Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sabda Luka: Calabai, Sepasang Merpati Tanpa Dara

Rate this book
Vito pergi meninggalkan ayahnya. Melangkah bersama air mata. Beranjak bersama bahagia bercampur luka. Pertemuan itu nyata, tetapi bahagia tetaplah fiksi.

Vino lelah melawan rindu. Dia bisa mengerti bahwa Vito untuk ibu, Vino untuk ayah. Namun sulit untuk dia pahami bahwa rindu yang dibagi tak boleh bersisa luka.

Si kembar Vito dan Vino harus terpisah karena perceraian orang tua. Dari jauh mereka didera rindu, jauh lebih deru dari angin dendam yang menari di Danau Sidenreng.

“Selalu ada luka di atas rindu yang terlalu.”

288 pages, Paperback

First published February 1, 2018

1 person is currently reading
35 people want to read

About the author

S. Gegge Mappangewa

9 books12 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
10 (37%)
4 stars
11 (40%)
3 stars
4 (14%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (7%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
March 20, 2018
Membaca novel ini seperti membaca novel dewasa dipadukan dengan novel anak menjelang remaja dijadikan satu, sehingga emosi yang saya rasakan pun naik-turun. Hanya saja, menjelang akhir, terlalu banyak adegan yang membuat dada sesak.

Pesan yang ingin disampaikan penulis pun dapat saya terima dengan gamblang. Tentang kasih sayang seorang ibu yang tulus: tak membedakan antara satu dengan yang lain, maupun tetap menerima meskipun anaknya seorang "pendosa". Dan juga banyak pesan terutama dalam kisah Pak Amin dan persahabatan murid-murid lelaki kelas VIII.

Kekurangan novel ini yang paling saya rasakan adalah dialog-dialog yang kaku, baik antara anak-anak dengan orangtua dan gurunya, pun antara sesama anak-anak. Kesalahan ketik ada, tetapi sangat minim dan tak mengganggu.

Akhirnya, saya memberi 3,5 bintang untuk novel yang lokalitasnya cukup kental ini.
Profile Image for Ten Alten.
61 reviews2 followers
March 23, 2018
Buku ini mengambil isu² sosial di sekitar masyarakat kita. Salah satunya mengenai calabai. Di mana pada tatanan masyarakat, mereka selalu dipandang buruk dan terpinggirkan.

Selain itu, buku ini juga mengusung adat dan hal mistis yang biasa dipercaya dan dilakukan masyarakat.

Aku suka buku ini, ingin memperlihatkan pembaca, kita bisa menanamkan pada anak bahwa sekolah itu adl tempat rekreasi yg menyenangkan. Selain itu, mengajarkan bahwa anak usia sekolah tidak seharusnya fokus pada percintaan.

Karakter buku ini cukup kuat. Banyak tokoh yg muncul, di antaranya si kembar Vino yg sedikit lebih kalem dari Vito yang terlihat lebih berani, Halimah--ibu si kembar yang tegar, Ilham, Tiara, Kamaruddin, dll. Satu hal yg pasti adalah: hampir semua dari mereka terluka.

Setting yg digunakan adalah sisi lain Indonesia di Sulawesi yang mungkin kita tidak tahu. Tapi dari sini kita bisa melihat kayanya Indonesia, nggak hanya kota besar dan Jawa. Penggambaran perasaan tokoh juga mendukung sekali.

Alur cerita yg maju mundur awalnya membuatku bingung. Tapi ternyata hal itu digunakan untuk mempertemukan dua cerita menjadi satu. Rasanya aku sudah berjalan jauh membalik halaman, ternyata baru beberapa halaman kubalik.

Konflik yg dimunculkan banyak memberikan pelajaran tentang kehidupan. Nggak hanya konflik fisik, muncul beberapa konflik batin--meskipun ringan. Banyak nilai² positif yang bisa diambil dan dipelajari.

