Ini teenlit kesekian yang kubaca. Jujur aku susah menikmati genre ini. Sedikit saja yang benar-benar menyentuh hati.
Ok, langsung ke reviewnya ya.
Pertama plot. Mengangkat masa MOS sebuah SMA elit di kota Bandung. Pertama, terasa sekali penggambaran suasana senior-yuniornya. Apalagi pas adegan para senior memasuki aula itu. Aduh, berkesan banget. Kaya nunggu kehadiran presiden. Jelas dong, aku mengharapkan sosok karismatis sang Ketua OSIS dan kepiawaiannya memimpin. Harapanku pasti seru. Betapa banyak pelajaran yang bisa didapat bila itu memang ada.
Sayang sekali plotnya malah masuk ke kisah cinta aneh antara Aluna dan Nakula. Lalu banyak kebetulan yang tidak dinalar. Contohnya mama Aluna yang meminta bantuan Nakula menjaga Aluna selama ia ke luar negri. Helow, masuk akal nggak? Anak gadis ditinggal bersama anak cowok dalam satu rumah? Nggak salah? Mana ada mama yang membuat batu sandungan buat anaknya sendiri? Please deh.
Sekarang karakter.
Aluna. Ini beneran bikin bingung. Aluna ini awalnya tampak keras, model tukang protes kelas dewa, berani menentang para senior. Lalu entah bagaimana, makin ke belakang, makin lembut dan perasa. Begitu pemberaninya, tapi takut pipis sendiri? Satu sifat mengganggu Aluna yang aku rasain kurang pas, dia gampang sekali menyentuh Nakula. Aneh, untuk seorang yunior yang baru kenal. Apalagi masuk dan ketiduran berjam-jam di kamar Nakula.
Nakula. Berharap mendapatkan sosok pemimpin karismatis, karena penampilan Nakula di awal-awal begitu mempesona. Lalu makin ke belakang makin tampak sifat melownya, yang ampun, sempat bikin aku mikir ini cowok atau cewek sih? Lalu traumanya itu, serasa dipaksakan. Dan dia berubah total hanya dalam waktu semingguan. Di sini aku mulai kehilangan feel.
Terakhir, selalu makna dan pesan sebuah cerita. Ini yang aku harapkan setiap kali membaca teenlit. Ada pemaknaan yang diselipkan di sana untuk kaum muda ini. Membaca, selain untuk hiburan dan mendapat sensasi baper yang mewarnai hati-harimu, sangat bagus bila sekaligus mendapatkan pelajaran hidup, bukan? Nah, apa pejaran yang didapat dari kisah ini?
Namun ada bagian yang berkesan. Ini kutipan favoritku,
“Sembilan senior itu berjalan ... penuh patriotisme menuju panggung.”
“Lalu untuk apa kelompok dibentuk jika kalian tidak mereapkan kebersamaan?”
Sekian review saya. Semoga tidak membuat pembaca mengurungkan niatnya untuk membeli buku ini.