Kalau boleh jujur, ada beberapa alasan mengapa dulu saya nyaris jarang untuk tertarik atau mau baca buku-buku yang diterbitkan secara indie. Salah satunya karena alasan teknis, kedua adalah premis, ketiga jalan cerita. Namun, Gelang Hitam ini merupakan satu pengecualian.
Awalnya saya mengira kalau Gelang Hitam bercerita tentang kisah misteri; arwah gentayangan yang melibatkan Saras dalam dunia mistis dan percintaan yang sarat akan aktivitas santet-menyantet. Terlebih ketika sang penulis memilih Aceh sebagai setting yang sangat major dalam buku ini. Belum lagi kehadiran tokoh-tokoh dengan nama yang cenderung "unik" sekaligus outstanding.
Hanifah, yang diceritakan merupa nafsu yang terikat dalam sebuah gelang hitam milik Saras, menjadi navigator sekaligus ujung tombak keseluruhan cerita ini. Ia tak hanya berperan sebagai narator yang mewakili sudut pandang orang ketiga, tetapi juga arwah yang terus muncul sampai di ujung cerita.
Hanifah menemani Saras menghadapi trauma yang dialaminya, menjadi saksi Saras jatuh bangun oleh cinta, menjadi pengarah yang mendekatkan Saras dengan Fitri—anak kandung Hanifah sendiri. Dan betapa Hanifah ini benar-benar sosok arwah yang tidak usil, tidak banyak ulah, meski ia bersemayam di dalam tubuh Saras.
Kehadiran Rian dan Dewa benar-benar memenuhi porsinya masing-masing. Rian yang memesona tetapi nggak bisa bersikap gentle dan irasional dalam mengambil keputusan. Dewa yang humoris dan tampan, tetapi juga rapuh karena sejumlah kekurangan yang dia miliki. Semua tokoh protagonis di sini sepenuhnya dieksekusi dengan baik. Dan manusiawi, ini sangat penting.
Akan tetapi, bagian di mana Aisyah tiba2 meneror Saras via telepon dan memintanya untuk menjauhi Rian tidak benar-benar dijelaskan secara konkret dalam buku ini. Padahal, di bagian pembuka atau bab prolog, suasana magis dan emosi dendam yang membaur bersama cemburu itu terasa begitu kental. Saya sempat berekspektasi buku ini akan memberi hawa yang berbeda.
Seandainya saja penulis berniat mengeksplorasi peran Rengganis, Hanum, dan Kalamara lebih jauh lewat kacamata yang berbeda, saya yakin keseluruhan buku ini akan sangat berbeda. Buku ini sejatinya adalah cerita yang emosional, tetapi kurang nendang karena sebagian besar kisahnya masih berkutat di sektor yang sama, yaitu: percintaan.
Terus terang saya menaruh ekspektasi begitu besar saat saya membaca bagian pembuka buku ini, terutama terhadap desain sampulnya yang ciamik—dominan warna hitam, dihiasi ragam corak yang mengantar suasana kelam. Benar-benar desain yang sempurna jika buku ini mengusung genre misteri.
Saya suka cara bertutur penulis yang begitu khas, seolah punya signature-nya tersendiri. Kehadiran frasa "Oh amboi", "mak oy", dan "aku suka" seolah benar-benar bikin cerita dalam Gelang Hitam ini sangat memorable.
Tadinya saya berharap bisa memberi bintang 5 untuk buku yang direkomendasikan oleh Kak Jia Efendi ini. Terlepas dari kepiawaian penulis yang begitu teliti untuk urusan setting waktu, keberhasilannya mengantarkan budaya lokal dan suasana kota Aceh, penokohan yang pas pada porsinya, juga minimnya saltik dan teknis yang nyaris sempurna.
Pesan saya, tidak ada salahnya membaca buku ini. Sebab, meski diterbitkan secara indie, Gelang Hitam juga tak kalah memesona jika dibandingkan dengan karya2 yang dipasarkan lewat penerbit2 besar di luar sana. 😊