Pokoknya, untuk kalian yg pengen coba cerita beda, bisa baca ini. Sesuai judulnya, ini kisah yang penuh luka. Ini keren, apalagi dengan alur yg nggak biasa dan ending yg tidak disangka!
Profile Image for Fahri Rasihan.
478 reviews125 followers
April 1, 2018
Kisah drama kerinduan anak-anak korban perceraian memang menarik untuk dibahas. Apalagi kehilangan salah satu sosok orangtua akan memengaruhi kepribadian dan pertumbuhan anak tersebut. Bisa dibilang akibat keegoisan orangtua, anak lah yang menjadi korbannya. Sama halnya dengan Vito dan Vino dalam cerita ini. Di mana dua anak kembar tersebut saling merindukan sosok ibu dan ayah dalam hidup mereka. Pertama-tama saya ingin mengulas kover bukunya terlebih dahulu. Bisa dibilang kover bukunya sendiri terlihat sederhana dengan gambar dua sosok pria yang menghadap memandang danau. Dua sosok pria itu mungkin menggambarkan tokoh Vito dan Vino. Sedangkan latar danau juga menggambarkan latar tempatnya, yaitu Danau Sidenreng. Meskipun hampir tidak ada yang spesial dari kover bukunya, tapi saya sendiri cukup menyukainya karena sangat menggambarkan kisah dalam Sabda Luka.

Sebenarnya terdapat dua cerita yang berbeda, tapi secara tidak langsung saling berhubungan dalam novel Sabda Luka. Di mana cerita pertama berkisah tentang Vito dan Vino yang bertukar peran demi mengobati rasa rindu mereka terhadap sosok orangtua. Sedangkan cerita kedua berkisah tentang Kamaruddin yang lebih memilih menjadi calabai dan pergi meninggalkan keluarga, istri, dan anaknya. Kedua cerita tersebut diceritakan secara terpisah dengan benang merah yang menyatukannya. Saya sendiri lebih menikmati cerita Kamaruddin yang lebih menarik dari segi konflik maupun alur. Sedangkan cerita tentang Vito dan Vino sebenarnya cukup seru, tapi sayang menurut saya alurnya lambat dan konfliknya baru muncul di akhir cerita. Jika dilihat kembali sebetulnya benang merah yang menghubungkan kedua cerita ini tidak terlalu kentara, tapi penulis berhasil menyajikan ceritanya dengan rapi, runut, dan menarik.

Terdapat dua tokoh sentral dalam buku ini, yaitu Vino dan Kamaruddin. Tokoh Vino digambarkan sebagai anak remaja yang cerdas, pandai bergaul, dan setia kawan. Akan tetapi tidak seperti Vito, Vino cenderung lebih penakut, salah satunya terhadap ketinggian. Mungkin karena hidup bersama ayahnya yang bergelimang harta membuat Vino merasa nyaman dengan semua fasilitas yang dia peroleh. Namun kerinduan yang meluap membuat Vino memilih bertukar peran dengan Vito agar bisa bertemu kembali dengan ibunya. Kemudian ada tokoh Kamaruddin yang lembut, tapi terkadang juga pemarah. Kamaruddin lebih memilih kata hatinya untuk menjadi calabai daripada menuruti keinginan orangtuanya. Padahal dia sudah memiliki seorang istri dan anak, tapi Kamaruddin tetap teguh dengan pendiriannya. Hingga akhirnya dia menemukan sosok Tiara yang merubah sifat Kamaruddin. Selain kedua tokoh tersebut penulis juga memasukkan beberapa tokoh lainnya, seperti Vito, Ilham, Halimah, Pak Amin, dan masih banyak lagi. Setiap tokoh tersebut juga memiliki peranan yang pas dalam setiap bagian cerita. Saya sendiri menyukai tokoh Pak Amin yang berwibawa dan berkarisma. Selain itu penulis juga berhasil memberikan karakter yang cukup kuat kepada masing-masing tokohnya.

Sabda Luka menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui hampir semua tokoh yang ada. Awalnya saya sempat kebingungan dengan sudut pandang ini, tapi lama-lama akhirnya saya pun bisa terbiasa. Alur ceritanya sendiri menggunakan alur maju-mundur yang berpindah-pindah antara kisah Vito dan Vino ke kisah Kamaruddin. Gaya bahasanya pun sederhana dan mudah dimengerti dengan disisipkan beberapa istilah Bugis yang menambah wawasan saya sebagai pembaca. Terakhir saya juga tidak menemukan typo pada saat membacanya.

