di tanggal pembuatan cerita. Asli asik.

Hebat. Brilian.
Profile Image for Wahyudha.
458 reviews2 followers
January 27, 2020
Tak menyesal, begitulah kesan saya stlh baca kumcer SGA ini. Beliau merupakan yg terbaek buat saya utk urusan cerpen.
Iblis tak pernah mati merupakan cerpen yg isinya menunjukkan siapa iblis sebenarnya. Dan memang iblis tak akan mati kalau tak ada yg sadar siapa yg dimaksud iblis itu? Bacalah buku ini utk membawa pertobatan hai kamu manusia.
Profile Image for rickus.
107 reviews11 followers
September 18, 2020
Sekalipun beberapa cerpen agaknya perlu menguras otak memikirkan referensi atau pemaknaan dari cerpen itu sendiri, tetapi cerpen-cerpen tersebut terbukti meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Lalu beberapa cerpen pun dapat dinikmati sebagaimana cerpen itu sendiri tanpa perlu memikirkan makna tidak langsung.

Secara personal, favorit saya adalah Taksi Blues dan Clara.
Profile Image for fsy.
35 reviews4 followers
November 25, 2023
Buku ini pertama kali saya baca pada tahun 2019. Semenjak itu, terkadang saya didatangi oleh satu atau dua dari cerpen dalam buku ini. Bergantian. Ucap salam mereka kadang membuat saya bernostalgia, seringnya membuat saya sedih. Beberapa kali akhirnya saya baca ulang satu dua cerpennya. Bertegur sapa.
Profile Image for svrhld.
107 reviews7 followers
March 29, 2018
Edan. Napak tilas versi fiksi tragedi 1998 lewat cerpen. Jujur, ada satu-dua cerita yang mungkin harus saya analisis lagi karena masih belum mengerti jalan ceritanya. Tapi serius baca buku ini membuat saya merinding dan bergidik ngeri.
Profile Image for Zera Putrimawika.
54 reviews9 followers
December 19, 2019
Kata persatu kata yang terangkai memberikan imbas sangat dahsyat terhadap pola pikir mengenai kehidupan sehari-hari, perkara kemanusiaan, hingga manuver politik yang implisit. Seno mampu membawa saya belajar lebih banyak mengenai rentetan kalimat yang frontal namun berisi.
6 reviews
January 14, 2026
Cerita-cerita di buku ini masih relevan dibaca sekarang, entah karena memang sejarah itu berulang, atau memang kemahiran SGA bercerita sehingga tulisannya tidak termakan waktu. Ada 5 cerita yg menjadi favoritku yaitu: Partai Pengemis, Tujuan: Negeri Senja, Patung, Anak-Anak Langit, dan Eksodus.
21 reviews
June 18, 2026
Membaca buku ini membuatku menebak- nebak kejadian masa lalu mana yg sedang dimaksud dalam judul ini.
Beberapa terdengar populer dan beberapa masih misterius.
Mungkin bagi orang yg paham sejarah dan tahu tragedi- tragedi masa orde baru akan membacanya dengan lebih mengalir.
Profile Image for Rian Widagdo.
Author 1 book20 followers
November 1, 2018
Judul : 3/5
Sampul : 1/5
Pembuka : 3/5
Cerita (-cerita) : 5/5
Penceritaan : 5/5
Bahasa : 5/5
Penutup : 4/5
Layout : 2/5
Blurb : 3/5

TOTAL : 3,4/5

*Rekomendasi : 5/5
Profile Image for Muhammad Nuril.
41 reviews1 follower
December 31, 2019
Salah satu yang terbaik dari SGA. Cerita terakhir, Karnaval, sesuai dengan yang diucapkan, "dunia sebatas mata, dunia seluas pikiran."
7 reviews
March 1, 2025
The short story in this compilation is very good and give the critical feeling when you read it, and you can feel the symphaty for the character because of what they get in the story
Displaying 1 - 30 of 50 reviews