Terdapat dua konflik cerita dalam novel Sabda Luka. Konflik pertama adalah bagaimana Vino yang harus menyamar sebagai Vito untuk bisa melepas rindu dengan ibunya. Lalu konflik kedua adalah bagaimana Kamaruddin dan Tiara yang menghalalkan segala cara hanya untuk mempertahankan cinta dan rahasia mereka. Sebenarnya tidak ada korelasi sama sekali antara konflik Vino dan Kamaruddin. Hanya saja penulis menghubungkan dua konflik tersebut dalam benang merah yang bisa dibilang tidak terlalu kentara. Saya sendiri sangat menikmati kedua konflik ceritanya. Serta bagaimana penulis menyelesaikan konflik tersebut bisa dibilang adil, meskipun menyesakkan hati. Penulis juga terlihat tenang dan tidak terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan konflik. Sehingga penyelesaiannya pun terlihat realistis.

Sabda Luka berhasil memberikan pandangan baru bagi saya tentang arti pilihan hidup. Penulis berani memasukkan unsur yang sangat sensitif ke dalam ceritanya. Eksekusi penulis pun terbilang baik dan tidak menghakimi. Saya suka saat penulis mengangkat sebuah isu sensitif ke dalam ceritanya dengan pandangan yang terbuka. Unsur Islami dan hubungan orangtua dan anak pun cukup terasa. Apalagi penggambaran rasa rindu Vino terhadap ibunya sangat terasa. Ditambah lagi dengan kisah Kamaruddin yang memilih jalan hidupnya dengan berbagai risiko yang dia ambil. Kedua cerita tersebut berhasil dirangkai oleh penulis dengan cukup baik dan mengalir. Suasana tempat yang digambarkan oleh penulis pun sangat jelas, mulai dari perbukitan hingga Danau Sidenreng. Secara keseluruhan novel Sabda Luka berhasil menceritakan arti sebuah rindu dan pilihan hidup melalui kisah Vino dan Kamaruddin. Sebuah novel dengan cita rasa lokal yang sederhana, tapi bermakna.

Seelengkapnya : https://www.facebook.com/notes/fahri-...
Profile Image for Wiwid Nurwidayati.
29 reviews2 followers
October 22, 2018
Kisah Vito dan Vino yang dipisahkan nasibnya karena rasa rindu terhadap ibu mereka. Vino dan Vito, saudara kembar yang dipisahkan oleh jarak karena perceraian orangtua mereka.

Novel dengan latar cerita Sulawesi Selatan ini secara umum berkisah tentang kasih seorang ibu, luka seorang wanita yang ditinggal laki-laki yang dicintainya, kemudian luka ditinggal pergi selama-lamanya oleh anaknya.

Sebenarnya sudah tidak diragukan lagi gaya penceritaan ataupuan bagaimana penulis mengolah alur hingga tetap memikat dan rasa luka yang ingin dia sampaikan lewat tulisannya terasa bagi pembaca. Novel yang ditulis dengan dua penceritaan di dua tempat berbeda namun kemudian mempunyai hubungan erat dengan luka. Dua buah cerita yang akhirnya memberikan kita pencerahan bahwa kasih ibu itu seepanjang masa. Ibu tidak pernah membeda-bedakan anaknya putra-putrinya, selalu menerima mereka bagaimanapun keadaanya.

Kisah Vito dan Vino, dua saudara kembar yang dipisahkan karena perceraian orangtuanya. Ayahnya, Ilham, meninggalkan mereka bahkan sejak masih dalam kandungan. Namun, ketika pernikahan Ilham dengan istri barunya tidak membuahkan keturunan, akhirnya Vino dan Vito harus berpisah. Vino tinggal bersama ayahnya, sedang Vito tinggal bersama ibunya dengan segala kesederhanaanya. Namun mereka sama-sama memendam rindu untuk ibu mereka, Halimah. Seperti Halimah yang selalu memendam rindu dan cinta yang tak pernah aus bagi keduanya. “Vino untuk ayah, Vito untuk Ibu.” Itu slogan yang selalu didengungkan Halimah untuk menghibur hatinya.

Di sisi lain cerita, keberanian S. Gegge Mapangawe yang mengambil ide untuk menuliskan kisah percintaan calabai (Waria). Kamaruddin dan Tiara yang ternyata adalah sepasang calabai, begitu rapi menyembunyikan status Tiara hingga kemudian kemudian sebuah kejadian yang secara beruntun membuat status Tiara itu terungkap.

Kisah cinta Kamarudin dan Tiara dan juga Vito dan Vino ini akhirnya akan memiliki benang merah. Yang pada akhirnya luka-luka menghujam dan membuat hati semakin menganga.

Saya mengacungkan jempol untuk konflik-konflik yang diangkat untuk menghidupkan novel ini. Semuanya disajikan secara elegan, tidak ada yang berlebihan, bisa diterima oleh pembaca. No plot hole. Hal ini bisa kita jadikan acuan untuk mengamati daerah kita sendiri, hal-hal sepele atau umum namun hanya terjadi di daerah kita yang bisa dijadikan sebagai bahan cerita.
9 reviews
March 16, 2018
Saya berharap di dunia ini tidak ada Seorang Calabai yang memilih meninggalkan istrinya yang sedang hamil hanya karena merasa kodratnya adalah perempuan padahal dia seorang laki-laki. Kamaruddin yang lebih memilih Tiara dibandingkan Rosdiana. Seorang Calabai yang berkulit putih, mulus, cantik seperti wanita pada umumnya lebih menarik di hati Kamaruddin.
Vino yang bertukar peran menjadi Vito untuk menunaikan rindunnya yang sekian lama terpendam.
Halimah, seorang ibu yang sangat penyabar dan mempunyai naluri yang kuat terhadap anaknya.
Novel ini juga mengajarkan kita agar tak mudah percaya dengan perkataan laki-laki yang mengatasnamakan cinta. Jangan sampai seperti Ilham😁
Profile Image for Linda Rinda.
5 reviews
February 20, 2018
Novel yang quotable... bahasanya indah tanpa sulit dicerna. Tertarik dengan topik LGBT yang diangkat. Jadi tahu kalau di dalam negeri, tepatnya di Bugis ada istilah calabai.
Profile Image for RadithaReads.
31 reviews4 followers
June 2, 2018
Membaca buku ini membuat perasaanku campur aduk. Belum lagi ada dua sisi cerita disini yang tentu saja memberikan kesan yang berbeda.
Untuk kisah Vito & Vino,lebih banyak teras aura sedihnya. Rasanya tak tega dengan penderitaan Vito dan Vino yang harus terpisah karena orangtuanya. Yang lebih mengharukan adalah ketika keduanya,terutama Vino yang selama ini hidup berkecukupan bersama ayahnya, bisa menerima hidup dalam kesederhanaan namun tetap bahagia karena bisa bersama mamanya. Memang benar bahwa besarnya kasih sayang seorang ibu bisa melampaui apapun.
.
Sementara itu,membaca kisah Kamaruddin yang mengangkat kisah tetang "calabai" yang sering dianggap sebagai aib masyarakat memberikan pandangan yang baru. Memang,menjadi seorang calabai adalah hal yang menyimpang,namun adakalanya itu bukan keinginan mereka sepenuhnya,& tekanan dari masyarakat bisa memperparah keadaan mereka. Kita harus tahu,bahwa seburuk apapun perilaku seseorang,masih ada kemungkinan orang itu akan berubah.
.
Adanya kedua jalan cerita ini  menyebabkan alur maju mundur,yang kadang sedikit mengganggu ketika kita mencapai klimaks di satu cerita,tapi tiba2 berpindah ke cerita satunya dan alurnya jadi antiklimaks. Tapi, alur cerita seperti ini juga membuatku terus penasaran dimana hubungan antara kedua cerita,yang ternyata ada di deket2 halaman akhir.
Ending cerita ini sangat menyesakkan, aku sampai nangis (serius)& aku berharap ada kelanjutan dari buku ini😭.
Oh ya, ternyata sebelum buku ini ada buku yang menceritakan tetang Vito,yang berjudul Sajak Rindu (pokoknya aku harus baca juga😭).
Bahasa di buku ini juga bagus & bisa menekankan apa maksud & perasaan para tokohnya.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.